Jo

1406 Words
“Dhira, tolong antarkan sayur ini nak ke rumah bu Maya.” Perintah bu Nadia pada putrinya yang tengah asik menyirami bunga-bunga yang berjajar rapi di dalam pot yang diletakkan di teras rumahnya. Sadhira berdecak pelan, dia tak suka kegiatannya itu diganggu. “Ibu aja deh. aku lagi sibuk nih.” Jawabnya sembari masih fokus menyiramkan air ke bunga-bunganya itu. “Nak, tolonglah. Ibu masih mau goreng ayam itu belum selesai. nanti keburu Ayahmu pulang dari ladang.” Alibi bu Nadia membuat Sadhira akhirnya mengalah. Dia meletakkan gembor berukuran sedang berwarna biru muda itu di tanah kemudian meninggalkannya begitu saja. walaupun dengan berat hati tapi Sadhira tetap melaksanakan perintah ibunya itu. dia membersihkan dirinya sejenak lalu mengambil alih panci berisi sayur lodeh itu dari tangan sang ibu. “Terimakasih Anak ibu yang cantik.” Ujar bu Maya menggoda sang putri yang masih cemberut itu. “Senyum dong Ra, masa iya mau kasih makanan ke orang tapi mukanya cemberut gitu. Nanti dikira gak ikhlas loh.” Peringat bu Nadia lagi membuat Sadhira menghela napasnya panjang. Sadhira langsung melebarkan senyumnya dan sengaja memperlihatkan pada sang ibu. bu Nadia tertawa ketika berhasil menggoda putrinya itu. Perempuan itupun berjalan perlahan kearah rumah bu maya, pasalnya panci yang dibawanya itu masih sedikit panas. walaupun sudah dilapisi piring tapi tetap saja rasa panas itu masih menjalar. Untung saja rumah bu Maya hanya berjarak beberapa langkah saja dari rumahnya, jadi dia hanya butuh berberapa detik untuk sampai. Dia meletakkan panci itu di meja kecil yang tersedia di luar sebelum mengetuk pintu rumah bu Maya. “Assalamualaikum bu.. permisi.” Ucap Sadhira sembari mengetuk pintu rumah bu Maya. “Waalaikumsalam. Iya sebentar.”jawab bu Maya dari dalam. Shadira pun menunggunya dengan sabar. Tak lama pintu pun dibuka. Senyum bu Maya merekah indah ketika melihat siapa tamu yang datang ke rumahnya. Sadhira pun membalas dengan senyum simpulnya. Gadis itupun mengambil panci yang berisi sayur lodeh dan menyerahkannya pada bu Maya. “Bu, ini ada sedikit sayur buat bu Maya dari ibu saya.” ujar Sadhira dengan canggungnya. “Wah, masyaAllah, keliatannya enak banget nih. Makasih ya nak, sampaikan pada ibumu.” Ujarnya dengan raut wajah bahagia. Sadhira pun mengangguk sebagai jawaban. “Ayo masuk dulu nak, kita makan bareng di dalam.” Tawar beliau namun langsung ditolak dengan lembut oleh Sadhira. “Maaf bu, mungkin lain kali saja, soalnya Sadhira sedang menyiram tanaman dan belum selesai itu. Terimakasih atas tawarannya.” Bu Maya pun mengangguk mengerti mendengar alasan Sadhira. Beliau juga tak mau memaksakan kehendak. “Baiklah kalau begitu. tapi lain kali kamu harus main kesini ya nak.” Sadhira mengangguk sebagai jawaban. Dia pun berpamitan dari sana dan kembali ke rumahnya. perempuan itu kembali melanjutkan pekerjaannya yang belum usai. Sadhira kira, menjadi kurir makanan hanya sekali itu saja, ternyata ibunya ketagihan menyuruh dirinya untuk mengirim makanan yang berbeda setiap ada kesempatan. Apalagi ketika dirinya ada di rumah. “Bu, antar sendiri saja kenapa sih? Ini udah kelima kalinya Sadhira yang antar loh. Lagian rumahnya juga deket ini bu. ibu kalo nganter sendiri juga bisa sekalian ngobrol sama bu Maya.” Protesnya karena sudah lelah terus menerus menjadi kurir makanan. Bukannya apa, tapi Sadhira hanya malas saja harus berbasa-basi. apalagi setiap kali bu Maya menawarkan untuk makan bersama selalu Sadhira tolak. Dia masih canggung dengan bu Maya. “Yaampun nak, kamu Cuma suruh antar makanan di rumah depan kita aja ngeluh begitu. padahal ibu sudah capek-capek masak, kerjaan di dalam juga belum selesai. kamu gak kasihan sama ibu?” bu Nadia mulai memasang wajah memelas agar putrinya merasa kasihan padanya. taktik itupun berhasil. Sadhira lagi-lagi harus mengalah. “Yaudah sini. tapi ini yang terakhir ya bu.” ujarnya dengan nada kesal. Bu Nadia pun bersorak senang ketika Sadhira tak melihatnya. Seperti biasa, Sadhira mengetuk rumah itu dan mengucapkan salam. Dari dalam terdengar bu Maya menjawab salam itu dan bergegas membuka pintunya. “Ra, masuk dulu yuk. dari kemarin kan ibumu yang kasih ibu makanan, sekarang gantian ya. di dalam ibu udah masak cumi saos padang sama udang goreng tepung. Nanti kamu sekalian rasain deh ya. ayo masuk.” Bu Maya langsung menarik tangan Shadira dan itu membuat Dira tak mampu menolaknya. Dia pun mengikuti bu Maya dari belakang sembari matanya melihat kearah ruangan berwarna putih tersebut. Di ruang tamu dia melihat beberapa foto yang terpajang rapi. Ada banyak medali dan piala juga. Dia cukup takjub dengan isi di dalamnya yang tertata begitu rapi dan indah. “Nih cobain nak.” Ujarnya sembari memberikan sendok kepada Sadhira. Perempuan itupun tidak menolak. Dari warnanya saja sudah kelihatan nikmat. Cumi saos padang yang masih panas itu pun dia cicipi sedikit dan rasanya memang tiada lawan. Baru kali ini dia merasakan cumi saos padang seenak ini. “Bu, enak banget.” Ujarnya dengan wajah takjub. Bu Maya tersenyum senang mendengarnya. “Udangnya cobain.” Perintah bu Maya lagi yang langsung dituruti oleh Dira. “Wah, ibu nih jangan-jangan aslinya chef ya? ibu ngaku deh. ini kenapa makanannya enak semua.” Pujinya membuat bu Maya tertawa kecil. pujian dari Shadira membuatnya senang bukan main. “Alhamdulillah jika kamu suka. Ibu dulu gak bisa masak loh Ra, tapi semenjak menikah ibu merasa malu karena selalu jajan di luar, jadi ibu belajar memasak. Ibu kursus masak dan lambat laun akhirnya ibu bisa. ya, sampai saat ini ibu jadi ketagihan masak. Rasanya sangat menyenangkan ketika orang yang memakan masakan kita juga merasa senang.” Ujar bu maya menceritakan kisahnya pada Shadira. Perempuan itupun mengangguk-angguk pelan mendengarnya. “Kamu beneran Ra, gak mau makan bareng disini saja sama ibu dan Jovan? Nanti ibu kenalkan kamu sama dia. kebetulan dia baru pulang tadi siang.” Tawar bu Maya untuk kesekian kalinya. “Maaf bu, sepertinya lain kali saja. Soalnya tadi di rumah ibu juga sudah menghidangkan makanan.” tolaknya dengan sopan. “Baiklah Ra kalau begitu. bentar ya, ibu ambilkan oleh-oleh di atas dulu. Tadi Jovan bawain oleh-oleh dari Malang. Kalau ibu yang makan sendiri pasti tidak habis. Kamu duduk dulu sini ya.” ujar bu Maya yang dijawab anggukan mengerti oleh Dira. Sadhira pun duduk di kursi dekat dapur. Dia menunggu sembari mengamati sekelilingnya. Dapur itu tampak minimalis dan rapi. Walaupun habis digunakan untuk memasak tapi dapurnya tetap bersih, tak seperti dirinya yang kalau masak pasti dapur seperti kapal pecah. Karena dia paling malas untuk membereskan sampah jika masakannya belum kelar. Dia terbiasa membersihkan semuanya ketika sudah selesai. Dia menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Rumah itu dibuat tanpa sekat, jadi dari arah dapur dia bisa melihat ruang tamu dan ruang makan. dia melihat semuanya ditata dengan rapi. Ada juga beberapa pot tanaman dipojok ruangan yang menambah keindahan ruangan tersebut. Tak lama Sadhira mendengar suara pintu dibuka dari arah belakangnya. Dia tak tahu jika di belakangnya itu adalah kamar mandi. dia pun refleks memutar tubuhnya dan menengok kearah sumber suara itu. namun dia sepertinya menyesali gerakan refleksnya itu. “KYAAAAA...” Teriak Shadira sembari menutup matanya dengan kedua tangan. Shadira terkejut melihat seorang lelaki yang keluar dari kamar mandi itu dengan hanya memakai sehelai handuk yang melilit bagian bawahnya. Rambutnya masih basah karena habis mandi dan dia tak memakai baju. Tak hanya Shadira yang terkejut namun lelaki itu juga sama terkejutnya mendengar teriakan Shadira. Dia tak tahu jika ada perempuan disana. jadi dia keluar dari kamar mandi dengan handuk saja. Tanpa pikir panjang Shadira langsung berlari keluar dari rumah tersebut dan dia tak menghiraukan panggilan bu Maya. Dia sudah kepalang malu. Apalagi terkejut dengan kejadian tadi. Shadira langsung masuk ke kamarnya tanpa menghiraukan sang ibu yang bertanya kebingungan padanya. Perempuan itu masih mencoba menetralkan degup jantungnya yang tidak beraturan. Wajahnya sudah memerah karena saking malunya. “Ada apa Jovan? Kenapa Shadira lari? Kamu apakan dia?” bu Maya langsung turun dan mencecar anaknya dengan banyak pertanyaan. Lelaki itu mengendikkan bahunya pelan. “Gak tahu Ma. Dia tiba-tiba berteriak ketika melihatku. Lalu kabur deh. perempuan aneh.” Ujar lelaki itu dengan santainya. “Astaga Jovan, gimana dia gak lari coba. Kamu Cuma pake handuk gitu. Hmm.. dasar kamu ya. udah sana ganti.” Omel sang ibu padanya. Jovan pun tak memperdulikannya. Dia berjalan santai menuju kamarnya. Toh dia juga tak bersalah dalam hal ini. “Memangnya tadi siapa Ma?” tanya Jovan penasaran. “Sadhira. Perempuan kecil yang dulu sering kamu gendong dan ajak kemana-mana.” Jelasnya membuat Jovan terpaku ditempatnya. Dia mencoba mengumpulkan kepingan memori mengenai gadis tersebut. “Shadira Adisti. Ternyata kamu sudah bukan gadis kecil lagi.” gumamnya sembari menyunggingkan senyuman. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD