Mentari memilih untuk ke kelas dengan wajah sangat mendongkol. Dirinya berapi-api, karena menyesali kenapa dia bisa menangis hanya bentakkan dari Langit. Ah sial.. Mentari benar-benar merasa dirinya seperti bucin, ia tak pernah sebodoh ini menangis lelaki yang sudah jelas menolak kehadirannya. 'Argh... Aku enggak terima. Brensek' Mentari membatin seakan ingin berteriak. "Darimana lo, Men." Tegur Salsa. "Lo enggak ikut kelas Pak Danu tadi." "Makalah lo udah, Hari ini terakhir loh." Kata Tata sembari memandang intens wajah Mentari. "Lo sehatkan, Ada yang menganggu pikiran lo sampai enggak sadar ada kita." "Apaan sih lo pada. Gw lagi kesal... Gw benci banget sama Langit. Dia benar brensek, sengak, belagu, sok ganteng." Segala hujatan dia lontarkan membuat kedua sahabatnya meledakkan tawa

