Amarah Yang Membara

1114 Words
“Assalamualaikum.” ucap Anton dan Silvia yang baru saja tiba di dalam ruangan Guru SMA Garuda Bangsa. “Waalaikumsalam.” balas Pak Helmi dan para Guru. Anton dan Silvia lalu langsung menghampiri Gerald dan Liora. “Kak!” isak Liora, kemudian langsung memeluk Silvia dengan erat, menangis dalam pelukan Kakaknya. “Gerald.” Anton menyentuh pipi Gerald yang berlinang air mata. Gerald lalu langsung memeluk Kakaknya dengan penuh tangisan. “Ada apa ya, Pak?” tanya Anton. “Apa yang udah terjadi sama Adik-Adik kami?” “Jadi, Kakaknya Liora ini temen kamu Anton?” Pak Helmi tentu saja sudah mengenal Anton, karena dia dan Ayahnya Anton adalah teman baik. “Iya Pak, namanya Silvia.” “Jadi begini Anton, Silvia. Adik kalian telah kami pergoki, sudah melakukan hal yang tidak senonoh di aula sekolah ini.” “APA?” Silvia terkejut mendengarnya. “Hal yang nggak senonoh gimana maksudnya, Pak?” tanya Anton. “Gerald dan Liora, telah bolos pelajaran olahraga, dan kami melihat mereka sedang tidur bersama di ruangan aula sekolah, dengan posisi berpelukan.” “Astaghfirullahaladzim!” Anton dan Silvia langsung terkejut begitu mendengar ucapan Pak Helmi barusan. “Nggak Kak! Aku sama Gerald nggak ngelakuin hal itu!” isak Liora. “Iya Kak, aku sama Liora nggak ngelakuin itu!” isak Gerald. “Tadi itu, waktu aku mau ganti baju di ruangan locker, aku dapet surat yang ditulisnya itu dari Liora, dia nyuruh aku buat ke aula sekolah. Terus ternyata, pas di aula sekolah, Liora juga dapet surat, katanya itu dari aku padahal bukan, begitupun sama surat yang aku dapet, itu ternyata bukan dari Liora. Habis itu kita pingsan secara tiba-tiba. Terus kita nggak tahu kenapa kita bisa tiba-tiba dalam posisi pelukan!” “Iya, kita itu pingsan! Terus ada orang yang sengaja ngejebak kita, ngebuat posisi kita jadi pelukan. Sumpah aku sama Gerald nggak pernah berbuat m***m!” isak Liora. “Iya-iya, Kakak percaya kok sama kamu.” Silvia tentu saja percaya dengan ucapan Adiknya itu, dia lalu memeluk Liora. “Jelas Kakak percaya sama omongan kamu, Gerald!” Anton pun kembali memeluk Gerald. “Pak! Gerald dan Liora ini nggak mungkin ngelakuin hal yang nggak senonoh seperti itu. Mereka ini Anak yang paham pendidikan dan juga agama. Mereka nggak mungkin ngelakuin itu.” ucap Silvia. “Tapi bukti sudah jelas! Mereka dipergoki sedang tidur sambil pelukan di aula sekolah.” ucap Ibu Melly. “Maaf Bu, Adik kami sudah bilang, kalau mereka itu pingsan di aula, dan ada yang sengaja menjebak mereka.” ucap Anton. “Lagipula, bukannya Om saya sudah menjelaskan tentang kondisi Gerald kepada semua Guru di sekolah ini? Gerald ini menderita gangguan gynophobia, dia nggak bisa bersentuhan sama perempuan. Jadi, mana mungkin Gerald bisa berbuat seperti itu dengan Liora?” “Apa? Gynophobia?” ucap Silvia, yang baru mendengar kata gynophobia. “Iya, saya juga berpikir seperti itu.” ucap Pak Helmi. “Gerald menderita gangguan gynophobia, dan dia juga adalah Anak yang paham pendidikan dan juga agama, jadi sangat mustahil jika seorang Gerald melakukan hal seperti itu.” “Jadi sekarang gimana Pak? Apa sekolah ini bisa menyelesaikan masalah ini?” tanya Silvia. “Untuk sementara, saya tidak mengizinkan Gerald dan Liora untuk masuk sekolah, sampai masalah ini benar-benar terbukti kebenarannya. Jika nanti, Gerald dan Liora terbukti bersalah, kami akan langsung mengeluarkan mereka dari sekolah ini. Tapi jika mereka tidak terbukti bersalah, kami pastikan, orang yang membuat mereka bersalah sekarang, akan mendapatkan hukuman yang setimpal.” “Tolong ya Pak! Tolong selesain masalah ini. Saya nggak mau nanti Adik saya jadi depresi karena masalah ini.” ucap Anton. “Iya Anton, saya pasti akan berusaha untuk menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Kalau begitu, lebih baik kalian pulang sekarang! Supaya masalah ini bisa langsung dikuak kebenarannya.” “Iya Pak, kalau begitu kami pamit.” ucap Anton. “Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Anton, Gerald, Silvia dan Liora lalu langsung bergegas pulang. “Silvia, Liora. Kalian bareng kita aja ya!” ucap Anton. “Iya, makasih Ton.” Anton tersenyum. “Yaudah yuk!” Mereka lalu pulang dengan menggunakan mobil Anton. Gerald duduk di depan bersama Anton, sedangkan Liora dan Silvia duduk di belakang. Gerald duduk terdiam dengan sangat lesu, tatapannya terlihat sangatlah kosong. begitupun Liora, dia memeluk Silvia dengan sangat lesu dan tatapan yang kosong. Gerald dan Liora terlihat seperti sangat frustasi dengan masalah yang menimpa mereka. *** Albert, Tevi dan Rival baru saja tiba di dalam kelas X IPS 1. “Ngapain lo pada ke sini?” tanya Devin dengan lantang. “Tadi ngusir kita! Kenapa sekarang malah nyamperin kita ke sini?” ucap Clara. “Nggak jelas banget!” Albert menatap Devin dengan tatapan tajam, kemudian dia melangkah menghampiri Devin. “Apa lo? Biasa aja lo ngelihatinnya! Ngajak ribut lo hah?” Albert lalu mengambil sebuah buku yang berada di meja bangkunya Devin, yang ternyata buku itu adalah milik Devin, karena terdapat nama Devin di sampul buku tersebut. Albert kemudian membuka buku tersebut, lalu menyamakan tulisan di buku itu dengan tulisan di surat yang dia temukan di lockernya Gerald. Mata Albert langsung mendadak tajam, begitu melihat bahwa tulisan yang ada di surat tersebut sama persis dengan tulisan yang ada di bukunya Devin. Dia lalu membawa buku tersebut kemudian menghampiri Clara yang sedang duduk di bangkunya. “Woy buku gue mau lo bawa ke mana?” Devin langsung berlari untuk mengambil kembali bukunya, namun Tevi dan Rival menghalanginya. “Mana buku tulis lo?” ucap Albert kepada Clara. “Ngapain lo nanya-nanya buku tulis gue?” “Serahin buku tulis lo ke gue!” “Apaan sih lo? Nggak jelas banget!” “Buruan serahin! Atau gue pake cara kekerasan!” “Lakuin aja kalau lo berani!” Albert menatap Clara dengan tatapan tajam, setelah itu dia menendang kursi yang Clara duduki dengan penuh amarah. Hal itu membuat Clara terjatuh karena kursinya terdorong jatuh. “Awww!” Clara langsung merenges kesakitan. “Aawwww!” dia lalu langsung menangis begitu saja karena kakinya terasa sakit saat terjatuh dari kursi. “Clara!” Devin langsung menghampiri Clara. Seisi kelas X IPS 1 langsung terkejut saat melihat Albert yang begitu kasar kepada Clara sampai membuatnya menangis kesakitan. Namun Albert tak mempedulikan hal itu. Dia membuka tasnya Clara, lalu mengambil salah satu buku tulisnya Clara. Kemudian dia samakan tulisan di buku Clara, dengan tulisan di surat yang dia temukan di lockernya Liora, yang ternyata tulisannya sangatlah sama. Setelah mengetahui surat-surat tersebut memang berasal dari Devin dan Clara, hati Albert langsung dipenuhi oleh amarah yang membara-bara. “WOY!” Devin membentak Albert. “KALAU BERANI JANGAN SAMA CEWEK LO!” “BACOD LO!” teriak Albert dengan penuh amarah, lalu langsung memukul kepala Devin sampai membuatnya terjatuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD