Sadhira's Life

1099 Words
Sadhira menutup laptop dihadapannya itu sembari menghela napas panjang. Dia merasa lega karena sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Kini dia tinggal pulang ke rumah dan istirahat dengan nyaman. Tubuh lelahnya itu sudah merindukan kasur empuk miliknya. Dia sudah memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas dan dia siap untuk pulang. Dia menoleh ke sekelilingnya, hanya tinggal dua orang saja yang masih bekerja, yang lainnya sudah pulang terlebih dahulu. “Mba Dian, Mas Dion, aku balik dulu ya. Ganbatte !” pamit Sadhira kepada kedua rekan kerjanya yang masih berjuang dibalik layar komputernya. “Ra, kamu bener-bener tega ninggalin aku sama lelaki hidung belang ini? kamu gak khawatirkah aku diapa-apain sama dia?” tanya Mba Dian dengan memasang raut wajah memelasnya. “Heh, Gue gak minat juga ya ngapa-ngapain lo.” Ujar Dion yang merasa tertuduh dengan perkataan Dian tadi. Walaupun nama mereka mirip tapi mereka benar-benar tak ada hubungan apapun. Mereka hanya sebatas rekan kerja saja. Melihat tingkah mereka berdua membuat Sadhira tertawa kecil. memang keduanya kerap sekali bertengkar seperti itu. Sadhira curiga bahwa keduanya nantinya akan berjodoh. “Halah, di depan Dhira aja lu bilang begitu. coba aja nanti tinggal kita berdua. Paling lu langsung berencana untuk nerkam gue.” Ujar Dian dengan penuh percaya diri membuat Dion memasang wajah jijiknya. “Najis banget.” Ujarnya kemudian. “Mba Dian, nanti kalau mas Dion macem-macem teriak aja. Nanti aku suruh security siaga 24 jam deh.” balas Dhira mendukung Dian. “Gak bakal ya gue macem-macem sama dia. dibayar seratus juta pun gue gak mau.” Tolaknya dengan penuh keangkuhan. “Hati-hati loh mas Dion, kebanyakan yang nolak kayak gitu, nantinya jadi jodoh.” Ujar Dhira membuat Dion memasang wajah ingin mutah. Dia dan Dian pun tertawa puas ketika menggoda Dion. “Udah balik aja lo sana. Huss..Huss.” usirnya dengan raut wajah kesal. “Iya deh iya, yang mau berdua-duaan.” Goda Sadhira lagi membuat Dion melemparnya dengan ballpoint. Dhira langsung kabur keluar dari ruangan tersebut dengan tawa puasnya karena berhasil membuat Dion murka. Sampai di rumahnya, Sadhira melihat seperti ada tamu. Dia melihat orangtuanya sedang asyik bercengkrama dengan seseorang. Tetapi entah siapa itu. Dia pun masuk dan tak lupa mengucapkan salam pada mereka. “Assalamualaikum.” salamnya dengan nada ramah pada mereka. Mereka yang mendengarnya pun sontak menjawab salamnya. “Nah ini anaknya sudah pulang.” Ucap bu Nadia dengan raut wajah senangnya. Dia lalu melambaikan tangan kepada putrinya tanda agar putrinya itu mendekat kearah beliau. “Sadhira, salim dulu nak sama bu Maya.” Ujar bu Nadia yang langsung dituruti oleh perempuan yang memiliki nama lengkap sadhira Adisthi atau kerap dipanggil dengan sebutan Dhira. “Sudah lama tidak berjumpa, kamu sudah tumbuh jadi gadis yang cantik ya sadhira. Dulu ibu sering gendong kamu. Kamu juga sering main ke rumah ibu.” Ucap perempuan yang usianya memang terlihat lebih tua daripada ibunya itu. Sadhira tersenyum simpul sembari berpikir siapakah ibu itu sebenarnya. Sebab dia merasa asing dengan wajah ibu tersebut. “Dhira, ini bu Maya, tetangga kita dulu yang sudah pindah sejak lama. Dulu waktu kamu masih bayi pun bu Maya sudah ada disini. Lalu saat kamu berusia 10 tahun bu Maya pindah ke luar kota ikut suaminya dinas.” Jelas bu Nadia kepada putrinya itu. Sadhira mengangguk-angguk seakan mengerti, walaupun dalam hati dan pikirannya dia berusaha untuk mengingat-ingat siapakah ibu itu. karena sudah sekian tahun lamanya mereka tak bertemu. “Nah, bu Maya ini jadi tetangga kita lagi Ra. Makanya rumah yang dulu itu direnovasi lagi agar bisa ditempati. Baru saja kemarin bu Maya pindah kesini bersama putranya. Iya kan bu?” tanya bu Nadia meminta konfirmasi beliau. “Betul sekali bu Nadia, saya pindah kesini bersama putra saya karena suami saya sudah tidak ada sebulan yang lalu, jadi saya memutuskan untuk kembali lagi kesini dan untungnya putra saya menyetujui, ya walaupun harus dibujuk-bujuk dulu agar setuju.” Tambah bu Maya menjelaskan. Sadhira mengangguk-angguk tanda mengerti. Kini dia mengerti kenapa rumah lama di seberang rumahnya itu kini sudah kembali bersih dan rapi. Padahal dulu sudah ditumbuhi rumput ilalang dan begitu kumuh karena tak berpenghuni. “Kapan-kapan main ke rumah ibu ya nak, seperti dulu lagi kamu sering main kesana.” Tawar bu Maya pada Sadhira. “Iya bu, insyaAllah kalau saya libur atau ada waktu luang saya main kesana.” Jawabnya tak lupa dengan senyum di wajahnya. “Maaf saya permisi dulu, mau mandi, badan sudah lengket dan bau soalnya. Ibu silahkan lanjutkan mengobrolnya.”pamit Sadhira dengan sopannya. “Iya nak, silahkan.” Jawabnya lalu Sadhira pun beranjak dari sana menuju kamarnya. Sadhira langsung membersihkan dirinya karena memang sudah lengket karena keringat. Setelah membersihkan diri dia duduk di tepi ranjangnya sembari memainkan ponselnya. Sadhira masih mencoba mengingat-ingat mengenai ibu Maya. Mungkin karena masih kecil jadi ingatannya sudah tidak akurat lagi. apalagi itu kejadian beberapa tahun yang lalu dan pastinya sudah banyak perubahan yang terjadi. Dia memang ingat memiliki tetangga dulu semasa kecilnya tapi dia lupa wajahnya karena memang semakin bertambahnya usia tentu saja semakin berbeda secara fisiknya. “Ra, ayo makan sama-sama.” Ajak bu Nadia pada putrinya itu. “Iya bu, sebentar lagi aku keluar.” ujar Sadhira sembari bergegas mencari rok dan juga cardigannya karena tahu bu Maya masih disana. rasanya kurang sopan jika dia memakai pakaian tidur ketika makan malam bersama tetangganya itu. Mereka pun berkumpul bersama menikmati masakan bu Nadia yang memang sudah tak diragukan lagi rasanya. Semua masakan bu Nadia tidak ada yang tidak enak. Bahkan tak ada yang menandingi masakan beliau. “Ini nih yang aku kangenin. Masakannya bu Nadia.” Ujar bu Maya memuji masakan beliau. “Bisa aja nih bu Maya. Kan masakan bu Maya juga enak, tidak tertandingi pokoknya mah.” Ujar mereka saling memuji masakan satu sama lainnya. “Oh ya Ra, kamu masih ingat tidak sama anaknya bu Maya? Dulu kamu sering main sama dia loh. Namanya Jovan. Kamu sering panggil dia Uncle Jo karena memang umur kalian beda cukup jauh.” Sadhira termenung sejenak mendengar pernyataan itu. nama itu seakan tak asing di telinganya. Tapi lagi-lagi dia lupa bagaimana rupanya. “Iya nak, kamu dulu diajak kemana-mana sama si Jovan. Dia kebetulan memang pengen punya adik cewek, tapi ya waktu itu ibu sudah tidak bisa hamil lagi.” jelasnya membuat Sadhira mulai berpikir keras kembali mengenai masa kecilnya itu. “Sekilas saya ingat tapi mungkin karena sudah lama tidak berjumpa jadi tidak ingat sepenuhnya.” Jawab Sadhira jujur. “Kalau begitu, besok kalau kamu main ke rumahku, nanti ibu tunjukkan foto-foto kalian ya. biar kamu ingat.” Sadhira hanya mengangguk pelan dan tersenyum mendengar hal itu. walaupun dia pun belum tentu akan kesana. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD