Resmi Jadian

1203 Words
Gerald memejamkan matanya, sembari kembali mengatur denyut napasnya agar kembali berdenyut dengan normal. Lalu saat dia kembali membuka matanya, sebuah tangan yang memberikannya sapu tangan, terlihat di depan matanya.  Rupanya, Lioralah yang menyodorkan sapu tangan itu untuk Gerald. Dia menyodorkan sapu tangan itu dengan penuh senyuman.  “Usap dulu keringatnya. Kamu keringetan banget gitu.” Gerald terdiam sejenak menatap Liora, kemudian tersenyum padanya, lalu mengambil sapu tangan tersebut.  “Makasih ya.” Liora mengangguk dengan penuh senyuman.  Gerald kemudian mengusap keringatnya. Sementara Liora, dia lalu duduk di sebelah Gerald.  “Kamu habis ngapain sih? Kok sampe keringetan gitu? Jadi curiga aku.” “Curiga kenapa?” “Ya curiga, kalau ngelihat cowok habis dari toilet, terus keluar dengan banyak keringet kayak gitu.” “Oh, i know i know. Yang olahraga pake tangan itu kan, maksud kamu?” Liora tertawa mendengar ucapan Gerald tersebut.  “Ya nggaklah, ngapain juga aku ngelakuin itu.” “Ya terus, kamu habis ngapain? Kenapa sampe keringetan kayak gitu?” “Tadi, banyak cewek yang ngajak aku kenalan, sama minta foto.” “Terus?” “Ya karena itu, aku jadi keringetan gini. Aku kan udah jelasin sama kamu tadi di perpus, kalau aku belum pernah deket-deket dan belum pernah pegang-pegangan sama cewek. Jadi kalau aku deket sama cewek, sampe pegangan, aku bakalan ngerasain hal yang aneh, kayak gemeteran, gugup, dan kaku nggak jelas.” “Oh.” balas Liora dengan wajah jutek.  “Kenapa? Kamu marah karena aku kenalan sama cewek lain?” “Nggak.” “Aku cuma kenalan doang kok, nggak ngapa-ngapain.” “Nggak nanya.” “Kok kamu gitu sih? Malah jutek gitu ke aku.” “Nggak kok, aku biasa aja.” “Terus maunya gimana? Biar kamu nggak cemberut jutek gitu?” “Nggak harus gimana-gimana. Orang aku nggak apa-apa kok. Lagian, aku juga nggak ada hak buat marah sama kamu. Aku kan bukan siapa-siapa kamu.” “Kalau aku jawab sekarang, kamu jangan marah lagi ya?” Wajah Liora langsung kembali tertuju kepada Gerald. “Kamu mau jawab sekarang?” “Setelah aku pikir-pikir, aku udah nemuin keputusan yang tepat, dan aku bisa ngejawab perasaan kamu, sekarang.” “Jadi, jawabannya apa?” “Aku bakal jawab, asal kamu jangan marah lagi.” “Ya tergantung jawaban kamu apa?” Gerald terdiam, menatap Liora dengan penuh senyuman.  “Kok kamu malah ngelihatin aku kayak gitu sih? Jawab dong! Jangan malah bikin aku klepek-klepek.” “Haha!” “Malah ketawa.” “Jadi, soal ungkapan perasaan kamu di perpus tadi, aku,” “Gimana?” “Aku,” “Gerald cepet ih!” “Aku, mau jadi pacar kamu.” “Serius?” Liora langsung tersenyum bahagia, karena Gerald telah menerima perasaannya.  “Ya seriuslah, aku kan sayang sama kamu.” Liora menatap Gerald dengan penuh kebahagiaan. Akhirnya, dia bisa menjalin hubungan dengan laki-laki yang sangat dia kagumi dan dia cintai.  “Kalau ini bukan di kelas, aku udah teriak-teriak bahagia, karena pangeran aku udah mau nerima cinta aku.” “Dih!” Gerald tercengir. “Pangeran apaan? Pangeran kodok.” “Pangeran Gerald yang ganteng, i love you.” ucap Liora pelan dengan penuh senyuman.  “Kebalik ya?” “Apanya?” “Harusnya aku yang gombal, bukan kamu.” “Siapa yang gombal? Aku nggak gombal. Aku cuma ngomong secara fakta. Karena faktanya, kamu itu emang ganteng banget.” Gerald tersenyum. “Makasih cantik.” “EKHEM!” Alexa berdehem kencang.  “EKHEMZ-EKHEMZ!” Elina pun.  Hal tersebut membuat Gerald dan Liora langsung menoleh ke arah mereka.  “Cie, yang baru jadian nih. Udah nempel-nempel aja.” ucap Alexa.  “Enak ya pacaran sama yang sekelas, bisa deketan terus.” ucap Elina.  “Lah! Kok mereka tahu? Kamu ngasih tahu mereka?” “Nggak, aku malah belum nyerita apa-apa ke mereka, aku nggak nyerita sama mereka kalau aku udah nembak kamu.” “Nggak perlu ditutup-tutupin lagi ah, publish aja udah. Cocok kok.” ucap Alexa dengan penuh senyuman.  “Iya, cocok kok. Accieee!” ucap Elina.  “ACIEEEE!” seluruh murid kelas kemudian ikut menyuraki Gerald dan Liora.  “Hahaha.” Alexa tertawa melihatnya.  Hal tersebut membuat Gerald dan Liora menjadi terkesipu malu.  “Apaan sih kalian? Siapa juga yang pacaran dih?” Gerald tercengir.  “Kita tuh cuma temenan kali, nggak ada yang pacaran.” ucap Liora malu-malu.  “Nggak pacaran, cuma temenan, ngomongnya sambil malu-malu gitu aduhhh!” ucap Elina.  “Udah kelihatan mesra banget gitu ah elah!” cengir Alexa.  “Hahaha.” Gerald dan Liora tertawa melihat tingkah laku teman-teman mereka.  Setelah itu, mereka berdua saling menatap satu sama lain, dengan tatapan penuh cinta dan kebahagiaan.  “Sekarang, kamu udah jadi milik aku. Jadi, kamu nggak boleh liar sama cewek lain.” ucap Liora. “Pokoknya kamu harus selalu jaga hati kamu buat aku.” “Aku? Liar sama cewek lain? Mana mungkin aku ngelakuin itu. Deket sama cewek aja aku gugup.” “Tapi kok deket sama aku, biasa aja nggak gugup?” “Beda, kalau sama kamu kan sayang banget, makanya udah biasa.” Liora tersenyum mendengarnya. “Yaudah, pengen pegang tangan kamu dong.” Gerald terdiam.  “Kok malah diem?” “Kalau buat pegang-pegangan, aku belum terbiasa sama kamu.” “Jadi kamu bakalan gugup kalau aku pegang?” Gerald menganggukan kepalanya dengan pelan.  “Yaudah sini, mau lihat gugupnya orang ganteng gimana?” “Jangan dong!” Gerald menyembunyikan kedua tangannya di belakang pinggangnya.  “Sini ih mau pegang!” “Jangan sekarang, aku belum siap.” “Terus mau kapan?” “Nanti kalau udah siap.” “Mau sampe kapanpun, kamu nggak bakalan siap kalau nggak kamu mulai. Sini tangan kamu, kita biasain.” “Ra, janganlah, aku malu kalau aku kelihatan aneh dilihat temen-temen.” Liora menatap ke arah teman-temannya yang sedang asik dengan circlenya masing-masing.  “Tapi temen-temen lagi pada asik sama gengnya masing-masing. Nggak bakalan ada yang ngelihatin. Sini ih tangan kamu” “Ra, jangan maksa dong. Aku belum siap!” “Ra Ra mulu, sayang dong.” “Dih!” Gerald mendadak tercengir setelah mendengar ucapan Liora barusan.  “Siniin tangannya ih!” “Nggak mau!” balas Gerald pelan.  “Ih! Yaudah aku paksa nih!” “Paksa aja kalau kamu bisa.” “Nantang?” “Coba aja kalau bisa!” “Oke.” Mereka berdua lalu saling terdiam, dan saling menatap dengan penuh senyuman. Sampai tiba-tiba, Liora menggelitiki pinggangnya Gerald.  “Ah hahahaha!” hal tersebut langsung membuat kedua tangan Gerald kembali ke depan, karena merasa sangat geli digelitiki oleh Liora.  “Ra, geli Ra.” “Nah dapet.” dengan langsung, Liora meraih kedua tangan Gerald, lalu menggenggamnya dengan erat.  Gerald langsung terdiam saat kedua tangannya digenggam erat oleh Liora.  Liora menatap Gerald dengan penuh senyuman, dan terus menggenggam tangan Gerald dengan sangat erat.  Mendadak, tangan Gerald langsung bergetar, dan Gerald kembali merasakan hal aneh, yaitu gugup, kaku, dan pusing kepala.  “Ra lepasin tangan aku Ra, aku nggak kuat!” “Nggak mau.” “Please Ra, lepasin!” “Nggak mau.” balas Liora dengan penuh senyuman.  Gerald terdiam, dengan napas yang tak karuan. Sampai tak lama kemudian, dia terjatuh pingsan.  “Astaga Gerald!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD