Gynophobia

1113 Words
Seteleh melewati perjalanan selama 14 kilometer, akhirnya Gerald dan orangtuanya tiba di psikiater Dokter Rendy.  “Selamat Pagi Pak, Bu!” sapa penjaga administrasi dan pendaftaran. “Ada yang bisa kami bantu?” “Ini Mba, saya mau periksain Anak saya.” “Oh. Silahkan langsung masuk saja ke ruangan Dokter, Bu!” “Baik, Mba. Terima kasih.” “Iya.” “Ayo Nak!”  Yulia lalu merangkul Gerald pergi memasuki ruangan Dokter yang berada di sebelah administrasi, Raffi pun mengikutinya. Karena waktu masih pagi, jadi keadaan psikiater masih sepi.  “Permisi Dok.” sapa Raffi.  “Iya, silahkan.” balas Dokter Rendy yang sedang duduk di bangkunya. Raffi dan Gerald kemudian duduk menghadap Dokter Rendy, sementara Yulia berdiri di sebelah Gerald.  “Ada kendala apa?” “Saya mau periksakan Anak saya. Tadi Anak saya pingsan di sekolah. Terus kata Dokter spesialis penyakit dalam, tidak ada gejala penyakit dalam diri Anak saya. Lalu dia menyarankan saya untuk memeriksakan ke psikiater, karena mungkin Anak saya mengalami masalah pada mentalnya.” Dokter lalu menatap Gerald. “Usia kamu berapa Dik?” “16 tahun Dok.” “Sudah remaja ya, bukan anak kecil lagi.” Dokter tersenyum.  Gerald membalas senyuman Dokter.  “Untuk Bapak, dan Ibu. Tolong ditunggu di luar ya!” “Kenapa kita harus menunggu di luar, Dok? Kami kan orangtuanya Gerald. Jadi kami ingin mengetahui apa yang terjadi pada Gerald?” “Gerald bukan Anak kecil, Pak. Dia sudah remaja. Tidak perlu ditunggu seperti ini oleh orangtua. Jadi, tolong Bapak dan Ibu ditunggu di luar ya! Nanti setelah saya selesai memeriksa keadaan Anak kalian, saya akan panggil lagi masuk untuk menjelaskan kendala apa yang terjadi.” “Baik kalau gitu Dok.” balas Yulia. “Ayo Pah kita tunggu di luar!” lalu menarik tangan Raffi keluar dari dalam ruangan.  Hingga sekarang, tinggal tersisa Gerald dan Dokter Rendy di dalam ruangan tersebut.  “Sebelumnya, nama lengkap kamu siapa?” “Nama saya, Gerald Anggara, Dok.” “Oke Gerald. Sekarang saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada kamu. Saya mau kamu jawab dengan jujur, dan jangan ada yang ditutup-tutupi! Supaya saya bisa tahu, masalah apa yang sedang kamu alami. Kamu paham?” “Paham, Dok.” “Jadi, tadi kamu pingsan di sekolah?” “Iya.” “Apa yang ngebuat kamu pingsan? Jawab jujur!” Gerald terdiam sejenak. “Tadi, tangan saya digenggam erat banget sama salah satu temen perempuan saya di sekolah. Genggaman tangan dia, bikin tubuh saya mendadak kaku, gemetaran, jantung saya berdegup kencang kayak ketakutan gitu, dan kepala saya tiba-tiba ngerasa pusing banget. Setelah itu, saya nggak inget apa-apa lagi.” “Jadi, kamu pingsan, setelah tangan kamu digenggam erat oleh temen perempuan kamu?” “Iya Dok.” “Apa kalau kamu digenggam oleh perempuan lain, selain teman kamu itu, kamu akan merasakan hal yang sama?” “Iya Dok. Saya selalu ngerasain itu kalau saya bersentuhan sama perempuan. Kalau tangan saya bersentuhan sama perempuan, mendadak saya ngerasain itu semua.” “Kalau cuma deket? Kamu ngerasain apa?” “Kalau cuma deket sama perempuan, saya cuma gugup, takut, dan keringetan aja Dok. Saya ngerasa, kayak yang nggak nyaman aja kalau deket-deket sama perempuan. Kecuali itu Ibu saya, Guru saya, dan saudara perempuan saya.” “Gerald, apa kamu pernah menjalin hubungan dengan perempuan? Seperti sahabatan, atau pacaran?” Gerald menggelengkan kepala. “Saya nggak pernah ngelakuin itu, Dok.” “Kenapa?” “Karena orangtua saya, khususnya Ayah saya, nggak pernah mengizinkan saya untuk dekat-dekat dengan perempuan, apalagi sampai menjalin hubungan spesial.” “Sejak kapan orangtua kamu melarang kamu seperti itu?” “Sejak saya kecil, dan sampai sekarang.” “Jadi, selama ini kamu tidak pernah yang namanya dekat dengan perempuan lain?” “Iya. Saya cuma ngejalin hubungan pertemanan biasa. Itupun dulu saya sering jaga jarak dan anti banget berinteraksi sama temen-temen perempuan saya. Karena saya ngerasa nggak nyaman kalau deket-deket sama mereka.” “Apa kamu sudah mengalami keanehan ini sejak kamu kecil?” “Saya mulai ngerasain ini waktu masuk SMP, Dok.” “Apa orangtua kamu tahu?” Gerald menggelengkan kepala.  “Kenapa kamu nggak bilang ke orangtua kamu?” “Males. Palingan juga nanti malah diomelin. Sekarang juga pasti bakalan diomelin.” “Kamu jangan bicara seperti itu Gerald. Seharusnya, kalau kamu ngerasa ada masalah dalam keadaan diri kamu, harusnya kamu memberi tahu orangtua kamu. Karena lebih baik diobati waktu masih sedikit.” “Emangnya saya kenapa Dok? Apa yang terjadi sama saya?” “Sekarang kamu panggil orangtua kamu ya! Biar saya jelaskan langsung di hadapan orangtua kamu.” “Oh, iya.” Gerald lalu pergi memanggil orangtuanya. Tak lama kemudian, orangtuanya kembali memasuki ruangan, lalu kembali menghadap Dokter.  “Jadi, apa ada masalah dengan Anak saya Dok?” tanya Raffi.  “Setelah saya tanya-tanya Gerald tadi, saya nyimpulin, kalau Gerald, mengalami gynophobia.” “Gynophobia. Apa itu Dok?” tanya Yulia.  “Gynophobia, adalah suatu gangguan ketakutan terhadap perempuan. Jadi, orang yang mengalami gynophobia, akan merasakan ketakutan ketika berada di dekat perempuan. Dia akan mengalami rasa cemas yang berlebihan. Seperti panik, badan gemetar, berkeringat, bahkan bisa menimbulkan sakit perut, mual-mual, dan pingsan. Gynophobia ini, termasuk ke dalam gangguan kecemasan berlebihan. Bukan masalah gangguan mental seperti depresi atau skizofrenia.” Raffi dan Yulia sangat terkejut ketika mendengar bahwa Gerald mengalami gangguan gynophobia.  “Kenapa Anak saya bisa mengalami hal itu, Dok?” tanya Yulia.  “Gynophobia, bisa terjadi karena adanya rasa trauma, atau suatu perasaan yang sensitif. Saya dengar cerita tentang Gerald tadi. Sejak kecil, dia tidak pernah diberi kebebasan untuk berbaur dengan perempuan. Mungkin saja, itu yang membuat Gerald mengalami gynophobia. Mungkin, Gerald merasa tertekan dengan cara didikan Ibu dan Bapak yang terlalu berlebihan.” “Tuh kan Pah! Apa aku bilang? Jangan terlalu keras dan ketat ngedidik Anak. Jadinya kan Anak kita ngalamin gangguan kecemasan gynophobia.” “Saya sarankan kepada Bapak dan Ibu, untuk berhenti mengekang Gerald seperti itu. Biarkan Gerald menjalin hubungan pertemanannya dengan normal, terlebih, Gerald sekarang sudah memasuki fase pertumbuhan remaja. Jadi, akan menjadi masalah besar bagi kesehatan mental Gerald apabila Bapak dan Ibu selalu mengekangnya secara berlebihan. Biarkan Gerald menikmati masa-masa remajanya, masa-masa SMAnya, dengan normal.” Gerald tersenyum mendengar ucapan Dokter Rendy.  “Kalau Ibu dan Bapak, takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, terjadi pada Gerald, jika Gerald dekat dengan perempuan, didik saja dia dengan cara lain. Seperti menasehatinya, agar membatasi pertemanan dan pergaulannya dengan perempuan. Cukup itu saja! Tidak perlu melarang Gerald untuk tidak berinteraksi dengan perempuan, karena hal itu hanya akan membuat Gerald tersiksa, dan juga akan sangat meningkatkan resiko trauma besar bisa saja dialami olehnya.  Raffi dan Yulia semakin terkejut mendengar penjelasan Dokter Rendy barusan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD