Minggu, 04 Juli 2021
Setelah pergi dari restoran sederhana itu, Harry sejak tadi tidak bisa diam dengan segala pertanyaannya. “Ayolah Kirey, pak tua itu sudah bilang bahwa tempat itu berbahaya. Ayo kembali saja ke kota, lebih baik kita melakukan penelitian di sana saja. Bagaimana nanti jika ada monster besar di sana? Atau makhluk lain yang bisa menyerang kita?” Ujar Harry yang menatapku.
Aku menatap Harry dari kaca spion depan, lalu menatap Ed yang tetap fokus menyetir. Aku menghela nafas, “apa kau sadar bahwa kau juga bukanlah manusia biasa Harry? Memikirkan hal itu saja sudah membuatku pusing. Jika kau adalah siren, dan Ed adalah vampire, lalu aku ini apa? Apa aku ini tetaplah manusia biasa tanpa keistimewaan seperti kalian atau aku ini seorang vampire? Ini benar-benar tidak masuk akal!”
“Kau benar!” ujar Harry pada akhirnya, dia terlihat duduk bersandar di mobil. Aku menatap Logan yang tetap diam saja sembari menatap gelang biru itu. Aku lalu menatap gelangku yang berbeda dari milik mereka bertiga. Sejujurnya, aku masih penasaran dengan maksud ‘kau itu istimewa nak, mereka tidak akan mengganggu kalian’, yang dibisikkan oleh pemilik restoran itu padaku sebelum aku naik ke mobil. Aku sempat terdiam mendengarkan ucapan lelaki tua itu, namun karena otakku yang sepertinya tidak seencer Harry. Aku memilih diam sembari menatap ke jalanan yang kami lalui.
Terlepas dari apa makna perkataan pemilik restoran ini, kali ini kami kembali menatap lurus ke depan sana. Ada beberapa lelaki dengan pakaian hitam berdiri di depan kami. Membuat Edward terpaksa harus menghentikan laju mobil kami. Aku mengikat rambut pirangku, setidaknya agar mempermudah gerakanku jika mereka menyerang kami. Aku menatap Edward yang terlihat was-was. Hari sudah semakin sore dan tujuan kami masih sedikit jauh. Dari perkiraan yang dikatakan oleh pemilik restoran itu, kami akan sampai malam hari di sana jika tidak ada hambatan.
“Dengar Kirey, apapun yang terjadi. Tetaplah bersama dengan Logan, jangan pernah jauh darinya!”
Aku mengangguk, “Aku akan turun lebih dulu, aku bisa berlari dengan cepat untuk mengalihkan perhatian mereka. Logan akan mengemudikan mobil ini untuk menghindari mereka. Harry akan ikut denganku!”
“Aku?” ujar Harry sedikit tidak terima
“Ada apa? Saat di hotel kau bahkan bisa menghabisi mereka!” ujar Logan
“Tidak ada waktu untuk menolak, ini adalah ide yang terbaik. Logan lebih pengalaman daripada kamu Harry. Cepat turun!”
Edward dan Harry segera turun, Logan langsung melompat ke depan dan menutup rapat-rapat pintu. Aku mengeratkan peganganku pada mobil, terakhir kali kepalaku terpukul ke dasbor mobil saat Logan tiba-tiba melakukan putaran balik dan menyerang para mahluk aneh itu.
“Kau siap Kirey? Kencangkan sabukmu!”
Aku mengangguk mantap sembari menatap Logan, dia langsung menginjak pedal mobil begitu Edward depan sana berlari dengan cepat dan membuat perhatian mereka teralih. Aku menatap Harry yang melawan mereka dengan pemukul kasti yang entah darimana dia dapatkan. Gerakan Harry terlihat indah ketika bergerak dengan lincah melawan mereka. Edward terus menyerang mereka dengan gerakan yang tidak terlihat. Mereka semakin tertinggal jauh di belakang kami, cit…..aku menahan badanku.
Beruntung aku sudah pengalaman, aku lalu menatap Logan yang tiba-tiba menghentikan laju mobil. Dia kembali memundurkan mobil kami. “Apa yang terjadi?”
“Mereka butuh bantuanku, Harry dan Edward sepertinya kewalahan. Mereka bisa mati jika aku tidak membantu mereka. Ingat untuk tidak keluar dari mobil ini Kirey. Jika terjadi sesuatu dan kami tidak ada harapan untuk kembali. Pergilah menuju tempat itu, jangan abaikan kami. Kau bisa menyetirkan?”
Aku mengangguk, menjawab pertanyaan terakhir Logan. Tanpa sempat aku mengatakan protes. Logan sudah melompat keluar dari mobil dan segera membantu Harry yang hampir kehilangan nyawa. Aku lekas berpindah ke tempat pengemudi.
“Rasakan ini sialan, dasar makhluk tidak berguna!” Harry yang sejak tadi terlempar, kembali bangkit dan menyerang mereka dibantu dengan Logan yang sudah tiba.
Gerakan Logan terlihat lebih terlatih dari Harry dan juga Edward, dia langsung menyerang mereka di titik-titik tertentu. Srttt…darâh segar langsung merembes menggenangi jalan begitu Logan menusuk leher sosok itu. Kepala itu hampir lepas dari badannya, aku kembali mual saat menatap hal itu. Tidak bisa, aku tetap berusaha untuk menahannya. Saat sedang menatap mereka, aku merasa ada sesuatu yang memperhatikanku dari depan. Kepalaku langsung membesar dan bulu kudukku langsung berdiri. Aku menatap seorang lelaki dengan wajah menyeramkan berdiri di depan mobilku. Aku mengunci mobil sebelum dia sempat membukanya.
Sekujur tubuhku bergetar ketakutan, sosok itu terlihat mengumpâtiku dari luar sana. Brukk—dia memukul jendela mobil dengan batu besar. Aku bergerak mundur agar terhindar, beruntung jendela kaca mobil ini masih bisa bertahan. Aku menghidupkan mobil, menekan pedal gas bersama dengan menahannya dengan rem. Sosok itu tetap memukul jendela kaca mobil, bruk—jendela kaca retak. Srakk—Aku terdiam sembari menatap sosok di depanku yang tidak bergerak dengan satu tangan yang berada beberapa sentimeter di depan leherku. Aku lekas turun dari mobil dan memeluk Edward yang sudah ada di sebelahku.
“Wow, idemu cukup brilian juga Kirey. Aku tidak pernah mengira kau tau akan trik ini. Kau seperti wonder woman saat membunuh aktor jahatnya. Dia juga membunuhnya dengan mobil ajaibnya!” puji Harry. Jika ini tidak sedang dalam keadaan genting, aku akan merasa terbang saat dipuji Harry. Namun sayangnya aku masih cukup trauma.
Untuk pertama kalinya, aku mempraktekkan pelajaran fisika yang dulu pernah aku pelajari. Tentang hukum aksi reaksi. Aku sengaja menekan pedal gas sampai speedometer menunjukkan angka yang tinggi, namun aku menahan mobilnya agar tidak melaju. Terus menahannya hingga menimbulkan asap, dan begitu kaca mobil di depanku retak. Aku langsung melepaskan remnya dan langsung menubruk badan sosok itu. Aksi yang aku berikan begitu kuat hingga tubuh sosok itu tidak tahan dan terbentur dengan mobilku. Tubuhnya pasti retak dengan dorongan kuat itu, aku bahkan bisa melihat bagian tubuhnya yang terpisah.
Setidaknya, aku masih ingat mengenai pelajaran fisika dasar yang aku pelajari saat SMA. Cukup puas karena aku bisa mempraktekkannya untuk bertahan hidup. Karena selama ini aku selalu mengumpât kesal setiap kali aku bertemu dengan pelajaran memusingkan itu.
Terlepas dari hal itu, aku sedikit bergetar. Untuk pertama kalinya aku menghilangkan nyawa seseorang. Dan pengalaman ini semakin membuatku merasa ingin mundur. Aku tidak seperti Harry yang merasa senang ketika menghilangkan nyawa ayam yang akan kami makan. Aku termasuk orang yang tidak tahan untuk melakukan hal keji itu.
ɤɤɤ
Kami melanjutkan perjalanan setelah penyerângan tadi. Kaca mobil ini sudah kembali bagus karena diperbaiki oleh Logan. Sepertinya dia cukup mempersiapkan beberapa benda yang diperlukan. Meskipun hasilnya tidak sempurna, tapi sepertinya kami harus bersyukur pada lem perekat kaca yang dibawa Logan. Karena bisa menahan angin dari depan sana. Posisi duduk kami sudah berubah, aku dan Harry kembali duduk di belakang.
Logan dan Edward tidak mendapatkan luka yang cukup serius, sementara Harry terluka di bagian lengan. Dia bilang dia sempat kewalahan ketika menghadapi mereka. Aku menatap ke arah luar, udara di mobil terasa hangat karena AC nya masih berfungsi. Malam semakin larut dan kami belum sampai di tujuan. Aku menghela nafas, malam ini terasa sedikit berat untukku.
“Apa kau terluka Na? Aku sampai lupa menanyakan hal itu” seru Edward
Aku menggeleng, “Tidak terlalu serius, kulitku hanya terkenal percikan kaca saja!”
Ed memberikanku betadine, aku bahkan tidak sadar bahwa aku membawanya. Aku membersihkan luka di tanganku dan meneteskan betadine. Mobil kembali hening, hanya deru nafas yang terdengar. Harry terlihat sudah mulai bosan dengan perjalanan kami.
“Kapan kita sampai? Ini sudah hampir pukul 3!” Harry lagi-lagi bertanya. Terlihat jelas dia sudah bosan, jika tidak salah. Setelah kami berangkat tadi, ini sudah menjadi keempat kalinya dia bertanya. Namun meskipun bertanya, baik Logan dan Ed sepertinya tidak berniat menjawab pertanyaan menyebalkan Harry.
Setelah 1 jam berlalu dan melewati jalanan sepi, dan ini sudah pukul 4. Kami mulai melihat ada sebuah rumah dengan penerangan yang cukup redup. Bulu kudukku merinding tiba-tiba, rasanya ada yang aneh dengan tempat ini. Logan yang menyetir menghentikan mobil. Kami saling menatap satu sama lain. Pemilik restoran itu bilang bahwa rumah temannya itu adalah rumah yang pertama kali akan kami temukan. Dan kami sudah tiba dan berhenti di depan rumah kayu itu.
Aku menatap Edward yang terlihat masih was-was dengan rumah itu. Kami terbantu dengan penerangan dari dalam mobil, rumah ini memang benar adalah rumah yang dikatakan oleh pemilik restoran itu. Rumah kayu bertingkat, di di depan rumahnya ada banyak buah mangga. Sama persis yang dikatakan oleh pemilik restoran.
“Tunggu apalagi? Sebaiknya kita turun dan mengetuk pintu rumahnya bukan?” Harry kembali bersemangat. Seolah melupakan fakta bahwa kami sudah berada di Ramberg. Desa yang penuh dengan misteri.
“Kita akan menunggu sampai matahari terbit, lalu mengetuk pintu rumah itu!” ujar Ed
“Kenapa? Ayolah, dia pasti akan menyambut kita jika menunjukkan gelang ini—gelang? Astaga, gelangku tidak ada. Itu pasti terjatuh ketika aku melawan mereka tadi!” Harry panik saat tidak mendapati gelang birunya. Aku menghela nafas, untuk pertama kalinya Harry menjadi ceroboh.
“Kita akan mundur saja dan bertamu besok pagi. Jika menjadi diriku, aku pasti tidak akan membuka pintu pada orang yang mengetuk pintu rumahku pukul segini”
Keputusan finalnya, kami akan memundurkan mobil dan memilih untuk parkir tidak jauh dari rumah itu. Kami memilih untuk berdiam diri di dalam mobil. Ed bilang dia akan berjaga jika kami ingin tidur. Namun nyatanya, tak satupun dari kami yang bisa tertidur. Sesekali aku membuka ponselku, dan kabar buruknya. Di desa ini sama-sekali tidak ada sinyal. Aku kembali menutup ponselku. Tanpa adanya sinyal ponsel benar-benar tidak ada gunanya. Aku sudah menebaknya sebelumnya, ponsel ini pasti hanya akan berfungsi untuk mengabadikan moment-moment tertentu saja.
“Tapi, dari mana penduduk desa itu mendapatkan penerangan?” aku bertanya, memecah keheningan di dalam mobil.
“Cahaya rumah tadi adalah kekuningan, itu berarti cahaya itu tidak dari listrik. Tapi dari api yang mungkin mereka nyalakan setiap malam begini. Tadi aku sempat melihat tumpukan benda hitam di sebelah rumahnya. Tumpukan itu sedikit bercahaya meskipun di malam hari, dan benda yang seperti itu adalah batu bara. Tidak salah lagi, mereka pasti menggunakan itu untuk bahan bakar. Tapi tidak sampai menimbulkan polusi karena mereka menggunakannya hanya malam hari saja dan dalam porsi yang sedikit!”
Jawaban Harry masuk akal, aku bahkan sampai tidak kepikiran kesana. Wajar saja, aku yakin di desa ini masih banyak sumber alam yang melimpah dan jarang tersentuh oleh penduduk desa. Mobil kembali terasa hening kita tidak lama, dari arah timur. Cahaya redup yang perlahan mulai terang mulai terlihat. Pegunungan indah di depan kami mulai terlihat dengan embun yang juga mulai menampakkan wujudnya. Aku tidak bisa berkata-kata, pemandangan indah dan langka seperti ini untuk pertama kalinya bisa aku nikmati dari jarak pandang sedekat ini.