Kelelahan Sakti

1340 Words
Dibantu ketiga teman lelaki Sakti, Lintang membopong tubuh Sakti yang sudah sempoyongan. Tidak ia pedulikan teriakan bantahan dari Sakti, karena tujuannya datang adalah membawa sahabatnya itu pulang. Bahkan ketiga teman sakti tidak menghitung jumlah gelas dan botol yang dihabiskan sahabatnya itu. Ketiganya tidak tahu dan memang tidak memperhatikan. Kali ini Erik menggantikan posisi Sakti mengemudi, di sampingnya Ivan. Sedangkan Lintang memeluk sakti di jok tengah. Candra mengalah duduk di jok belakang. “Tang, emang elo tadi dari mana, sih? Sakti sampai frustasi kayak gitu?” celoteh Candra seakan sok tahu kondisi Sakti. “Gue dari mana?” ulang Lintang. “Iya!” jawab kompak ketiganya. Namun, tentu saja dengan mindset masing-masing. Candra dan Ivan dengan keyakinan bahwa aksi Sakti akibat patah hati setelah Lintang memiliki kekasih. Sedangkan bagi Erik keberadaan Lintang menentukan apa yang sedang dialami Sakti. “Gue di rumah dan belum kemana-mana. Bahkan gue nyuruh Abimanyu balik setelah Ivan kirim pesan,” jawab Lintang dengan menatap tajam Candra dan Ivan. “Feeling gue kali ini gak ada hubungannya ama gue!” pungkas Lintang. Ivan dan Candra masih menatap Lintang tidak yakin. “Kalian berdua gue colok, syukur lo!” umpat Lintang karena masih mendapat tatapan intimidasi dari teman Sakti itu. “Sadis!” balas keduanya. “Suka-suka guelah!” sahut Lintang tidak mau kalah. “betewe, anyway tadi itu si Sakti ke rumah gue. Terus balik gitu aja gak pamit. Aneh gak sih? Biasanya kalo lagi bete ama gue dia pasti langsung nyamperin gue di kamar,” Lintang mencurahkan isi hatinya yang merasa janggal dengan Sakti. “kita cari tahu lagi nanti kalo dia udah waras, apa yang terjadi sama sahabat gak jelas elo itu!” omel Erik dengan senyum kelegaan yang belum sempurna karena yakin tidak ada hubungannya dengan Lintang meski belum ada titik terang kasus Sakti. “Ya sudahlah.” “Terus mo elo bawa kemana si Sakti sekarang?” tanya Erik. “Pulang ke rumahnya!” jawab Lintang mantap. “Okay…, gaskeun oe kanjeng Ratu,” sahut Erik dengan candaannya mencairkan ketegangan mengkhawatirkan Sakti. Dengan kecepatan sedang Erik mengemudikan innova putih Sakti ke rumah pemiliknya yang teler karena minuman beralkohol. Beruntung ketiga rekannya masih dalam kondisi waras, berkat Erik yang menahan Candra dan Ivan mengikuti aktivitas Sakti. Tiba di halaman rumah Sakti, Erik mengurangi kecepatan innova yang dikendarainya. Kebetulan rumah Sakti tidak berpagar sehingga memudahkan mereka untuk masuk tanpa repot membuka gerbang. Namun, belum sempat mereka membuka pintu mobil, sayup-sayup terdengar suara wanita dan pria berdebat dengan kerasnya. Mendengar perdebatan yang dirasa tidak biasa itu, Lintang mencegah Erik untuk mematikan mesin. Gadis itu malah memerintahkan teman sakti itu putar balik. “Kenapa, Tang?” tanya Candra dengan polosnya. “Ndra, elo itu polos atau pura-pura bego sih?” umpat Lintang kesal karena teman Sakti itu tidak peka. Sontak Ivan dan Erik terkekeh mendengar makian Lintang yang tanpa filter itu kepada Candra. “Syukurin lo, Ndra. Udah tau yang di dalem lagi tengkar masa iya kita masuk. Terus bilang, maap Om, Tante anaknya lagi mabok. Gak lucu tau!” seru Ivan menahan sisa-sisa tawanya. “Maksud gue, ada apa ama orang tuanya Sakti?” ralat Candra. “Nih, anak minta dikepret kali ya! Biar otaknya bisa encer dikit!” seru Erik masih dengan kesalnya. “Eh, bambang dengerin ya! Kalo kita tahu persoalana orang tua Sakti, berarti kita dukun. Fix, elo tuh ya lama-lama bikin gue empet!” maki Lintang dengan sadisnya. Suara tawa kencang kembali terdengar dari dalam innova putih tersebut, kecuali Candra yang manyun karena dibully Lintang. “Eh, nih anak kita bawa kemana?” seru Erik yang sejak tadi mengemudi tanpa tujuan asal memutarkan roda ke jalanan di daerah Merr. Jalanan di sekitaran kediaman Sakti. “Bawa ke rumah gue!” pinta Lintang cepat karena merasa rumahnya paling dekat dengan rumah Sakti. “Yakin lo? Di rumah elo ada nyokap bokap, kan?”tebak Erik begitu saja. “Iya, orang tua gue lagi di Indo,” sahut Lintang yang sempat melupakan orang tua yang sedang menemaninya di rumah. “Ya udah ke rumah gue aja!” putus Erik. Tanpa ada bantahan, Erik segera menuju kediamannya. Dengan jarak tempuh lima belas menit mereka sudah berada di kediaman Erik. Apalagi jalanan Kota Surabaya yang lengang mempercepat perjalanan mereka. Erik dan Ivan membopong tubuh Sakti, disusul Lintang lalu Candra yang harus sabar menunggu Lintang memberi akses turun padanya. Baru juga Sakti hendak ditidurkan di ranjang, terdeteksi cowok itu hendak mengeluarkan isi perutnya. Dengan sigap Erik membawa temannya itu ke kamar mandi, sekalian ia mandikan tubuh lemah itu. Dengan telaten Erik mengganti pakaian Sakti, setelah temannya itu tidur dengan tenang. Erik membersihkan kamar mandinya yang masih berantakan karena ulah sakti memuntahkan isi perutnya ke lantai. Lintang yang penasaran menyempatkan diri masuk ke kamar Erik dan memperhatikan wajah bersih Sakti yang jauh dari jerawat, mulus dan terlihat tampan. Namun, tidak ada getaran apapun saat menatap sahabatnya itu. Berbeda saat ia bersama Abimanyu. “Tang!” panggil Erik menyadarkan lamunan Lintang yang travelling ke Abimanyu. “Hmmm,” sahut Lintang menoleh ke arah Erik. “Teman gue ganteng, kan?” goda Erik. Lintang mencebik sembari melangkah keluar dari kamar Erik sebelum sisi comblang cowok rese itu keluar.  “Rik, kunci mobil Sakti mana?” tanya Lintang sebelum menutup pintu kamar Erik. “Di sebelah rak buku ruang tengah!” seru Erik. “Mau ngapaian?” tanya Erik segera keluar menemui Lintang yang sudah berdiri di depan rak buku dengan netra yang sibuk mencari keberadaan kunci innova Sakti. “Pulanglah!” jawab Lintang. “Urusan Sakti kan udah selesai. Udah malem juga,” sambung Lintang. “Terus elo mo bawa innova Sakti?” tebak Erik seolah tahu apa yang dipikirkan gadis blasteran itu. Lintang hanya cengengesan karena rencananya terbongkar. “Enggak boleh. Bisa-bisa kita yang kena semprot Sakti kalo sampe elo bawa mobilnya!” bantah Erik yang sangat hafal karakter Sakti. Pemuda itu tidak akan pernah mengizinkan Lintang mengendarai mobil sendirian meskipun sahabatnya itu driver ulung. “Terus, elo suruh gue jalan  kaki gitu?” debat Lintang. “Emang elo tadi nyamperin kita naek apa?” kepo Ivan yang tiba-tiba sudah berada diantara Erik dan Lintang. “Naek ojol, dodol. Gue panik,” ketus Lintang sembari menoyor kepala Ivan. Ivan hanya nyengir mendapat serangan gadis ayu itu, “Terus kalian nyuruh aku balik pake ojol lagi? Ck … ck … ck … jika benar begitu kalian benar-benar laki gak berperasaan,” tuduh Lintang benar-benar tanpa filter. “Kalo elo mau, gue sih kagak perlu kuatir ama elo. Gue bukan Sakti,” balas Erik. “Gile aja elo. Daripada naek ojol mending gue bawa innova si Sakti. Peduli apa ama dia besok kalo sadar,” oceh Lintang sembari menyambar kunci otomatis yang masih tergeletak di atas rak buku Erik. “Aauh…” pekik lirih Lintang, karena gerakan gesitnya terbaca Erik. Teman sakti itu memang musuh utamanya sejak dulu, ia satu-satunya cowok yang hafal apa saja yang Sakti suka dan tidak. Termasuk larangan Sakti padanya untuk mengendarai mobil sendiri. “Antar dia, Van!” Erik menyerahkan kunci otomatis innova Sakti kepada Ivan yang ada di sebelahnya. Ivan yang masih dalam mode bengong, hampir saja kecolongan saat Lintang hendak merampas kunci tersebut. Beruntung Erik menyelamatkan benda ajaib itu. “Udah, elo nurut aja deh!” ingat Erik. “Jangan lupa besok pagi ke sini! Tengok tuh, sahabat manja kamu!” Erik mengembalikan kunci innova putih tersebut pada Ivan. “Dan elo, Van. Jangan mau-maunya dikibuli cewek jadi-jadian ini! Gue masih diprinsip awal dia itu cowok yang tersesat di tubuh Lintang,” ledek Erik mengingatkan kembali bagaimana mereka dekat. “Sumpah lo, ya!” balas Lintang dengan kesal. Namun, mau tak mau ia harus patuh aturan Sakti padanya. Erik terkekeh mendengar Lintang kesal padanya. Ivan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar peringatan temannya itu, karena tidak paham maksud ucapan Erik. “Van, cepet anter gue balik. Jangan sampai gue kelamaan liat muka jelek Erik ini! Ntar bisa-bisa gue makin eneg liatnya!” seru Lintang tentu saja tidak serius karena memang begitulah mulut Lintang yang selalu berbicara tanpa difilter dengan teman-teman putih birunya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD