Liora mencoba berenang melawan arus danau yang berguncang sangat kencang karena tiupan angin badai. Dia berenang sekuat tenaga menuju tepi pantai untuk menyelamatkan dirinya, namun pada akhirnya dia kehabisan tenaga. Dia tak kuat melawan derasnya arus danau serta angin badai itu, hingga akhirnya dia tenggelam terbawa arus.
“Anton!” isak Silvia. “Kita nggak bisa berdiam diri terus di sini. Angin badai ini makin sini makin dahsyat, jembatan ini pasti bisa roboh. Kita harus pergi dari sini.”
“Ya gimana caranya? Kalau kita jalan sambil pegangan pun, tetep aja kita bakal kebawa sama angin badai ini.”
“Ini kita duduk, anginnya nggak terlalu masuk ke area jembatan, jadi mending kita pergi jalan jongkok aja. Kita harus secepetnya pergi dari jembatan ini sebelum jembatan ini roboh.”
“Ide yang bagus, yaudah ayo! Lo di depan, gue jagain dari belakang.”
“Oke.”
Mereka berdua lalu memutuskan untuk pergi dengan jalan jongkok, agar tidak terbawa oleh angin badai. Mereka berjalan jongkok melewati panjangnya jembatan itu, hingga akhirnya mereka tiba di ujung jembatan, di dekat tangga untuk turun dari jembatan.
“Anton, sekarang gimana kita turunnya? Gue takut! Gue takut kalau kita turun, nanti gue malah kebawa angin!”
“Kalaupun kebawa angin nggak apa-apa, karena jatuhnya pasti ke bawah, bukan ke danau. Mendingan kita jatuh ke tanah, daripada harus jatuh dari jembatan yang roboh ini ke danau.”
“Mendingan apanya? Ini tinggi banget loh! Kalau kita jatuh ya kita bisa mati dong?”
“Bismillah aja, kita pasti selamat. Kita jalan sambil pegangan yang kuat ke pagar tangga ini, pokoknya kita harus bisa pergi dari jembatan ini secepatnya! Ayo buruan lo di depan!”
“Tapi, gue takut!” isak Silvia.
“Kita harus berani ambil resiko Silvia! Ayo cepetan! Keburu jembatan ini roboh!”
Silvia menangis ketakutan.
“Silvia cepet! Lo mau jalan, atau gue tinggalin lo di sini!” Anton sengaja mengancam Silvia agar Silvia segera bergerak.
“Anton lo kok tega sih ngomong gitu!”
“Ya makanya buruan jalan! Gue bakalan jagain lo kok di belakang.”
“Tapi janji ya jagain gue!” isak Silvia.
“Iya, ayo cepetan!”
Dengan kaki yang gemetaran, perlahan Silvia mulai melangkahkan kakinya menuruni tangga, dan berpegangan erat pada pagar tangga, Anton lalu mengikutinya dari belakang. Dengan sekuat tenaga, mereka berjalan menuruni tangga dengan melawan dahsyatnya angin badai. Sampai akhirnya, tibalah mereka di bawah jembatan dengan selamat.
“Alhamdulillah.” ucap mereka berdua secara bersamaan. “Ayo! Sekarang kita cari tempat buat berlindung!”
Silvia meraih tangan Anton kemudian dia lingkarkan pada bahunya. “Ayo!”
Setelah itu, mereka berdua mencari tempat untuk berlindung. Langkah mereka terasa sangatlah berat, karena harus melawan dahsyatnya angin badai. Namun, karena mereka terus berusaha demi keselamatan mereka, akhirnya mereka tiba di depan ruangan toilet.
“Anton ada toilet. Ayo ke sana!”
“Ayo!”
Mereka kemudian langsung melangkah memasuki ruangan toilet yang pintunya bergerak-gerak karena tiupan angin. Setibanya di dalam ruangan tersebut, Anton langsung menutup pintu toilet dan menguncinya. Mereka kemudian langsung duduk bersandar pada pintu itu. Terlihat di dalam ruangan itu tak ada siapa-siapa, bilik-bilik toilet sepi tanpa ada kehadiran orang satu pun.
Silvia memeluk Anton dengan tangisan ketakutan, sementara Anton langsung menangis karena mengkhawatirkan keadaannya Gerald.
Tak lama kemudian, Silvia melepas pelukan dari Anton, dan menatap Anton dengan penuh tangisan. “Ton!”
“Hmm?”
“Maafin gue ya!”
“Maaf buat apa?”
“Maaf, karena kesalahan gue, Gerald sama Liora jadi ngalamin kecelakaan ini. Kalau aja gue nurutin perintah orangtua kita buat langsung pulang tadi, kalau aja gue nggak maksa ngajak lo ke sini, ini semua nggak bakalan terjadi.”
“Udahlah Sil!” isak Anton. “Lo nggak usah nyalahin diri lo kayak gini! Ini itu semua murni bencana, dan kecelakaan, bukan kesalahan lo. Kita nggak tahu bencana dan kecelakaan bakalan terjadi, ini bukan salah lo. Dengan lo nyalahin diri lo kayak gitu, juga nggak bakalan nyelesain masalah.”
“Tapi ini semua emang salah gue! Kasihan Gerald sama Liora, baru aja mereka lepas dari masalah, eh sekarang mereka malah ngalamin bencana! Sekarang mereka hilang. Nggak tahu di mana keberadaannya? Gimana kalau mereka hanyut kebawa arus danau, gimana kalau mereka dimakan buaya!” Silvia menangis histeris mengkhawatirkan Gerald dan Liora.
“Sekarang, kita cuma bisa berdoa, berdoa supaya Adik-Adik kita selamat. Cuma itu yang bisa kita lakuin sekarang. Semoga aja Allah SWT ngelindungin Gerald sama Liora!” isak Anton.
***
“Kenapa ya?” isak Albert. “Kok bisa tiba-tiba ada hujan badai kayak gini? Padahal tadi pagi semuanya baik-baik aja, nggak ada perkiraan bakal hujan badai juga kan dari berita!”
“Ya bencana siapa yang tahu Bert.” balas Tevi. “Udah tenang! Kita aman kok di masjid ini. Udah berhenti ya nangisnya!”
“Gue, gue ngerasa aman banget kok di sini, tapi!”
“Tapi apa?” tanya Rival.
“Gue tiba-tiba kepikiran banget sama Gerald! Tiba-tiba gue keinget dia dan khawatir banget sama dia. Saking khawatirnya sampe bikin gue nangis kayak gini. Gue takut kalau sampe terjadi hal yang nggak diinginkan terjadi sama sepupu gue!”
“Itu cuma perasaan lo doang kali, Gerald kan udah pulang dari tadi sama Liora. Udah jelas, dia pasti baik-baik aja kok, kan dia udah ada di rumahnya. Atau gini aja, lo telepon deh si Gerald sekarang! Pastiin kalau dia baik-baik aja!”
“Oke.”
Albert lalu langsung menelepon Gerald, untuk mengetahui keadaan Gerald. Namun pastinya, telepon itu tak akan mungkin sampai kepada Gerald, karena ponsel Gerald telah rusak terkena air.
“Nomornya Gerald di luar jangkauan.” isak Albert, yang semakin khawatir.
“Coba, telepon Kak Anton!”
“Oke.”
Albert kemudian menelepon Anton, dan teleponnya itu sampai kepada Anton yang ponselnya masih hidup meskipun sudah terkena air hujan. Sejenak, Anton terdiam menatap telepon itu, lalu mengangkatnya.
“Halo Albert!” isak Anton.
“Kak Anton, kok Kakak kayak yang lagi nangis gitu sih? Kakak kenapa?”
“Kakak nggak apa-apa kok. Justru kamu yang lagi nangis. Kamu kenapa?”
“Aku tiba-tiba kepikiran Gerald, Kak, aku tiba-tiba khawatir sama dia. Albert ada kan, Kak? Dia baik-baik aja? Kalian semua lagi di rumah sekarang? Gerald mana? Aku pingin ngobrol sama dia, soalnya telepon dia nggak aktif.”
Air mata Anton semakin mengalir deras saat mendengar ucapan Albert barusan.
“Kak Anton, kok Kakak diem aja sih? Jawab dong Kak! Jangan malah bikin aku tambah khawatir!”
“Albert!”
“Iya?”
“Sebenernya!” Anton merasa sangat tak tega untuk memberi tahukan perihal Gerald yang sebenarnya kepada Albert.