Raffi, Yulia dan Gerald baru saja tiba di rumah.
“Anton udah pulang ya?” tanya Raffi.
“Udah, itu mobilnya Gerald kan udah ada di garasi.” balas Yulia.
“Yaudah, syukurlah kalau Anak-Anak udah pada di rumah.”
“Katanya Papah mau ngomong sama aku sama Kak Anton?”
“Nggak usahlah, kamu udah janji buat nggak ngelakuin kesalahan lagi itu udah cukup. Mending sekarang kamu istirahat sana! Kamu butuh istirahat, jangan lupa diminum juga vitaminnya!”
Gerald tersenyum. “Iya Pah, kalau gitu aku istirahat ya.”
“Iya.”
Gerald lalu melangkah menuju kamar Anton, untuk memberi tahu jika orangtua mereka sudah tidak marah lagi.
“Kak!”
“Hmm? Habis dari mana?”
Gerald kemudian menghampiri Anton di tempat tidur. “Aku habis dari Dokter umum, dan dari psikiater juga.”
“Terus gimana?”
“Kata Dokter, aku nggak apa-apa, dan kata Dokter jiwa, Dokter Rendy, aku emang udah beneran sembuh dari gynophobia.”
Anton yang sudah mengetahui kesembuhan Gerald sejak tadi, hanya tersenyum saja. “Syukur deh, kalau kamu udah beneran sembuh.”
“Kok Kakak kayak biasa aja sih denger aku sembuh dari gynophobia?”
“Kakak kan udah tahu sejak tadi kalau kamu udah sembuh, jadi ya biasa aja.”
“Oh iya ya. Terus ada satu lagi, Kak.”
“Apa?”
“Mamah sama Papah udah maafin kita, karena aku udah janji buat nggak ngelakuin kesalahan lagi. Jadi sekarang Kakak istirahat aja ya! Dan jangan mikirin soal kemarahan Mamah sama Papah lagi.”
“Bagus deh kalau gitu.” Anton lalu merebahkan tubuhnya di kasur.
“Yaudah, kalau gitu aku ke kamar ya Kak! Aku juga mau istirahat.”
“Iya, istirahat sana!”
Gerald kemudian langsung pergi menuju kamarnya, lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
“Hadeh!” Gerald menghela napas panjang sejenak. “Dunia hari ini begitu banyak lika-liku. Tapi alhamdulillah, dapet akhir yang bahagia. Terima kasih Ya Allah atas kesembuhan ini.”
Setelah melalui begitu banyaknya masalah di hari ini, kini Gerald bisa istirahat dengan tenang.
Waktu terus berjalan.
“Gerald, bangun!” Anton membangunkan Gerald di malam hari. “Bangun heh! Bangun dulu jangan tidur terus!”
“Hmm?” Gerald lalu terbangun.
“Bangun dulu, ayo makan! Nanti habis makan lanjut lagi tidurnya.”
“Males ah!”
“Buruan eh! Mamah sama Papah udah nungguin kita. Ayo!”
“Gendong.”
“Dih! Kayak bocah aja mau digendong.”
“Gendong!”
“Yaudah ayo!”
Dengan menahan kantuk dan rasa lesu, Gerald memeluk Anton dari belakang. Setelah itu Anton menggendong Gerald menuju meja makan.
“Beuh! Berat banget sih!”
Setibanya di meja makan, Raffi dan Yulia langsung terkekeh melihat Gerald digendong Anton.
“Aduh Anak bungsu Papah manja banget sih digendong sama Kakak!”
“Tahu, kayak anak kecil aja.” ucap Anton, lalu menurunkan Gerald.
“Gerald, cuci muka dulu sana!” ucap Yulia.
“Males ah.”
“Udahlah nggak apa-apa. Ayo kalian langsung makan!” ucap Raffi.
Anton dan Gerald kemudian mengambil makanan, lalu langsung menyantapnya.
“Oh iya Pah.” ucap Anton.
“Kenapa sayang?”
“Aku pengen beli HP baru dong, soalnya tadi HP aku rusak kena hujan badai.”
“Aku juga mau HP baru Pah. Soalnya HP aku ilang di danau.” ucap Gerald.
“Mau kapan, besok apa sekarang?”
“Sekarang aja Pah, takut ada tugas kuliah.”
“Yaudah, selesain dulu makannya! Nanti Papah transfer uangnya ke rekening kamu Anton.”
“Pengen Iphone 11 Pah.” ucap Gerald.
“Nggak usah ngadi-ngadi kamu ah! Android aja.” ucap Anton.
“Kalau mau IPhone boleh, emang berapa sih?”
“Android aja Pah, nggak usah didengerin kata Gerald.”
Gerald tercengir. “Iya Pah, aku bercanda kok. Beli android aja.”
“Oke.”
Setelah selesai makan, Raffi langsung menransfer uang ke rekening Anton untuk mereka membeli ponsel baru.
“Anton, udah Papah kirim ya uangnya.”
“Makasih Pah. Yaudah, kalau gitu aku sama Gerald siap-siap dulu ya buat berangkat.”
“Beli HP doang ya!” ucap Yulia. “Habis beli HP, langsung pulang! Jangan keluyuran ke mana-mana lagi! Pokoknya langsung pulang!”
“Siap Mah.” balas Anton. “Yaudah Gerald, ayo ganti baju!”
“Aku mandi dulu ya Kak!”
“Heh! Nggak ada mandi malem-malem!” ucap Yulia. “Udah kamu cuci muka aja, ganti baju. Anak Mamah nggak mandi juga tetep ganteng kok.”
Gerald tercengir. “Mamah bisa aja.”
Setelah itu, Gerald dan Anton langsung bersiap-siap. Setelah selesai, mereka langsung pergi menuju garasi untuk berangkat dengan mobilnya Anton.
Saat tiba di depan rumah, mereka bertemu dengan Gerald yang sedang bermain gitar di halaman rumahnya.
“Hei, mau pada ke mana?” tanya Albert.
“Mau beli HP baru.” balas Gerald.
“Ikut dong!”
“Nggak ah!” balas Anton.
“Kok Kakak gitu sih?”
“Siapa suruh tadi kamu ninggalin Kakak sendirian. Dah nggak boleh ikut!”
“Kak Anton kok ngeselin mulu sih dari tadi?”
“Kak apaan sih? Kok Kakak malah kayak bocah gitu.” ucap Gerald.
Anton tercengir. “Bercanda-bercanda. Yaudah izin dulu sana sama si Om, kalau dibolehin baru ikut.”
Albert tersenyum. “Oke, aku izin dulu sama Papah.” Albert kemudian masuk ke dalam rumahnya, untuk meminta izin kepada Ayahnya. Setelah mendapat izin, dia kembali keluar rumah.
“Gimana?” tanya Anton.
“Dibolehin.”
“Yaudah tunggu di luar!”
“Oke.”
Albert lalu menunggu di depan pagar rumah mereka. Tak lama setelah itu, mobil Anton tiba. Albert lalu langsung masuk ke mobil tersebut, duduk di belakang bersama Gerald.
“Loh, kok lo duduk di belakang sih?” tanya Albert.
“Sengaja dia, pengen ngobrol sama kamu katanya.” balas Anton.
“Oohh.” Albert tersenyum.
Anton kemudian melajukan mobil, menuju toko ponsel yang berada di dekat area alun-alun.
“Ger, lo baik-baik aja?”
“Alhamdulillah, lebih dari baik.”
“Syukur deh. Gue bener-bener khawatir banget waktu denger kabar kalau lo hanyut ke danau.”
“Ciee yang khawatir sama sepupu kesayangannya. Haha!”
“Ya makanya lo jangan bikin khawatir dong ah.”
“Oh iya, langganan psikiater lo di mana?”
“Di kota lama tempat gue tinggal. Psikiater Dokter Robert.”
“Pindah aja ke psikiater gue, psikiater Dokter Rendy, deket kok nggak jauh-jauh banget dari sini.”
“Iya, kata Papah, gue juga bakalan pindah periksa ke psikiater langganan lo.”
“Oh iya, Dokter Robert nyuruh lo buat pacaran kan?”
“Iya, supaya gue bisa cepet sembuh.”
“Yaudah, pacaran gih! Biar lo cepet sembuh! Gue juga udah sembuh karena udah didampingin sama Liora.”
“Hah? Lo udah sembuh? Sembuh dari gynophobia?”
“Yoi. Tadi siang gue udah dinyatain sembuh sama Dokter Rendy. Jadi, gue udah bisa hidup jadi laki-laki normal dari hari ini dan seterusnya. Semua itu berkat bantuan Dokter Rendy, dan juga dukungan dari pacar gue, Liora.”
“Seriusan lo udah sembuh Ger? Kak? Seriusan Gerald udah sembuh dari gynophobia?”
Albert merasa sangat tak menyangka, mengetahui Gerald sudah sembuh dari gynophobia dalam waktu yang begitu cepat.