Keputusan Terbaik

1135 Words
“Tapi Clar.” ucap Gerald. “Kenapa Ger?” “Gue pengen tahu, apa alesan lo sama Devin? Ngelakuin hal ini ke gue sama Liora? Apa kita udah pernah ngelakuin kesalahan sama lo berdua?” “Nggak kok Ger, lo sama Liora nggak pernah ngelakuin kesalahan sama gue sama Devin. Ini semua murni kesalahan hati gue sama Devin, yang udah bikin kita jahat, sampe tega ngelakuin hal ini ke kalian.” “Maksudnya?” tanya Liora. “Sebenernya,” isak Clara. “gue suka sama lo Ger, dan Devin, suka sama Liora.” Gerald dan Liora langsung saling menatap satu sama lain, sontak mereka sangat terkejut begitu mendengar kejujuran Clara barusan. “Kita bener-bener ngerasa sakit hati, karena kalian udah jadian. Jadi, kita nggak rela buat ngelihat kalian bahagia. Maka dari itu, gue sama Devin berani ngejebak kalian supaya kalian menderita, dan hubungan kalian nggak bahagia. Itu semua kita lakuin, karena kita cemburu sama kalian, kita nggak rela kalian bahagia di atas penderitaan kita. Maafin gue!” Liora langsung meneteskan air mata, begitu mendengar ucapan Clara barusan. “Gue janji, gue sama Devin, bakalan ngehapus rasa di hati kita ke kalian. Please maafin kita!” isak Clara. “Udah Clar, lupain aja semua masalah ini!” ucap Gerald. “Anggap aja kalau ini nggak pernah terjadi! Mulai sekarang, kita bakalan nerima lo sama Devin, sebagai sahabat kita. Oke!” “Iya Clar, gue sama Gerald, bakalan seneng banget kalau lo sama Devin mau sahabatan sama kita.” isak Liora. Clara tersenyum. “Makasih ya, kalian baik banget!” “Yasudah, kalau gitu, kami pamit ya Bu Viona.” ucap Raffi. “Oh, iya Pak. Sekali lagi, terima kasih banyak ya, karena kalian sudah mau memaafkan Anak saya.” “Iya, makasih Om, Tante.” ucap Clara. “Sama-sama. Kalau gitu kami langsung pulang ya. Asalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Gerald dan Liora serta orangtua mereka lalu langsung bergegas pulang. “Alhamdulilah Clara!” Viona memeluk Clara dengan penuh tangisan kebahagiaan. “Sekarang Mamah bisa tenang lagi, kamu nggak jadi dipenjara.” Clara pun menangis, karena merasa menyesal telah membuat Ibunya kecewa. “Maafin Clara Mah.” “Iya, Mamah maafin kamu. Tapi jangan diulangin lagi ya sayang!” “Iya Mah, Clara janji nggak bakalan ngelakuin hal jahat lagi.” Tak lama setelah kepergian keluarga Gerald dan Liora, Reksa, Ayahnya Clara tiba di rumah. “CLARA!” teriak Reksa dengan penuh amarah, lalu melempar tas kerjanya ke sofa. Hal itu membuat Viona dan Clara langsung terkejut. “Papah! Kamu kenapa?” tanya Viona. “PAPAH TADI NGELIHAT BERITA KAMU SAMA DEVIN VIRAL DI MEDIA SOSIAL! DASAR NGGAK ADA OTAK KAMU! BISA-BISANYA KAMU NGEPRANK TEMEN SEKOLAH KAMU DENGAN CANDAAN YANG BENER-BENER JAHAT KAYAK GITU!” Clara langsung memeluk Ibunya dan menangis ketakutan karena melihat amarah Ayahnya. “KAMU BENER-BENER BIKIN PAPAH MALU! SEORANG CLARA, ANAKNYA REKSA, BERBUAT PRANK BODOH YANG MERUGIKAN TEMAN SEKOLAHNYA SAMPAI VIRAL. MAU DITARUH DI MANA MUKA PAPAH?” “Pah sabar Pah! Jangan marah-marah berlebihan kayak gini!” “NGAPAIN KAMU BELAIN DIA? BUKANNYA MARAHIN DIA? MALAH BELAIN DIA!” “Aku tahu perasaan kamu gimana! Aku juga kecewa banget sama Clara! Aku udah marah juga kok ke dia tadi. Tapi dia itu udah nebus kesalahannya dengan ngebuat video klarifikasi itu, dan imbasnya, sekarang dia udah dapetin ujaran kebencian dari seluruh penduduk Indonesia. Pihak keluarga Gerald dan Liora, yang udah jadi korban dari kejahatan Clara aja udah maafin Clara, masa kamu Papahnya nggak?” “Kamu pikir, kesalahan Anak kamu ini bisa dimaafin gitu aja? Dia udah bikin nama aku tercemar Viona. Gimana nanti kalau kerjaan aku juga bermasalah karena mereka tahu kalau Clara ini Anak aku? Kamu mau perusahaan kita bangkrut hah?” “Astaghfirullah Pah, jangan ngomong kayak gitu! Itu nggak baik. Rezeki itu sudah diatur oleh Allah. Jadi kita nggak perlu takut soal rezeki.” “HALAH DIEM KAMU! BELAIN AJA TERUS ANAK KAMU ITU!” “Cukup Pah! Kasihan Clara! Dia udah kena ujaran kebencian dari semua orang, terus kamu juga mau ikutan? Emangnya kamu nggak takut kalau nanti Clara masuk rumah sakit jiwa karena depresi?” “Ya, aku tahu. Clara pasti sekarang lagi depresi banget, karena udah dihujat sama satu Indonesia. Maka dari itu, aku bakalan titipin dia ke orangtua aku.” “Orangtua kamu? Orangtua kamu itu kan di Jerman, jadi kamu mau kirim Clara ke Jerman?” “Iya, aku bakalan kirim dia ke Jerman, dan dia bakalan sekolah di sana.” “Nggak Pah!” isak Clara. “Aku nggak mau pindah ke Jerman. Aku mau di sini aja sama Mamah, aku nggak mau jauh dari Mamah.” “Iya Pah, aku nggak setuju Clara dipindahin ke Jerman.” “Aku ngelakuin ini, demi kebaikan Anak kita Viona. Aku nggak mau, kalau sampe mental Clara hancur karena dapet hujatan dari semua orang. Maka dari itu, lebih baik Clara pindah ke negara lain, dan kembali lagi ke sini, setelah dia lulus SMA.” “Terus, gimana sama Devin?” “Aku nggak tahu, itu bukan urusan aku.” “Setidaknya, Devin juga harus ikut ke Jerman, supaya Clara ada temennya.” “Mau Devin ikut ke Jerman atau nggak? Itu bukan urusan kita. Hak masa depannya Devin, ada di tangan orangtuanya dia. Yang perlu kita pikirin sekarang cuma masa depan Anak kita, Clara. Kamu nggak boleh egois Viona, kamu harus pikirin keadaan mentalnya Clara.” “Pah!” Clara berlari lalu memeluk kaki Ayahnya dengan penuh tangisan. “Pah aku nggak mau sekolah ke Jerman, aku nggak mau. Aku mau tetep sekolah di sini aja, aku nggak mau jauh dari Mamah!” Reksa berlutut di hadapan Clara, lalu menyentuh wajah putrinya itu dengan lembut. “Clara, Papah ngelakuin ini demi kebaikan kamu. Papah tahu, kamu nggak bakalan kuat kalau harus ngejalanin ini semua. Kamu pasti bakalan dapetin hinaan dari mana-mana. Di sekolah, kamu nggak bakalan dapet temen, kamu bakalan dibully, kalau kamu keluar, kamu juga pasti bakalan dihina sama orang-orang. Kamu pasti bakalan depresi banget, dan Papah nggak mau kalau nanti kamu sampe gangguan mental dan masuk rumah sakit jiwa, Papah nggak mau. Jadi, tolong turutin kata Papah ya! Kamu pindah ke Jerman, dan sekolah di sana, supaya kamu bisa ngejalanin hidup dengan normal lagi. Ya sayang!” Mendengar ucapan Ayahnya barusan, langsung menyadarkan Clara, jika keputusan Ayahnya itu memang yang terbaik untuknya. Begitupun dengan Viona. “Bener kata Papah kamu, Clara.” isak Viona. “Kamu pindah sekolah ke Jerman ya! Supaya kamu bisa ngejalanin hidup dengan normal lagi. Ini nggak selamanya kok, setelah kamu lulus dari SMA, kamu bisa pulang lagi ke Indonesia, dan ngumpul lagi sama Mamah Papah. Ya sayang?” “Maafin aku ya Mah, Pah. Maaf karena udah bikin kalian susah karena kesalahan aku.” isak Clara. “Udah, jangan dipikirin lagi!” ucap Reksa, lalu memeluk Clara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD