Dua

1058 Words
Saat makan siang dan malam tadi Tana sudah membujuk Evelyn untuk ikut pulang dengan Elrama. Tapi jawabannya selalu sama, tidak. Evelyn memberikan syarat jika Ia pulang Tana pun harus ikut pulang. Tana yang mendengarnya bingung harus menjelaskan apa pada Elrama. "Jadi bagaimana?" tanya Elrama. Sekarang sudah malam, Tana baru saja membantu Evelyn dan yang lainnya untuk beristirahat. "Beliau ingin pulang dengan satu syarat, pak" ucap Tana "Apa?" Tana bingung dan gugup harus bicara apa. Ia tidak yakin untuk mengatakannya. "Apa syaratnya" tanya Elrama tak sabar. "Bu Evelyn ingin saya ikut bersama kalian" ucap Tana pelan. Kedua alis Elrama bertautan. "Kamu bercanda. Itu mau Ibu saya atau kemauan kamu, hah?" Suara Elrama sedikit meninggi membuat Tana tersentak kaget sekaligus tersinggung. "Saya sudah bantu bapak semaksimal yang saya bisa dan itu syarat yang Ibu anda ajukan bukan saya yang minta. Maaf bukannya tidak sopan saya tidak mungkin bertingkah seperti itu dengan membujuk bu Evelyn agar saya tinggal bersama kalian" luapan kekesalan Tana sangat kentara dengan ekspresi wajahnya. "Saya permisi" Tana berlalu dari sana tanpa sudi memandang wajah Elrama. Elrama mengacak rambutnya frustasi. Bingung apa yang harus ia lakukan. ***** "Kamu apain Tana, semalam dia nangis. Dan tadi pagi dia menghindar dari Mami?" tanya Evelyn langsung saat Elrama memasuki kamar Ibunya. "Aku gak tau apa - apa, Mi. Kenapa Mami salahin aku" "Mami tau kamu suruh dia bujuk Mami bukan? Dan semalam Mami liat setelah bicara dengan kamu dia nangis. Kamu apakan Tana, Elrama" ucap Evelyn kesal. "Aku gak tau, Mami" Evelyn hanya memutar bola matanya kesal. "Sekarang kita beres - beres, Mami ikut aku pulang" ucap Elrama. "Kamu pasti sudah dengar dari Tana, Mami akan pulang kalo Tana ikut pulang dengan kita" ucap Evelyn tegas. "Tapi Tana disini kerja, Mi. Gak bisa gitu aja ikut kita pulang" jelas Elrama memberi pengertian. "Ya udah, suruh dia kerja di rumah kita. Mami mau Tana jadi asisten pribadi Mami" ucap Evelyn tak ingin bantahan. "Please, Mi. Jangan kaya gini" "Mami pulang kalo Tana ikut pulang" Elrama menghembuskan napas kasar. Menghalau kekesalan walau bagaimanapun Evelyn adalah Ibunya. "Oke, akan El usahakan. Ini tergantung keputusan Tanayu" Evelyn tersenyum cerah mendengar itu. Langsung berhambur memeluk putra nakalnya. Elrama juga ikut tersenyum membalas pelukan Evelyn erat. "Mami kangen kamu" "El juga" ***** Tana, Evelyn, Elrama dan Mira berkumpul di ruangan Mira. Bermaksud membahas keinginan Evelyn. "Saya serahkan semuanya pada Tana, itu hak dia, saya tidak bisa memaksa" ucap Mira setelah Elrama menyampaikan maksud keinginannya. Semua kini menatap Tana. Evelyn dengan tampang memohon dan Elrama dengan tatapan datarnya. "Maaf" Tana hanya menunduk. Evelyn langsung mengeratkan genggamannya. Seolah bertanya, ada apa. "Aku enggak bisa, Mi" "Tana, Mami mohon" pinta Evelyn dengan mata berkaca - kaca. Tana kini menatap Elrama, masih sama seperti tadi. Datar. "Tana, please. Mami mohon" Tana masih diam. Hingga akhirnya Ia mengangguk tak tega melihat air mata Evelyn yang sudah berurai. "Terimakasih, sayang" Evelyn langsung menarik Tana dalam pelukannya. ***** Tana berhati - hati membantu Evelyn turun dari mobil. Evelyn dengan semangat membawa masuk Tana ke dalam rumahnya. "Selamat datang di rumah Tana. Sekarang rumah ini rumah kamu juga" Tana hanya menyunggingkan senyum tak enak pada Elrama mendengar ucapan Evelyn. "El kamu siapkan kamar yang terbaik untuk Tana" "Biar saya bantu bawa, pak" ucap Tana melihat Elrama membawa banyak barang yang di antaranya juga barang miliknya. Evelyn sungguh - sungguh memintanya menjadi asisten pribadinya. Tinggal bersama di rumahya. "Tidak perlu. Kamu bantu Ibu saya saja istirahat di kamarnya" ucap Elrama datar. Tana hanya menurut, mengantar Evelyn menuju kamarnya. Tana membantu Evelyn berbaring. Evelyn tersenyum senang merasakan perhatian Tana. "Sekarang Mami tidur. Nanti makan siang Tana bangunkan" "Mami mau makan apa? Nanti Tana masakkan" tawar Tana. "Apa saja, yang penting buatan kamu. Mami pasti makan" "Ya sudah Mami istirahat. Tana keluar dulu" ***** Tana bingung apa yang harus Ia lakukan di rumah ini. Tidak ada orang di sini. Ingin masak tapi tidak tahu dapurnya dimana. Ia hanya berdiri di samping tangga. "Ekhemm" Elrama berdehem menarik perhatian Tana. "Kamu bisa ikut saya. Saya tunjukan kamar kamu" Tana mengikuti langkah Elrama dari belakang. Berjalan melamun memikirkan nasib kedepannya bagaimana. Hingga tak sadar Elrama sudah berhenti tepat di depannya. Saat Elrama berbalik menghadap Tana, Tana malah menubruk d**a keras Elrama hingga membuatnya meringis sekaligus malu. "Maaf, pak" ucap Tana malu. "Jangan berjalan sambil melamun, bahaya. Untung kamar kamu di bawah, coba kalo di lantai atas kamu jalan sambil melamun kalo jatuh saya yang harus tanggung jawab" ucap Elrama kesal. Tana hanya menghela napas. "Maaf, pak" "Jangan diulangi" Tana hanya mengangguk. "Ini kamar kamu, tepat di samping kamar Ibu saya. Itu akan memudahkan kamu membantu segala keperluan Ibu saya" jelas Elrama. "Nanti malam saya tunggu di ruang kerja saya, di atas. Kita bicarakan kesepakatan" "Kesepakatan?" heran Tana. "Iya, tidak selamanya kamu ada disini. Aturan apa yang boleh dan tidak boleh kamu lakukan disini" jelas Elrama datar. Tana hanya mengangguk patuh. "Silakan kamu istirahat bersihkan diri" Elrama akan berlalu tapi Tana menahan. "Pak, Mami ingin saya masakan. Apa boleh?" tanya Tana meminta pendapat. "Silakan, dapurnya sebelah sana. Kamu bisa pakai bahan apapun yang ada disana" Tana tersenyum. Mengangguk mengerti. "Terimakasih, pak" ***** Tana baru saja selesai menata masakan yang baru saja Ia buat. Ada ayam goreng, sayur bayam, tahu dan tempe goreng. Semua sudah siap tinggal membangunkan Evelyn. Namun ketika Tana berbalik lagi - lagi kepalanya menabrak d**a bidang Elrama. "Hati - hati, Tanayu" Elrama menahan pinggang Tana yang hampir jatuh. "Maaf, pak" ucap Tana malu, mereka masih berdiri di sana, berhadap - hadapan dengan jarak sangat dekat. Tana yang malu sekaligus kaget hanya mematung di tempat. Hingga sebuah suara mengintruksi. "Ekhemm Mami tinggal sebentar kalian sudah dekat, ya?" goda Evelyn dengan nada jahilnya. Seakan tersadar mereka langsung menjauhkan diri. "Mami sudah bangun, baru saja mau Tana bangunkan" Tana menghampiri Evelyn dengan gugup. Wajahnya sudah sangat merah menahan malu. "Mami ngerti kok" ucap Evelyn terkekeh. "Tana sudah masak semoga Mami suka" ucap Tana mencoba mengalihkan pembicaraan. "Pasti suka, apapun yang kamu buat Mami pasti suka" Tana membantu Evelyn duduk sekaligus mengambilkan nasi beserta lauknya. "Enak, sangat enak" puji Evelyn. "Terimakasih, Mi" "Kamu juga makan, sayang" ucap Evelyn mengelus tangan Tana lembut. "Kamu juga El, ngapain masih berdiri disitu. Sini makan, kamu harus coba masakan Tana sangat enak" ucap Evelyn. "Pelan - pelan Mi makannya. Gak akan aku ambil kok" Elrama memperingati saking semangatnya Evelyn makan. "Ini enak, El" "Iya Mi, Iya" *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD