Pesawat bersayap putih biru itu lepas landas di jalur penerbangan domestik. Getaran yang dihasilkan ketika lepas landas cukup membuat isi perut Chynara bergejolak ingin menerobos keluar dari dalam perutnya.
Untungnya sebelum lepas landas, Chynara telah mengonsumsi obat anti mual yang telah dibelinya di toko obat. Kini, rasa mual yang dirasakan terkalahkan dengan rasa kantuk yang mendera matanya.
Hingga pesawat berhasil mendarat di kota Surabaya tanpa menunggu proses transit yang lama, Chynara baru bisa memicingkan kedua matanya dan menajamkan pendengarannya menantikan pramugari mengabarkan bahwa pesawat berhasil mendarat dengan lancar.
Suara merdu pramugari wanita yang mengabarkan pesawat telah mendarat dengan selamat membuat mata Chynara semakin membesar. Dari balik kaca jendela, ia bisa melihat bandara Juanda yang begitu luas dengan pesawat yang berjajar rapi.
Pintu pesawat terbuka lebar, para penumpang satu persatu beranjak dari tempat duduknya, berjalan secara bergantian menuju ke pintu keluar. Chynara yang duduk paling ujung, tepat di sebelah jendela harus bersabar untuk mengantri keluar dari dalam pesawat.
Hingga tiba gilirannya, ia berjalan perlahan menuju pintu keluar yang ditunggu oleh pramugari cantik yang menyunggingkan senyum lebar di bibirnya.
Tiba di luar, udara di ibukota sudah mulai panas meski belum terik sekali. Yang jelas, sedikit berbeda ketika udara di tanah kelahirannya dibandingkan dengan hawa udara di kota ini.
Setelah mengambil barang bawaannya di atas mesin berjalan yang membawakan bagasi penumpang, Chynara segera berjalan menuju ke pintu keluar bandara yang dipadati pengunjung.
Mata Chynara celingukan mencari-cari taksi kosong yang akan membawanya menuju ke hotel berbintang lima tempatnya akan melakukan pelatihan. Beberapa taksi ternyata telah didahului oleh orang yang dengan sigap menyambut kedatangan taksi.
Chynara hanya berdiri termangu melihat mereka begitu lihainya memikat supir taksi. Karena setelah beberapa kali ia tak juga berhasil mendapatkan taksi, ia pun duduk di kursi yang berada di pinggir anjungan.
Sebuah mobil minibus berwarna hitam berhenti tepat di depannya. Beberapa orang yang terdiri dari tiga orang lelaki dan empat orang perempuan turun dari dalam mobil sambil menyiapkan barang-barang bawaannya masing-masing. Mereka berdiri menunggu tepat di samping kursi tempat Chynara duduk.
Chynara tidak begitu perhatian terhadap keenam orang itu, karena kini perhatiannya tertuju pada satu objek yang berada tepat di depan matanya. Objek yang beberapa waktu lalu ingin segera ia singkirkan dari dalam angannya.
Chynara segera memalingkan wajahnya, berpura-pura tidak mengenali sosok lelaki yang berdiri di depannya itu. Ia bergegas ingin segera meninggalkan tempatnya berada saat ini. Karena terburu-buru, travel bag yang dibawanya menabrak salah seorang dari mereka, perempuan. Sontak perempuan itu bersuara mengaduh, merasakan sakit pada kakinya yang terkena travel bag miik Chynara.
“Aduh! Hati-hati dong, Mbak!” seru perempuan itu.
“Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja!” ucap Chynara segera.
Perhatian mereka kini tertuju pada Chynara, membuatnya semakin serba salah dan ingin segera menghilang dari hadapan orang-orang itu, agar salah satu dari mereka yang amat sangat ingin dihindari menyadari keberadaannya. Sayangnya, itu tidak mungkin terjadi.
“Nara?” suara bass milik lelaki itu terdengar merdu di telinga Chynara. “Kamu Chynara, kan?”
Chynara yang menundukkan kepalanya tiba-tiba tak sanggup mengangkat wajahnya untuk melihat lelaki yang ingin dihindarinya saat ini.
“Benar, kamu Chynara!” seru lelaki itu begitu melihat Chynara menegakkan kepalanya.
Tatapan mereka seolah bertemu, saling menatap. Udara di sekeliling mereka seolah-olah berhenti berhembus, menerbangkan angan mereka yang terbang melayang.
“Pak Nofa kenal?” suara salah seorang dari rombongan itu memecahkan kebisuan di antara mereka.
Lelaki yang dipanggil Nofa itu menganggukkan kepala dengan senyum lebar di bibirnya.
“Ya, sayan sangat mengenalnya,” jawab Nofa. “Kamu mau ke mana?”
Nofa bertanya pada Chynara yang hanya berdiri terdiam di hadapan Nofa.
“Mau mengikuti pelatihan.”
“Di mana?”
“Batu.”
“Batu? Hotel?”
“Ya.”
“Sendiri?”
“Ya.”
Nofa kemudian terdiam setelah mendengar penjelasan dari Chynara bahwa ia berangkat seorang diri.
“Mau kupesankan taksi?”
Chynara menganggukkan kepalanya, mengiyakan, meski dengan kepala yang tertunduk. Ia tak ingin Nofa melihat wajahnya yang malu-malu dan bersemu merah karena bertemu dengan lelaki dari masa lalunya itu.
“Atau, kuantarkan saja.” Nofa memutuskan. “Kalian, harus berangkat sendiri tanpa saya. Setelah tiba di sana, kabari. Saya akan berangkat dengan pesawat berikutnya.”
Mereka yang memanggil Nofa dengan sebutan’Pak’ itu menganggukkan kepala mereka, mengerti apa yang dimaksud. Tanpa menunggu, mereka pun berjalan beriringan memasuki peron keberangkatan pesawat.
Chynara masih tidak berani menatap wajah Nofa yang berdiri di hadapannya. Ia sedang menata hatinya yang seolah-olah ingin pecah, meluberkan semua isinya. Ia begitu takut.
“Mereka sudah pergi. Ayo, kuantarkan.” Tawaran Nofa tampak meragukan Chynara. Ia ingin menolaknya, tetapi ia ingin memiliki waktu lebih banyak bersama lelaki yang pernah menjadi mantan kekasihnya itu.
“Tidak perlu repot-repot! Pergilah! Aku akan pergi sendiri,” jawab Chynara menegaskan.
“Aku tidak merasa direpotkan. Aku malah senang hati akan menerima bila kamu memintaku mengantarkanmu ke ujung dunia. Aku bersedia!” Senyum nakal Nofa menghiasi bibirnya.
Chynara tersenyum tipis sambil menundukkan kepalanya lebih dalam lagi.
“Kenapa sih, kok menunduk aja? Kamu makin cantik, lho. Jadi, jangan sembunyikan kecantikanmu.”
“Sepertinya kamu terlalu menikmati untuk menggodaku,” jawab Chynara dengan senyum malu.
Nofa tertawa keras mendengar jawaban Chynara, wajah yang menunjukkan kebahagiaan dan kesenangan karena wanita pujaannya berada di hadapannya, setelah bertahun-tahun tak pernah bertemu. Karena Chynara meninggalkannya begitu saja, tanpa pesan.
“Ayo, kuantarkan. Tasnya biar kubawakan.”
Nofa membawa travel bag milik Chynara menuju ke bagasi mobil di bagian belakang. Sopir kendaraan itu keluar dari dalam mobil untuk menghampiri Nofa yang memasukkan tas.
“Biar saya saya, Pak.” Pria paruh baya itu memasukkan tas ke dalam mobil. “Bapak mau di antar ke mana?”
“Kita antarkan teman lama saya ini ke kota Batu, Pak. Ada pelatihan yang harus diikutinya.”
Pak Sopir menganggukkan kepalanya sambil menutup pintu bagasi. Sementara Nofa menggiring Chynara memasuki kendaraan yang tadi mengantarkannya tiba di bandara.
Chynara yang menggunakan celana jins berwarna biru muda dengan atasan tunik berwarna puti serta jilbab berwarna putif biru bermotif bunga-bunga menaiki kendaraan. Di belakangnya Nofa menunggu hingga ia telah berada di dalam kendaraan.