Gerald membuka matanya, dia baru saja terbangun dari tidur. Kemudian, dia melihat jam dinding kamarnya sudah menunjukan pukul tiga sore.
Gerald lalu beranjak dari tempat tidurnya, setelah itu melangkah menuju dapur. Setibanya di dapur, dia langsung meminum air dingin dari kulkas.
Setelah meminum air dingin, Gerald duduk di meja makan, kemudian terdiam untuk mengumpulkan energi-energinya kembali.
“Gerald.” panggil Anton yang baru saja tiba di dapur.
“Hmmm?”
“Udah bangun?”
“Hmmm.”
“Kamu sakit apa? Kok bisa sampe dijemput Mamah Papah ke sekolah tadi?”
“Emang Mamah sama Papah nggak ada ngasih tahu Kakak, tentang kondisi aku?”
“Mamah sama Papah cuma bilang kamu sakit, makanya dijemput dari sekolah, udah itu aja. Selebihnya mereka nggak ngomong apa-apa lagi.”
“Gerald, kamu udah bangun Nak?” tanya Yulia yang baru saja tiba di dapur.
“Udah.”
“Papah udah nungguin kamu bangun dari tadi.”
“Emang kenapa? Papah nungguin aku bangun?”
“Soalnya, ada yang mau Papah omongin sama kamu, sama Kak Anton juga.”
“Ah! Paling mau ngecek HP kita.” ucap Anton.
“Nggak. Siapa bilang?”
“Terus, mau ngomongin apa?”
“Kalian temuin Papah sana di ruang tengah. Supaya kalian tahu sendiri.”
“Jangan-jangan, Papah mau marahin aku lagi. Karena aku udah lancang bongkar rahasianya di depan Dokter jiwa tadi.”
“Apa? Dokter jiwa?” Anton sangat terkejut ketika mendengar ucapan Dokter jiwa keluar dari mulut Gerald. “Maksud kamu ngomong kayak gitu apa?”
“Udah! Jangan banyak ngomong dulu! Ayo sana temuin Papah ke ruangan tengah!”
“Iya Mah iya.” balas Gerald, kemudian pergi menuju ruangan tengah untuk menemui Ayahnya.
“Kok kamu malah diem Anton? Sana temuin Papah!”
“I-iya Mah.” Anton pun lalu menyusul Gerald untuk menemui Ayahnya.
Tak lama kemudian, Gerald tiba di ruangan tengah. Dia lalu duduk di sebelah Ayahnya yang sedang menonton televisi. Beberapa menit setelahnya, Anton pun tiba dan duduk di sebelah Gerald.
“Hei.” ucap Raffi.
“Ada apa, Pah?” tanya Gerald. “Kata Mamah, Papah mau ngomong sesuatu sama kita.”
Raffi terdiam.
“Pah, kok Papah diem?” tanya Anton.
“Anton,”
“Iya Pah?”
“Apa kamu ngalamin gejala gynophobia?”
Anton mendadak terdiam, saat Raffi menanyakan perihal gynophobia padanya.
“Jawab Papah, Anton!”
“Ngapain Papah nanyain tentang itu?”
“Tadi Gerald pingsan di sekolah. Terus Papah sama Mamah bawa Gerald ke psikiater. Kata Psikiater, Gerald pingsan karena tangannya dipegang sama temen perempuannya.”
“Hah! Itu artinya, Gerald juga ngalamin gynophobia dong?”
“Hah? Juga? Jadi maksud Kakak, Kakak juga ngalamin gynophobia?”
Anton terdiam sejenak, lalu menjawab. “Iya.”
“Astaghfirullah!” Raffi langsung berlinang air mata, saat mengetahui bahwa putra pertamanya juga mengalami gynophobia.
“Sejak kapan kamu ngalamin itu?”
“Sejak aku masuk SMP.”
“Terus kenapa kamu nggak pernah ngasih tahu Mamah sama Papah, Anton?”
“Nggak guna juga aku ngasih tahu Mamah sama Papah. Karena kalian nggak bakalan peduli. Tiap kali aku ngelawan, atau ngomong sesuatu, pasti suka dibales, ini demi kebaikan kamu, ini semua demi kebaikan kamu. Padahal pada kenyataannya, apa yang kalian lakuin ke aku, malah bikin aku harus masuk ke psikiater.”
“Terus, apa kamu masih mengalami gynophobia sampai sekarang?”
“Aku udah sembuh kok, Pah. Karena aku rajin terapi dan minum obat dari Dokter jiwa. Aku juga ngikutin saran dari Dokter jiwa buat sering-sering berinteraksi sama temen-temen perempuan aku. Maaf ya Mah, aku sering temenan sama perempuan, dan bahkan aku pernah sering banget pacaran tanpa sepengetahuan Papah. Itu semua aku lakuin, demi kesehatan diri aku.”
Raffi menyentuh lembut wajah Anton, dengan berlinang air mata. “Maafin Papah, Anton. Maafin Papah.”
Anton terdiam, tak lama kemudian, air matanya pun menetes.
“Maafin Papah, karena Papah terlalu trauma sama apa yang dialamin Om kalian. Papah cuma nggak mau kalau kalian sampe ngalamin apa yang Om kalian alamin. Papah nggak mau kehilangan Anak-Anak Papah, nggak mau.”
Yulia lalu datang, kemudian duduk di sebelah Raffi.
“Maafin Papah juga, karena Papah nggak ada di saat kamu menderita gynophobia. Maafin Papah, Anton. Maafin Papah, Nak.”
“Apa? Jadi, Anton juga ngalamin gynophobia?” Yulia merasa sangat terkejut, saat mendengar bahwa putra pertamanya juga mengalami gangguan gynophobia.
Raffi merasa sangat bersalah, karena didikannya yang keras, membuat kedua Anak-Anaknya mengalami gangguan gynophobia.
Dia menangis dengan penuh rasa sakit hati, sebab, dia tidak bisa menemani Anton yang ternyata diam-diam menyembunyikan penderitaan yang dia alami dari dirinya.
“Ampunin Papah, Anton! Ampunin Papah!” isak Raffi.
“Pah.” isak Anton, sembari menyentuh lembut wajah Ayahnya. Kemudian dia langsung memeluknya.
Yulia dan Gerald pun menangis.
“Maafin Papah, Nak.”
“PAPAH!” isak Anton. “PAPAH!” Anton menangis lega, karena akhirnya, orangtuanya meminta maaf kepadanya, karena telah mendidiknya dengan sangat keras hingga membuat dirinya mengalami gangguan gynophobia.
Beberapa menit kemudian, Raffi melepas pelukan Anton. Setelah itu dia menatap Gerald yang juga menangis.
“Gerald, maafin Papah juga Nak. Maafin Papah, karena di usia kamu yang baru menginjak remaja ini, kamu harus ngalamin gangguan yang nggak sepantasnya kamu alamin! Papah bener-bener minta maaf sama kalian berdua.”
Anton dan Gerald menangis terdiam, menatap Ayah mereka yang menangis di hadapan mereka dengan penuh rasa bersalah.
“Maafin Mamah juga ya Anak-Anak!” isak Mamah.
“Demi kebaikan kalian, Papah akan berusaha ngehapus rasa trauma Papah tentang kejadian yang nimpa Om kalian.” isak Raffi. “Mulai sekarang, Papah ngizinin kalian, untuk menikmati masa-masa muda kalian. Kalian boleh main sama temen-temen kalian, dan kalian, juga boleh kalau mau pacaran. Papah nggak akan ngelarang-larang kalian lagi.”
Anton dan Gerald langsung tersenyum senang saat mendengar ucapan Ayah mereka barusan.
“Papah serius?” isak Gerald dengan penuh senyuman.
“Iya Gerald. Papah nggak akan egois lagi, karena keegoisan Papah ini bikin kalian menderita. Jadi, silahkan kalian nikmatin masa-masa muda kalian.”
Anton dan Gerald tersenyum bahagia. Lalu mereka langsung memeluk Raffi, karena akhirnya, Ayah mereka itu memberikan mereka kebebasan untuk menjalani kehidupan masa muda mereka dengan normal seperti Anak-Anak yang lainnya.
“MAKASIH PAH!”
“MAKASIH BANYAK PAH!”
Yulia mengusap air matanya, lalu tersenyum melihat Anton dan Gerald yang tersenyum bahagia dalam pelukan Ayah mereka.
“Tapi, ada syaratnya.” ucap Yulia.
Anton dan Gerald kemudian melepas pelukan dari Ayah mereka, lalu menatap Ibu mereka.
“Syarat apa Mah?”
“Prestasi kalian nggak boleh sampe turun, harus selalu bertahan di posisi pertama. Kalau mau ke mana-mana, izin dulu sama Mamah Papah, dan, kalian nggak boleh keluar malem, melebihi jam sembilan malam.”
“SIAP MAH!” balas Anton dan Gerald dengan penuh kebahagiaan.
Perlahan, wajah Raffi yang dipenuhi oleh kesedihan, berubah menjadi senyuman. Dia merasa senang, karena Anak-Anaknya bisa tertawa bahagia seperti itu.