Bagian 40 ~ Penolakan Pertama Travold

1396 Words
3 Agustus 2021  Travold POV  *** Dari atas jendela, aku menatap Kireyna yang tertidur dengan begitu nyenyak. Gadis itu, aku menggelengkan kepala. Tidak seharusnya aku terpengaruh dengan perkataannya tadi siang ketika kami berkunjung ke desa Ay.  "Berapa lama lagi kau akan menunggunya Travold? Ingat, nyawamu dan juga keluargamu berada di tanganmu. Aku tidak tahu apakah kau akan bisa mengambil apa yang aku perintahkan padamu atau tidak. Malam ini adalah kesempatanmu, kau harus segera mengambilnya!"  Suara itu, aku berbalik dan menatap sosok berjubah yang melayang, kepakan sayap hitam dan putihnya sama sekali tidak terdengar. Aku memicingkan mata, berusaha untuk merendam kemarahanku.  "Aku pasti akan melakukannya, tapi tidak sekarang. Gadis itu masih terlalu belia dan aku....!"  "Kau mulai tertarik dengannya?"  "TIDAK!" teriakku spontan begitu sosok berjubah putih itu mengatakan hal itu. Namun, begitu aku hendak meraihnya. Sebuah suara membuatku berhenti. Aku menatap ke bawah, gadis itu sudah terbangun dan menatapku.  "Travold?"  Aku tidak punya pilihan, aku menatap sosok berjubah itu yang menghilang. Aku lekas melompat turun ke ruangan Kirey, menatap gadis itu.  "Apa yang kau lakukan selarut ini di atas situ? Kau tidak bisa tidur?" Tanya Kirey begitu aku berada di hadapannya. Aku sedikit terkekeh, wajah Kirey terlalu imut.  Tidak, aku menghela nafas. Tidak seharusnya aku berada di dalam posisi ini. Aku menatap mata Kirey, rambut pirang sebahunya menutupi sebagian wajahnya. Tanganku spontan menyingkirkannya lalu  wajah Kirey terlihat lebih sempurna.  "A--apa yang kau lakukan?"  Suara Kirey sedikit terbata-bata, aku lekas menurunkan tanganku dari bahu Kirey lalu memalingkan wajah. "Kau mau berkeliling tempat ini sebelum keberangkatan kita besok pagi? Aku menemukan sebuah tempat indah yang belum pernah kau datangi sebelumnya!"  Aku berbalik dan menatap wajah Kirey yang masih bingung. Senyumku lagi-lagi terbit dan aku lekas mengambil tangan Kirey. Dia masih tidak sadar.  Hup  Wajah Kirey semakin terlihat bingung, aku melepaskan tanganku darinya. Tatapan Kirey lalu tertuju ke depan, pemandangan indah desa Ay di malam hari terasa lebih indah. Kirey menatapku, dia tersenyum tulus.  Aku membawa Kirey ke tebing paling tinggi, tempat ini aku kunjungi beberapa hari lalu saat Kirey masih tidak sadarkan diri. Aku menatap hamparan Aurora di langit, begitu indah memantulkan cahayanya ke arah air terjun yang terlihat mengeluarkan warna biru.  "Kapan kau menemukan tempat ini Trav, ini, indah sekali!"  Aku tersenyum, "beberapa hari sebelum kamu sadar!"  "Benarkah?"  Aku mengangguk, lalu menatap Kirey lagi. Kening nya berkerut, seolah memikirkan sesuatu hal. Aku memasang jubahku pada tubuh Kirey, lagi-lagi tatapan mata indah Kirey yang terkejut membuatku merasa senang.  "Pakailah, kau nanti kedinginan!"  Kirey tidak menjawab, dia hanya menundukkan wajahnya dan menatap ke tanah. Aku menarik Kirey agar duduk di sebelahku, tidak ada yang kami lakukan. Hanya duduk sembari menatap ke depan.  "Trav, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"  Setelah cukup lama terdiam, Kirey menatapku dengan wajahnya yang terlihat bingung. Sangat ketara dan aku menyadari hal itu.  "Ada apa?"  Kirey masih belum menjawab, aku rasa dia tidak yakin. Aku menggenggam tangannya, memberi kesempatan. "Tanyakan saja, selagi tidak melewati batas!"  "Baiklah. Jadi, sebelumnya, aku tidak yakin ini ada dalam mimpiku atau tidak. Tapi, seingatku, aku pernah melihat tempat ini muncul di dalam mimpiku sebelumnya!"  Mendengar ucapan Kirey, aku tertarik. "Apa yang kau lihat?"  "Aku melihatmu dengan sosok berjubah, kalian sedang membicarakan sesuatu dan itu bersangkutan dengan ku. Sebenarnya, apa yang kau sembunyikan Trav? Juga mengenai darahmu, kau berjanji akan mengatakannya padaku! Satu lagi, kata Zura, kau memberiku bagian terpenting dalam hidupmu agar aku bisa selamat. Jika kau tidak ingin mengatakannya, tapi aku ingin mengatakan terima kasih padamu, Trav."  Meski suara Kirey begitu pelan dan banyak keraguan di setiap kata yang keluar dari bibirnya, tapi aku mendengarnya dengan jelas. Aku melepas tanganku dari Kirey, lalu menatap ke depan. Sosok itu, juga ada di sekitar kami dan aku tahu apa yang di inginkan olehnya. Aku menghela nafas panjang lalu memilih untuk menatap Kirey.  "Mungkin, bagian darah itu. Aku bisa menjelaskan nya padamu. Tapi tidak dengan bagian lainnya, dan jika kau sudah mengetahui hal itu dari Zura. Maka--!"  Aku mengalihkan perhatianku, tanganku bergerak menyentuh dadaku yang juga berdetak lebih cepat. Aku mengambil nafas dalam, dan berusaha untuk fokus.  "Maka apa?"  "Maka kau harus menjaga tubuhmu Kirey, jangan terluka dan bagian paling pentingnya. Kau harus tetap berada di sisi ku, itu membantuku agar tetap memiliki energi!"  "A--apa maksudnya?"  "Aku tahu kau tidak akan mengerti, tapi seperti yang aku katakan di rumah Zura. Aku ini tidak tahu apakah aku bisa berubah atau aku memiliki naga itu. Aku terlahir dengan beberapa keluarga, sayangnya, hanya beberapa lagi yang tersisa. Poin terpenting, selama aku hidup,  aku tidak pernah melihat naga. Itu sebabnya aku tidak suka ketika orang melihatku sebagai sesuatu yang luar biasa, karena pada nyatanya, aku hanya memiliki kemampuan berpindah dan beberapa kekuatan lainnya. Sejak dulu, darahku memang sudah berbeda dari keluargaku lainnya. Tapi sampai selama ini, aku tetap merahasiakannya. Aku tidak ingin ada yang berbuat buruk padaku, seperti yang mereka lakukan pada saudaraku. Mereka membunuhnya dengan alasan yang tidak aku ketahui. Aku juga diutus Kirey!"  Aku berhenti berbicara begitu merasakan pelukan dari Kirey. Tubuh kecil Kirey memelukku dan mengelus punggungku. Aku bingung, tapi juga merasa begitu nyaman.  "Aku tahu perasaanmu Trav, aku juga mendengar percakapan dari sosok berjubah itu. Dia bilang, hanya jika mengambil sesuatu dariku. Maka kau bisa menyelamatkan keluargamu lainnya, maka jika begitu, aku bersedia!"  Deg, rasanya ada yang berbeda setelah aku mendengar ucapannya. Bahkan setelah Kirey melepas pelukannya, aku masih belum sadar. Tanganku bergerak dan menarik leher Kirey pelan, mataku terpejam dan aku tahu yang aku lakukan ini adalah sebuah kesalahan.  Aku menempelkan bibirku pada Kirey, dia juga terlihat terkejut. Namun aku mengelus tangannya, dan kembali menyatukan bibir kami. Ini kedua kalinya bagiku, dan mungkin kali pertama bagi Kirey. Karena sebelumnya ciuman itu hanyalah aku yang mengetahuinya. Perlahan-lahan, aku melumat bibir Kirey yang selalu saja bisa membuat pertahanan ku lemah. Meski Kirey tidak membalas, tapi dia juga tidak menolak.  Aku melepaskan ciuman kami, tersenyum manis pada Kirey. Wajahnya memerah, dan hal itu juga tidak berbeda jauh dariku.  "Aku tidak tahu kau mendengar percakapan kami Kirey. Tapi, sejujurnya, aku harus melihat wujud aslimu lebih dulu agar rencana itu berhasil. Tapi--!" Aku berhenti dan menyentuh dadaku. Menatap manik Kirey yang begitu memberikan ketenangan.  "Tapi sampai saat ini, aku tidak mampu melakukannya!"  *** Usai aku dan Kirey berbicara di tebing. Aku membawanya kembali ke kamarnya, aku masih menatapnya. Wajah Kirey terasa lebih segar dari pada ketika bangun tadi.  "Aku akan pergi, istirahatkan. Maaf mengenai tadi, dan terima Kasih. Itu adalah salah satu cara untuk mengembalikan energi ku yang ada pada tubuhmu. Aku pergi dulu!"  Hup, aku kembali menghilang dan memilih kamarku sendiri. Aku lekas menuju ranjang dan berbaring.  Cara?  Bodoh! Bagaimana bisa aku mengatakan hal itu pada Kirey setelah apa yang aku perbuat. Aku mengutuk bibirku, wajahku tiba-tiba memerah mengingat hal itu.  Tapi, ada perasaan janggal di dalam hatiku. Ketika aku dan Kirey berciuman tadi, aku merasakan rumput di sekitar kami bercahaya. Bunga di belakang Kirey juga tadi mengeluarkan cahaya biru.  Cahaya itu tidak pernah ada sebelumnya.  Aku lekas bangkit dari ranjang ku dan berjalan menuju rak buku. Tapi, sosok itu lebih dulu ada di depan rak buku. Duduk dan menatapku dengan tatapan matanya yang tajam.  "Bukannya segera bertindak, kau malah berciuman dengannya. Besok apalagi? Kau akan bercintá dengannya? Apa lagi Trav? Aku sudah mengatakan padamu, tidak seharusnya kau jatuh ke dalam lubang yang sama seperti saudaramu yang lain!"  "Aku tahu, diamlah! Karena aku juga sadar apa yang sedang aku lakukan. Sekarang, kenapa ketika aku mencium nya, cahaya itu keluar?"  Sosok berjubah itu duduk di sofa, lalu menatapku masih dengan tatapan tajam. Aku lekas ikut duduk.  "Apa yang kau ketahui Luke? Katakanlah padaku!"  "Kau masih saja tetap sama, cahaya itu adalah energi spritual di desa ini Travold. Kirey lebih dari apa yang aku prediksi, bahkan, aku tidak yakin dia juga berasal dari klan Siren. Tapi, jika kau terus menunda pekerjaan mu dan malah melakukan kesalahan. Jangan salahkan aku!"  "Apa yang akan kau lakukan? Kau akan membunuhku?"  Luke berdiri dan kembali mengenakan jubahnya, "kau yang bilang begitu. Ingat Travold, kau tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan milikmu. Aku hanya melakukan tugasku!"  Aku mengepalkan tangan lalu menatap Luke. Sosok berjubah yang aku anggap sebagai sebuah kesialan.  "Tugas mu hah? Yang kau lakukan hanyalah sebagai seorang pembunuh, apa tugasmu memang hanyalah sebagai seorang pembunuh? Kau itu adalah mahluk yang harus dibinasakan!"  "Kami kekal Trav, lagipula inilah tugasku. Aku pergi dulu dan ingat apa yang akan terjadi jika kau terus menunda-nunda, dan ingat untuk tetap menjaganya!"  "Pergi sajalah bedebáh, aku akan membunuhmu!" 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD