Rabu, 14 Juli 2021
Karena Tori dan Tana ikut membantu kami sampai ke perbatasan, aku kembali mengeluarkan iguana yang ada di dalam kalungku. Mereka berdua, tidak hanya mereka, tapi klan penunggang itu terlihat terpesona dengan kalung milikku. “Baru kali ini aku melihat benda langka itu, apa sebenarnya klanmu? Yang aku tahu, hanya ada beberapa orang yang pernah berhasil berbicara bahkan mengendalikan kalung itu!” Tana menatapku dengan tatapan penuh dengan rasa ingin tahu.
Aku menaikkan bahuku, “Aku tidak tahu, semua ini terjadi begitu saja. Termasuk pada iguana ini, aku tidak tahu kenapa aku seolah bisa berkomunikasi dengan mereka!”
“Kau juga bisa mengendalikan pada iguana itu? Bahkan Tamus saja, butuh bertahun-tahun agar bisa menaklukan makhluk besar dan berbahaya itu!” ujar Tori, terlihat tertarik dengan pembahasan kami.
“Aku juga tidak tahu dan kagum padanya, aku rasa dia bukan berasal dari klan biasa seperti makhluk bumi. Aku rasa dia lebih dari itu!” jelas Tamus
Aku menaikkan bahuku, sedikit risih karena tatapan para klan penunggang itu. Aku menyatukan keningku dengan iguana yang baru saja keluar dari dalam kalungku. Tori dan Tana lekas menaiki iguana itu, awalnya aku pikir iguana itu akan melawan dan tidak suka. Namun mereka nyaman-nyaman saja, bahkan terlihat nyaman dengan mereka.
“Kirey, kita harus segera berangkat. Kita tidak boleh lebih dari 7 hari untuk sampai ke klan vampire!” Travold mengingatkanku. Aku mengangguk, kali ini aku yang menunggangi iguanaku. Aku mengelus lehernya, dan tidak lama iguana kami lekas melesat dari daerah itu.
“Kita ke arah mana sekarang?” seruku
“Kita ke arah utara, ikuti saja kami!” seru Tamus yang langsung memacu iguana mereka lebih cepat. Logan yang duduk bersama dengan Tamus terlihat biasa saja, dan tidak sekhawatir Harry yang ada di belakang kami.
Kami memasuki wilayah hutan semakin dalam, di perjalanan yang kami lalui. Aku melihat beberapa tangkai pohon yang terbelah. Aku mengalihkan perhatianku, auranya juga semakin terasa lembab. 30 menit perjalanan, belum ada apa-apa dan aku sedikit bersyukur. Bulu kudukku sudah berdiri sejak beberapa menit yang lalu, lebih tepatnya saat mataku menangkap ada yang melintas cepat dari belakang kami. Namun, Tamus tetap berlari dengan iguananya. Bahkan menambah kecepatan iguana mereka. Tana dan Tori di belakang kami, mereka tidak terlalu kerepotan untuk menyesuaikan kecepatan dengan Tamus. Aku rasa mereka memang sudah terlatih dengan alam ini. Tamus masih tidak berhenti, hari semakin larut setelah tadi kami menghabiskan siang di padang rumput tandus. Hutan ini terasa sangat lembab semakin kami memasuki hutan ini, aku rasa banyak sumber air di hutan ini. Pohon besar berlumut semakin menguatkan argumenku. Dan satu hal yang pasti, tumbuhan disini benar-benar berbeda dengan tumbuhan yang ada di bumi. Selain dari bentuk ukurannya, warnanya semakin memasuki hutan juga semakin khas.
“Berhenti!” ujar Tamus tiba-tiba
Aku lekas menghentikan iguanaku, lalu mensejajarkan diri dengan iguana Tamus. “Ada apa? Kenapa berhenti tiba-tiba?” Travold bertanya lebih dulu dariku
“Aku merasa ada yang mengikuti kita dari tadi! Tana, bagaimana ciri-ciri hewan yang memasuki daerah hutan ini?”
Tana mendekati Tamus, “Yang pastinya, tidak seperti ini. Rasanya yang mengikuti kita kali ini lebih berbahaya dari hewan itu. Atau mungkin, hewan yang lebih besarnya memasuki hutan ini? Kami sudah 3 hari tidak memasuki hutan ini Tamus!”
Tamus mengangguk, lalu mengambil sesuatu dari balik saku kulitnya. “Apa itu?” tanyaku
“Ini adalah serbuk garam, jika yang mengikuti kita tadi adalah hewan melata. Maka mereka akan muncul jika mencium aroma garam ini!” jelas Tamus
“Apa kau gilâ? Itu sama saja dengan memberi mereka kemudahan Tamus, lagipula, aku rasa itu bukan jenis dari hewan melata. Beberapa menit yang lalu, aku pikir getaran itu adalah karena iguana kita yang berlari memasuki hutan. Namun, tidak, aku baru sadar bahwa getaran itu berhenti baru beberapa menit yang lalu setelah kita berhenti. Itu adalah jenis makhluk besar dan lebih berbahaya dari apa yang kita pikirkan sebelumnya!” Harry lebih dulu memberi analisa
“Kau benar, apa kalian tidak merasakan getaran itu lagi?” Tori lebih dulu turun dari iguana dan mendekat ke arah pohon. Menaiki pohon itu sampai ke atas sekali. Aku tidak tahu menahu apa yang dia lakukan di atas pohon itu, namun melihat Tori yang bergegas turun dengan panik membuatku ikut was-was. Iguana Tori lekas menundukkan kepalanya, mempermudah Tori naik ke atas.
“Tamus, kita harus segera pergi. Mereka itu hewan yang memangsa hewan buruân kita! Cepat!” seru Tori
Aku lekas mengelus iguanaku, memberikan ketenangan. Travold sudah berganti tempat dariku sejak Tori turun dengan raut wajah khawatir. Travold memacu iguana kami untuk segera pergi, namun iguana kami sama-sekali tidak bergerak. Sama halnya dengan iguana lainnya. Bukannya maju, mereka malah mundur perlahan. Seolah ada sesuatu di depan kami yang terasa berbahaya.
“Sepertinya kita dihadang dari depan juga, ini tidak baik!” seru Edward
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” aku berujar dengan nada panik.
“Tenang Kirey, jika kamu panik. Maka iguana ini juga akan ikut panik, itu akan merugikan posisi kita!” Travold mengingatkanku. Aku mengangguk, lalu berusaha untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan suasana yang terasa semakin tidak bersahabat.
Pepohonan di depan, samping, dan belakang kami terasa bergerak. Posisi kami terkepung di tengah. “Awas!” teriak Tori, dia lebih dulu melempar benda runcingnya pada benda besar yang hendak menyerang kami itu. Meleset, benda runcing milik Tori malah menghantam iguanaku.
Aku langsung merasakan iguana kami merasa marah, aku menenangkanya dan sedikit berhasil. Aku menatap gugup ke depan, mahluk besar yang tadi menyerang Tori benar-benar sudah muncul di hadapan kami. Dan aku tidak bisa berkata apa-apa, mereka itu adalah hewan melata terbesar yang pernah aku lihat. Bentuknya seperti ular, namun berbulu. Bulunya bahkan sampai menutupi sebagai mata merah mereka. Aku menarik nafas, kenapa mata mereka harus merah? Aku jadi teringat pada monyet-monyet—si mata merah—yang menyerang kami di tepian air terjun.
Bruk—iguana kami lekas menghindar dari serangan mahluk besar itu. Membuat sosok itu menghantam pohon besar di belakang kami. Mereka langsung mengeluarkan suara auman besar, burung-burung di sekitar pohon langsung terbang menjauh. “Kirey, pegangan yang erat!” seru Travold
Travold segera membawa iguana kami berlari zig-zag, jumlah ular berbulu itu ada 4. Dan menyerang kami dari masing-masing sudut. Tamus terlihat lebih mahir untuk melewati ular berbulu itu. Sementar Travold yang menunggang iguana kami terlihat gugup. Bruk—lagi-lagi kami hampir terkenal patokan ular besar itu.
Aku bingung, rasanya aku tidak berguna dalam keadaan seperti ini. Aku tidak punya kekuatan seperti Edward yang sudah berlari dengan kecepatan vampirnya, mengelabui ular yang menyerang mereka. Atau seperti Tori dan Tana yang terlihat mudah melompat di sekitar pohon. Membiarkan iguana itu yang melawan ular itu. Mereka sudah tiba di punggung iguana kami dengan cepat, “Kirey, apa kau bisa melompat? Biarkan saja iguana ini yang melawan mereka!” seru Tana
Aku menggeleng, “Aku tidak bisa!” seruku berteriak keras sembari memegangi Travold yang terus membawa iguana kami melaju.
“Baiklah, sepertinya kita harus mengalihkan perhatian mereka. Teruslah berlari ke arah utara, sampai mereka tidak mengejar kalian lagi!” teriak Tana yang sudah lebih dulu melompat dari atas iguana kami. Aku menatap ular besar itu yang sama-sekali tidak terpengaruh dengan Tana dan Tori yang menyerang mereka. Aku membulatkan mata ketika melihat mereka berdua terlempar jauh, ular itu menyerang mereka dengan mudah menggunakan ekornya.
“Trav, apa yang harus kita lakukan? Ular besar itu tetap mengejar kita!”
“Kita tetap menuju utara!”
“Tapi bagaimana dengan mereka Trav? Edward dan Harry juga berada di sana, aku tidak bisa pergi tanpa mereka!”
“Kau tenang dulu Kirey, aku juga sedang memikirkan cara agar kita bisa lolos dari mereka!”
Aku menutup mulut, malam semakin larut. Udara semakin terasa menusuk, dan kami masih tetap berlari zig zag, menghindari serangan ular itu yang tidak ada hentinya. Seolah menginginkan kami berdua dan juga iguana ini. Namun, aku sadar bahwa Travold sudah berganti arah. Kami tidak berlari menuju utara, melainkan ke arah barat. Kami berputar.
“Apa yang sedang aku rencanakan? Kenapa kita berputar?”
“Apa kau bisa mendengar teriakan besar itu Kirey? Itu adalah sinyal yang diberikan oleh ular yang lainnya, mereka juga menuju ke arah kita. Tamus bilang, kita harus menuju ke arah utara untuk menghindari mereka. Jika aku melihat, di arah Barat sepertinya adalah lembah. Kita akan menggiring mereka ke sana!”
“Apa membawa mereka ke jurang adalah pilihan yang tepat Trav?”
“Hanya ini satu-satunya cara Kirey, setidaknya mereka bisa terjauh ke dalam jurang dan kita punya kesempatan untuk melarikan diri. Itu lebih efektif daripada terus berlari seperti ini, aku yakin mereka tidak akan melepaskan kita sebelum mereka menerkâm kita lebih dulu!”
“Kau benar, kalau begitu. Apakah kau bisa menghilang Trav? Aku yang akan membawa mereka ke sana, kau lebih baik membantu Edward dan yang lainnya. Aku rasa mereka terluka!”
“Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian Kirey, Edward akan lebih kecewa padaku jika aku memilih untuk meninggalkanmu. Sekarang, berpeganglah erat agar aku memacu iguana ini lebih cepat!” teriak Travo dari depan
“baiklah!”
Aku memegang baju Travold kuat, iguana kami berlari zig zag dengan lebih cepat. Travold benar, jauh di belakang kami. Aku melihat pepohonan seolah hampir tumbang, ular-ular itu sudah semakin mendekati kami. Bruk—lagi-lagi Travold bisa mengendalikan iguana ini, dia terlihat lebih lihai. Kami terus berlari dengan cepat, dan tidak lama. Pepohonan mulai habis, aku bisa melihat di depan kami ada jurang yang terpaut jauh dengan daratan. Aku merasakan iguana kami yang tetap optimis. Seolah percaya bahwa dia bisa meloncat setinggi itu.
“Berpeganglah Kirey!” teriak Travold
Aku semakin gugup, “Hiakkk!” teriak Travold membawa iguana kami untuk melompat. Aku menatap ke belakang, para ular itu juga melompat hendak menerkam kami dalam sekali terkamân. Sedikit lagi, gigi taring mereka hampir mengenai kami. Namun, badan besar mereka yang panjang itu lebih dulu terjatuh ke dalam jurang.
