“TOLONGG!” dengan sekuat tenaga, Gerald berpegangan pada pagar jembatan, dan berteriak meminta tolong.
Namun, karena hujan dan angin terus-menerus bergerak semakin cepat, membuat suara teriakannya itu tidak terdengar.
“ALLAHU AKBAR! DUDUK SEMUANYA!” teriak Anton yang sangat panik karena hujan dan angin semakin bergerak kencang.
Mereka bertiga lalu langsung duduk di jembatan.
“AAAHHHH!” Liora menangis ketakutan.
“Anton gue takut!” begitupun dengan Silvia, yang langsung menangis ketakutan.
Anton kemudian duduk di tengah-tengah mereka, lalu memeluk mereka dengan erat. Silvia dan Liora pun memeluk Anton, dan menangis dengan penuh ketakutan.
Anton pun menangis, sebab dia sangat mengkhawatirkan keadaannya Gerald.
“Ya Allah, tolong selamatkanlah kami semua, terutama Adik hamba Gerald Ya Allah. Tolong selamatkanlah Gerald, semoga saja tidak terjadi apa-apa pada Adik hamba Ya Allah.” isak Anton dalam hati.
“Kak Anton!” suara Gerald mendadak lesu, dan tubuhnya mendadak lemah, karena kehabisan tenaga berpegangan pada pagar jembatan. Dia juga tak tahan menahan dinginnya air hujan dan angin yang bertiup sangat dahsyat.
Sampai akhirnya, Gerald pingsan dan dan terjatuh ke danau. Tubuhnya langsung terbawa oleh arus danau yang bergerak secepat ombak lautan, karena tertiup oleh angin.
Sementara itu, orangtua mereka menunggu kedatangan mereka di dalam mobil.
“Pah!” isak Maya. “Anak-Anak kok belum kunjung datang ya? Ke mana mereka? Hujan badai kayak gini Mamah khawatir banget kalau mereka kenapa-kenapa.”
“Mereka pasti baik-baik aja, Mah. Mereka pasti lagi berteduh di sana. Kita tunggu aja sampe hujan badai ini reda, mereka kan nggak bawa payung.” balas Ridho.
“Kalau mereka kebawa angin gimana, Pah? Aku khawatir sama mereka! Di sini motor aja pada terbang, apalagi mereka? Aku takut mereka kenapa-kenapa Pah!”
“Mah hei!” Ridho langsung memeluk istrinya itu. “Kita do'ain aja semoga Silvia sama Liora baik-baik aja, selalu dalam lindungan Allah SWT. Udah Mamah tenang ya!”
“Astaghfirullah Ya Allah!” isak Yulia. “Motor-motor sampai terbang gitu Pah kebawa angin! Mamah takut! Gimana kalau sampe Anton sama Gerald kebawa angin juga?”
“Astaghfirullah Mah, jaga omongannya. Omongan itu sama dengan doa. Kita do'ain aja, semoga Anton sama Gerald baik-baik aja, senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Mamah tenang aja! Mereka sekarang pasti lagi berlindung di sana. Nanti juga kalau hujan udah reda mereka bakalan ke sini, mereka kan nggak bawa payung.”
“Tapi perasaan Mamah nggak tenang banget Pah, apalagi sama Gerald. Mamah kepikiran Gerald terus!”
“Udah-udah!” Raffi langsung memeluk Yulia dan mencoba menenangkannya. “Kita berdoa aja supaya Anak-Anak kita selamat!”
Sementara itu, semua murid SMA Garuda Bangsa sedang berkumpul di dalam masjid sekolah, berdoa bersama untuk meminta keselamatan kepada Allah SWT agar bencana hujan badai ini segera berakhir.
“Ya Allah, kok perasaan aku jadi tiba-tiba keinget terus sama Gerald ya?” ucap Albert dalam hati. “Semoga aja nggak terjadi hal-hal buruk lagi sama sepupuku Ya Allah. Aamiin.”
“PLAK!” ponsel Albert tiba-tiba terjatuh begitu saja dari saku bajunya.
“Ih! Ngagetin aja sih lo!” ucap Tevi yang terkejut dengan suara jatuhnya ponsel Albert barusan.
Hal tersebut membuat Albert semakin khawatir kepada Gerald.
“Lo kenapa? Kok lo kayak yang mau nangis gitu sih?” tanya Rival.
Tak lama kemudian, air mata Albert menetes. Dia tak kuat menahan rasa khawatirnya kepada Gerald, hingga membuatnya menangis.
“Val, kita semua sekarang lagi ketakutan kali karena hujan badai ini. Wajar aja kalau si Albert nangis. Aneh banget sih lo pake nanya dia kenapa?” ucap Tevi.
“Ya maaf. Bisa aja dia nangis karena hal lain gitu. Orang cuma nanya.”
“Udah deh diem, mending sekarang kita fokus berdoa, supaya kita semua dikasih keselamatan sama Allah SWT, dan bencana ini bakalan segera berakhir.”
“Aamiin.”
“Kenapa sih ini?” isak Albert dalam hati. “Kenapa rasanya khawatir banget sih sama Gerald? Apa udah terjadi sesuatu sama Gerald? Makanya perasaan gue jadi kayak gini? Ya Allah, tolong selamatkanlah hamba, orangtua hamba dan saudara-saudara hamba! Hamba mohon Ya Allah.”
Dari sudut lain, Alexa melihat Albert yang sedang menangis seperti itu.
“Albert, dia nangisnya kok dalem banget kayak gitu?” ucap Alexa dalam hatinya. “Dia takut sama bencana ini atau gimana? Apa dia khawatir sama orangtuanya di rumah? Khawatir sama saudara-saudaranya? Rasanya kok nggak tega banget ngelihat dia nangis kayak gitu. Rasanya pengen deketin dia, dan nenangin dia, walaupun sekarang gue juga lagi ketakutan dan khawatir banget sama keadaan orangtua gue di rumah. Albert, jangan nangis kayak gitu dong!”
***
“Kak Anton! Aku takut! Aku pengen pulang!” isak Liora.
“Sabar Liora sabar!” isak Anton. “Hujan badainya masih ada, kita nggak bisa ngapa-ngapain selain diem nunggu hujan badai ini selesai! Kalau kita paksain, nanti kita bisa kebawa angin dan jatuh ke danau, terus nanti kita hanyut kebawa arus danau yang lagi kenceng banget karena tiupan angin. Sekarang kita sama-sama berdoa, beristighfar, minta keselamatan sama Allah SWT, supaya bencana ini cepet berakhir.”
Mereka lalu berdoa dan berdzikir, meminta pertolongan kepada Allah SWT. Begitupun dengan orangtua mereka dan juga murid-murid di SMA Garuda Bangsa.
Sampai akhirnya, hujan badai itu mulai reda, berubah menjadi hujan rintik-rintik dan angin yang bertiup kecil.
“Alhamdulilah, hujan badainya udah reda.” ucap Liora. “Ayo kita cari Gerald Kak!” Liora kemudian langsung berlari untuk mencari Gerald.
“Liora tunggu!” ucap Anton. “Jangan lari-larian kayak gitu!”
“GERALD!” teriak Liora, mencari Gerald dengan penuh khawatir.
“LIORA JANGAN LARI-LARI!” teriak Silvia.
Tiba-tiba, hujan kembali turun dengan deras, dan angin badai pun kembali bertiup.
“ASTAGHFIRULLAHALADZIM!” Anton dan Silvia sangat terkejut begitu melihat hujan badai ini kembali menerpa mereka.
“AAAAKKKK!” Liora yang sedang berlari langsung tertiup oleh angin badai begitu saja, keluar dari jembatan dan terjatuh ke danau.
“LIORA!” Silvia langsung berteriak histeris saat melihat Liora terbawa angin dan terjatuh ke danau. Dia lalu langsung bergegas untuk menyelamatkan Liora, namun Anton mencegahnya.
“Silvia lo mau ngapain?”
“YA GUE MAU NOLONGIN ADIK GUE LAH!”
“JANGAN SILVIA ITU BAHAYA!” Anton memeluk Silvia dengan sangat erat. “LAGIAN LIORA UDAH JATUH KE DANAU, LO MAU NYELAMATIN DIA KAYAK GIMANA?”
“LEPASIN GUE TON! GUE MAU NOLONGIN ADIK GUE!”
“SILVIA CUKUP! GUE TAHU PERASAAN LO! GUE JUGA UDAH KEHILANGAN GERALD DI SINI! TADI DIA TERIAK, TERUS SEKARANG DIA NGGAK ADA. DIA JUGA UDAH PASTI KEBAWA ANGIN DAN JATUH KE DANAU!” isak Anton. “Please, sekarang kita tunggu dulu di sini, tunggu sampe hujan badai ini bener-bener selesai! Nanti baru kita cari Gerald sama Liora. Tolong! Orangtua kita pasti lagi panik mikirin kita, jangan sampe kita nanti pulang tinggal nama aja.”
Silvia lalu memeluk Anton, dan menangis dengan penuh ketakutan. Dia merasa sangat ketakutan karena Liora telah terjatuh ke danau.
Begitupun dengan Anton, dia juga merasa sangat ketakutan memikirkan Gerald, karena dia yakin, Gerald juga sudah terjatuh ke danau.
Sekarang, mereka hanya bisa menangis, menunggu bencana ini segera berakhir.