Bagian 18 ~ Keluarga Penunggang

2081 Words
Senin, 11 Juli 2021 Aku menyatukan keningku dengan para iguana itu, mereka segera keluar dari kalungku begitu aku memikirkan mereka keluar. Mereka terlihat lebih segar daripada semalam, aku mengusap punggung mereka bergantian. Tamus bilang, dia akan menemani kami di perjalanan. “Sudah siap? Apa mereka mau untuk berpetualang?” tanya Harry antusias. Tangannya hendak terangkat dan menyentuh tiga iguana yang datang dengan Tamus, namun mereka menatap Harry dengan tajam. Menjulurkan lidahnya, seolah tidak ingin Harry dekat dengan mereka. “Aihss, dasar makhluk tidak tahu diri. Menyebalkan sekali!” Aku terkekeh menatap Harry yang menjauh dari kami. Aku menatap iguana besar yang pertama kali kami tunggangi, dia tidak seagresif itu pada Harry. Meskipun tidak suka disentuh olehnya, namun dia tetap tidak pernah menjulurkan lidah panjangnya pada Harry. Aku mengeluar kulit tebalnya, lalu iguana itu segera naik dari air. Tubuh besarnya sudah ada di hadapanku, aku menyatukan kening kami lagi dan semua iguana ini terlihat senang saja dengan petualangan kami dan tidak keberatan. “Mereka bersedia, bagaimana dengan Logan? Apa dia sudah lebih baik?” “Dia sudah siuman, tubuhnya merespon lebih cepat karena dia adalah klan siren. Klan yang memiliki sistem pertahanan tubuh yang cukup baik!” Travold menjelaskan sembari berjalan mendekatiku dan juga para iguana. Berbeda dengan Harry, sikap iguana ini terlihat lebih hormat pada Travold. Mereka seolah tau bahwa Travold itu berasal dari klan tertinggi di Lofoten ini. Aku tidak bisa berkata, iguana besarku ini seolah senang ketika Travold menyentuh kulitnya. Meskipun tidak menyatukan kening mereka, tapi aku tahu bahwa mereka menyukai Travold. “Ada alasan mengapa aku tidak bisa membantu sore itu Kirey, aku tahu seberapa besar amarahmu karena aku tidak terlalu bisa membantu. Sama halnya dengan kejadian di air terjun ungu itu. Aku tidak bisa menjelaskannya untuk sekarang. Tapi—!” Travold menatapku dengan dalam, aku masih diam. Menunggu kelanjutan dari ucapan Travold yang terputus. “Tapi terima kasih sudah percaya padaku semalam, aku pikir kau akan menyerangku karena ucapan si mata merah itu. Tapi kau melakukan hal yang tidak terduga, terima kasih!” Aku terdiam, menatap punggung Travold yang ada di depanku. Dia sedang menyapa tiga iguana lainnya yang terlihat langsung akrab dengannya. Aku tidak bisa merespon apa-apa, masih terdiam membatu di tempatku berada. “Kita berangkat sekarang? Apa mereka sudah siap Na?” Aku baru sadar dan kembali ke kesadaranku saat Edward tiba-tiba bertanya, aku lekas mengangguk. Seolah tahu apa tujuanku, para iguana itu langsung menundukkan badan mereka. Karena peta ada para Travold, aku menunggangi iguana yang sama dengannya. Logan dan Harry menunggangi satu iguana, sementara dua iguana lainnya ditunggangi oleh Tamus dan Edward. Aku menatap Edward yang awalnya canggung, namun aku lekas menyentuh iguana itu. Dia terlihat tenang dan tidak meronta lagi, Ed sempat memutari tempat kami dua kali. Untuk mengetes iguananya. Namun Harry dan Logan terlihat kesulitan, iguana yang mereka tunggangi seolah tidak nyaman dengan mereka. Harry sudah panik dari tadi, “Kirey, astaga! Bagaimana ini, dia tidak menyukaiku!” teriaknya heboh. “Jangan panik Harry, dia akan ikutan panik jika kau panik. Cobalah untuk tetap rileks dan tidak gugup. Dia pasti akan