“Berpegangan!” teriak Travold. Bruk—kami menabrak pohon besar di sebrang jurang. Badanku jatuh terlempar menghantam pepohonan besar. Iguana kami menabrak batuan besar, dan aku tidak tahu kemana Travold terjatuh.
Kepalaku terasa pusing, meskipun masih sadar, dan aku semakin merasakan sakitnya punggungku. Aku mendengar teriakan besar dari dasar jurang yang ternyata sangat curam sekali. Aku bahkan masih sempat melihat perut ular berbulu itu menghantam batuan runcing dan mengeluarkan darâh dari perut mereka yang terkena batu runcing.
“Travold!” teriakku
Aku membantu iguana kami untuk berdiri, aku menyatukan keningku dengan iguanaku. Ternyata tulang igunaku ada yang patah karena membentur batu besar. Aku lekas memberi izin padanya untuk memasuki kalungku. Seberkas cahaya langsung memasuki kalungku. Aku masih tidak melihat dimana Travold, semak belukar membuatku kesulitan menemukan dimana Travold. Hingga perhatianku tertuju pada Travold yang tidak sadarkan diri, badanya tertancap benda runcing.
“Ohhh tidak, Travold! Apa kau masih bisa mendengarku?” aku segera berlari dan terduduk.
Benda runcing itu menembus lengan Travold, dia terlihat tidak memiliki energi. Aku menahan nafas, berusaha untuk menarik Travold dari benda runcing itu. Namun yang membuatku bertanya-tanya adalah, darâh Travold berwarna hijau kebiruan. Dan ketika menetes ke tanah, langsung berubah menjadi kristal biru dan menghilang. Aku menatap Travold, dia juga menatapku dengan matanya yang terlihat lelah. Dan tidak lama, Travold benar-benar menutup kedua matanya.
“Tidak, Travold. Aku mohon, jangan lagi!” teriakku dengan air mata yang terisak. Plak—aku menampar pipi Travold, “Travold, sadarlah. Jangan mâti dulu Trav!” isakku semakin keras. Tanganku hendak terangkat dan memukul wajah Travol lagi, namun tanganku lebih dulu ditahan. Aku lekas menatap Travold
“Tidak usah cemas Kirey, aku tidak akan mâti sebelum tahu kau dari klan mana. Cepat tarik aku, bisa banyak bakteri yang masuk ke dalam tubuhku jika benda ini terus berada di sini!”
Aku menatap Travold, aku menarik tubuh Travold dengan sekali hentakan. “Arghh!” erang Travold. Darah itu kembali mengalir dari lengannya. Dan kembali berubah menjadi kristal biru dan menghilang. Aku tidak tahu jenis dari tumbuhan di sini, aku menutup lengan Travold yang terluka dengan tanganku sembari terus menangis.
“EDWARD! HARRY! KAMI DISINI” teriakku. Aku benar-benar panik, mereka harus tahu dan segera menemukan keberadaan kami.
Travold semakin lemah, dan benar-benar kehilangan kesadaran. “Aku mohon, bertahanlah Travold. Edward akan segera datang!” isakku
Aku terus berteriak, dan sahutan dari arah seberang terdengar. Jurang ini sangat panjang, dan mereka membutuhkan waktu untuk menyebrang. Aku merasakan tubuh Travold semakin dingin, tangisku pecah. Aku hampir putus asah, Edward juga belum datang.
Namun, tidak lama. Aku melihat cahaya yang tiba-tiba keluar. Aku pikir itu berasal dari kalungku, namun aku lekas menarik tanganku yang mengeluarkan cahaya. Aku menatap kedua telapak tanganku yang baru saja mengeluarkan cahaya. Lalu menatap luka Travold perlahan mulai menutup. Aku melongo, menatap lengan Travold dan juga tanganku bergantian.
Luka—luka Travold perlahan mengeluarkan cahaya redup. Aku ragu-ragu untuk mendekatkan tanganku, namun begitu tanganku menyentuh luka itu. Cahaya besar langsung melingkupi kami berdua. Dan usai itu, aku merasakan tenagaku terkuras habis dan kesadaranku menghilang.