Tinggal Bersama?

1038 Words
Aku berdiri kaku di ruang tamu, masih memelototi pria bernama Ethan yang tadi berusaha menyeretku keluar dari rumah ini. Belum selesai aku memproses semua kekacauan yang terjadi, pintu depan tiba-tiba terbuka tanpa aba-aba. Seorang pria lain, yang terlihat lebih muda dan lebih ceria, masuk dengan membawa beberapa kantong kertas berisi makanan. Dia berhenti sejenak, menatap kami bergantian, dan kemudian menyeringai lebar. “Apa aku datang di saat yang salah?” tanyanya sambil mengangkat alis. Ethan memijat keningnya dengan kedua jari, seperti orang yang sedang menghadapi puncak kesabarannya. “Daren, kenapa kamu tidak mengetuk dulu sebelum masuk?” tanyanya dengan nada datar. Daren mengabaikan teguran itu dan melangkah masuk. Tatapannya tertuju padaku, seolah aku adalah tontonan paling menarik di ruangan itu. “Oh, jadi ini alasan kamu belum beres-beres, ya? Aku tidak tahu kamu punya tamu istimewa, Ethan,” ujarnya sambil meletakkan kantong kertas itu di atas meja. Aku mendengus kecil, merasa perlu meluruskan segalanya. “Aku bukan tamunya,” kataku tegas. “Aku yang tinggal di sini. Maksudku, seharusnya tinggal di sini.” Daren mengangkat alis, kebingungan tampak jelas di wajahnya. Dia menoleh ke Ethan, yang terlihat tidak terlalu senang dengan penjelasanku. “Apa maksudnya ini?” Ethan mendesah, lalu mulai menjelaskan situasi kacau kami—tentang bagaimana aku dan dia sama-sama memiliki hak atas rumah ini, tentang penipuan yang dilakukan pemilik properti sebelumnya, dan tentang bagaimana aku menolak pergi meskipun dia bersikeras mengusirku. “Oh, wow,” Daren berkata dengan nada penuh minat. Dia menatapku lagi, kali ini dengan sorot mata penasaran. “Jadi, kau korban penipuan juga?” Aku mengangguk. “Dan sekarang aku tidak tahu harus ke mana. Aku sudah menghabiskan semua uangku untuk menyewa tempat ini. Aku bahkan sudah membayar penuh untuk tiga bulan ke depan.” Daren tampak berpikir sejenak, lalu berkata, “Kedengarannya sangat buruk. Tapi tunggu, bagaimana kalau kita coba menghubungi pemilik propertinya? Mungkin kita bisa menyelesaikan ini dengan kepala dingin.” “Sudah aku coba,” sahut Ethan cepat. “Nomor mereka tidak bisa dihubungi. Bahkan, kelihatannya nomor itu sudah tidak aktif lagi.” Wajah Daren berubah muram. “Oh, itu benar-benar buruk,” gumamnya sambil menggosok dagunya. Dia menatapku lagi, tampaknya benar-benar prihatin dengan situasiku. “Jadi, kau tidak punya tempat lain untuk pergi?” tanyanya lembut. Aku menggeleng pelan, merasakan cemas yang mulai menjalar lagi di dadaku. “Aku benar-benar tidak tahu harus ke mana,” kataku dengan suara serak. Ethan yang dari tadi hanya diam, akhirnya menatapku dengan ekspresi campuran antara frustrasi dan rasa bersalah. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya, tapi jelas dia juga tidak nyaman dengan situasi ini. Daren, di sisi lain, tampak seperti seseorang yang baru saja mendapatkan ide brilian. Dia menjentikkan jarinya dan berkata, “Bagaimana kalau kalian tinggal bersama sementara waktu?” Aku dan Ethan sama-sama membelalakkan mata. “Tidak mungkin,” kata Ethan langsung, suaranya penuh ketegasan. “Tidak akan terjadi,” sahutku hampir bersamaan. Daren mengangkat bahu dengan santai. “Kenapa tidak? Bukannya itu solusi terbaik untuk sementara waktu? Sophia tidak punya tempat lain untuk pergi, dan jelas tidak adil jika dia yang harus menanggung kerugian ini sendirian.” Aku membuka mulut untuk membantah, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Sebenarnya, apa yang dia katakan masuk akal. Aku benar-benar tidak punya pilihan lain saat ini. Tapi tinggal bersama pria asing seperti Ethan? Itu ide yang sangat gila. “Aku tidak bisa,” kataku akhirnya, lebih kepada diriku sendiri daripada kepada Daren. “Dan aku tidak mau,” Ethan menambahkan, menatap Daren dengan pandangan tajam. “Aku tidak punya waktu untuk berbagi rumah dengan orang lain, terutama dengan seseorang yang jelas-jelas sudah membuat hidupku lebih rumit.” Aku merasakan pipiku memanas karena komentar itu, tapi aku memilih untuk diam. Dia memang benar. Keberadaanku di sini jelas hanya akan membuat segalanya lebih sulit untuknya. Tapi Daren tidak menyerah begitu saja. Dia melangkah mendekati Ethan dan menepuk bahunya dengan santai. “Ayolah, Ethan. Kau tidak bisa membiarkannya tidur di jalan, kan? Kau bukan orang seperti itu.” Ethan menatap Daren dengan ekspresi tajam, lalu mengalihkan pandangannya ke arahku. Aku bisa melihat keraguan di matanya, tapi juga sesuatu yang lain—mungkin sedikit rasa bersalah? Ethan dan Daren berbicara serius dengan cara pergi ke dapur meninggalkan aku seorang di ruang tamu. Wangi harum dari makanan yang dibawa oleh Daren membuat perutku langsung berbunyi keras. Aku mencoba menutupinya dengan menekan perutku, tapi yang ada aku malah mengeluarkan air liur karena tak sengaja melihat dengan jelas ada bir dan ayam goreng saus kesukaanku di dalam kantung kertas tersebut. Takut tak kuat menahan godaan, aku bangkit dari sofa lalu ikut menyusul mereka ke dapur. “Ini hanya sementara,” Daren menambahkan, suaranya lebih lembut sekarang. “Sampai kalian menemukan cara untuk menyelesaikan masalah ini.” Ethan menghela napas panjang, lalu berjalan menuju jendela. Dia berdiri di sana selama beberapa detik, menatap ke luar dengan tatapan kosong. “Aku tidak suka ini,” katanya akhirnya, suaranya terdengar datar. “Tapi kau setuju?” tanya Daren dengan nada penuh harap. Ethan menghela napas lagi, lalu menoleh ke arahku. Ia kembali memperhatikanku dari atas kepala hingga ujung kaki. Benar-benar menilaiku dari penampilan luarnya saja. "Lagi pula hanya tiga bulan. Dia menyewa tempat ini. Jadi..." “Ini hanya sementara,” katanya dengan tegas. “Dan kau harus mengikuti semua aturanku.” Aku membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu, tapi Daren dengan cepat memotongku. “Hebat! Aku tahu kau akan melakukan hal yang benar.” Aku menatap Ethan, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia menggeleng pelan, lalu berjalan keluar dari ruangan tanpa mengatakan apa-apa lagi. Daren menoleh kepadaku dengan senyum lebar. “Kau beruntung, Sophia. Ethan jarang sekali mengalah seperti ini.” "Kenapa aku harus mempedulikan sikapnya? Tidak ada yang merasa beruntung di saat yang seperti ini," protesku dan hanya ditanggapi dengan tawa kecil dari Daren yang memiliki gigi ginsul yang manis itu. "Kau benar. Tapi mau bagaimana lagi? Setidaknya sampai tiga bulan ke depan, kalian punya waktu untuk menangkap penipu itu. Dan kau bisa mendapatkan uangmu kembali." Aku menghela napas, merasa lega sekaligus canggung. Tinggal bersama Ethan mungkin bukan pilihan terbaik, tapi setidaknya aku tidak perlu tidur di jalan malam ini. Namun, di dalam hatiku, aku tahu bahwa ini baru awal dari kekacauan yang lebih besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD