Aku berjalan di belakang Edward, setelah kejadian tadi. Aku dan Travold masih sedikit canggung. Para rakyat klan vampire terlihat terkejut sekaligus senang melihat kedatangan kami. Mereka menyambut kami dengan sorak gembira, dari mulai anak kecil, hingga dewasa. Zavier menghampiri kami, aku tidak tahu dia juga ikut.
"Apa kau tidak ingin menyapa mereka Zav?" Seru Edward
"Tidak, kalian saja dulu. Aku bisa melakukannya kapan-kapan!"
Edward lanjut menyapa, dan perhatianku teralih pada sosok wanita tua. Dia berdiri di depan rumah kecil, yang kemungkinan besar adalah rumahnya. Begitu tatapan kami bertemu, sosok wanita tua itu tersenyum, lalu masuk ke dalam rumah itu. Aku penasaran dan hendak berjalan ke sana.
"Mau kemana?"
Suara Travold, dia menghentikanku dengan memegang tanganku. Aku menatap nya, lalu menghela nafas.
"Trav, mengenai tadi. Bukannya aku tidak nyaman, hanya saja jantungku berdetak kencang setiap kali kau terlalu dekat denganku. Aku tidak tahu kenapa, tapi itu membuatku gugup. Aku tidak bermaksud demikian, maaf!" Seruku sembari menunjukkan kepala, sama-sekali tidak mampu untuk menatap Travold.
"Ah, baiklah. Aku--aku memaafkanmu, jadi kau hendak kemana?"
Aku menegakkan kepala, suara Travold sedikit terbata-bata. Sebenarnya, kenapa dia? Apa aku membuat kesalahan dari ucapanku barusan? Tapi, aku mengatakan jujur dari dalam hatiku. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman antara aku dengannya, dan tadi, apa yang aku katakan memang benar adanya. Mungkin, lain kali aku akan berkonsultasi pada Harry saja mengenai detak jantungku yang tiba-tiba tidak stabil jika bersama dengan Travold. Aku tidak ingin tiba-tiba ada riwayat penyakit, kan tidak lucu.
"Kirey, kenapa diam? Kau ingin kemana?"
"Ah, aku ingin ke sana!"
Travold menatap rumah tua itu, dia melepaskan tanganku. Aku pikir dia akan pergi setelah tahu kemana tujuanku, tapi, dia malah ikut berjalan di belakangku. Aku tidak memperdulikan, mungkin Travold juga penasaran dengan rumah kecil ini.
Aku dan Travold tiba di halaman depan rumah, Edward berserta yang lainnya masih sibuk menyapa rakyat yang terlihat astusias. Travold menatap sekitar, tidak ada yang aneh. Aku juga merasa biasa saja.
"Kau tidak ingin memeriksa ke dalam?" Tanyaku pada Travold
"Tidak perlu, wanita paruh baya itu menunggumu. Masuklah, aku akan berjaga di luar. Jika ada sesuatu, cukup berteriak!"
Travold lebih dulu berjalan ke arah belakang rumah kecil itu. Aku ragu, kenapa wanita paruh baya itu menungguku? Apa dia merencanakan sesuatu yang buruk padaku lagi? Aku cukup trauma dengan kejadian beberapa hari lalu, dan kami juga akan melanjutkan perjalanan setelah keadaan membaik. Jika harus mengambil resiko lagi, maka aku tidak ingin ada kata kata menyakitkan yang ditujukan padaku. Aku berbalik dan memutuskan untuk kembali pada rombongan Edward.
"Padahal aku sudah menyiapkan teh dan menantimu mengetuk pintu rumahku nak Kirey, tapi sepertinya ada keraguan di dalam hatimu!"
Langkahku terhenti dan aku berbalik, wanita paruh baya tadi menatapku dengan senyuman di wajahnya. Aneh, aku tidak bisa tahu aura dari wanita paruh baya ini. Sepertinya dia memiliki kekuatan yang cukup tinggi.
"Aku tidak punya kekuatan yang tinggi nak, hanya saja aku sudah berumur dan kemampuanmu itu tidak akan mempan denganku. Kemarilah dan duduk, maafkan aku juga rumahku terlalu kecil sehingga membuatmu ragu untuk masuk!"
"Ah, bukan begitu...!"
"Zara, namaku Zara. Saudari kandung Zura, kau pasti melihat wanita seumuran denganku di kerajaan. Dia adalah kembarku anak muda!"
Mataku membulat, saudara kembar dari Zura? Wanita paruh baya itu sama sekali tidak bilang ada kembaran. Aku langsung merasa bersalah, pantas saja tadi aku cukup familier dengan wajah Zara. Aku duduk di sofa kecil milik Zara, menikmati segelas air minum yang diberikannya padaku.
"Maafkan aku Zara, aku tidak bermaksud ragu untuk memasuki rumahmu ini. Hanya saja, setelah kejadian tempo hari lalu, aku sedikit lebih waspada!"
Zara tersenyum, rasanya langsung nyaman. Seperti aku menatap Zura juga.
"Aku tahu perasaanmu Kirey, aku harus mengakui bahwa kedatangan kalian memang sudah ditakdirkan. Jika kalian tidak datang kemari, Zix bersaudara pasti tetap akan melanjutkan kelakuan tidak terpujinya dan masyarakat klan vampire tetap akan berada di bawah keterpurukan. Begitu melihat King Edward datang, aku begitu senang. Dia tidak berbeda jauh dari ayahnya, King Ay!"
Topik yang menarik.
"King Ay, adalah raja yang dulu juga sangat di sukai oleh para rakyat. Sekalipun dia kehilangan bayinya, dia tetap membuat yang terbaik. Hingga kabar dia menghilang menjadi awal keterpurukan bagi semua rakyat klan vampire, sejak itu, aku sudah tahu bahwa Desa Ay ini akan hancur!"
"Hilang? Bukankah King Ay telah meninggal karen ulah dari Zavier? Sebenarnya, apa yang terjadi Zara?"
"Itulah rumor yang kalian tahu dan dulu, ketika mendapati kabar itu. Aku juga percaya nak, tapi, ketika aku melintas dari air terjun biru. Aku masih merasakan auranya berada di sana. Itu adalah tempat paling sering dikunjungi King Ay di kehidupannya. Merasakan aura King Ay, membuatku yakin bahwa King Ay menghilang bukan terbunuh!"
"Tapi, jika begitu kenapa kau tidak pernah mengatakan hal itu pada rakyat, Zara? Kenapa hanya kau yang menyimpannya?"
"Setiap orang punya pilihan dan sebelum memutuskannya, mereka juga sudah mempertimbangkan konsekuensinya. Apa yang dilakukan oleh King Ay sebelumya merupakan pilihannya sendiri Kirey. Aku rasa, dia merencanakan sesuatu yang tidak bisa tertebak nantinya. Kit tidak harus ikut campur dalam semuanya!"
Aku berbalik dan menatap ke arah pintu, suara itu berasal dari Travold. Aku menatapnya, lelaki itu dengan santainya masuk dan melihat-lihat apa yang ada di dalam ruangan milik Zara.
"Hahahah, anak muda itu sangat benar. Aku rasa, penjelasannya cukup untuk menjawab pertanyaan mu Nak Kirey!"
"Tapi...!"
"Edward sudah mencari kita Kirey, kita harus segera kembali. Aku tidak ingin membuat nya khawatir!" Potong Travold lebih dulu
Zara tersenyum lembut, dia mengantar kami sampai di depan pintu rumahnya. Halaman yang tadi sepi kini sudah dipenuhi oleh pasukan kerajaan. Edward berdiri tidak jauh dari kami. Aku menatap Zara, "aku harus kembali Zara. Senang bertemu dan bisa berbicara denganmu!"
"Tidak nak, justru aku yang senang bisa melihatmu. Ini, aku ada hadiah untukmu. Ketika kau menemukan hampa dalam mimpi, bebas dalam air. Maka kau bisa menggunakannya, ini adalah yang bisa aku berikan padamu! Semoga perjalanan kalian nantinya berhasil nak, kau harus tetap kuat!"
Sebuah cincin sudah berpindah ke tanganku. Bentuknya hampir sama dengan kalung pemberian Anna. Aku menatap Zara, lalu memeluknya. "Terima kasih Zara, aku akan ingat perkataanmu!"
Aku melepaskan pelukanku dan naik ke atas kuda Travold. Pasukan istana yang bersama kami juga ikut bergerak dan kami kembali menuju istana.