Meskipun Ethan sudah melarangku untuk bertindak sendirian, kali ini aku memutuskan untuk tetap mencari tahu dengan bantuan Daren. Aku menelponnya malam itu, meminta tolong agar ia menemaniku.
Telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya suara Daren yang terdengar mengantuk menyambut dari seberang sana.
“Halo…Shopia? Kau belum tidur?”
"Huum. Belum. Aku baru saja pulang ke rumah. Mencari penipu itu."
"Bersama Ethan?"
Aku memutar bola mataku dengan malas setelah mendengar pertanyaan itu, "Uhmm awalnya aku pergi sendiri. Lalu dia datang bak pahlawan kesiangan. Setelah itu aku ditinggalkan di jalan. Sekarang dia bilang aku bertindak terlalu gegabah. Maunya apa sih?"
Bukannya iba padaku, terdengar jelas Daren tertawa di sana.
"Pffft--hahaha. Ethan memang seperti itu."
"Sepertinya kau sangat senang ya --"
"Oh maaf. Aku tak bermaksud begitu," ujarnya tapi tetap terdengar tak menyesalinya. "Oh ya, lalu ada apa kau menelponku di jam segini?"
Aku tidak mau membuang waktu, jadi langsung saja ke intinya. “Daren, aku butuh bantuanmu. Aku ingin mencari pria yang menyewakan rumah itu padaku. Bisa temani aku besok?”
Daren terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Kau yakin ini bukan tindakan gegabah? Ethan pasti akan membunuhku kalau tahu aku ikut-ikutan dengan ide gilamu.”
Aku mendengus kesal. “Justru karena Ethan selalu melarangku, aku jadi harus mencari orang lain untuk membantu. Aku tidak akan diam saja.”
Daren terkekeh kecil. “Baiklah, baiklah. Aku tidak bisa menolak jika kau sudah berbicara seperti itu. Besok pagi aku jemput di apartemen, oke?”
Aku tersenyum lega. “Terima kasih, Daren. Kau penyelamatku!”
Keesokan harinya, seperti yang dijanjikan, Daren datang menjemputku di lobi apartemen. Namun, sebelum kami sempat pergi, tiba-tiba Ethan muncul dari arah lain, mengenakan jaketnya seolah hendak pergi juga. Tatapan matanya langsung jatuh pada kami berdua.
Daren, yang tampaknya menyadari kemungkinan Ethan akan curiga, mencoba mengajaknya ikut serta. “Kau tidak ingin ikut? Kami akan mencari informasi tentang pemilik properti itu.”
Namun, Ethan hanya melirikku sekilas sebelum menjawab datar, “Aku ada urusan lain. Kalian saja yang pergi.”
Aku mendecak kesal. “Urusan lain apa? Seharian ini kau bahkan tidak bekerja.”
Alih-alih menjawab, Ethan hanya mengangkat bahunya dan berjalan melewati kami. Aku mendesis kesal, tetapi Daren segera menarik lenganku dan membawaku menuju mobilnya sebelum emosiku semakin terpancing.
"Sudahlah. Yang penting dia sudah tahu kalau kita pergi."
Aku bersedekap sambil menatap tajam kepergian pria menyebalkan itu, "Dia tahu ataupun tidak, dia tetap tidak akan membantuku."
**
Kami mengunjungi beberapa agen properti untuk menanyakan pria bernama Daniel, si pemilik rumah yang kusewa. Namun, lima tempat yang kami datangi memberikan jawaban yang sama: mereka tidak mengenal pria itu. Aku mulai kehilangan kesabaran saat seorang agen yang lebih tua menatapku dengan pandangan tidak peduli.
“Nona, kami tidak bisa memberikan informasi pribadi klien kepada sembarang orang.”
Aku menatapnya tajam. “Saya bukan sembarang orang! Saya korban penipuan, dan saya butuh informasi tentang pria yang menyewakan rumah itu pada saya.”
Agen itu menghela napas, tampak bosan dengan sikapku yang terus memaksa. “Seperti yang sudah saya katakan, kami tidak mengenal siapa pun bernama Daniel dalam daftar klien kami. Jika Anda merasa tertipu, sebaiknya laporkan ke polisi.”
Aku mengepalkan tangan di samping tubuhku. “Jadi maksud Anda, saya harus diam saja dan tidak mencari tahu sendiri?”
Daren menyentuh lenganku, mencoba menenangkanku. “Shopia, kita bisa cari di tempat lain.”
Namun, aku masih enggan menyerah. Aku menatap agen itu dengan tegas. “Kalau begitu, bisakah Anda setidaknya memeriksa lagi? Saya hanya butuh kepastian.”
Agen itu menatapku lama sebelum akhirnya menggelengkan kepala. “Saya tidak bisa membantu. Maaf.”
Aku mengembuskan napas panjang, akhirnya menyerah juga. Kami meninggalkan tempat itu dengan tangan kosong.
Saat kami kembali ke mobil, Daren bertanya, “Di mana kau menemukan iklan sewa rumah itu?”
Aku mengalihkan pandangan ke Daren yang sedang memasukkan kunci mobilnya. “Di internet. Saat itu aku sedang tidak ingin tinggal di rumah, jadi aku langsung mencari tempat tinggal sendiri.”
Daren menoleh padaku dengan alis sedikit berkerut. “Kenapa kau tiba-tiba ingin keluar dari rumah?”
Aku menghela napas panjang, merasa malas menjelaskan segalanya di tengah rasa lelah yang mulai menyerang. “Karena aku sudah muak dengan pertengkaran yang tidak ada habisnya,” gumamku sambil berjalan menuju trotoar.
Daren masih diam, seolah memberiku ruang untuk melanjutkan cerita. Tapi aku terlalu tenggelam dalam pikiranku, hingga tidak menyadari bahwa langkahku semakin mendekati jalanan.
Tiba-tiba suara klakson motor berbunyi nyaring, membuatku tersentak. Aku baru sadar bahwa aku hampir diserempet, tapi sebelum sempat bereaksi, sebuah tangan menarik lenganku dengan cepat.
Tubuhku terhuyung ke belakang, dan sebelum aku menyadari apa yang terjadi, aku sudah berada dalam dekapan Daren. Nafasku memburu, sementara jantungku berdetak begitu kencang akibat kejutan barusan.
“Shopia… kau tidak apa-apa?”
Suara Daren terdengar begitu lembut, tapi juga penuh kekhawatiran. Aku mengangkat kepala dan menemukan wajahnya yang begitu dekat denganku. Begitu dekat hingga aku bisa melihat sorot matanya yang cemas, bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang menenangkan.
“A-Aku baik-baik saja…” gumamku, buru-buru menarik diri.
Daren masih belum melepaskan lenganku, seolah memastikan bahwa aku benar-benar tidak apa-apa. “Hati-hati, ya? Jangan sampai melamun saat berjalan.”
Aku menelan ludah, lalu mengangguk cepat. “Iya… maaf.”
Daren tersenyum tipis, lalu perlahan melepaskan tangannya. “Tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin sesuatu terjadi padamu.”
Ugh. Kenapa kata-katanya begitu lembut dan menenangkan? Wajahku terasa memanas, dan aku buru-buru menunduk agar dia tidak melihat rona merah yang pasti mulai muncul di pipiku.
“Ayo… kita lanjutkan saja,” kataku dengan suara yang sedikit bergetar.
Daren mengangguk, lalu berjalan kembali ke mobil. Tapi aku masih diam di tempat, mencoba menenangkan detak jantungku yang masih belum kembali normal.
Setelah kejadian tadi, Daren mengajakku untuk makan dulu sebelum melanjutkan pencarian ke agen properti lain. Aku sempat ragu, tapi akhirnya mengangguk setuju. Perutku yang sejak tadi terasa kosong kini mulai memberontak, dan sejujurnya, aku juga butuh jeda sejenak untuk menenangkan diri.
Kami berdua masuk ke sebuah kedai makan kecil yang cukup nyaman. Suasana di dalamnya tenang, dengan cahaya remang-remang yang membuat ruang terasa hangat. Daren memilih meja dekat jendela, tempat yang sepertinya cukup tenang untuk berbicara.
Setelah duduk, kami mulai memesan. Daren memesan beberapa hidangan sederhana, dan aku hanya mengangguk setuju pada apa yang dia pilih. Ketika makanan datang, kami makan dalam keheningan sejenak, hanya sesekali saling melempar pandang. Aku merasa sedikit lebih santai meskipun ada banyak hal yang masih mengganjal di kepala.
“Jadi… kamu benar-benar merasa tidak bisa tinggal di rumah lagi?” Daren akhirnya memecah keheningan, suaranya lembut namun penuh perhatian.
Aku mengangguk, lalu mengatur kata-kata. “Iya… Papa lebih banyak membela Miranda, dan aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Aku dan Miranda ehm maksudku ibu tiriku-- selalu bertengkar, dan setiap kali aku mencoba berbicara, aku merasa seperti suaraku tidak pernah didengar.”
Flashback
Malam itu, aku berdiri di ruang tengah dengan tangan mengepal di sisi tubuhku. Papa berdiri di hadapanku, wajahnya menunjukkan ketidaksetujuan yang jelas.
“Shopia, kau tidak bisa pergi begitu saja hanya karena Miranda menegurmu!” suara papa tegas, seolah keputusanku hanyalah sikap kekanak-kanakan semata.
Aku mendongak, menatapnya tajam. “Bukan hanya karena itu. Ini tentang bagaimana papa selalu membela Miranda, bahkan ketika dia jelas-jelas memperlakukanku seperti orang luar di rumah sendiri!”
Miranda, yang berdiri di dekat tangga dengan tangan melipat di d**a, hanya tersenyum sinis. “Aku hanya mencoba mendidikmu, sayang. Kau sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginanmu.”
Aku mengepalkan tangan lebih erat. “Didiik? Kau bahkan tidak pernah menganggapku sebagai anak dari awal!”
Papa menghela napas, tampak lelah dengan perdebatan ini. “Shopia, jangan mulai lagi…”
Aku menggelengkan kepala. “Sudah cukup, Pa. Aku akan keluar dari rumah ini.”
Dan dengan itu, aku berbalik menuju kamar untuk mengemasi barang-barangku.
Flashback End
Daren hanya mendengarkan dengan seksama, matanya tetap terfokus padaku. Aku merasa sedikit lega bisa bercerita, walau hanya sedikit.
“Aku paham. Pasti berat ya, ketika merasa tidak ada yang mengerti.” Daren mengangguk pelan, lalu melanjutkan makanannya, masih dengan ekspresi penuh perhatian. “Tapi, kamu nggak sendiri. Aku di sini, kalau kamu butuh teman bicara.”
Aku tersenyum tipis, merasa sedikit lebih baik. Namun tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang dingin di sudut bibirku. Aku mengusapnya dengan punggung tangan, tapi Daren sudah lebih cepat melihatnya.
Dengan gerakan lembut, Daren meraih serbet yang ada di atas meja dan dengan hati-hati membersihkan noda itu dari bibirku. Tangan Daren yang ringan di wajahku membuatku terdiam sejenak. Aku merasa agak kikuk, dan bibirku terasa sedikit kaku. Daren mengangkat wajahnya, matanya bertemu mataku, dan senyumnya kecil namun penuh makna.
“Ada noda di wajahmu," ujarnya, masih dengan nada lembut.
Aku mengangguk, merasa sedikit canggung. “Iya, makasih…” jawabku, berusaha tidak terlalu terbawa suasana.
Daren hanya tersenyum tipis, lalu kembali mengangguk sebelum kembali melanjutkan makannya. Aku meliriknya lagi, merasa sedikit terharu dengan perhatian kecil yang diberikan. Tidak banyak orang yang begitu peduli dengan hal-hal kecil seperti itu.
Kami melanjutkan makan dengan santai, berbicara tentang hal-hal lain untuk mengalihkan pikiran dari masalah yang ada. Namun, meskipun suasana terasa lebih ringan, aku tidak bisa menepis perasaan bahwa aku mulai merasa nyaman dengan Daren. Dan entah kenapa, rasa nyaman itu justru membuatku merasa sedikit bingung.