menurut padamu!” seru Tamus yang masih berada di bawah. Bruk—Harry terjatuh dari atas, Logan masih bisa bertahan. Aku menghela nafas, sepertinya Tamus tidak bisa membuat Harry tenang, iguana mereka semakin terlihat marah. “KIREYNA! BANTU AKU!” Harry berteriak, hampir menangis karena iguana itu lagi-lagi menjatuhkannya dan tidak terlalu suka dengan Harry, juga Logan. “Kirey, sebaiknya mereka menunggang bersama saja. Kau bisa menyuruh iguana itu untuk kembali ke kalungmu bukan? Aku rasa, klan iguana memang tidak terlalu menyukai klan siren. Lihatlah mereka, jika kau tidak segera membantunya, maka mereka bisa bahaya!” seru Travold dari belakangku. Aku mengangguk, aku menyentuh iguanaku. Tidak lama, aku sudah turun dari atas iguanaku dan mendekat pada iguana milik Logan dan Harry. Begitu aku menyentuhnya, iguana itu tak lagi terlihat marah. Aku menyatukan kening kami lagi, dia segera menunduk dan Logan segera keluar. Seberkas cahaya langsung melingkupi tubuh besar iguana itu dan masuk ke dalam kalungku. “Harry akan ikut dengan Edward dan Logan bersama dengan Tamus. Aku rasa itu adalah satu-satunya jalan untuk kita.” “Aku setuju!” ujar Tamus Usai mereka naik ke atas iguana, aku segera naik juga. Aku menatap Travold, “Kita akan kemana Trav?” “Masih menuju timur laut Kirey!” “Kau benar, untuk pergi ke kerajaan vampire. Kita memang harus berjalan menuju timur, aku yang akan memimpin jalan kita!” teriak Tamus yang sudah lebih dulu melesat. Aku menyentuh iguanaku, tidak lama dia juga segera ikut melesat ke depan. Edward dan Harry di belakang kami. Ini adalah perjalan hari keempat, setelah beberapa hari ada masalah dan penyerangân di jalan. Itu membuat perjalanan kami terhalangi dan sepertinya akan meleset dari perkiraan Lebopy. Kami sepertinya akan sampai lebih dari 7 hari. Tapi itu tidak masalah bagiku, meskipun Travold terkesan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Namun aku menentangnya, karena keadaan Logan dan Harry yang sering tidak baik. Aku tidak bisa meninggalkan mereka, atau memaksa mereka untuk melanjutkan perjalanan. Pertahanan tubuh kami tidak sebagus Travold, aku sendiri sudah merasa sangat lelah dan butuh tidur yang berkualitas dengan ranjang yang nyaman. Tidak tanah atau rumput yang tidak nyaman. Kami terus melaju menuju timur laut, semak-semak belukar mulai terganti menjadi pepohonan besar tanpa ada daun. Terkesan gersang dan tidak berpenghuni. Semakin memasuki daerah gersang ini, kami mulai merasa bahwa tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini. Namun Tamus tetap memacu iguana kami untuk berlari melintasi daerah kering ini. Sesekali aku menatap ke belakang, Edward bisa mengimbangi kecepatan kami. Aku mengelus iguanaku, dia masih bertahan dan tidak keberatan. Berjam-jam kami melintasi daerah ini, aku mulai merasakan pegal duduk. Sesekali aku bahkan sudah berdiri untuk mengurangi rasa pegal di pinggangku. Kami juga sudah bergantian dengan Travold, dia sudah memegang kemudi sekarang. Aku berada di belakangnya, sesekali menatap lelah ke arah belakang. Iguana kami ini juga sepertinya sudah butuh air, selama perjalanan dengan iguana itu. Aku tau bahwa mereka harus merendam tubuh mereka di air, dan kali ini, sepertinya iguana kami ini tidak bisa melakukan hal itu. Sepanjang perjalanan, tidak terlihat bahwa ada sumber air. Kami bahkan sudah berlari sejajar, pepohonan tadi sudah tidak terlihat lagi. Hanya ada padang rumput kering yang membentang luas di hadapan kami. Seolah tidak berujung. “Aku sudah lelah, bisakah kita berhenti dulu? Boķongku sudah sangat pegal!” Harry lagi-lagi cerewet Namun Tamus tidak mengindahkan celotehan Harry, dia tetap memacu iguananya yang terlihat sudah terbiasa untuk melintasi padang rumput gersang ini. “Kenapa Lofoten ini sangat kuno? Kenapa tidak mereka bangun saja alternatif yang lebih cepat di sini? Seperti kereta api bawah tanah misalnya, atau apalah yang lebih cepat dari sini. Mana airku sudah habis lagi!” Harry lagi-lagi mengeluh seperti biasanya. 30 menit kami melaju tanpa ujung, Tamus akhirnya berhenti. Travold juga menghentikan iguana kami, Harry dan Edward menyusul paling belakang. Aku menatap Tamus yang sudah turun dari iguananya, aku menatapnya dengan kening berkerut. “Kenapa Tamus? Kenapa kita harus berhenti di sini? Terik matahari sungguh sangat panas dan tidak ada tempat berteduh. Aku tidak bisa terlalu lama berada di bawah terik matahari. Bisa-bisanya nanti kulitku jadi hitam, subblockku ketinggalan di mobil.” Aku menggelengkan kepala melihat Harry, sejak tadi dia tidak berhenti untuk cerewet. Aku menatap iguana yang mereka tumpangi, iguana itu terlihat kesal dengan ocehan menyebalkan Harry. Matanya bahkan menatap Harry yang sudah turun dengan kesal. Lalu hendak memukul Harry dengan ekornya, namun Tamus lebih dulu menenangkannya. “Turun dulu, iguana kita perlu minum. Mereka tidak akan bisa melanjutkan perjalanan tanpa air. Iguana di dunia ini beda dengan yang ada di bumi!” jelas Tamus Aku turun di bantu dengan Travold, aku bahkan baru tahu bahwa benda besar yang dibawa oleh Tamus itu adalah air. Aku melihat iguana kami yang sudah minum dengan banyak. Tamus memang begitu berpengalaman. “Ini, minumlah!” Aku menerima botol minum dari Travold, dan tidak lama. Air itu lekas aku habiskan setengahnya dan memberikannya lagi pada Travold. Dia juga lekas menghabiskannya dalam sekali teguk. Usai para iguana itu minum, kami melanjutkan perjalanan. Harry juga sudah mengeluh sejak tadi, dia bilang siang ini terlalu panas. Travold kembali mengambil alih tunggangan, sementara aku tetap duduk di belakang. 4 jam berlalu melewati padang rumput tandus, akhirnya di depan kami. Sekitar 5 km, mulai terlihat adanya pepohonan. Lari iguana kami semakin cepat, dan beberapa menit kemudian. Kami sudah sampai di depan pohon itu. Tidak pohon, melainkan hutan lebat yang lebih rimbun daripada sebelumnya. Kami berhenti tepat di depan itu, Tamus turun lebih dulu. Memeriksa beberapa hal, lalu kembali naik ke atas iguananya. “Kita bisa memasuki hutan ini, keluargaku bilang ini aman” “Keluarga?” tanya Harry yang kembali antusias dengan pernyataan Tamus Kami sudah memasuki hutan dengan hati-hati, banyak semak belukar di sana. “Ya, sama seperti klan pada umumnya. Klan kami, manusia penjelajah juga memiliki kelompok. Kami hidup berpindah-pindah, istilahnya nomaden jika di bumi. Sebenarnya kami memiliki perkampungan menetap, anak kecil dan ibu-ibu serta yang tidak lagi bisa seperti kami menetap di sana. Sementara kami, para anak muda dari perkampungan itu sering berkelana dan hidup berpindah-pindah. Kami menetap di sini, karena banyak tempat di sini yang lebih menarik dari apapun!” jelas Tamus “Kau bilang kalian sering berkelana di sekitar sini, apa kau pernah sampai ke daerah vampire?” Tanya Ed “Tidak, daerah itu cukup berbahaya bagi manusia biasa seperti kami. Maksudku, daerah menuju ke klan itu. Ada jenis hewan aneh yang berjaga sebelum masuk ke daerah itu, kami sudah beberapa kali mencari jalan untuk menjinakkan hewan itu ataupun untuk melawannya. Namun, beberapa dari kami meninggal di perjalanan itu. Karena jumlah kami semakin berkurang, kami memutuskan untuk tidak pernah ke sana. Aku bahkan tidak tahu seperti apa kerajaan vampire itu, aku hanya mendengar kabar burung saja!” Kami kembali melanjutkan perjalanan, semakin ke dalam. Udaranya semakin sejuk, aku juga mendengar ada aliran air tidak jauh dari sini. Tidak lama, kami mulai memasuki daerah yang sedikit datar dan ada banyak bekas perapian di sekitarnya. “Tamus, kau kembali?” Tamus langsung melompat turun, hampir mengenai pohon. Untung saja dia gesit dan lincah, aku melihat Tamus yang memeluk seorang gadis. Kami turun, aku melihat beberapa orang dengan pakaian seperti Tamus juga mendekat ke arah kami. Mereka menatap kami dengan tatapan curiga, menatap kami dari atas sampai bawah. “Mereka ini adalah temanku, mereka tidak berbahaya! Mereka bahwa bisa mengusir si mata merah dari tepian sungai di utara!” jelas Tamus “Dan ini adalah Tana, kekasihku!” Kami bersalaman, “Aku Kirey, aku tidak tahu aku berasal dari klan mana. Ini adalah saudaraku Edward, dia berasal dari klan vampire, lelaki dengan rambut keriting itu adalah Harry dia dan lelaki di sebelahnya berasal dari klan Siren. Dan dia—!” “Dia itu Travold, berasal dari klan legendaris , klan penunggang naga!” jelas Tamus dengan cukup bersemangat. Semua tatapan langsung tertuju pada Travold, mereka seperti tidak percaya saat menatap ke arah Travold. Aku menatap ke arah Travold, wajahnya tetap saja terlihat dingin dan tidak bersahabat. Tamus seperti sadar dengan tatapan Travold, membuatnya lekas mengalihkan perhatian “Apa kalian tidak ingin menyambut kehadiran kami?” tanya Tamus “Tentu saja, mari berkumpul. Kami tidak mempunya banyak persediaan di sini, beberapa hari terakhir ini. Hewan itu memasuki daerah ini, dan hewan buruan kita tidak lagi terlihat seperti biasa. Ikan di sekitar air juga berkurang dengan drastis!” seru Tana “Ini tidak baik, aku rasa kita harus segera pindah dari sini Tamus. Dan apa kiranya tujuan kalian datang ke sini?” Aku menatap ke arah lelaki lain yang berbicara, dia memperkenalkan namanya adalah Tori. Nama klan Tamus memang unik. Semua nama mereka dari awalan T, dan itu cukup menyenangkan. “Kami hendak menuju klan vampire, sebenarnya kami tidak berasal dari dunia ini. Tapi ada hal yang membawa kami kemari dan harus berpetualang. Ceritanya akan sangat panjang jika harus diceritakan!” jelas Ed singkat Tori menatap kami, dia terlihat hampir sebugar Tamus. “Kami tidak pernah ke sana, dan itu cukup berbahaya. Aku pikir kalian harus segera pergi saja, bahkan hewan itu yang awalnya tidak pernah mendekati daerah ini sekarang sudah mendekat ke sini. Aku yakin mereka tidak ingin daerah mereka terganggu!” jelas Tori “Kau benar, tapi  ada hal yang harus kami pastikan Tori. Dan perjalanan menuju klan vampire sudah dimulai selama 4 hari, dan selain itu. Aku pikir, Edward juga ingin tahu tentang leluhurnya!” Tori dan Tamus saling menatap, “baiklah, jika itu memang tujuan kalian. Kami hanya bisa mengantar kalian sampai perbatasan saja. Tidak lebih dari itu!”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD