“Papah!” ucap Rival, menghampiri Pak Helmi, bersama teman-temannya.
“Ada apa Rival?”
“Pah, aku sama temen-temen aku, baru aja nemuin bukti, kalau Gerald sama Liora itu dijebak.”
“Mana buktinya?”
“Bert!”
Albert berjalan mendekat dengan Pak Helmi, kemudian menunjukan surat serta bukunya Devin dan Clara.
“Ini surat yang kami temuin di lockernya Gerald sama Liora, Pak. Di surat ini, isinya jebakan yang nyuruh Gerald dan Liora buat ketemu di aula sekolah.”
“Iya Pak, dan mereka juga naruh botol minuman ini di lockernya Gerald sama Liora.” Alexa menunjukan dua botol tersebut. “Minuman yang udah dicampur sama obat tidur. Jadi, di saat Gerald sama Liora udah sampe di aula, mereka langsung pingsan karena nggak kuat nahan ngantuk yang luar biasa, terus mereka ngubah posisi Gerald sama Liora jadi pelukan. Sampe akhirnya, semua kesalah pahaman ini terjadi.”
“Dan orang yang udah ngelakuin semua itu adalah, Devin sama Clara, murid kelas sepuluh IPS satu.” ucap Elina.
“Dari mana kalian tahu kalau mereka pelakunya?”
“Dari buku tulis mereka ini Pak.” balas Albert. “Karena tulisan di buku tulisnya Devin sama Clara, itu sama persis dengan tulisan yang ada di surat yang kami temukan di lockernya Gerald dan Liora. Silahkan Bapak cek sendiri!”
Albert memberikan surat dan kedua buku tersebut. Pak Helmi lalu membaca isi surat tersebut, kemudian melihat tulisan di buku tulisnya Devin dan Clara.
“Astaghfirullahaladzim!” Pak Helmi langsung terkejut, saat menyadari bahwa tulisan di surat tersebut memang sama persis dengan tulisannya Devin dan Clara. “Ini memang tulisannya Devin dan Clara.”
“Ibu Melly, Pak Rian, kalian lihat sendiri kan? Kami sudah menemukan bukti, kalau Gerald sama Liora itu cuma dijebak, mereka sama sekali nggak melakukan hal nggak senonoh di sekolah ini.” ucap Albert.
Ibu Melly dan Pak Rian kemudian melihat bukti dari buku tulis dan surat tersebut. Setelah itu mereka langsung terkejut saat mengetahui bahwa di surat tersebut memanglah tulisannya Devin dan Clara.
“Pak Rian.” panggil Pak Helmi.
“Iya Pak?”
“Tolong bawa Devin dan Clara ke ruangan Guru sekarang! Kita akan interogasi mereka tentang ini semua!”
“Baik Pak!” Pak Rian lalu langsung pergi untuk menjemput Devin dan Clara ke ruangan Guru.
“Pah! Papah harus percaya! Gerald sama Liora nggak mungkin berbuat m***m di sekolah ini. Papah kenal sendiri kan Gerald itu Anaknya gimana? Dia itu Anak yang baik, paham pendidikan dan juga agama, Liora juga. Apalagi sekarang kita semua tahu, kalau Gerald itu menderita gangguan gynophobia, jadi mustahil banget buat Gerald bisa berbuat hal kayak gitu. Tolong jangan keluarin Gerald sama Liora dari sekolah ini, Pah!”
“Iya Rival Papah tahu. Tapi bukti yang kalian temukan itu belum tentu pasti kebenarannya. Nanti kalau bukti sudah benar-benar terkuak, baru Papah akan memutuskan keputusan yang terbaik.”
“Alah Pah! Bukti yang kita temuin itu udah pasti! Nggak perlu diperiksa lagi! Udah deh Pah, hukum aja si Devin sama si Clara!”
“Rival cukup! Mending sekarang kamu sama temen-temen kamu ini kembali ke kelas kalian! Ayo sana!”
“Maaf Pak, apa nggak sebaiknya kita menemani Bapak dan para Guru lainnya untuk menginterogasi Devin dan Clara?” ucap Albert. “Karena kan, kami yang menemukan bukti-bukti ini. Jadi, mungkin nanti Bapak akan membutuhkan kami untuk penjelasan lebih lanjut?”
“Tidak perlu, Albert! Bukti yang kalian temukan ini sudah cukup untuk mengatakan segalanya. Mending sekarang kalian pergi ke kelas sana!”
“Tapi Pah, kita kan--”
“Rival!” Pak Helmi memotong pembicaraan Rival. “Kembali ke kelas! Jangan ganggu Papah lagi kerja.”
Rival langsung terdiam. “Iya Pah. Ayo guys!” dia dan teman-temannya kemudian melangkah ke luar ruangan Guru.
“Heh Tevi!” ucap Elina. “Lo kok dari tadi diem aja sih? Kenapa lo nggak ngomong-ngomong?”
“Ngapain sih lo nanya dia, El?” ucap Alexa. “Dia kan suka sama si Clara, ya jelaslah dia nggak bakalan berani ngomong tadi.”
“Aduh! Lo berdua tuh kenapa sih sensian mulu sama gue? Harus berapa kali sih gue bilang kalau gue itu nggak ada perasaan apa-apa sama si Clara? Bisa nggak sih kalian stop ngomong kayak gitu?”
“Tahu lo berdua!” ucap Rival. “Sensian banget sih sama sahabat gue! Ya terus kalaupun emang bener ya, si Tevi ini suka sama si Clara emangnya kenapa? Masalah buat kalian?”
“Heh Rival, lo kok malah belain dia sih? Inget, si Gerald juga sahabat lo, dia udah dibikin viral secara tidak terhormat sama si Clara. Terus lo ngebiarin sahabat lo ini suka gitu sama si Clara?” ucap Elina.
“Ya mau si Tevi suka sama siapapun, ya itu hak dialah, masa harus dilarang sih?” balas Rival. “Emangnya hati bisa diatur gitu harus suka sama siapa aja? Nggak jelas banget sih lo berdua.”
“Elo yang nggak jelas!” ucap Alexa. “Lo aneh! Lo sama sahabat lo ini bener-bener nggak jelas! Aneh banget najis! Udah yuk El!” Alexa lalu menarik tangan Elina, pergi menuju kelas.
“Tevi, emang lo beneran suka sama si Clara?” tanya Albert.
“Nggak kok, gue nggak ada perasaan apa-apa sama dia. Seriusan gue nggak ada rasa apa-apa sama si Clara.”
“Mending lo jujur aja deh Tev!” ucap Rival. “Jujur aja kali kalau lo suka sama si Clara. Sama kita ngapain sih main rahasia-rahasiaan?”
“Apaan sih? Kok lo jadi sama kayak si Alexa sama si Elina? Gue bilang gue nggak ada perasaan apa-apa sama si Clara.”
“Kalau lo nggak suka sama si Clara, terus kenapa kalau kita ada masalah sama si Clara, lo selalu belain dia kayak tadi? Hmm?”
“Val, gue kan udah bilang, gue nggak belain dia. Gue itu cuma ngasih tahu kalian, buat jangan asal nuduh, itu nggak baik.”
“Lo suka sama Clara.”
“Nggak!”
“Lo suka sama Clara.”
“Serah lo!”
“Jujur aja sih! Kalaupun elo pacaran sama si Clara nanti, gue sama Gerald nggak bakalan ngejauhin lo kok.”
“Maksud lo? Elo sama Gerald bakalan temenan sama si Clara, karena dia nanti pacaran sama si Tevi?” tanya Albert. “Lo tuh aneh banget sih Rival! Temen lo suka sama cewek jahat malah lo dukung, harusnya lo nasehatin si Tevi buat nggak deket-deket sama cewek jahat. Inget! Si Clara itu udah bikin sepupu gue dapet masalah besar dan dihujat semua orang, dan sepupu gue itu sahabat lo.”
“Eh Albert, lo kok sama sih kayak si Alexa sama si Elina?”