Minta Maaf

1370 Words
Setelah berkeliling dari satu agen ke agen lain, hasil pencarian kami sama sekali tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Kami akhirnya tiba di depan apartemenku. Daren menepikan mobilnya dengan pelan, dan suasana di dalam mobil terasa cukup hening. “Maaf, Shopia,” kata Daren pelan, mengembuskan napas berat. “Aku sudah berusaha semampuku, tapi kita nggak menemukan apa-apa. Aku benar-benar ingin membantu lebih, tapi mungkin ada jalan lain yang harus kita coba.” Aku hanya menghela napas, mencoba menerima kenyataan meskipun rasa kecewa terasa begitu dalam. “Tidak apa-apa, Daren. Terima kasih banyak sudah menemani aku hari ini. Aku benar-benar menghargainya,” jawabku dengan tulus. Daren tersenyum tipis, namun ekspresinya masih tampak ragu. “Aku seharusnya bisa melakukan lebih banyak. Tapi, besok aku harus bekerja, jadi aku nggak bisa terus menemanimu mencari lagi. Aku minta maaf,” kata Daren dengan suara pelan dan sedikit menunduk. Aku mengangguk perlahan, mengerti situasinya. “Tidak masalah, Daren. Aku akan mencoba mencari jalan lain,” jawabku dengan nada tenang, meskipun tubuhku sudah merasa sangat lelah. Daren menatapku sejenak, seolah ada yang ingin dia katakan, lalu akhirnya berbicara dengan nada yang lebih ringan, mencoba mencairkan suasana. “Tapi, Shopia… Jangan sering-sering bertengkar dengan Ethan, ya. Dia itu orang yang agak keras hati. Nanti malah jadi lebih sulit kalau kamu terus seperti itu.” Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis, mencoba meredakan ketegangan yang terasa. “Ah dia...itu cuma masalah kecil. Terima kasih atas peringatannya,” jawabku dengan percaya diri, meskipun perasaan campur aduk seperti takut akan peringatannya tentang Ethan. Daren tersenyum kembali, dan sebelum aku keluar dari mobil, ia mengangguk pelan. “Baiklah, jika itu yang terbaik menurutmu." Aku hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih sekali lagi. “Terima kasih banyak, Daren. Sampai bertemu lagi.” Daren melambaikan tangannya, lalu mobilnya perlahan melaju menjauh. Aku berdiri beberapa detik di sana, menatap mobil Daren yang semakin menjauh, lalu mengalihkan pandanganku dan melangkah menuju pintu apartemenku. Begitu aku memasuki gedung, aku menekan tombol lift dan menunggu dengan tenang. Saat lift tiba dan pintu terbuka, aku melangkah masuk, namun tak bisa menahan rasa berpikir tentang percakapan tadi. "Iblis yang ada di atas itu memang patut untuk diawasi," batinku. ** Malam itu aku merasa sangat lelah. Setelah seharian mencari informasi yang tak ada habisnya, aku memutuskan untuk memesan makanan cepat saji—sesuatu yang mudah dan tak mengharuskanku untuk terlalu banyak berpikir. Aku duduk di meja makan, makan dengan cepat, lalu meletakkan piring kotor begitu saja di wastafel. Aku merasa tak ingin repot malam itu. Lagi pula, bukankah ada Ethan yang akan membersihkan semuanya? Namun, ketika aku sedang mengemasi sisa-sisa makanan dan bersantai di ruang tamu, aku mendengar pintu depan terbuka. Tanpa menoleh, aku sudah tahu siapa itu—Ethan. Tak lama setelah itu, aku mendengar langkah kakinya mendekat, dan aku bisa merasakan tatapannya yang tajam mengenai piring yang belum sempat aku cuci. Aku merasa tubuhku menegang. Sungguh, aku tak ingin berurusan lagi dengan aturan-aturan itu malam ini. “Ada yang ingin kamu jelaskan?” suaranya terdengar tenang, namun penuh penekanan. “Kenapa piring ini dibiarkan di sini begitu saja?” Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan emosi yang mulai menggebu. “Oh, itu hanya piring, Ethan. Tidak perlu dibesar-besarkan,” jawabku dengan nada agak kesal, berusaha tidak terlalu peduli. “Bukan soal piringnya,” jawab Ethan, suaranya mulai sedikit lebih tegas. “Kamu tahu aturan di sini. Kamu tinggal di rumahku, dan kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang ada di sekitarmu.” Aku melirik ke arah wastafel, menahan diri untuk tidak mengumpat. Mengapa segala hal selalu dipermasalahkan? Lelah rasanya selalu harus mematuhi aturan-aturan yang ada. “Lihat, aku cuma merasa lelah. Cuma piring, Ethan. Tidak usah dibesar-besarkan.” Ethan masih berdiri di pintu, menatapku dengan tatapan tajam. Wajahnya tak menunjukkan emosi, tetapi aku bisa merasakan ketegangan itu menular padaku. “Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Atau kamu lebih suka melawan setiap aturan yang ada?” Aku bisa merasakan emosiku mulai naik. Sungguh, kadang rasanya tak ada yang bisa aku lakukan selain mengikuti segala peraturan yang dia buat. Tanpa berpikir panjang, aku melanjutkan, “Mungkin itu sebabnya istrimu dulu pergi, kan? Kamu terlalu banyak aturan. Tidak ada ruang untuk orang lain di hidupmu.” Begitu kata-kataku terucap, aku langsung terdiam. Ekspresiku berubah, dan aku bisa merasakan rasa sesal mulai mengisi dadaku. Aku terlambat sadar bahwa aku telah melewati batas. Ethan langsung menatapku, matanya berkilat tajam, dan aku tahu aku sudah salah. “Darimana kamu tahu soal itu?” suara Ethan terdengar begitu dingin, penuh dengan ketegangan. Aku panik seketika. Mataku membelalak, dan aku merasa mulutku tiba-tiba terasa kering. Daren—oh tidak. Aku lupa kalau dia memintaku untuk tidak membicarakan soal perceraian Ethan. Tapi sudah terlambat. Kata-kata itu sudah keluar. Aku mencoba menutupi kegugupanku, tetapi ekspresiku sudah tidak bisa disembunyikan. “Ah… aku—saya, maksudku—hanya menduga. Tidak ada yang pasti,” kataku terbata-bata, berharap Ethan tidak benar-benar mendalami ini lebih jauh. Ethan melangkah maju, mendekatiku dengan tatapan tajam yang hampir membuatku terdiam. Aku mundur sedikit, tidak tahu harus berbuat apa. “Jangan pernah ikut campur dengan masalah pribadiku, Shopia,” kata Ethan, suaranya begitu berat dan mengandung ancaman terselubung. “Jangan coba-coba lagi menyinggung itu.” Aku terdiam, lidahku terasa kelu. Ketegangan di udara begitu terasa, dan aku bisa merasakan perasaan bersalah yang mulai menguasai diriku. Aku tahu aku salah. Aku tahu aku sudah melewati batas. Tapi kini, aku hanya bisa terdiam di tempatku, tidak tahu harus berkata apa lagi. Pagi itu aku terbangun lebih awal dari biasanya. Mata masih terasa berat, tapi aku tidak bisa tidur semalaman. Perasaan bersalah menyelimutiku sejak kejadian semalam. Aku tahu aku telah melanggar aturan Ethan, dan meskipun dia terlihat begitu tenang dan dingin, aku tahu aku telah membuatnya kesal. Aku mencoba mengabaikan perasaan itu, tapi semakin lama aku berbaring, semakin terasa berat di dadaku. Langkahku ragu-ragu saat keluar dari kamar, dan aku langsung melihat punggung Ethan yang sedang sibuk mencuci piring di wastafel. Bau masakan memenuhi ruangan, dan aku tahu dia pasti sudah menyiapkan sesuatu. Aku merasa canggung. Begitu banyak hal yang ingin ku katakan, tetapi kata-kata terasa terhenti di tenggorokanku. Aku menghela napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan keberanian. Dengan langkah perlahan, aku mendekati Ethan yang sedang sibuk mencuci piring. Aku menatap punggungnya yang tegap, merasa kaku dengan situasi ini. “Ethan…” Aku memanggilnya dengan suara pelan, agak ragu. Dia tidak menjawab, hanya melanjutkan pekerjaannya. Membuatku semakin gugup. “Aku… aku minta maaf tentang kemarin,” kataku, suara sedikit bergetar. “Aku tak bermaksud melanggar aturan yang sudah kamu buat, aku cuma… merasa kesal dan… aku nggak tahu lagi harus bagaimana.” Masih tidak ada jawaban dari Ethan. Dia seperti tidak peduli. Aku melanjutkan, “Aku janji, mulai sekarang, aku akan mengikuti semua aturan yang kamu tulis di memo. Aku nggak akan buat masalah lagi.” Tapi, meski aku sudah mengungkapkan perasaan itu, dia tetap diam. Hening menyelimuti kami berdua. Aku bisa merasakan kecewa yang semakin menggunung, namun aku juga tak bisa menahan diri untuk tetap berbicara. “Kenapa… kamu sariawan?” tanyaku, sedikit putus asa. Ethan tetap tidak menjawab, bahkan tanpa menoleh ke arahku. Aku merasa benar-benar tenggelam dalam keheningan itu, saat tiba-tiba aku mendengar suara piring yang diletakkan di meja di depanku. Aku terkejut saat melihat sepiring puding dan beberapa potong roti yang diletakkan rapi di meja makan. Semua itu tampak sangat sederhana, tapi entah kenapa, perasaan hangat mulai menyelimuti hatiku. Aku menatapnya dengan sedikit bingung. Tanpa menoleh padaku, Ethan berkata dengan nada yang sangat datar dan dingin, “Ini untukmu. Setelah makan, tolong bersihkan.” Aku mengangguk cepat, merasa sedikit lega karena dia memberiku kesempatan. Mungkin tidak banyak kata yang dia ucapkan, tapi tindakannya sudah cukup untuk membuatku merasa bahwa semua ini masih bisa diperbaiki. Aku segera duduk di meja dan mulai memakan puding itu, rasanya manis dan lembut, seolah memberikan sedikit kehangatan di tengah ketegangan yang masih mengalir di udara. Aku tak bisa menahan senyum kecil. Tak peduli betapa dinginnya sikap Ethan, dia masih peduli dengan cara yang berbeda. Aku bisa merasakannya, meski dalam diamnya. Sambil menikmati makanan itu, aku merasa sedikit lega, seolah ada secercah harapan untuk hubungan kami yang terasa semakin sulit. Tapi setidaknya, hari itu, aku tahu ada sesuatu yang bisa kupegang, meski hanya dalam bentuk puding dan roti yang sederhana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD