Satu

1167 Words
Tanayu Sabila atau yang lebih akrab disapa Tana. Lulusan S1 akuntansi di salah satu universitas favorit di Indonesia. Setelah 4 tahun bekerja sebagai staf keuangan di salah satu perusahaan di Jakarta ia memilih mundur. Bos nya yang tua dan m***m sering kali melontarkan kalimat pelecehan padanya. Dan yang terakhir Tana di tawari menjadi istri kedua dengan iming - iming kemewahan. Tentu saja Ia tak mau, dan memilih keluar dari pekerjaan meski mencari pekerjaan sulit. Saat Ia sedang bingung mencari pekerjaan, Ia melihat lowongan di sebuah panti jompo tanpa pikir panjang Ia melamar. Tana tak pernah punya patokan khusus untuk pekerjaan. Asal halal dan ia suka, akan dilakukan. Ia yang supel dan cekatan membuat pemilik panti jompo memilihnya. "Ta, tolong kamu antarkan makan untuk bu Evelyn, beliau hanya mau makan sama kamu" ucap Dini ketika Tana sedang menuntun salah sorang lansia yang ingin jalan - jalan. "Oke" "Oma lanjutkan dengan Mbak Dini ya. Tana ke dalam dulu" wanita lansia itu mengangguk. "Aku titip ya, Din" Dini hanya mengangguk. ***** Sudah beberapa hari sejak Evelyn menangis di pelukan Tana, wanita itu hanya ingin Tana yang menemani dan mengurusi segala kebutuhannya. Seperti saat ini, Tana membawa nampan berisi segelas air dan sepiring nasi dengan makanan favorit Evelyn. "Selamat pagi, Mami" sapa Tana "Kenapa belum sarapan?" "Mami cuma mau Tana yang temani Mami makan" Tana terkekeh geli mendengar nada merajuk Evelyn. "Sekarang Tana ada disini, jadi Mami makan" Tana mangambil piring yang Ia bawa yang tadi Ia letakan di meja. "Mami mau disuapi. Kemarin malam Mami liat nenek - nenek itu kamu suapi juga" "Baik, sini Tana suapi" Tana menyuapi Evelyn dengan telaten. "Makan yang banyak, Mi" "Kamu juga, liat badan kamu kurus sekali. Apa jangan - jangan kamu diet?" ucap Evelyn dengan mata memicing. Tana kembali terkekeh. "Mami gak tau porsi makan aku yang kaya kuli" mereka berdua tertawa. "Tana, Mami gak papah terus disini sampai Mami mati, asal kamu yang menemani" ucap Evelyn sarat akan kesedihan. Tana tersenyum lembut. "Jangan begitu Mi, Tana yakin anak Mami pasti jemput Mami disini" "Dia mungkin sudah lupa punya orang tua seperti Mami" ucap Evelyn dengan mata berkaca - kaca. Tana memeluk Evelyn sayang. "Sekarang Mami habiskan makannya ya, setelah itu Tana antar Mami ke tempat biasa. Tana temani Mami disana" ucapan Tana membuat Evelyn tersenyum cerah. ***** Tana dan Evelyn sedang duduk di bagian samping panti jompo. Disana ada sebuah bangku yang diletakan di bawah sebuah pohon mangga. Evelyn sedang menyisir rambut halus Tana. "Rambut kamu indah sekali, Mami suka" puji Evelyn "Terimakasih, Mi" "Mami kepang ya" pinta Evelyn. Tana hanya mengangguk. "Dari dulu Mami pengen sekali punya anak perempuan. Mami mau dandani, Mami kepang atau ikat rambutnya, mami belikan pakaian yang sama dengan Mami. Tapi anak Mami laki - laki" ujar Evelyn. Tana biarkan saja Evelyn bercerita tanpa menyela, hanya menanggapi sesekali. "Mami" Suara seseorang membuat Tana dan Evelyn melihat ke sumber suara. Seorang pria tinggi memakai setelan rapi berdiri di hadapan mereka. "Mami" ucap pria itu lagi. "Mau apa kamu kesini" ucap Evelyn sinis. Pria itu Elrama -- anak Evelyn, mendekati sang Ibu. Tapi Evelyn menghindar. "Lebih baik kamu pulang, Mami sudah betah tinggal disini" ucap Evelyn "El sudah urus semuanya, Mi. Sekarang kita tinggal pulang. El juga akan tinggal di Indonesia" ucap Elmara jongkok di hadapan Evelyn. Mencoba menggenggam tangannya tapu Evelyn menepisnya. "Gak perlu. Mami tau Mami cuma buat kamu repot" "Enggak, Mi. El gak pernah berpikiran begitu. El sayang Mami" ucap El menatap sang Ibu sayang. "Mami gak mau denger apapun, intinya kamu sudah gak peduli Mami. Kamu buang Mami di sini" Evelyn beranjak, menarik Tana berdiri. "Mataharinya udah terik, ayo kita masuk. Kamu sudah janji temani Mami seharian" ucap Evelyn menarik tangan Tana. "Permisi, Pak" Tana mengangguk sopan pada Elrama. "Hati - hati, Mi. Nanti jatuh" Elrama mengikuti Evelyn dan Tana dari belakang. Sampai di kamar Tana dengan hati - hati membantu Evelyn duduk di kasurnya. Elrama yang ingin membantu langsung ditepis kasar Evelyn. "Please, Mi. Jangan begini dong" bujuk Elrama. "Gak usah deket - deket Mami. Kamu tenang aja sudah ada Tana yang temani dan rawat Mami. Kalo kamu mau pergi lagi silahkan" ucap Evelyn datar. Elrama meraup wajahnya kasar. Bingung harus berbuat apa. Ini salahnya juga yang menitipkan sementara sang Ibu di panti jompo ini. "El mau ketemu Bu Mira dulu, El tinggal sebentar" pamit Elrama "Gak usah kembali juga gak papah, mau langsung pulang juga silakan" ucap Evelyn cuek. Elrama hanya menghela napas sabar. "Saya titip Ibu saya sebentar" ucap Elrama pada Tana. Tana hanya mengangguk. Setelah Elrama pergi perlahan air mata Evelyn mengalir. "Jangan sedih lagi, Mi. Sekarang anak Mami sudah jemput. Apa Tana bilang, anak Mami pasti jemput, dia pasti sayang banget sama Mami. Tana yakin gak sampai hati dia titipkan Mami disini" ujar Tana memeluk Evelyn. Mengelus pundaknya pelan, menenangkan. "Mami gak mau pulang. Mami gak mau berpisah sama kamu. Ikut Mami pulang ya" isak Evelyn. Tana terkekeh. "Mami ada - ada aja deh" ***** "Mami saya gak mau pulang, Tan" ucap Elrama pada Mira --pemilik panti jompo. Mira adalah Tante dari salah satu temannya. Panti jompo ini adalah milih keluarga temannya. Menitipkan Ibunya di panti jompo adalah salah satu ide temannya juga. "Sudah lama beliau tunggu kamu jemput. Setiap pagi Mami kamu selalu duduk di samping panti ini, berharap kamu jemput. Ibu kamu tidak mau berbaur dengan yang lain, beliau sangat penyendiri. Sering melamun" jelas Mira. Meski tiap hari Mira melaporkan keadaan Evelyn, hari ini ia jelaskan kembali bagaimana keadaan Evelyn selama berada disana. "Ini karena saya. Kenapa saya harus turutin omongan keponakan tante itu sih. Saya jadi ngerasa anak paling durhaka" kesal Elrama. Mira hanya terkekeh. "Tapi semenjak ada Tanayu, Ibu kamu sudah lebih banyak tertawa jadi periang. Tapi hanya dengan Tanayu" jelas Mira. "Perempuan yang sama Mami saya itu?" tanya Elrama. Mira mengangguk. "Mami kamu sangat dekat dengan dia" Elrama hanya mengangguk paham. "Bisa saya bicara secara pribadi dengan dia?" tanya Elrama. "Silakan" ***** Tana mengetuk pintu ruangan Bu Mira. Tadi saat sedang menemani Evelyn tidur Dini bilang jika dia dipanggil Bu Mira ke ruangannya. "Masuk" mendengar sautan dari dalam Tana masuk. "Permisi, Bu. Ibu panggil saya?" tanya Tana sopan. "Silakan duduk Tana, ini pak Elrama anak Ibu Evelyn ingin bicara secara pribadi dengan kamu" Tana kini menatap Elrama dengan alis bertaut heran. "Kalo gitu saya permisi" pamit Mira. "Sedang apa Ibu saya?" tanya Elrama "Mami sedang tidur, kelelahan menangis biasanya Mami langsung tidur" jelas Tana dengan senyum manis. "Mami?" heran Elrama dengan alis bertaut "Anu, maaf. Tapi bu Evelyn minta saya panggil seperti itu" jelas Tana salah tingkah. Elrama hanya mengangguk mengerti. "Mami menangis?" tanya Elrama. Tana hanya mengangguk. "Bisa kamu bujuk Ibu saya untuk ikut saya pulang?" ucap Elrama to the point "Saya?" "Iya kamu. Saya dengar kamu sangat dekat dengan Ibu saya" Tana masih diam. Bingung harus menjawab apa. "Saya mohon. Saya sangat menyesal 2 bulan ini meninggalkan Ibu saya di sini. Saya mohon bantu saya. Saya akan bayar untuk itu" ucap Elrama. "Tidak perlu dibayar, pak. Saya akan coba bujuk Ibu anda" *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD