Tangisan Ketakutan

1137 Words
Gerald dan Liora kini tengah duduk di ruangan Guru, di hadapan Kepala Sekolah dan semua Guru. Mereka duduk terdiam sembari menangis. “Pak Rian, Ibu Melly, sekarang jelaskan kepada kami semua! Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Apa yang sudah Gerald dan Liora lakukan?” tanya Pak Helmi. “Mereka,” isak Bu Melly. “mereka sudah berbuat m***m di aula sekolah kita, Pak Helmi.” “APA?” Pak Helmi dan semua Guru langsung terkejut begitu mendengar ucapan Ibu Melly barusan. “Iya Pak, itu benar.” ucap Pak Rian. “Tadi saya dan Bu Melly, serta para murid-murid, memergoki Gerald dan Liora sedang tidur sembari berpelukan di aula sekolah.” “Nggak Pak Helmi!” isak Gerald. “Saya sama Liora nggak berbuat seperti itu!” “Iya Pak!” isak Liora dengan air mata yang mengalir deras. “Saya sama Gerald tadi pingsan di aula sekolah, terus kami nggak tahu kenapa kami bisa tiba-tiba berubah ke posisi pelukan.” “Gerald! Liora! Kalian sudah tertangkap basah, jadi untuk apa kalian masih berpura-pura tidak melakukan itu?” ucap Pak Rian. “Lebih baik kalian mengaku saja! Tidak ada gunanya kalian bersandiwara!” “Demi Allah demi Rasulullah, saya sama Liora nggak berbuat seperti itu Pak Rian.” “Gerald Liora! Kalian sudah tertangkap basah berbuat m***m, lalu kalian masih berani bersandiwara seperti itu di hadapan kami para Guru kalian?” isak Ibu Melly. “Tega banget kalian sama Ibu! Ibu wali kelas kalian, dan kalian permaluin Ibu seperti ini di hadapan banyak orang!” “Ibu Melly! Tolong Ibu percaya sama saya! Saya sama Gerald nggak ngelakuin itu Bu. Demi Allah kami nggak ngelakuin itu!” “Ini tidak mungkin! Tidak mungkin mereka melakukan hal tidak senonoh seperti itu.” ucap Pak Helmi, yang tidak percaya jika Gerald dan Liora melakukan hal tersebut. “Pak Helmi, saya, Ibu Melly, dan banyak murid-murid lain, melihat dengan mata kepala kami sendiri. Kami semua melihat mereka berbuat hal yang tidak senonoh di aula sekolah ini. Bukti sudah jelas dan sudah menyebar ke mana-mana. Mereka sudah jelas terbukti melakukan hal bejad di sekolah ini.” ucap Pak Rian. “Mereka sudah membuat nama baik sekolah kita ini tercemar karena perlakuan bejad mereka!” “Apa? Gerald dan Liora sudah menyebar ke mana-mana? Apa kalian membiarkan murid-murid lain sengaja memviralkan Gerald dan Liora ke sosial media?” “Memang sudah sepantasnya mereka mendapatkan itu Pak! Karena mereka sudah membuat nama baik SMA Garuda Bangsa ini jadi tercemar. Mereka pantas dihujat oleh satu negara ini.” ucap Ibu Melly. “Kalian berdua seharusnya tidak mengizinkan murid-murid lain memviralkan Gerald dan Liora! Seharusnya jika ada masalah, pihak sekolah harus bisa menyembunyikan masalah ini dulu, masalahnya saja belum jelas kebenarannya, bisa-bisanya kalian membiarkan media mengetahui masalah di sekolah ini!” ucap Pak Helmi. “Bukti sudah jelas Pak! Apa lagi yang belum jelas?” ucap Pak Rian. “Iya Pak, bukti sudah jelas. Lebih baik Bapak langsung keluarkan mereka dari sekolah ini!” “Tidak! Bukti itu tidak cukup jelas! Jadi Gerald dan Liora belum tentu bersalah! Lagipula tidak mungkin seorang Gerald dan Liora melakukan hal tidak senonoh seperti itu, mereka itu Anak yang baik-baik, Anak yang paham ilmu dan agama, apalagi Gerald, dia adalah Anak teman saya dan sekaligus sahabat Anak saya, jadi saya kenal betul kalau Gerald itu Anak yang baik-baik.” “Bapak bisa lihat berita yang sedang viral di media sosial sekarang! Di sana ada--” “DIAM!” bentak Pak Helmi, memotong pembicaraan Pak Rian. “Sekarang saya minta kalian para Guru untuk diam, jangan menghakimi Gerald dan Liora!” Para Guru langsung terdiam setelah Pak Helmi membentak mereka seperti itu. “Gerald, Liora! Sekarang Bapak minta kalian telepon orangtua kalian, suruh mereka untuk menghadap saya sekarang juga!” perintah Pak Helmi. “Iya Pak.” balas Gerald dan Liora dengan isakan air mata. Gerald dan Liora langsung menelepon Ayah mereka, namun tidak aktif, kemudian mereka menelepon Ibu mereka, dan sama tidak aktif. Setelah itu mereka menelepon Kakak mereka, dan langsung diangkat. “Hallo Liora, ada apa?” ucap Silvia melalui telepon. “Kak!” isak Liora. “Kakak ke sekolah aku ya sekarang! Tolongin aku!” “Kamu kenapa? Kok kamu nangis kayak gitu?” “Pokoknya Kakak ke sekolah aku sekarang! Temuin aku di ruangan Guru, secepetnya ya Kak!” “Yaudah oke, kamu tunggu Kakak ya! Kakak bakalan langsung berangkat nih.” “Hallo Gerald, ada apa?” tanya Anton melalui telepon. “Kak!” isak Gerald. “Kak tolongin aku!” “Kamu kenapa? Kok kamu nangis kayak gitu? Kamu kumat di sekolah?” “Aku dituduh ngelakuin hal yang nggak aku lakuin! Tolongin aku! Kakak ke sekolah sekarang! Temuin aku di ruangan Guru!” “Yaudah oke, Kakak langsung berangkat ya! Kamu tunggu Kakak oke.” Anton dan Silvia yang kebetulan baru saja selesai kuliah, langsung bergegas dengan cepat menuju SMA Garuda Bangsa. Ya, mereka teman satu kelas yang berkuliah bersama di Universitas Nusa Bangsa. “Aduh!” Silvia terjatuh, karena tak sengaja ditabrak oleh Anton yang tak fokus karena terburu-buru sebab mencemaskan Gerald. “Aduh Via sorry-sorry!” Anton kemudian langsung membantu Silvia kembali berdiri. “Maafin gue ya, gue buru-buru.” “Iya santai aja.” “By the way, muka lo kok cemas gitu sih? Lo kenapa?” “Gue nggak ada waktu buat nyeritain ini Ton, gue harus ke SMA Garuda Bangsa sekarang!” “Gue juga mau ke sana sekarang!” “Yaudah, kalau gitu gue nebeng lo ya? Soalnya gue nggak bawa mobil.” “Oke, ayo!” Anton dan Silvia langsung bergegas pergi menuju SMA Garuda Bangsa menggunakan mobilnya Anton. “Lo mau ngapain ke SMA Garuda Bangsa?” tanya Silvia. “Gue ditelepon sama Adik gue, dia nangis minta tolong, katanya dia dituduh ngelakuin hal yang nggak dia lakuin. Gue bener-bener khawatir banget sama keadaan dia!” “Kok sama? Gue juga ditelepon sama Adik gue, dia minta tolong ke gue buat nemuin dia di ruangan Guru.” “Adik lo siapa namanya?” “Liora Anatasya.” “Ck! Pantesan!” “Apanya yang pantesan?” “Adik lo itu, pacarnya Adik gue.” “Setahu gue, Liora pernah nyerita, kalau dia punya pacar, namanya Gerald. Adik lo namanya Gerald?” “Iya, Adik gue namanya Gerald.” “Duh! Kok mereka bisa dapet masalah barengan gitu sih?” “Nggak tahu! Gue bener-bener ngerasa khawatir banget sama mereka! Gue takut kalau terjadi masalah yang besar nimpa mereka.” “Gue juga! Karena Liora nelepon gue sambil nangis-nangis gitu, suaranya juga kayak yang ketakutan banget.” “Gerald aja yang cowok, nelepon gue sambil nangis ketakutan juga. Udah pasti, udah terjadi masalah besar yang nimpa Adik kita.” Anton dan Silvia merasa sangat khawatir dengan keadaan Adik-Adik mereka, yang mereka rasa telah mendapatkan masalah besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD