Setelah melewati perjalanan kurang lebih dua puluh menit, akhirnya mereka tiba di depan Abdullah Cell. Toko ponsel yang terkenal menjual ponsel dengan kualitas terbaik di kota mereka.
Saat mereka keluar dari mobil, mereka melihat Silvia dan Liora sedang berada di sana, memilih-milih ponsel untuk mereka beli. Rupanya, mereka juga datang untuk membeli ponsel baru.
“Eh! Itu kan Kak Silvia sama Liora.” ucap Gerald sembari menunjuk mereka. “Mantap! Ketemu lagi kita sama mereka.”
“Mereka pasti juga lagi beli HP baru, karena HP mereka juga rusak. Yaudah yuk!” ucap Anton, lalu melangkah menuju toko tersebut bersama Gerald dan Albert.
“Hai!” sapa Gerald kepada Silvia dan Liora.
Silvia dan Liora langsung menoleh ke arah mereka.
“Hei! Ketemu lagi.” ucap Silvia sembari tersenyum senang. “Kalian pasti mau beli HP baru juga ya?”
“Iya.” balas Anton.
“Eh! Ada Albert.” ucap Liora. “Lo mau beli HP baru juga Bert?”
“Nggak, gue cuma ikut Kak Anton sama Gerald aja. Soalnya boring di rumah.”
“Oh iya Kak Silvia. Kenalin, ini Albert, dia sepupu aku. Satu kelas juga sama aku sama Liora.”
“Oh. Hei Albert.” Silvia langsung menyodorkan tangannya kepada Albert, untuk bersalaman tangan dengannya sebagai tanda perkenalan mereka.
“Jangan!” dengan cepat, Gerald mendorong tangan Silvia untuk menjauh dari hadapan Albert.
“Loh! Kenapa?”
“Kakak jaga jarak ya dari Albert, dan jangan sentuhan sama Albert!”
“Kenapa emang?”
“Albert ini juga punya gangguan gynophobia kayak Gerald, dan dia belum sembuh. Jadi dia nggak bisa deket-deket apalagi sampe sentuhan sama cewek.” balas Anton.
“Ya Allah! Sampe ke sepupu kalian juga ngalamin gynophobia. Kok bisa satu keturunan gitu sih?” Silvia benar-benar sangat terkejut mendengar Albert juga mempunyai gangguan gynophobia.
“Udah ah jangan bahas gynophobia lagi! Gerald, sana kamu pilih mau HP yang mana! Jangan yang lebih dari 4 juta oke.”
“Oke. Yuk!” Gerald kemudian menarik tangan Albert, untuk memilih-milih ponsel yang akan dia beli. Liora lalu mengikutinya.
Sementara Anton, dia melihat-lihat ponsel bersama Silvia.
“Sayang, kamu mau beli HP apa?” tanya Liora. “Samain yuk biar couple! Couple HPnya, terus sama casingnya juga!”
“Terus nanti putus, dibuang deh tuh casing.” ucap Albert.
“Ih Albert apaan sih kok ngomongnya gitu?”
“Hahah!” Albert tercengir. “Maaf canda doang Ra.”
“Ayo! Emang kamu mau HP merek apa?”
“Aku maunya beli HP Oppo. Soalnya kameranya bagus, setara sama Iphone.”
“Kalau buat main game, kuat nggak sih?”
“Ya kuat dong.” balas Albert. “Asal yang ramnya 6 ke atas.”
“Yaudah, gue mau yang ram 8 aja. Biar makin mantap! Kira-kira HP Oppo yang ram 8 di sini dari tipe apa ya?”
“Ya tanya sama penjaga tokonya lah, malah nanya gue.” balas Albert.
“Hahah!” Gerald tercengir.
Mereka kemudian bertanya-tanya kepada penjaga toko, perihal ponsel yang sedang mereka cari. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk membeli ponsel yang sama dan juga casing ponsel yang sama. Sementara Anton dan Silvia, mereka membeli ponsel dari merek yang berbeda dengan Gerald dan Liora.
Saat menunggu ponsel mereka diaktivasi, mereka berbincang-bincang terlebih dahulu.
“Bert, tadi gimana sekolah?” tanya Liora.
“Sekolah tadi cuma sampe jam 11, karena hujan badai, dan adanya masalah di sekolah, jadi kegiatan belajar mengajar diselesain.”
“Ada kerusakan nggak di sekolah?” tanya Gerald.
“Alhamdulillah nggak ada. Besok kalian mau sekolah nggak?”
“Sekolah dong.” balas Liora.
Ponsel Albert tiba-tiba berbunyi.
“Siapa tuh?” tanya Gerald penasaran.
“Ini kok kaya, Alexa?” Albert menatap foto profil kontak w******p yang tak dia kenali, yang ternyata adalah fotonya Alexa.
“Wih Alexa ngechatt. Ngechatt apaan?” tanya Liora.
“P.”
“Terus?”
“Save Alexa.”
“Terus lo jawab apa?” tanya Liora.
“Oke.”
“Kok oke doang sih?”
“Ya terus gue harus jawab apa lagi?”
“Ya basa-basi kek. Tanya dia lagi apa? Lagi ngapain?”
“Males!”
“Kok males sih? Bukannya lo bilang lo suka ya sama Alexa? Kalau suka deketin dong Bert.” ucap Gerald.
“Males ah.”
“Hah? Albert suka sama Alexa? Beneran itu Bert?”
“Ah Gerald ember banget sih lo!”
“Ya nggak apa-apa kali, ini kan Liora bukan orang lain. Justru kalau Liora tahu ya bagus, dia bisa bantuin lo supaya jadian sama Alexa.”
“Lo tembak aja si Alexa langsung, dia pasti bakalan nerima lo kok. Orang dia juga suka banget sama lo. Lo itu tipe dia banget.”
“Emang dia mau nerima kekurangan gue, yang punya gynophobia? Apalagi gynophobia gue ini levelnya parah banget. Emang dia mau gitu pacaran jaga jarak, nggak bisa pegangan, nggak bisa pelukan? Gue yakin sih nggak bakalan mau dia.”
“Itu dia ngechatt lo, berarti dia mau sama lo. Kalau dia nggak mau sama lo, nggak bakalan mungkin dia ngechatt lo duluan.”
“Tapi kan dia cuma minta gue save kontaknya, bukan ngechatt yang aneh-aneh.”
“Ya jarang-jarang kali cewek ngechatt cowok duluan buat disave nomornya. Udah deh, besok gue bakalan tanya lebih jelas ke si Alexa, tapi gue yakin dia pasti bakalan nerima lo apa adanya kok. Dia pasti mau ngedukung lo sampe lo bisa sembuh kayak Gerald sekarang.”
“Aamiin.” ucap Gerald. “Semoga aja lo bisa secepetnya sembuh total kayak gue.”
Ponsel Albert lalu kembali berbunyi. Rupanya dia mendapat lagi chatt dari Alexa.
“Eh! Si Alexa ngechatt lagi nih.”
“Nah kan, ngechatt apaan?” tanya Liora.
“Nanya gue lagi ngapain?”
“Yaudah, ayo jawab sana!”
“Oke.” Albert lalu langsung menjawab chatt tersebut dengan balasan. “Lagi di toko HP nih, nganter Gerald beli HP baru. Kebetulan ketemu sama Liora juga di sini, yang lagi beli HP baru sama Kakaknya.”
Gerald dan Liora menatap balasan chatt dari Albert itu.
“Tanya balik dong Bert!” ucap Liora. “Biar panjang chattingnya.”
“Oke-oke.” Albert lalu mengirim pesan lagi kepada Alexa, yang berisi “Kalau lo sendiri lagi ngapain Lex?”
“Ih! Jangan pake lo gue, pake aku kamu dong!” ucap Liora.
“Nggak eh! Udah pake lo gue aja!” ucap Gerald. “Orang masih perkenalan awal, masa langsung pake aku kamu sih. Nggak asik banget!”
“Oh, iya juga sih.”
“Heh!” ucap Anton. “Lagi pada ngapain sih tuh? Kok asik banget? Udah selesai nih HPnya. Ayo pulang!”
“Iya, udah selesai tuh HPnya. Ambil sana!” ucap Silvia.
Gerald dan Liora kemudian langsung mengambil ponsel mereka, setelah itu tersenyum terpesona melihat casing ponsel mereka yang sama.
“Mantap casingnya couple!” ucap Gerald dengan penuh senyuman.
“Yaudah mana sini nomor kamu!” pinta Liora.
Gerald dan Liora lalu saling bertukar nomor ponsel.
“Udah belum?” tanya Anton.
“Udah.” balas Gerald.
“Yaudah, yuk pulang! Sil, gue sama Gerald Albert duluan ya!”
“Oke. Sampe ketemu di kampus besok.”
“Sip.”
Setelah selesai membeli ponsel baru, mereka kembali memasuki mobil masing-masing. Setelah itu langsung melaju pulang ke rumah masing-masing.