Kita Lihat Saja Nanti!

1853 Words
Aku terdiam sejenak, memandangi pria yang berdiri di pintu kamar mandi, mataku masih belum bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi. Aku yang seharusnya merasa aman di rumah sewa ini, tapi aku malah terjebak dalam situasi yang begitu mengerikan. Apa yang sebenarnya terjadi? Pria ini… siapa dia? “Siapa kamu?” aku bertanya dengan nada bergetar, mencoba menyembunyikan rasa takut yang mulai mendera. Di kepalaku terlintas segala kemungkinan terburuk—apakah dia maling? Atau bahkan lebih buruk, seorang pria m***m yang sengaja masuk untuk mengintip? Pria itu hanya diam, matanya tajam menilaiku dengan cermat. “Aku yang seharusnya bertanya seperti itu, bukan?” jawabnya datar, seolah tidak terkejut dengan tuduhanku. Aku terperangah, bingung antara ingin melarikan diri atau melawan. Tiba-tiba, dia melangkah lebih dekat, dan tanpa pikir panjang, aku mengambil botol sampo di dekatku, mengangkatnya untuk siap digunakan sebagai senjata. “Jangan mendekat!” aku memperingatkan, suara serak karena ketakutan. Tapi sebelum aku sempat bergerak lebih jauh, kakiku terpeleset di lantai yang licin, dan dalam sekejap aku jatuh… langsung terjatuh ke atas tubuh pria itu. Suasana menjadi sangat kikuk. Tubuhku tergeletak di atas tubuh pria yang asing ini, dan aku bisa merasakan jantungku berdebar kencang, hampir mengalahkan detakan jantungku yang sebelumnya sudah tak karuan. Aku berusaha untuk bangkit, namun sepertinya aku tidak bisa bergerak. Satu-satunya hal yang aku rasakan adalah panas dari tubuh pria itu yang makin mendekat, dan… oh tidak! Tiba-tiba aku sadar bahwa handuk yang kupakai sudah melorot, hampir jatuh sepenuhnya. Panik, aku berusaha mencoba bergerak, tetapi tubuhku tetap terhenti di atas pria itu. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Ini benar-benar sangat memalukan. Aku berusaha merangkak untuk bangkit, namun pria itu justru dengan tenang menutup matanya dengan lengannya, tampak tidak terganggu sama sekali. “Kamu bisa bangun, tapi tidak usah panik. Aku tidak akan melihatmu lebih jauh,” katanya dengan suara yang lembut, meski nada suaranya tetap tenang dan dingin. Aku mematung. Kenapa dia tidak mempermasalahkan ini? Kenapa dia begitu tenang? Padahal aku merasa seluruh tubuhku terbakar malu, jantungku seakan keluar dari d**a. Lalu, pria itu akhirnya berbicara lagi, “Kenapa tidak bangkit? Apa kamu berencana untuk terus tinggal di atasku?” Aku terperangah mendengar kata-katanya, dan tanpa sadar, aku spontan menginjak tangannya untuk bisa bangun dan cepat-cepat menghindar. “Aduh!” teriak pria itu, tetapi dia tidak marah. Justru dia tampak lebih santai, seolah kejadian ini tidak berarti apapun baginya. Dengan cepat aku berlari masuk ke dalam kamar, menutup pintu dengan panik. Tapi pria itu mengejarku. “Tunggu! Siapa kamu yang berani masuk ke rumahku?” terdengar suaranya yang keras dari luar kamar. Aku berhenti di tengah kamar, masih dengan nafas yang terengah-engah, mencoba menenangkan diri. Tetapi saat aku mendengar ucapan pria itu dari luar, aku semakin bingung. Apa maksudnya dia bilang, “rumahku”? Aku masih terpaku di tempat, mendengarkan suara langkahnya yang mendekat. “Kamu benar-benar berani masuk ke rumahku dan membuat kekacauan. Tapi, sekarang aku ingin tahu, siapa kamu sebenarnya?” suara pria itu semakin terdengar jelas, dan kali ini ada sedikit nada kecewa yang jelas terdengar. Aku terdiam, tubuhku gemetaran. Rasanya seakan segala sesuatu bergerak begitu cepat, aku tidak tahu lagi apa yang harus kupikirkan. Siapa pria ini? Kenapa dia ada di rumah yang aku sewa? Dan yang lebih penting, kenapa dia tidak tampak terkejut atau bahkan marah dengan kejadian barusan? Ketika pria itu mengetuk pintu kamar dengan keras, aku hampir melompat ketakutan. “Jawab aku, siapa kamu?!” Aku menatap pintu, perasaan bingung dan cemas semakin menghantuiku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, apakah aku harus membuka pintu dan menghadapinya, atau terus bersembunyi di sini berharap dia akan pergi. Tapi sesuatu dalam diriku mengatakan bahwa ini belum selesai. Aku merasa seperti ada yang lebih besar yang harus aku hadapi dengan pria ini. “Hei,” suara pria itu akhirnya terdengar lagi, lebih lembut dari sebelumnya. “Aku tidak akan pergi sampai kamu keluar dan memberi penjelasan.” Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diriku, lalu dengan perlahan, aku berjalan mendekati pintu. Aku harus tahu siapa dia, dan mengapa dia ada di sini. Tapi apakah aku siap untuk menghadapi semua kenyataan yang mungkin akan terungkap? ** Aku mengambil napas panjang dan mengenakan piyama motif bunga yang sejak tadi aku simpan. Dengan langkah yang lebih mantap, aku membuka pintu kamar dan melihat pria itu sudah duduk di sofa, menunggu. Tatapannya tajam, seperti tengah menunggu penjelasanku, dan aku bisa merasakan udara di sekitarku semakin berat. Begitu aku melangkah keluar, pria itu menatapku sebentar, lalu dengan tenang menunjuk kursi di hadapannya. “Duduk,” katanya singkat, suaranya yang tegas terdengar seperti perintah yang tak bisa diabaikan. Tanpa pilihan, aku duduk, berusaha menjaga jarak sebanyak mungkin. Pria itu menatapku sejenak, lalu tanpa basa-basi, dia mulai berbicara. “Namaku Ethan Cross,” ujarnya, memperkenalkan diri. "Aku Shopia," balasku terdengar berbisik. Ia meletakkan selembar berkas di atas meja yang terletak di antara kami, tampak resmi dengan cap dan tanda tangan yang tertera di sana. “Dan ini,” dia mengangkat berkas itu, “adalah surat sah kepemilikan rumah ini. Rumah ini milikku.” Hatiku berdegup kencang. Aku hampir tidak bisa mempercayai apa yang baru saja kukatakan. “Apa maksudmu?” tanyaku, masih mencoba menyusun kata-kata. “Tapi aku… aku sudah menyewa tempat ini.” Ethan terdiam sejenak, lalu akhirnya membuka mulut. “Apa? Menyewa? Pada siapa kamu menyewa tempat ini?” suaranya terdengar sedikit terkejut, dan aku bisa melihat ekspresi bingung di wajahnya. Aku sedikit terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Lalu, tanpa sadar, aku menunjuk pada kwitansi yang dia tunjukkan padaku sebelumnya. “Ini… nama di kwitansi ini,” aku berkata pelan, “Nama itu sama dengan yang tertera di kontrakku. Dia pemilik lama rumah ini.” Ethan menatap kwitansi itu dengan seksama. “Pemilik lama?” katanya pelan, matanya sedikit menyipit, mencoba memahami situasi. “Kamu yakin? Karena aku baru saja membeli properti ini beberapa minggu yang lalu. Seharusnya kamu diberi tahu tentang perubahan pemilik.” Aku terpaku. Aku merasa seperti ada yang salah, dan aku mulai merasa sangat bingung. “Tapi… bagaimana bisa? Aku tidak pernah diberi tahu tentang penjualan ini.” Ethan menghela napas. “Seharusnya ada pemberitahuan, tapi sepertinya ini adalah kesalahan komunikasi yang cukup besar. Dan yang paling penting, dokumenku sah dan kau tidak kuijinkan untuk tinggal di sini. Itu kerugianmu dan aku tidak bisa membantu apapun," ucap Ethan tanpa hati. Aku bangkit dari sofa, tubuhku bergetar karena marah. Aku tak bisa membiarkan ini begitu saja. “Kerugian?!” suaraku hampir melengking, berusaha menahan amarah yang menggelegak. “Kamu pikir aku akan begitu saja meninggalkan rumah ini tanpa perlawanan? Ini bukan hanya soal tinggal di sini, ini soal hakku! Kamu pikir aku akan menyerah begitu saja?” Ethan hanya mengangkat alisnya, menatapku dengan ekspresi yang datar dan tak terpengaruh. Aku merasa darahku mendidih. “Aku tidak memaksamu untuk menyerah,” jawabnya dengan nada kering, seakan-akan aku bukan masalah besar baginya. “Tapi ini adalah masalah hukum. Aku pemilik sah sekarang, dan kamu tidak memiliki hak untuk tinggal di sini tanpa izin dariku. Jadi jika kamu ingin bertahan, itu masalahmu sendiri.” Jantungku berdebar keras, namun aku tetap menatapnya dengan penuh kebencian. “Jangan anggap aku bisa begitu mudahnya diusir!” aku menunjuk dengan marah. “Aku sudah menandatangani kontrak sewa dan membayar uang sewa. Aku tidak akan meninggalkan tempat ini tanpa mendapatkan ganti rugi!” Aku bisa melihat senyum kecil di sudut bibir Ethan, namun tetap saja tatapannya datar dan tidak terpengaruh. “Kamu benar-benar berani,” katanya dengan nada yang terdengar sedikit terkesan, namun tetap dingin. “Tapi tetap saja, kontrakmu tidak berlaku lagi. Apa yang ingin kamu lakukan sekarang?” Aku mengepalkan tangan, seakan-akan aku bisa meremas amarahku menjadi sebuah kekuatan. “Menuntut,” jawabku tegas, berusaha menahan gemetar di suaraku. “Dan kamu akan menyesal mengusirku begitu saja. Aku punya hak di sini, dan aku akan memperjuangkannya.” Aku berdiri, tidak bergeming, menatapnya dengan marah. Ethan menghela napas panjang, tampaknya sudah tidak sabar. “Kamu benar-benar keras kepala,” katanya sambil memijat keningnya. Lalu dengan langkah cepat, dia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamar yang aku masuki tadi. Hatiku berdebar kencang. Aku tahu apa yang akan terjadi. Dia pasti berencana untuk mengusirku. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku buru-buru mengejarnya, tapi sebelum sempat mencapai pintu kamar, dia sudah di sana, membuka lemari dan meraih koperku. “Kamu harus pergi, sekarang juga,” katanya, suara dingin dan tegas. “Aku tidak ingin melihatmu lagi di sini.” “Tidak! Aku tidak akan pergi!” seruku dengan suara keras, seiring amarahku yang semakin memuncak. Aku berlari ke arahnya dan meraih koper itu, menariknya dari tangannya. “Ini tempatku sekarang! Kamu tidak bisa mengusirku begitu saja!” Kami saling tarik menarik koper itu. Aku berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankannya, tapi tubuhku yang lebih kecil rasanya tak bisa menandingi kekuatan Ethan. Dia menarik koper itu lebih keras, membuatku hampir terjatuh. Dengan kesal, Ethan akhirnya melangkah lebih dekat, lalu tanpa peringatan, dia mengangkat tubuhku yang lebih kecil dari tubuhnya. “Aku bilang pergi!” katanya dengan suara tegas, seolah aku tidak ada apa-apanya. Aku berteriak dan mencoba menggeliat, berusaha melepaskan diri. Aku tidak ingin dia begitu saja menang dalam pertarungan ini. Tapi usahaku hanya sia-sia. Tiba-tiba, dari belakang terdengar suara langkah kaki, dan aku melihat teman Ethan yang baru saja muncul di pintu kamar. “Ethan, kau…?” teman Ethan terperanjat, matanya membelalak saat melihat kami berdua. "Wow..eh maaf. Apa aku menggangu?" tukasnya sambil tertawa. Aku akhirnya menyadari situasi yang membuatnya tertawa. Dari posisiku yang terangkat, aku melihat betapa bingungnya dia, melihat seolah kami sedang berpelukan. Aku tersentak dan segera menyadari kesalahpahaman yang terjadi. Tubuhku yang terangkat ke udara, hampir bersentuhan dengan tubuh Ethan, membuat situasi semakin canggung. Ethan pun tampak terkejut dan buru-buru melepaskanku. “Bukan seperti itu!” serunya, wajahnya memerah. Temannya itu tetap terdiam, tersipu, seolah tidak tahu harus berkata apa. Aku, yang baru saja sadar bagaimana tampaknya kami berdua dari luar, merasa jantungku berdegup kencang karena malu. “Ini bukan apa yang kamu pikirkan!” teriakku cepat, berusaha mengatur napasku yang tercampur amarah dan rasa malu. Ethan berusaha menenangkan situasi, tapi dengan jelas terlihat bahwa dia kesal dan bingung dengan reaksi temannya. Temannya itu masih terdiam, sedikit tergagap, lalu akhirnya tersenyum canggung. “Oh, aku kira… baiklah, aku akan pergi dulu.” Lalu dia berbalik dan meninggalkan kami berdua. Aku berdiri di tempat, masih tercengang dengan kejadian yang baru saja terjadi. Ethan mengelus wajahnya dan menghela napas panjang. “Sialan,” gumamnya, seolah tak tahu harus berkata apa. Aku pun menatapnya dengan tatapan tajam. “Jadi, kamu kira ini lucu?” tanyaku, sedikit terisak. Malu, marah, dan bingung semuanya bercampur aduk dalam dadaku. Ethan menatapku dengan tatapan serius. “Kamu lebih keras kepala dari yang kukira,” katanya dengan nada tak terduga, hampir terdengar sedikit tersenyum. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Rasa malu membuatku ingin segera melarikan diri ke kamar. Namun, aku tahu kalau aku harus menyelesaikan masalah ini. Aku mengatupkan gigi, berusaha menenangkan diri. “Aku tetap tidak akan pergi, Ethan,” ujarku dengan suara yang lebih tegas. Dia hanya menatapku, menilai. “Kita lihat saja nanti,” jawabnya dengan nada yang penuh tantangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD