Bagian 12 ~ Sebuah Kalung

1714 Words
Kamis, 8 July 2021 Seperti biasa, aku bangun paling akhir setelah Ed membangunkanku. Aku lekas menuju sungai, kabar buruknya. Disini tidak ada toilet seperti di bumi, mungkin jika Harry sudah sadarkan diri. Dia pasti akan cerewet mengenai hal ini dan akan memberikan solusi pada Alpha dari klan ini untuk membuat toilet. Atau bahkan Harry akan merancang toilet transparan seperti yang baru-baru ini viral di negera Jepang. Aku berjalan seorang diri menuju sungai, menatap aliran sungai yang begitu indah dan sangat jernih. Sepertinya alga yang dikatakan Harry hanya aktif di malam hari. Aku merasakan segarnya air sungai yang membasuh wajahku, begitu segar hingga aku tidak sadar bahwa aku sudah basah. Aku menatap pakaianku yang benar-benar basah sempurna, aku lekas naik dari sungai. “Disini tidak ada toilet, kau bisa berganti di rumah Lebopy saja. Gunakan ini!” Aku terkejut begitu mendengar ada suara yang datang tiba-tiba, aku lalu menatap Travold. Sejak kapan dia ada di sini? Apa jangan-jangan dia sudah berada di sini lebih dulu dariku atau dia malah diam-diam ada di sungai ini untuk mengintip orang mandi? Yang benar saja, tapi aku lekas menepis pikiran burukku lalu menerima benda yang mirip handuk dari Travold. Lelaki itu lekas pergi mendahuluiku, aku yakin bahwa sepertinya aku harus mengurangi rasa negatifku pada orang. Buktinya dia tidak melakukan apa-apa padaku. “Kau masih ingin disitu?” Aku lekas berlari mengejar Travold yang memanggilku dari jarak cukup jauh. Aku berdecak kesal ketika dia langsung meninggalkanku lagi. Aku menarik nafas dalam, mungkin dia tidak terlalu menyukai keberadaanku. Aku sampai di rumah Lebopy setelah berjalan cukup jauh, dan segera mengganti pakaianku yang sebenarnya sudah kering di perjalanan. Tidak lama, aku segera bergabung di ruang makan. Tatapanku tertuju pada salah-satu wanita yang aku perkirakan berusia 40-an  yang terlihat sedang menyiapkan beberapa hidangan. Dan sepertinya wanita itu sadar bahwa aku sedang menatapnya, dia tersenyum, aku terpaku menatapnya wajahnya. Begitu indah dan cantik, Edward bahkan sampai mengguncang bahuku baru aku sadar dengan perbuatanku. Sejak di dunia ini, aku semakin banyak bengong karena sesuatu yang menakjubkan. Untuk pertama kalinya, aku seperti mereka bahwa pilihanku kali ini tidaklah salah. Edward menatapku dengan gelengan kepalanya, lalu pergi menuju Harry dan Logan masih terbaring tidak sadarkan diri.  “Baju itu cocok dengan ukuran tubuhku, lelaki itu memilih dengan tepat!” Seru sosok wanita cantik itu sembari menatap Travold yang terlihat sibuk membantu sang Alpha, aku menatapnya bingung. “Dia mendatangiku tadi pagi begitu aku baru saja tiba di sini, dan meminjam bajuku. Aku pikir untuk siapa, ternyata itu adalah untukmu. Mari duduk, aku adalah Anna. Luna, ahh, pendamping hidup dari Alpha itu!” jelasnya Aku mengangguk, kata-kata Luna ini tidak lagi asing bagiku. Sebelumnya aku sudah bilang bahwa aku pernah membaca novel-novel fantasy mengenai warewolf. Jadi hal ini tidak lagi asing bagiku, aku ikut duduk di meja makan. Masih hanya ada kami berdua, semuanya masih terlihat sibuk di pagi hari ini. “Aku Kirey Luna, aku hampir lupa dengan sopan santun itu!” Aku langsung memperkenalkan diriku begitu aku teringat bahwa aku belum menyebutkan siapa diriku.  “Panggil aku Anna saja Kirey, dan tidak usah terlalu kaku denganku. Lalu, kau berasal dari klan apa? Aku dengar bahwa kedua pemuda yang terbaring itu berasal dari klan siren, lelaki berambut kemerahan itu dari klan vampire. Dan pemuda itu dari klan penunggang naga, aku bahkan sampai tidak percaya ketika Lebo memberitahuku tadi pagi. Aku memang tidak berada di sini tadi malam, aku harus mengurus masalah di timur tadi malam dan itu sebabnya aku sedikit terkejut mendapati rumah ini sedikit ramai!” Aku tersenyum, lalu sedikit bersedih hati “Aku bahkan tidak tau aku berasal dari klan mana Anna. Aku juga tidak tau apakah aku ini adalah penghuni dunia ini atau aku hanya manusia biasa tanpa keistimewaan seperti kalian!” “Begitu rupanya, Lebo juga sudah memberitahuku. Tapi, apa kau merasa nyaman tinggal di sini nak?” tatapan Anna begitu dalam ketika menatapku, seolah ingin memastikan sesuatu. Aku mengangguk, jelas, karena memang aku merasa sangat nyaman berada di dunia itu. Meskipun tadi malam sedikit mengerikân bagiku. Jika saja Lebo tidak menyelamatkan kami, aku mungkin akan menjadi mayât, atau mungkin hanya bersisa tulang benulang saja. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kudukku berdiri tegap. “Aku seolah merasa bahwa aku bisa bersatu dengan alam ini ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah Lekness ini Anna. Aura alam di sini terasa lebih kuat daripada di Ramberg. Tempat ini juga begitu indah dan rasanya aku nyaman!” Anna tertawa, “Lebo juga bilang bahwa kalian hendak ditumbâlkan, penduduk bumi di desa Ramberg itu sepertinya masih belum sadar bahwa rituâl itu tidak memberi mereka apa-apa” “Anda tau desa itu juga?”tanyaku semakin penasaran “Aku dan Lebo pernah menembus portal ke bumi nak, dan kami tersesat di hutan indah itu. Penduduk di sana awalnya mengira bahwa kami ini adalah manusia biasa. Mereka juga hendak melakukan rituâl itu pada kami. Beruntung kami bisa bergerak dengan gesit, menghindar dari mereka dan kembali ke sini. Lofoten ini memang sudah menjadi tempat teraman bagi kami!” Aku mengangguk setuju, mataku lalu tertuju pada benda yang ada di leher Anna. Sayangnya, Ed lebih dulu memanggilku sebelum aku sempat bertanya mengenai benda itu. “Kirey, Harry sudah sadar!” Aku dan Anna segera menuju ruangan lainnya, Harry sudah siuman. Aku lekas memeluk sepupuku yang sudah duduk itu. Aku tetap merasa sedih melihat Harry tidak sadarkan diri sejak semalam, meskipun dia terkadang menyebalkan. “Aku kira kau tidak akan sadar lagi Harry!” ujarku lalu melepaskan pelukanku darinya. “Apa kau senang jika aku tidak sadar lagi? Dasar Kirey, kau bahkan tetap tidak pernah mengkhawatirkan sepupu baikmu ini!” Aku berdecak kesal, hendak memukul kepala Harry saat ini juga. Namun aku menahan rasa kesalku, lalu bergantian dengan memeluk Harry lagi. Aku lega dia sudah siuman, meskipun kata Lebo lukanya masih cukup serius. Namun ramuan yang diberikan Lebo sepertinya bekerja dengan baik. Berbeda dengan Logan, dia sudah siuman lebih dulu. Tubuhnya lebih cepat bereaksi daripada Harry, dan Lebo sedikit terkejut dengan hal itu. “Aku sangat lapar sekali!” Mendengar ocehan Harry, Anna langsung tertawa. Kami segera menuju meja makan, aku membantu Harry untuk duduk. Lebo mulai mengambil makanan lebih dulu, lalu disusul dengan Arry dan juga Anna. Lalu setelah itu kami mengambil jatah makan kami. Semua makan dengan diam, tidak ada yang berani bicara sampai kami selesai makan. Selesai makan, Lebo dan Anna mengajak kami untuk berjalan menuju luar. Aku ikut saja, kami berjalan cukup jauh dari rumah mereka dan berhenti di padang rumput yang begitu luas. Di sana, di tengah padang rumput indah itu, terdapat cukup banyak serigala dengan ukuran besar terlihat sedang berlatih. Aku tidak bisa mempercayai apa yang aku lihat. “Wow, baru kali pertama ini aku melihat klan warewolf berlatih!” seru Edward semangat “Ya, setiap hari mereka akan berlatih di padang rumput hijau ini. Tanah leluhur kami ini sangatlah indah dan menyediakan tempat berlatih untuk para klan kami. Ini masih sebagian, beberapa kelompok yang sudah lebih dewasa berlatih di tebing-tebing tinggi dan juga hutan yang kalian lalui sebelumnya. Mereka harus terus meningkatkan kemampuan mereka untuk bertahan diri dan melindungi klan ini dari penyerangân klan lain!” “Penyerangân klan lain?” tanya Harry Lebo mengangguk, lalu membawa kami untuk duduk di bawah pohon besar. Udara segar terasa begitu menyejukkan. Aku menatap Travold yang sejak tadi hanya diam saja, tidak banyak bertanya. Hanya diam dan melihat sekitar, sama seperti apa yang dilakukan oleh Logan.  “Tapi, kenapa kalian membawa kami kemari?” Harry lagi-lagi bertanya Lebo dan Anna saling menatap, seolah bisa berkomunikasi dari tatapan saja. Anna mengangguk lalu menatap kami, “Sebagai Alpha dari klan ini, peristiwa ribuan tahun lalu itu begitu membuat kami harus menjaga ketat klan ini. Kemunculan kalian itu tidaklah terjadi begitu saja nak, bahkan penyerângan yang kalian dapatkan di bumi. Aku rasa, penyihir hitam itu mulai menginginkan kekuasan lagi. Perâng ribuan tahun lalu itu tidaklah semata-mata hanya keinginan dari penyihir hitam itu. Beberapa ratus tahun aku hidup, aku tetap menyelidiki mereka. Tidak hanya kekuasaan, mereka ingin menguasai semua klan dan juga dimensi lain. Yang kami pernah dengar, mereka sepertinya berusaha untuk membebaskan musuh terbesar di dunia ini. Mereka adalah bayangan, tidak ada yang tau persis apa mereka. Namun, mereka itu tercipta dari ketamâkan yang pernah ada. Dia ingin menghancurkan para dewa, namun para dewa itu lebih dulu menyegelnya di kegelapan terdalam di dimensi ini. Dan penyihir hitam itu sengaja melakukan penyerangán besar-besaran yang membuka portal kedunia lain. Karena itu memang adalah tujuan utama dari mereka, rencana mereka akan berjalan dengan mulus setelah mendapatkan keturnan darâh dari  dewa yang meninggal dalam perang besar mereka dulu. Tidak ada yang tau siapa sosok itu dan dimana keberadaannya, namun satu hal yang pasti. Jika mereka berhasil menemukan sosok itu, maka tidak hanya dunia ini yang akan hancur. Tapi bumi dan dimensi lain juga pasti akan hancur!” Jelas Lebopy dengan tatapan surâm. “Kedatangan kalian mungkin bisa membantu klan ini untuk bersatu menghadapi mereka. Klan warewolf akan tetap menjadi sekutu kalian nak. Terlebih klan penunggang naga yang legendaris juga berada di sini. Itu sedikit membuatku manaruh harapan pada kalian nak, karena  selama ini semua mengira bahwa klan legendaris yang konon katanya ikut membantu para dewa untuk menyegel bayangan itu sudah ikut gugur pada saat perang besar ribuan tahun lalu!” tambah Anna Aku melirik Travold, raut wajahnya tidak berubah barang sedikitpun. “Lalu, apa yang harus kami lakukan saat ini Lebo? Kami bahkan hanya merencakanan untuk berlindung sementara waktu di sini karena di bumi sudah tidak lagi aman untuk kami!” Edward bertanya. Aku setuju dengan pertanyaan Edward kali ini. Lagipula, kami hanya akan berada di sini sampai setidaknya masa penelitianku selesai dan akan kembali ke kampus seperti biasa. Seperti saran Harry, mungkin aku hanya akan merekayasa mengenai desa itu dan mengenai laporanku juga.  “Ini, ambillah! Mungkin kalian bisa terbantu dengan benda ini!” Anna memberikan kalung yang tadi di kenakannya, padaku. Aku mengerutkan kening heran, kenapa harus padaku? “Kenapa aku Anna? Aku bahkan tidak tau aku berasal dari klan mana, apakah aku manusia biasa atau bagian dari dunia ini!” Anna tersenyum menenangkanku, “Aku juga tidak tahu nak, kalung itu yang memberitahuku agar memberikannya padaku. Itu hanya terjadi kali ini, maksudku, hanya kali ini aku bisa mendengarnya bicara. Selama ini, aku bahkan mengira bahwa kalung itu hanyalah benda biasa saja!”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD