Tangisan Kekhawatiran

1164 Words
“Lalu, apa anak saya bisa sembuh dari gynophobia itu, Dok?” tanya Raffi.  “Ada tiga cara yang bisa digunakan, untuk proses penyembuhan Gerald. Pertama dengan terapi, kedua dengan obat-obatan, dan yang ketiga, dengan cara memberikan kebebasan untuk Gerald.” “Memberikan kebebasan, maksudnya?” “Bapak harus memberikan kebebasan untuk Gerald, agar dia bisa menjalin pertemanan dengan perempuan, atau, mengizinkannya untuk menjalin hubungan dengan perempuan.” “Maksud Dokter, saya harus ngizinin Anak saya, buat pacaran gitu?” “Iya Pak. Dengan cara itu, Gerald nantinya akan menjadi lebih terbiasa jika berinteraksi dengan perempuan.” “Saya lebih memilih terapi dan pengobatan untuk Anak saya, Dok.” “Tadi saya mengatakan tiga cara Pak, bukan dua. Itu artinya, ketiga cara itu harus dilakukan. Karena terapi dan pengobatan ini akan sia-sia, jika tidak di dukung dengan aktivitas Gerald sendiri.” “Udahlah Pah! Buang ego kamu itu! Kasih kebebasan buat Gerald. Kamu nggak kasihan apa sama Gerald? Gara-gara didikan kamu itu, Gerald jadi ngalamin gynophobia, atau, bisa aja Anton juga ngalamin hal yang sama kayak Gerald.” “Dok.” panggil Gerald.  “Iya Gerald.” “Ada suatu alasan, kenapa Papah saya ini, terlalu ngekang saya kayak gini.” “Apa itu Gerald?” “Dokter tanya aja ya sama Papah. Semoga aja, Dokter bisa nyembuhin trauma yang Papah rasain. Ayo Mah! Kita tunggu di luar!”  Gerald lalu menarik tangan Ibunya, pergi keluar ruangan untuk menunggu di sana.  “Gerald, maksud kamu ngomong gitu tadi apa?” “Papah kan ada trauma besar Mah, jadi yaudah, periksain aja, mumpung kita lagi di psikiater.” “Trauma besar apa maksud kamu?” “Papah kan trauma sama kejadian yang nimpa Om Reno. Makanya dia terlalu ngekang aku sama Kak Anton, karena dia takut kalau aku ngalamin hal yang Om Reno alamin.” “Loh! Kamu tahu itu dari mana?” “Dari Kak Anton. Karena Kak Anton bilang, aku udah gede, jadi udah sepantasnya tahu.” Yulia menghela napas panjang sejenak. “Iya Gerald, kamu bener Nak. Papah ngelakuin ini ke kalian, karena dia terlalu sayang sama kalian. Dia nggak mau kalau kalian sampe ngalamin hal yang sama seperti yang dialami oleh Om kalian, yang ngakhirin hidupnya karena dikhianati sahabat dan pacarnya.” “Tapi kan Mah, Om Reno ya Om Reno, aku ya aku, Kak Anton ya Kak Anton. Kita beda, kita nggak sama.” “Iya sayang Mamah tahu. Tapi, Papah kalian terlalu trauma, dan terlalu sayang sama kalian. Makanya Papah kalian bersikap seperti ini.” “Yah, semoga aja Dokter Rendy bisa nyadarin Papah, dan bisa ngasih aku kebebasan. Aku benar-benar kesiksa banget sama gynophobia ini Mah.” Yulia memeluk Gerald, dan mengusap-ngusap kepalanya.  *** Liora tengah duduk cemas di kursi taman sekolah, ditemani oleh Alexa dan Elina.  “Ra, udah dong, lo jangan sedih terus gitu.” ucap Alexa.  “Iya Ra, lo jangan sedih terus. Kita do'ain aja, semoga Gerald baik-baik aja.” “Gue khawatir banget sama Gerald. Gue takut kalau dia sampe kenapa-kenapa.” isak Liora, air matanya tiba-tiba mengalir deras. Dia sangat mengkhawatirkan keadaannya Gerald.  “Ra jangan nangis dong! Kalau lo nangis kan kita jadi ikut sedih.” ucap Alexa.  “Ra, jangan nangis Ra. Aduh Al, gimana dong nih?” “Mana gue tahu.” “Ra udah Ra, jangan nangis.” “Gue takut Gerald sampe kenapa-kenapa! Apalagi dia pingsan gara-gara gue. Terus gimana kalau Gerald marah sama gue? Gue nggak mau kalau hal itu sampe terjadi.” “Nggak! Gerald nggak bakalan marah sama lo. Lagipula kita kan nggak tahu apa yang bikin Gerald pingsan. Udah jangan mikir yang macem-macem ya.” ucap Elina.  Dengan penuh tangisan, Liora memeluk Elina.  “Udah Ra, jangan nangis.” Elina dan Alexa mengusap-ngusap punggung Liora, berusaha untuk menenangkan Liora.  *** Raffi membuka pintu ruangan Dokter Rendy dengan mata yang sembab karena telah menangis.  “Papah.” ucap Gerald terkejut melihat Ayahnya menangis.  “Ayo masuk lagi!” Gerald dan Yulia kemudian kembali masuk ke ruangan tersebut, kembali menghadap Dokter Rendy. Kini, Yulia duduk di sebelah Raffi, dan Gerald berdiri di sebelah Ibunya.  “Gerald, kapan kamu mau mulai terapi?” “Besok aja Dok.” “Besok, oke. Besok ditunggu ke sini ya. Gangguan kamu itu harus segera diobati, supaya nggak makin parah.” “Kalau gitu, besok kami ke sini lagi ya Dok. Makasih atas bantuannya.” ucap Raffi.  “Iya Pak, sama-sama.” “Kalau begitu, kami permisi.” “Iya silahkan.” “Ayo Gerald, ayo mah!” Raffi, Yulia, dan Gerald kemudian melangkah keluar dari ruangan tersebut.  “Kalian tunggu duluan di mobil aja, Papah mau bayar administrasinya dulu.” “Iya Pah. Ayo Gerald!” Yulia lalu merangkul Gerald, kemudian pergi menuju mobil.  Tak lama kemudian, Raffi menyusul kembali ke dalam mobil.  “Gimana Pah, sama Dokter Rendy tadi?” tanya Yulia.  “Nanti aja ya kita bahas di rumah.” balas Raffi dengan mata yang menahan tangisan. Setelah itu langsung melajukan mobil menuju rumah.  “Papah bakalan marahin gue nggak ya? Karena gue udah nyeritain semuanya ke Dokter Rendy tadi?” ucap Gerald dalam hati. “Semoga aja nggak deh. Semoga aja Papah sadar, kalau apa yang dia lakuin ke gue sama Kak Anton, itu bener-bener keterlaluan. Jelaslah keterlaluan, karena bikin gue sampe gangguan gynophobia kayak gini. Semoga aja nanti Papah ngasih kebebasan buat gue. Semoga aja. Aamiin.” Setelah melewati perjalanan selama beberapa belas menit, tibalah mereka di rumah. “Gerald, kamu istirahat ya Nak!” ucap Raffi sembari mengusap lembut kepala Gerald. Setelah itu melangkah pergi menuju kamarnya.  “Iya sayang, kamu istirahat ya.” ucap Yulia, lalu menyusul Raffi.  “Alhamdulilah, gue nggak dimarahin sama Papah.” ucap Gerald dalam hati, dengan penuh senyuman. “Semoga aja, Papah sadar, dan bakalan ngasih gue kebebasan. Nggak ngekang gue kayak biasanya. Aamiin.” Setelah itu, dia pergi masuk ke dalam kamarnya. Dia lalu langsung merebahkan dirinya di tempat tidur. Gerald kemudian memejamkan matanya untuk tidur istirahat, namun tiba-tiba dia teringat dengan Liora.  “Oh iya, Liora.” Gerald langsung mengambil ponselnya, kemudian mengirim chatt w******p kepada Liora.  “Sayang.” Liora yang masih menangis di taman sekolah, dan ditemani oleh Alexa dan Elina, langsung mengecek ponselnya itu. Sontak, dia langsung tersenyum senang karena mendapat chatt dari Gerald.  “Gerald. Gimana keadaan kamu sekarang?” “Chatt dari siapa tuh?” tanya Alexa. Kemudian melihat layar ponsel Liora. “Nah! Tuh Gerald ngechatt.” “Pantesan aja langsung senyum.” ucap Elina.  “Aku baik-baik aja kok. Besok aku mau nyerita sama kamu di sekolah ya.” “Seriusan kamu baik-baik aja?” “Iya, aku baik-baik aja. Ciee khawatir ya?” “Nggak usah bercanda. Nggak lucu.” “Iya-iya maaf. Yaudah, aku cuma mau ngabarin itu aja. Aku istirahat dulu ya.” “Iya, istirahat yang cukup. Sampe ketemu lagi besok.” Air mata Liora langsung berhenti menetes, dan wajahnya yang tadinya murung mendadak menjadi senyuman, sebab dia telah mendapati kabar bahwa Gerald baik-baik saja. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD