“Sebenernya apa Kak? Buruan dong ngomong!” isak Albert.
“Sebenernya, Gerald udah jatuh ke danau wisata pas hujan badai ini, dan Liora juga.”
Jantung Albert langsung berhenti berdetak seketika, saat mendengar kabar bahwa sepupu kesayangannya telah jatuh ke danau bersamaan dengan hujan badai ini. Tak lama setelah itu, Albert langsung jatuh pingsan. Saat itu juga, ponselnya Anton mati, karena sudah rusak terkena air.
“Albert!” Tevi, Rival, serta murid-murid yang lain langsung terkejut melihat Albert yang tiba-tiba jatuh pingsan.
“Albert kok bisa tiba-tiba pingsan gini sih?” tanya Tevi. “Padahal kan tadi dia baik-baik aja, dia nggak kenapa-kenapa.”
“Jangan-jangan, udah terjadi sesuatu hal sama Gerald, makanya Albert pingsan.” ucap Rival.
Tevi lalu mengambil ponsel Albert, kemudian kembali menelepon Anton untuk menanyakan perihal Gerald, namun tentu saja Anton tidak akan bisa dihubungi karena ponselnya sudah rusak.
“Nggak aktif Val. Kayaknya emang bener deh, udah terjadi sesuatu hal yang buruk sama Gerald.”
“Ya Allah. Kira-kira apa ya yang udah terjadi sama Gerald? Kok gue jadi khawatir gini sama dia!”
“Gue juga. Gue jadi khawatir sama Gerald!”
“Hei itu kenapa?” tanya Pak Helmi, yang menghampiri Albert.
“Albert tiba-tiba pingsan Pah.”
“Eh! Kenapa tuh?” ucap Elina. “Albert pingsan Al.”
“Ya Allah! Kenapa kok bisa pingsan?” Alexa langsung panik seketika saat melihat Albert terbaring pingsan. “Kita samperin yuk!”
“Udah di sini aja. Di sana kan udah banyak orang yang jagain Albert.”
“Tapi gue khawatir sama dia.”
“Lo nggak usah khawatir, di sana kan ada Tevi sama Rival, ada yang lain juga. Itu ada Pak Helmi juga. Lo lihatin aja dari sini. Nanti kalau ada apa-apa, baru kita ke sana.”
“Hujan badai masih dahsyat banget di luar.” ucap Pak Helmi. “Kalian geser, biarin Albert berbaring di sini!”
Murid-murid lalu bergeser, kemudian Tevi dan Rival membiarkan Albert berbaring di tengah-tengah mereka.
“Terus sekarang gimana, Pah?” tanya Rival.
“Tunggu aja sampe Albert bangun, soalnya kita cuma bisa diem di sini sampai hujan badai ini reda. Kalau kita keluar untuk bawain obat buat Albert, yang ada nanti kita kebawa angin. Emang sebenernya kenapa sama Albert, kenapa dia bisa tiba-tiba pingsan seperti ini?”
“Tadi Albert bilang, dia tiba-tiba khawatir sama sepupunya Pak, si Gerald. Terus dia nelepon Kakaknya Gerald buat nanyain keadaannya Gerald, habis itu dia tiba-tiba pingsan.” balas Tevi.
“Jadi, sudah terjadi sesuatu hal yang buruk menimpa Gerald?”
“Kita sih nggak denger suara telepon mereka Pak. Tapi kalau ngelihat Albert yang tiba-tiba pingsan gini, kayaknya emang udah terjadi sesuatu sama Gerald. Makanya Albert langsung pingsan, karena pasti dia panik banget.”
“Semoga saja itu semua tidak benar, semoga saja Gerald baik-baik saja. Kasihan dia! Baru saja bebas dari masalah besar, lalu sekarang dia harus mengalami hal yang buruk. Semoga saja dia baik-baik saja.”
“Aamiin.” ucap Tevi dan Rival secara bersamaan.
“Itu mereka lagi ngomongin apaan ya? Kok muka mereka kayak khawatir banget gitu? Apa Albert pingsan karena sesuatu? Makanya mereka pada khawatir kayak gitu?” tanya Alexa.
“Bisa jadi. Tapi Al,”
“Kenapa?”
“Lo khawatir nggak sih sama Liora?”
Alexa terdiam sejenak. “Lo kok jadi tiba-tiba ngomongin Liora sih?”
“Ini perasaan gue tiba-tiba mendadak khawatir banget keadaannya Liora, dan gue mendadak kepikiran dia terus dari tadi.”
“Kok sama? Gue juga tiba-tiba kepikiran Liora, dan mendadak jadi khawatir banget sama dia. Terus sekarang gue juga khawatir ngelihat Albert pingsan. Jadi double deh pikiran gue sekarang, khawatir sama Albert, sama Liora juga.”
“Jangan-jangan, udah terjadi hal yang nggak diinginkan sama Liora? Makanya kita mendadak kepikiran dia kayak gini.”
“Semoga aja nggak terjadi hal yang buruk deh sama Liora. Kasihan dia, baru aja kelar satu masalah, masa harus ngalamin hal yang nggak diinginkan. Liora pasti baik-baik aja.”
“Aamiin.”
“Kalau gitu, gue coba telepon Liora.”
“Iya, ayo telepon!”
Alexa kemudian langsung menelepon Liora untuk memastikan keadaannya, namun tentunya telepon itu tidak akan sampai kepada Liora, karena ponselnya Liora sudah rusak terkena air.
“Nomornya di luar jangkauan.”
“Hah?” Elina sangat terkejut saat mendengar bahwa nomor Liora berada di luar jangkauan, karena itu membuatnya berpikir jika Liora memang telah mengalami kejadian yang tidak diinginkan. “Coba telepon sekali lagi!”
“Udah gue coba telepon tadi berkali-kali, tapi nomornya berada di luar jangkauan terus.”
“Ya Allah! Hal ini seakan-akan nunjukin kalau Liora bener-bener udah ngalamin hal yang buruk. Gue jadi makin khawatir sama dia kalau gini caranya!”
“Kalau disebut ini cuma perasaan, tapi perasaannya kok sampe ngerasa khawatir banget gini ya? Sampe-sampe bikin gue pengen nangis rasanya.”
Air mata Elina kemudian menetes, perlahan-lahan semakin mengalir deras. Dia merasa sangat khawatir dengan keadaannya Liora.
“Elina!” isak Alexa, yang tentunya langsung menangis seperti Elina. Sebab mereka sama-sama sangat mengkhawatirkan Liora. “Lo kok nangis?”
“Nggak tahu, perasaan gue rasanya bener-bener nggak kuat, gue khawatir banget sama Liora. Gue takut kalau dia ngalamin hal yang nggak diinginkan, gue khawatir sama Liora!”
“Lo jangan ngomong gitu El!” isak Alexa sembari memegang tangan Elina. “Gue juga sama kok kayak lo, gue juga nggak bisa nahan perasaan gue yang sekarang lagi bener-bener khawatir dan kepikiran banget sama Liora. Tapi kita nggak boleh ngomong yang macem-macem, dan nggak boleh asal nyimpulin kalau Liora lagi dalam keadaan yang nggak baik, karena omongan itu sama dengan doa. Jadi buat sekarang, kita sama-sama berdoa aja yuk! Berdoa semoga Liora nggak kenapa-kenapa, dan kita juga berdoa supaya bencana hujan badai ini segera berakhir, dan kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.”
“Aamiin.” isak Elina.
Hubungan persahabatan yang erat antara Alexa dan Elina dengan Liora, serta Tevi dan Rival dengan Gerald, juga hubungan persaudaraan yang erat antara Albert kepada Gerald, hubungan mereka itu semua benar-benar sangatlah sejati.
Buktinya, saat Gerald dan Liora yang kini sedang terbawa oleh arus danau dan hujan badai, langsung membuat hati mereka merasa sangat khawatir, padahal mereka tidak tahu keadaan Gerald dan Liora yang sebenarnya.
Rasa khawatir luar biasa, serta tangisan itu muncul karena hubungan persahabatan dan persaudaraan mereka yang sangatlah sejati.
Sekarang, mereka semua hanya bisa diam dan berdoa, agar bencana hujan badai ini cepat selesai. Setelah itu, mereka bisa memastikan keadaan Gerald dan Liora.