Bagian 8 ~ Wujud Alsi Harry dan Logan

1707 Words
Senin, 05 Juli 2021 Apa yang Edward katakan benar, saat ini kami berempat sedang duduk sembari menikmati makanan yang bisa aku katakan normal. Tepat beberapa menit lalu, saat matahari sudah keluar dari peraduannya. Kami segera menghampiri si pemilik rumah itu dan menunjukkan gelang yang diberikan oleh si pemilik restoran tadi. Dan si pemilik rumah lekas menyuruh kami untuk masuk ke dalam rumahnya, menutupi mobil kami dengan dedaunan agar tidak terlihat. “Ini, silahkan dimakan. Aku hanya punya makanan ini sebagai persediaan nak, beberapa bulan ini aku tidak mendapatkan panen yang baik!” si pemilik rumah datang dengan membawa beberapa buah lagi. Itu adalah mangga, Harry yang duduk di sampingku sejak tadi sudah membicarakan si pemilik rumah. Harry bilang itu sepertinya adalah alasan agar si pemilik rumah tidak merugi karena menampung kami. Harry bahkan mengejek buah mangga yang begitu terasa manis ini, dia bilang buah mangga ini kecil. Tidak sebesar seperti yang ada di pekarangan rumah. Aku berdecak kesal menatap Harry, bukannya berterima kasih karena sudah diperbolehkan menumpang, Harry terkesan seperti tidak tau diuntung. Aku mengabaikan Harry yang terus protes di sebelahku, lalu mulai memakan mangga ini. Rasanya benar-benar manis dan segar. “Terima kasih sudah mengijinkan kami untuk menumpang dan memberikan kami buah dan makanan nikmat ini sir.” Ed mewakili kami. “Kau juga harus membayar itu nak, tidak ada yang gratis!” ujar si pemilik rumah. Seketika itu juga aku segera menahan Harry yang hendak mengumpât pada sosok itu. “Ahhh iya, kami akan perhitungkan semuanya sir” Edward masih menjawab dengan baik meski dengan raut wajah yang tiba-tiba terlihat kesal.  “Panggil aku Sam saja!” seru si pemilik rumah sembari ikut duduk bersama kami. Wajahnya sejak tadi terlihat tidak tenang, sesekali dia menatap ke luar rumahnya dengan menilik dari celah kecil yang ada di jendelanya. “Lalu, ada tujuan apa kalian datang kemari? Aku rasa kalian sudah mendengar cerita dari si pemilik restoran itu hingga kalian bisa sampai di sini. Beruntung kalian datang di pagi hari, sebelum warga desa keluar dari rumah mereka dan melihat kalian. Jika mereka sempat melihat kalian, aku tidak yakin apalagi yang akan orang bodòh itu lakukan!” Kami saling melirik satu sama lain, “kami hendak melakukan penelitian di desa ini Sam. Untuk waktu yang cukup lama aku rasa!” ujar Edward “Penelitian? Apa kalian ini datang dari kampus?” Wajah khawatir Sam semakin terlihat dengan jelas Aku mengangguk, dan wajah Sam semakin terlihat serius. “Selama bertahun-tahun aku tinggal di desa ini. Tidak seorang pun ada orang luar yang pernah berhasil membujuk tetua di kampung ini. Dan aku yakin itu masih tetap sama. Kalian tau? Adat istiadat di daerah ini masih sangat primitif, mereka masih saja percaya dan bahkan memuja gunung itu. Dan sekali dalam beberapa tahun, mereka pasti akan melakukan ritual penumbálan untuk gunung itu. Dan jika tidak salah perkirakan, itu bertepatan dengan hari kedatangan kalian. Aku tidak bisa bertindak banyak, aku hanya menyarankan agar kalian kembali saja. Tidak akan ada hasil yang bisa kalian dapatkan nantinya. Malah, sebelum mereka mengincar kalian. Sebaiknya kalian mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi!” Suasana ruang tamu itu lengah, tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Aku menatap Edward yang juga terlihat bingung, si pemilik rumah itu juga sudah tidak lagi duduk bersama dengan kami. Dia sudah membuka jendela rumahnya, melakukan aktivitasnya seperti biasa. Katanya agar kedatangan kami tidak terlalu diketahui oleh penduduk desa. Jika sudah begini, bagaimana kami akan melakukan penelitian di desa ini? Karena masih belum menemukan kesepakatan, Sam mengijinkan kami untuk bermalam di rumahnya. Tentunya dengan bayaran yang cukup mahal dan tidak masuk akal. Lelaki tua itu benar-benar tau caranya menguras dengan baik dan benar. Jika kami tidak ingin membayar, maka kami harus mencari tempat lain. Dan itu jelas bukan sesuatu yang kami inginkan. Itu sama saja dengan mencari masalah. “Sam saja sudah bilang begitu, lalu jika kita masih terus ikut. Ini artinya kita dengan sukarela menumbālkan diri sendiri.” Harry yang sejak tadi sibuk memakan mangga itu kembali membuat suasana semakin suram. Aku berhenti mencari jaringan yang tak kunjung aku temukan, lalu duduk di sebelah Edward. Dia dan Logan sejak tadi sibuk membahas yang tidak aku ketahui. “Bagaimana Ed? Apakah kita masih tetap harus melakukan penelitian di desa ini atau kita kembali saja?” tanyaku “Masih ada 24 jam lagi sebelum besok, untuk keputusan sementara. Kita sepertinya harus melakukan penelitian itu Kirey. Memilih kembali berarti kita juga harus menyiapkan diri kita untuk melawan mereka, aku rasa mereka bahkan sudah berkeliaran di sekeliling kita. Lagipula, aku bisa melindungi kalian jika mereka ingin melakukan hal itu pada kita. Kita juga tidak boleh terus bersembunyi di rumah ini, mari keluar dan melihat keadaan sekitar. Aku juga tidak terlalu yakin dengan Sam, dia seperti orang tamak!” Aku terkekeh sembari mengangguk setuju dengan pendapat Edward, hari semakin terik dan kami memutuskan untuk keluar. Sam yang tadi sedang berada di ladangnya lekas menghampiri kami berempat dan memarahi kami. “Aku sudah bilang untuk tidak keluar, kalian ini kenapa bebâl sekali?” “Setidaknya untuk melihat apa yang sudah kau lakukan pada mobil kami Sam!” seru Logan yang pertama kali sadar bahwa di dalam  mobil kami sudah banyak sekali serangga. Harry lekas berjalan menuju mobil dan menatap serangga itu dengan jijik dan lekas menuju ke arahku dan terus mengibas dirinya. “Kenapa ada serangga?” tanya Logan sekali lagi, dengan nada dinginnya “A—aku tidak tau, itu kemungkinan karena dahan itu. Sudahlah, aku akan membereskannya nanti saja. Lagipula karena kedatangan kalian sudah mereka ketahui, lakukanlah apa yang kalian inginkan!” seru Sam segera beranjak menuju mobil kami. Aku menatap ke arah sekeliling, beberapa mata memang sedang menatap kami dengan tatapan penasarannya. Aku mengabaikan mereka, lalu segera berjalan mendekati Sam. “Dimana letak danau terdekat di sini Sam? Kami ingin membersihkan diri setelah perjalan jauh tadi malam!” Sam menatapku, cukup lama dia menatapku. Aku sedikit risih dengan tatapan aneh itu, “Mobil kalian ini jelas tidak akan bisa menuju danau itu. Kalian bisa berjalan 2 KM lurus ke depan saja dan kalian akan menemukan danau di sana. Tempat itu tempat yang paling aman untuk kalian! Kembalilah sebelum matahari tenggelam dan jaga sikap kalian!” teriak Sam “Bereskan saja mobil kami Sam, kami sudah membayarmu mahal!” ujar Harry yang lekas ikut menuju kami yang sudah berada beberapa langkah di depannya. Kami berjalan sesuai dengan instruksi Sam, di sepanjang perjalan terdapat penduduk pribumi yang menatap kami. Seolah baru pertama kali melihat manusia. Edward sejak tadi tetap was-was pada sekitar, kami sudah berjalan 1 km. Setelah melewati perkampungan, kami berjalan memasuki jalanan setapak dan makin rimbun. Harry awalnya tidak yakin dengan ide ini, namun Edward tetap meyakinkan kami dan tetap melangkah di depan. Logan di belakang kami berjalan dengan hati-hati. Desa ini benar-benar sungguh indah, tebing tinggi yang kami lalui saat ini benar-benar memanjakan mata. Aku merasakan udara segar yang seolah menyambut kehadiran kami. Karena sudah sepi dari penduduk, beberapa kali Edward menggunakan kemampuannya. Berlari dengan cepat, menelusuri apa yang ada di depan kami. “Sepertinya begitu menyenangkan bisa berlari dengan cepat!” ujarku begitu Edward kembali Edward terlihat tersenyum senang, sangat jarang sekali aku melihatnya begitu. “Ini memang benar-benar menyenangkan, dan aku rasa kalian harus cepat. Danaunya tidak jauh lagi, sangat indah dan begitu segar!” “Apa kau sudah merasakan air danaunya lebih dulu?” seru Harry antusias “Cepatlah!” Karena terlalu bersemangat dengan ucapan Edward, Harry  tiba lebih dulu. Aku dan Logan tiba beberapa menit setelah dia. Begitu aku menatap danau yang ternyata terhubung langsung dengan air terjun itu, aku benar-benar terdiam. Indah sekali, sejauh mata memandang, danau ini benar-benar terlihat damai. Harry sudah berteriak kegirangan melihat air terjun yang terhubung langsung dengan danau. Aku menaikkan senyumku karena senang. Terlebih di sekitar danau tebing tinggi begitu memanjakan mata.  “mau melihatku berubah menjadi wujud asliku Kirey?” Logan yang sejak tadi duduk di sebelahku tiba-tiba berbicara, aku menatap Logan dengan wajah bersemangat. Meskipun sudah beberapa hari bersama , aku masih tetap enggan untuk berbicara dengannya “Apa boleh?” “Boleh saja, aku rasa Harry juga ingin berubah menjadi wujud aslinya!” Aku semakin bersemangat, aku dan Logan dengan cepat berjalan menuju arah Harry dan Edward berada. Ed terlihat membasahi wajahnya dari air danau, dia bilang danau ini aman. Dia bisa mendengarkan suara danau yang seolah mengijinkan kami untuk menikmatinya. “Tapi, bagaimana kau akan melakukannya? Apa kau akan terjun ke danau ini?” tanyaku pada Logan yang sudah bersiap “Aku hanya perlu mengatakannya, dan itu terjadi begitu saja. Kau pasti akan terkejut melihatnya juga!” seru Harry yang tadi sudah aku beritahu bahwa aku ingin melihat mereka berubah menjadi Siren. Sssstt…Harry terjun ke danau jernih itu lebih dulu, lalu disusul dengan Logan. Aku semakin tidak bisa percaya dengan apa yang aku lihat. Edward berdiri tidak jauh dari kami, untuk mengawasi sekitar. Setidaknya tidak akan ada yang melihat Harry dan juga Logan. Logan dan juga Harry berenang mendekatiku yang setengah kakiku sudah berada di dalam danau. Aku tidak bisa percaya ini, Harry menyentuh kulitku dengan tangannya. Tubuh Harry dipenuhi dengan sisik di masing-masing tubuh mereka. Tidak memenuhi badan, hanya sebagian saja. Lalu bagian kaki Harry benar-benar berubah menjadi ekor. Aku menyentuh ekor Harry, “Ini benar-benar sangat luar biasa!” ujarku sembari menatap Harry dan juga Logan. “Awalnya aku juga tidak percaya dengan hal ini Na, tapi kau sudah melihatnya juga  bukan? Ini benar-benar indah dan tidak pernah terbayangkan sama-sekali! Dan ketika berada di air, aku merasakan bahwa ini adalah tempatku berada!” seru Logan yang sudah muncul kembali setelah sejak tadi dia berenang memasuki danau. Dia bilang danau itu menerima kehadiran mereka dan kami tidak mengganggu asal tidak merusâk danau. Kami sudah kembali ke darat,  Harry dan Logan lekas mengenakan pakaian mereka. Kami masih memandangi danau, ini benar-benar sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Sangat menyenangkan menjadi bagian dari klan siren jika melihat Harry dan Logan yang berenang dengan bebas di dalam air. Andaikan aku tau aku ini dari klan mana, mungkin aku juga akan merasa kesenangan seperti mereka. Sama seperti Edward yang terlihat senang dengan kemampuannya, bisa berlari cepat dan mendengarkan suara sekecil apapun. “Kita harus kembali, ini sudah hampir petang. Aku takut ada beberapa hewan buas di sekitar sini!” seru Edward 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD