Kesembuhan dan Bahagia

1088 Words
Setelah tiba di rumah, Gerald langsung mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian yang kering. Setelah itu dia dan orangtuanya langsung bergegas pergi menuju Dokter umum untuk memeriksakan keadaannya Gerald. “Gimana Dok, apa ada keluhan kepada Anak saya?” tanya Yulia. “Anak Bapak dan Ibu baik-baik saja, tidak terjadi hal apa-apa. Hanya perlu istirahat yang cukup saja, nanti saya kasih vitamin untuk menyegarkan kembali daya tubuh Anak Bapak dan Ibu ya.” balas Dokter Alfan. Raffi dan Yulia langsung menghela napas lega, karena Gerald dinyatakan baik-baik saja. “Tuh kan, udah aku bilangin kalau aku itu nggak apa-apa. Aku itu baik-baik aja.” ucap Gerald. Setelah selesai diperiksa di Dokter umum, mereka langsung melaju pergi menuju psikiater langganan mereka, yaitu psikiater Dokter Rendy. “Siang Dok.” sapa Raffi. “Siang. Loh, Gerald, kok datengnya sama Mamah Papah sih? Biasanya kan sendiri?” “Ini Dok, ada yang mau kami tanyakan perihal keadaannya Gerald.” ucap Yulia. “Iya, gimana Bu?” “Jadi hari ini, Gerald cerita ke kami, katanya dia sudah sembuh dari gynophobia. Soalnya waktu dia pegangan dan berdekatan sama perempuan, dia udah nggak ngerasain lagi gejala-gejala gynophobia. Waktu denger cerita Gerald itu, kami ngerasa nggak yakin kalau Gerald bisa sembuh secepat ini. Makanya kami datang ke sini untuk memastikan kebenaran tentang kesembuhannya Gerald. Apa benar kalau Gerald itu sudah sembuh total dari gynophobia?” “Baik! Kalau begitu, Ibu sama Bapak tolong tunggu di luar ya! Biar saya memeriksa Gerald.” “Oh, iya Dok. Ayo Pah!” Yulia kemudian mengajak Raffi keluar dari ruangan tersebut. Sekarang, tinggal tersisa Gerald dan Dokter Rendy di dalam ruangan. “Jadi Gerald, apa bener sama yang diceritain Mamah kamu tadi? Kalau kamu udah sembuh dari gynophobia?” “Iya Dok.” balas Gerald dengan penuh senyuman. “Gimana ceritanya?” “Tadi, saya sama pacar saya gendongan, dan pelukan, dan, saya nggak ngerasain gejala gynophobia kayak biasanya. Saya nggak ngerasa jantungan, deg-degan, keringetan, ketakutan, saya biasa aja gitu, dan bukan cuma sama pacar saya aja, sama perempuan lain juga sama.” “Kalau gitu, Dokter pengen lihat langsung ya, waktu kamu interaksi dan bersentuhan sama perempuan.” Dokter Rendy lalu menelepon Jessica, salah satu pegawainya. “Halo Jessica, saya minta kamu ke ruangan saya sekarang juga ya!” Tak lama setelah itu, Jessica, perempuan berusia 25 tahun, tiba di ruangan Dokter Rendy. “Jessica, perkenalkan, ini salah satu pasien saya, Gerald. Dia penderita gynophobia. Dia alergi banget sama perempuan yang seumuran dengannya, dan juga perempuan muda seumuran kamu. Tapi kalau sama perempuan yang udah berumur, seperti Ibu-Ibu, dia nggak bakalan alergi. Gerald bilang, hari ini dia sudah sembuh dari gynophobia. Jadi saya minta tolong buat kamu, untuk kamu pegangan tangan sama dia, supaya saya bisa melihat secara langsung kalau Gerald benar-benar sudah sembuh.” “Oh, siap Dok.” “Gerald, sodorin tangan kamu ke Kak Jessica!” “Iya Dok.” Gerald lalu menyodorkan tangannya ke hadapan Jessica. Lalu Jessica langsung mengenggam tangan Gerald. “Jessica, coba kamu berdiri lebih dekat dengan Gerald!” Jessica lalu melangkah lebih dekat dengan Gerald. Dokter Rendy menatap Gerald, yang tidak mengalami gejala gynophobia sama sekali. Dia kemudian tersenyum senang, karena sudah melihat jika Gerald benar-benar sudah bisa dinyatakan sembuh dari gynophobia. “Cukup Jessica! Sekarang kamu bisa kembali kerja!” “Siap Dok.” Jessica kemudian pergi dan kembali mengerjakan tugasnya. “Well done Gerald well done!” ucap Dokter Rendy dengan penuh senyuman sembari bertepuk tangan. “Kamu hebat!” “Maksud Dokter?” “Kamu hebat! Kamu bisa sembuh dari gynophobia cuma dalam beberapa minggu! Hebat Gerald kamu hebat!” “Hah?” Gerald langsung tersenyum senang mendengar ucapan tersebut. “Jadi maksud Dokter? Saya emang udah sembuh total dari gangguan gynophobia?” “Iya. Dengan ini, saya ucapkan selamat sama kamu. Selamat! Karena kamu sudah berhasil melawan gynophobia, sampe dia pergi dari kehidupan kamu. Sekarang kamu bisa hidup dengan normal, tanpa adanya gangguan gynophobia lagi. Selamat ya Gerald!” Gerald langsung tersenyum bahagia, setelah mendengar Dokter Rendy yang menyatakan bahwa dia memang sudah sembuh dari gangguan gynophobia. “Sekarang, kamu boleh panggil orangtua kamu ke sini!” “Iya Dok.” Gerald lalu langsung memanggil orangtuanya. Tak lama setelah itu, dia dan orangtua kembali menghadap Dokter Rendy. “Jadi, gimana Dok? Apa Gerald benar-benar sudah sembuh dari gynophobia?” tanya Yulia. “Iya Bu, dengan ini saya menyatakan, Gerald sudah sembuh dari gynophobia.” “Alhamdulillah Ya Allah!” Raffi dan Yulia langsung menangis bahagia, karena Gerald sudah sembuh dari gynophobia. “Semoga, Bapak dan Ibu tidak melakukan kesalahan yang sama ya! Tolong jangan kekang Gerald lagi, biarkan dia menikmati masa remajanya dengan normal.” “Iya Dok, saya pasti tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.” isak Raffi. “Dok, apa Gerald bisa sembuh secepat ini, karena dukungan dari pacarnya yang selalu ada untuk dia?” tanya Yulia. “Benar sekali, Bu. Kesembuhan Gerald yang sangat cepat ini, bisa terjadi karena dukungan kekasihnya. Tanpa bantuan dari kekasihnya, Gerald tidak akan mungkin bisa sembuh dalam waktu secepat ini.” “Nggak sia-sia kita ngizinin Gerald buat pacaran sama Liora, Pah. Liora bener-bener hebat!” ucap Yulia dengan penuh senyuman. “Iya, Papah jadi makin suka sama Liora.” ucap Raffi dengan penuh senyuman juga. Gerald tersenyum, mendengar orangtuanya yang menyukai Liora, karena Liora sudah membantunya untuk sembuh dengan cepat dari gynophobia. “Dokter Rendy, makasih ya.” ucap Gerald dengan penuh senyuman. “Makasih, karena Dokter udah mau bantuin saya buat sembuh dari gangguan gynophobia. Jasa Dokter nggak bakalan pernah saya lupain.” “Sama-sama Gerald, ini sudah jadi tugas saya buat menolong setiap pasien yang mengalami gangguan dalam diri mereka.” balas Dokter Rendy dengan penuh senyuman. “Saya juga, selaku Ayahnya Gerald, mengucapkan banyak terima kasih, atas bantuan Dokter Rendy selama ini. Saya akan selalu mengingat jasa Dokter yang sudah membantu Anak saya.” ucap Raffi dengan penuh senyuman. “Sama-sama Pak Raffi. Semoga Gerald dan Anton, tidak akan bertemu lagi ya dengan yang namanya gynophobia. Semoga mereka akan hidup dengan normal untuk seterusnya.” “Aamiin.” ucap Raffi dan Yulia secara bersamaan. “Kalau gitu, kita pamit ya Dok! Sekali lagi terima kasih atas segala bantuannya.” ucap Yulia. “Iya Bu.” Raffi dan Yulia lalu bersalaman tangan dengan Dokter Rendy, sementara Gerald mencium tangan Dokter Rendy. “Assalamualaikum.” ucap Raffi. “Waalaikum sallam.” Raffi dan Yulia lalu merangkul Gerald, kemudian mereka melangkah pulang dengan senyuman yang penuh dengan kebahagiaan. Sebab Gerald sudah sembuh dari gangguan gynophobia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD