Gerald dan Liora baru saja tiba di depan pintu kelas mereka. Saat mereka akan masuk ke dalam kelas, Gerald menghentikan langkah kakinya.
Liora pun menghentikan langkah kakinya, dan menatap Gerald yang terdiam di belakangnya.
“Kenapa? Kok kamu malah diem gitu?”
“Kamu masuk duluan aja, aku, mau ke toilet dulu.”
“Oh, oke deh.” Liora kemudian masuk duluan ke dalam kelas.
Sementara Gerald, dia langsung berlari menuju toilet. Setibanya di dalam bilik toilet, dia langsung bersandar di bilik toilet sembari menghela napas yang tidak beraturan.
“Astaga! Kok jantung gue bergetar kenceng banget ya waktu gue deket sama Liora tadi? Apa ini yang namanya jatuh cinta?”
Rupanya, Gerald merasakan detak jantung yang tak biasa saat dia berdekatan dengan Liora tadi. Dia merasakan detak jantung yang berdebar begitu kencang.
“Seumur-umur, baru kali ini gue ngerasain perasaan seindah gini. Gue tertarik sama cewek, terpesona sama kecantikannya, ngerasa sayang banget sama dia, dan jantung gue berdebar kencang gini kalau ada di deketnya. Dan semua itu, gue rasain dari Liora. Indah banget deh cinta yang gue temuin di SMA ini.”
Gerald tersenyum senang, karena telah merasakan indahnya rasa cinta yang dia temukan di masa SMA ini.
“Gue nggak bakalan nyia-nyiain masa-masa indah ketika SMA ini. Gue bakalan ngejalanin indahnya masa di sekolah SMA, sampai gue lulus.”
Gerald kemudian mengatur kembali napasnya. Perlahan dia menghela napas panjang, dan mulai bersikap normal kembali, dengan berusaha menghilangkan rasa gugupnya itu.
Setelah napasnya kembali berdetak normal, dia keluar dari dalam bilik toilet, lalu membasuh mukanya di wastafel. Tak lama kemudian, seorang murid perempuan keluar dari bilik toilet lain, dan sontak dia langsung terkejut begitu melihat keberadaan Gerald.
“Ih! Lo cowok ngapain ada di toilet cewek?”
“Hah? Toilet cewek?” Gerald terpelongo.
Saat Gerald menoleh ke arahnya, murid perempuan itu mendadak terdiam, karena sangat terpesona dengan ketampanan wajahnya Gerald.
Gerald terdiam sejenak menatap murid perempuan itu, lalu melangkah mendekatinya. “Halo!” dia kemudian menepuk-nepukan tangannya di hadapan wajah perempuan tersebut.
Sampai akhirnya murid perempuan itu tersadar. “Eh!”
“Maksud lo ini toilet cewek apaan? Bukannya ini toilet cowok ya?”
“Heh, ini tuh toilet cewek, bukan toilet cowok.”
“Toilet cowok kok, ada tulisannya di luar.”
“Ih! Yaudah sini!” murid perempuan itu lalu menarik tangan Gerald keluar dari toilet. “Tuh baca!” kemudian menunjuk sebuah tulisan toilet murid perempuan yang tertempel di atas pintu toilet tersebut.
“Astaga!” Gerald langsung terkejut, saat mengetahui bahwa dirinya telah salah masuk toilet. Dia malah masuk ke toilet murid perempuan.
“Jelas-jelas ini tuh toilet murid cewek. Toilet murid cowok dari mananya?”
Gerald menghela napas panjang sejenak, sembari mengusap-ngusap keningnya. “Iya-iya maaf. Tadi gue nggak fokus, makanya gue salah baca kalau ini toilet murid cewek.”
“Untung aja nggak banyak cewek yang ke toilet, kalau banyak, bisa malu habis lo karena salah masuk.”
“Iya-iya. Yaudah, kalau gitu gue ke kelas duluan ya.”
“Eh tunggu!”
“Kenapa?”
“Lo Gerald kan, anak kelas IPA 1?”
“Iya.”
“Kenalin, gue Clara Novita. Kita seangkatan. Gue dari kelas IPS 1.” Clara memperkenalkan dirinya, lalu menyodorkan tangannya ke hadapan Gerald.
Gerald terdiam, menatap tangan Clara. Tak lama setelah itu, dengan perlahan dia menjabat tangan Clara sebagai tanda perkenalan mereka.
Mendadak, tangan Gerald bergetar kencang, lalu dengan langsung Gerald melepas tangannya dari tangan Clara.
“Salam kenal ya Clara.”
“Lo kenapa? Kok tangan lo gemetar gitu? Lo sakit?”
“Ah! Nggak apa-apa kok. Gue duluan ya, bye!” Gerald lalu langsung berjalan dengan cepat menuju kelasnya.
Clara menatap kepergian Gerald dengan penuh keanehan.
“Si Gerald kenapa? Kok tangannya gemeter gitu sih pas jabatan tangan sama gue? Apa jangan-jangan dia gugup ya karena salaman tangan sama cewek secantik gue?” Clara tersenyum. “Itu sih udah pasti. Siapa sih cowok yang nggak salting kalau ketemu sama cewek secantik gue, apalagi kalau sampe pegangan tangan sama gue. Gerald, lihat aja, sebentar lagi, pasti lo bakalan jadi pacar gue, pasti.”
Dengan penuh percaya diri, Clara mengira jika Gerald gugup dan salting karena telah berjabat tangan dengan wanita secantik dirinya. Padahal pada kenyataannya, Gerald gemetaran karena belum terbiasa berpegangan tangan dengan perempuan.
Clara kemudian melangkah pergi menuju kelasnya.
Sementara itu, Gerald menghentikan langkah kakinya di depan mading, kemudian duduk di sebuah kursi panjang yang berada di sebelah mading.
“Astaga! Gini ya rasanya, bertahun-tahun nggak pernah bersentuhan sama cewek selain Mamah. Gemeteran nggak jelas, gugup nggak jelas, pikiran juga nggak jelas.”
Gerald menatap tangannya yang masih gemetaran, lalu dengan cepat dia lemparkan tangannya ke kursi, hingga gemetarnya itu hilang.
“Pegangan tangan sama cewek aja gue gemeteran gini, apalagi kalau pacaran. Nggak kebayang saltingnya gue kalau Liora meluk gue, atau senderan di bahu gue nanti? Gugup banget gue pasti!”
Tiba-tiba, pikiran Gerald malah dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang tidak jelas, yang membuatnya malah menjadi pusing sendiri karena memikirkan hal yang tidak sepantasnya dipikirkan.
“Hei Gerald.”
“Hai Gerald.”
Tiba-tiba, datang tiga murid perempuan senior dari kelas 11, menghampiri Gerald.
“Hei juga, Kakak-Kakak.”
“Lo beneran Gerald, yang terkenal karena ganteng itu di sekolah kita ini?”
“Nggak kok, biasa aja.”
“Jangan gugup gitu dong, biasa aja, kalem, santai.”
“Hehe, iya.”
“Ternyata lo beneran ganteng banget ya? Sesuai sama kabar yang beredar tentang lo.”
“Hehe, makasih Kak.”
“Kita boleh minta foto bareng nggak?”
“Boleh.”
“Oke.”
Dua murid perempuan itu lalu duduk di sebelah Gerald, kemudian berfoto bersamanya sebanyak-banyaknya.
“Udah Kak?”
“Iya, udah, makasih ya.”
“Yaudah, kalau gitu, gue ke kelas duluan ya.”
“Lo kenapa sih?” mereka tercengir melihat tingkah Gerald yang terlihat kaku, gemetar, dan salting. “Kelihatan kayak kaku sama gemeteran gitu?”
“Kalem Gerald kalem.”
Gerald tersenyum kecil. “Gue duluan ya Kak, bye.” kemudian berjalan dengan cepat menuju kelasnya.
Setibanya di dalam kelasnya, Gerald langsung duduk bersandar di bangkunya. Dia berusaha menghela kembali napas dengan normal. Terlihat keringat bercucuran di keningnya.
Gerald benar-benar merasa sangat keanehan ketika dirinya berada dekat dengan perempuan. Dan hal ini baru dia rasakan kali ini, untuk pertama kalinya, di masa SMA.
Sebelumnya, dia belum pernah berdekatan dengan perempuan selain Ibunya. Dia selalu menjaga jarak dengan teman-teman perempuannya saat SMP.
Ketika dia SMP, dia juga belum pernah didekati oleh banyak perempuan seperti saat SMA. Maka dari itu, wajar baginya merasakan keanehan ketika dekat dengan perempuan.