Bukti Yang Ditemukan

1134 Words
“Devin!” Dhirga dan Jeffry langsung membantu Devin kembali berdiri. “Clara!” begitupun dengan Reva dan Vitta yang langsung menghampiri Clara, dan langsung mengelus-elus kaki Clara yang kesakitan. “Bert!” Rival dan Tevi menghampiri Albert. “Gimana hasilnya? Tulisannya sama nggak?” tanya Tevi. Albert terdiam menatap Devin dan Clara, tak lama kemudian air matanya langsung berlinang deras. “Seumur hidup, baru kali ini, gue ketemu manusia sejahat kalian! Devin, Clara!” isak Albert. Dengan tangisan yang penuh dengan kesedihan, Albert kemudian berlari keluar kelas sembari membawa kedua surat serta bukunya Devin dan Clara. “Albert!” panggil Tevi. “Dia kok nangis sih? Terus tiba-tiba lari gitu aja?” tanya Rival. “Jangan-jangan perkiraan Alexa itu bener, kalau surat-surat itu asalnya dari Devin sama Clara, terus Albert lihat tulisan mereka sama?” “Jangan-jangan iya. Yaudah yuk susul!” “Yuk!” Rival dan Tevi lalu langsung berlari menyusul Albert. Sementara itu, Albert berhenti di depan kelasnya, kemudian duduk di teras depan kelasnya. Dia menangis dengan air mata yang mengalir deras, dia benar-benar tak menyangka bisa bertemu dengan manusia sejahat Clara dan Devin. “Gerald.” panggil Alexa, yang baru saja tiba di depan kelas bersama Elina. “Gerald.” Alexa lalu berjongkok di depan Albert. “Lo kenapa nangis?” “Gue, gue udah temuin siapa pemilik dari surat biadab ini.” isak Albert. “Siapa emang?” tanya Elina. “Pemilik kertas ini, emang beneran si Devin sama si Clara!” “HAH?” Alexa dan Elina langsung terkejut begitu saja, setelah mendengar ucapan Albert barusan. “Jadi bener, kalau mereka dalang dari semua masalah ini?” “Iya, ini buktinya. Gue bawa buku tulis mereka, dan tulisan mereka sama persis sama tulisan di kertas yang ada di locker nya Gerald sama Liora.” Albert memberikan buku dan kertas tersebut kepada Alexa dan Elina. Alexa dan Elina kemudian langsung menyamakan tulisan di surat dan buku itu, sampai akhirnya mereka menyadari bahwa tulisan di bukunya Devin dan Clara memang sama persis dengan tulisan yang ada di surat kertas itu. Alexa dan Elina langsung merasakan amarah yang membara, ketika mengetahui bahwa Devin dan Claralah dalang dari masalah yang menimpa sahabat mereka. “Keterlaluan! Jadi bener dugaan gue, kalau mereka dalang dari masalah yang nimpa Gerald sama Liora!” ucap Alexa. “Mereka bener-bener biadab! Mereka nggak punya hati, mereka bukan manusia! Jahat banget sih sampe ngelakuin hal itu! Apa coba salahnya Gerald sama Liora ke mereka?” ucap Elina. “Terus gimana sama cairan itu? Kalian udah cek?” tanya Albert. “Iya udah, kita udah cek. Ternyata bener, minuman itu udah dicampur sama obat tidur.” balas Alexa. “Yaudah, kalau gitu ayo kita laporin si biadab Clara sama Devin ke Kepala Sekolah!” ajak Albert. “Guys!” Tevi dan Rival tiba. “Gimana? Apa kalian udah dapetin buktinya?” tanya Rival. “Udah, tulisan ini emang sama persis sama tulisannya si biadab Devin sama Clara!” balas Albert. “Dan di botol minuman ini, emang udah dicampur sama obat tidur.” balas Elina. “Si Devin sama si Clara, sengaja ngejebak Gerald sama Liora. Ini bener-bener keterlaluan! Ayo kita laporin mereka ke Kepala Sekolah!” ajak Alexa. “Kok bisa sih? Kenapa coba mereka ngelakuin itu sama Gerald Liora?” tanya Tevi. “Heh Tevi! Gue tahu, lo pasti mau belain crush lo si Clara itu kan?” ucap Elina. “Kalau lo mau belain dia, mending masuk ke kelas sana lo! Nggak usah deket-deket sama kita!” “Iya lo! Pergi sana lo!” ucap Alexa. “Dih! Apaan sih? Gue kan cuma nanya, kenapa kalian malah ngusir gue?” “Udah deh!” ucap Rival. “Kenapa malah jadi pada ribut gini sih? Kalian jangan sensi gitu dong! Si Tevi kan cuman nanya.” “Kenapa malah pada bacod sih?” ucap Albert. “Ayo buruan kita laporin bukti-bukti yang udah kita temuin!” Albert kemudian melangkah menuju ruang Guru, lalu yang lainnya mengikutinya. Sementara itu. “Itu Anak-Anak IPA ngapain sih ke sini tadi? Ngapain mereka bawa-bawa buku lo sama si Clara?” tanya Dhirga. “Gue, gue nggak tahu.” balas Devin. “Terus kenapa mereka kasar banget sama lo sama si Clara? Kenapa juga sih kalian diem aja nggak ngelawan?” tanya Jeffry. “Gue nggak tahu! Gue bilang gue nggak tahu!” ucap Devin kesal. Devin lalu menghampiri Clara yang menangis pelan, karena kakinya masih terasa sangat sakit. “Clar!” “Apa?” balas Clara dengan emosi. “Bukannya bantuin gue lo malah diem aja! Sakit nih kaki gue!” Devin kemudian berbisik ke telinga Clara. “Gawat! Jangan-jangan mereka tadi nyamain tulisan di buku tulis kita sama di surat yang mereka temuin di lockernya Gerald sama Liora? Sekarang mereka ngebawa buku kita sama surat yang udah kita buat. Gimana dong nih?” Air mata Clara semakin mengalir deras, karena langsung ketakutan setelah mendengar ucapan Devin barusan. “Nggak! Gue nggak mau! Pokoknya gue nggak mau! NGGAK!” mendadak, Clara menjerit ketakutan. “Clara! Lo kenapa?” tanya Vitta. “Nggak apaan?” “Sebenernya kalian berdua tuh kenapa sih? Ada masalah apa kalian sama Anak-Anak IPA tadi? Kenapa kalian sampe dihajar sama mereka kayak gitu?” tanya Reva. “Iya, terus kenapa mereka ngebawa buku kalian?” tanya Reva. “Diem! Kalian diem!” isak Clara dengan penuh ketakutan. “Kenapa sih? Kalau ada masalah cerita dong sama kita! Kita kan sahabat lo!” ucap Reva. “Iya Clar, kenapa sih lo?” tanya Vitta. “Ini semua gara-gara lo!” Clara mendorong Devin. “Udah gue bilangin bahaya, masih aja lo lakuin!” “Kok lo malah nyalahin gue sih? Elo sendiri juga ikut-ikutan, kenapa jadi nyalahin gue? Elo juga salah!” “Nggak! Gue nggak salah! Elo yang salah, karena semua ide ini berasal dari lo!” “Dasar freak lu! Lo sendiri ngedukung gue dan ngikut-ngikut gue. Kenapa sekarang malah nyalah-nyalahin gue?” “Woy! Kalian kenapa sih?” tanya Dhirga. “Nggak jelas banget sih lo berdua? Tiba-tiba panik kayak gitu, terus tiba-tiba saling nyalahin kayak gitu? Kenapa sih?” tanya Jeffry. Devin dan Clara langsung ketakutan, saat mengetahui buku mereka dibawa oleh Albert. Mereka takut, jika rencana jahat yang telah mereka lakukan kepada Gerald dan Liora akan terbongkar, dan mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas apa yang telah mereka perbuat. “Kalau sampe terjadi apa-apa nanti, ini semua salah lo! Lo yang harus tanggung jawab!” bentak Clara sembari menunjuk-nunjuk Devin. “Nggak! Ini bukan salah gue doang! Tapi ini salah lo juga, karena lo ikut ngedukung gue dan ikut ngelakuinnya juga. Apapun yang terjadi, lo dan gue yang salah!” “NGGAK!” jerit Clara. “GUE NGGAK MAU!” Clara benar-benar merasa sangat takut. Hingga membuatnya tak bisa mengontrol ketakutannya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD