Mengenang

990 Words
Di dalam kendaraan yang hanya berpenumpang Chynara dan Nofa tampak lengang, sepi, tanpa terdengar sepatah kata yang terucap dari mereka berdua. Nofa dengan berani menatap wajah Chynara yang tertunduk. Ia sengaja mengambil posisi duduk berseberangan dengan perempuan yang pernah dicintainya itu. Dengan leluasa menatap wajah sayu milik Chynara. Suara alunan musik terdengar perlahan dilantunkan dari ruang kemudi yang terpisah oleh sekat. Suasana di dalam menjadi lebih pribadi karena Pak Sopir tidak dapat melihat atau pun memperhatikan apa yang terjadi di bangku penumpang. “Kamu cantik,” puji Nosa menatap lekat Nara. Nara tersenyum tipis, dengan rasa panas di bagian pipinya. Sudah dapat dipastikan bahwa saat ini wajahnya memerah, menahan rasa malu. “Kupikir kamu akan berubah menjadi ibu-ibu berbadan gemuk dan wajah yang berjerawat.” Nofa menghentikan ucapannya. “Siapa sangka bahwa kamu masih seperti yang dulu, bahkan  lebih cantik.” “Aku gak punya uang receh,” gurau Nara tersipu. “Uang besar saja, aku terima, kok.” Tawa Nofa terdengar keras, menggema di dalam mobil. Suasana yang tadinya tampak begitu kaku, kini telah kembali mencair meski Nara masih Nampak malu-malu. “Kalau saja kamu memberikanku kesempatan,-“ “Kamu ada keperluan ke mana?” Nara memotong pembicaraan Nofa yang ditujukan padanya. Karena ia tahu ke mana arah pembicaraan lelaki itu. “Aku merindukanmu, Nara.” Nara terdiam mendengar pengakuan Nofa yang terasa begitu menyentuh hatinya. Hingga Nara tak bisa melontarkan ucapan apapun dari bibirnya. “Kamu sudah menikah?” Nofa menggelengkan kepalanya, itu artinya dia belum menikah. “Aku menunggumu. Apakah aku salah?” “Kamu bekerja di mana?” Nara mengajukan pertanyaan balasan, yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaan Nofa. “Apakah kamu tidak pernah merindukanku?” Tembakan Nofa kembali membuat Nara terdiam, sehingga mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sementara tatap mata Nofa begitu tajam menjurus ke arahnya. “Aku lelah, ingin beristirahat.” Nara menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, tak berani menatap mata Nofa yang masih terus tertuju ke arahnya. Dengan gerakan secepat kilat, Nofa mendekatkan wajahnya ke wajah Nara kemudian melayangkan sebuah kecupan ringan di pipi wanita yang duduk di hadapannya. Nara yang tidak menduga mendapatkan perlakuan sedemikian rupa melotot ke arah Nofa, berang. “Kamu gila!” “Iya, aku gila. Menggilaimu, lebih tepatnya.” Nofa menyandarkan punggungnya dengan santai dan senyum terukir di bibirnya. Senyum puas yang sangat jelas tergambar pada wajah ovalnya. Nara tak berani berkata-kata, ia kemudian kembali mengarahkan pandangan ke luar mobil, melihat jajaran pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan. Jantungnya masih berdebar-debar dengan perlakuan Nofa yang begitu berani terhadapnya. Tidak pernah menduga bahwa ia kembali bertemu dengan lelaki yang dulu mengisi hari-harinya. Ada desir halus di dalam benak Nara ketika bibir Nofa menyentuhnya. Secara naluriah ia merasa terdorong untuk menikmatinya. Akan tetapi, Nara tahu bahwa hal itu tidak sepantasnya terjadi. “Asal kamu tahu, aku selalu menantikan momen seperti ini bersamamu. Tampaknya kita berjodoh, bisa bertemu muka seperti ini.” Nara tak menanggapi ucapan Nofa yang terdengar bersungguh-sungguh, jujur dan apa adanya meski terkesan penuh dengan rayuan. Nara tidak boleh terhanyut dalam perasaan ini. Benar-benar tidak boleh. Mobil yang membawa Nara dan Nofa berhenti di depan lobi sebuah hotel berbintang lima di Kota Batu. Hotel di mana Nara menginap selama kurang lebih sepuluh hari untuk mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Dinas Pendidikan di kotanya. Nara segera bangkit dari tempat duduknya, setelah Nofa membukakan pintu. Lelaki tampan pemilik hati Nara di masa kuliah itu mengikuti langkahnya memasuki lobi hotel. Dengan ekor mata, Nara memastikan bahwa Nofa benar-benar berada di belakangnya. Sejujurnya, Nara sedikit merasa canggung bila harus berada di tempat asing seorang diri. Nofa mengetahui hal itu. Salah satu alasan mengapa Nofa rela mengantarkan Nara hingga berada di hotel ini. Nara menghentikan langkahnya di depan resepsionis. Ekor matanya masih ingin memastikan keberadaan Nofa. “Aku akan menemanimu hingga kamu berhasil mendapatkan kamar,” bisik Nofa di belakang Nara. Ada kepingan rasa bahagia menghangatkan hatinya mendengar ucapan Nofa yang menenangkannya. Nara mengeluarkan surat pengantar yang ia bawa diserahkan pada resepsionis cantik. Setelah melakukan pencocokan data dengan KTP Nara, resepsionis itu memberikan kunci kamar pada Nara. “Aku sudah mendapatkan kamar. Pergilah!” usir Nara halus. Sayangnya Nara terlalu polos menyadari bahwa Nofa sangat mengenalnya. Nara tidak bisa berbohong. Hanya dengan memperhatikan bahasa tubuhnya, Nofa dengan mudah mengetahui bahwa Nara masih merasa tidak nyaman berada di hotel itu seorang diri. “Kamu tidak memiliki teman yang lain datang kemari?” Nara menggeleng lemah, tak berani menatap mata Nofa. Tanpa menunggu lama, Nofa memegang pergelangan tangan Nara dengan satu tangan lainnya menyeret travel bag milik Nara berisi pakaian. Nara seolah diseret oleh Nofa, ia pun melangkah mengikuti kaki Nofa melangkah. Pada sudut ruangan lobi terdapat lift yang akan membawa mereka ke lantai lima. Karena kamar yang disediakan oleh pihak hotel untuk kegiatan pelatihan berada di lantai lima, berdekatan dengan ruang pertemuan yang telah dipersiapkan. Pintu lift terbuka, tak seorang pun yang memasukinya. Dengan cepat, Nofa menarik tangan Nara tanpa meminta persetujuan untuk memasuki lift. Pintu lift pun segera ditutup, baru akhirnya Nofa melepaskan tangannya pada pergelangan tangan Nara. Nara mengusap pergelangan tangannya yang terasa panas akibat pegangan Nofa. Wajahnya meringis. Nofa yang melihat hal itu segera menarik pergelangan tangan Nara lagi, lalu mendekatkannya pada bibirnya. Perlahan, Nofa mengecup pergelangan tangan Nara dalam dan lama. Nara tercekat. Untuk kesekian kalinya tindakan Nofa begitu mengejutkan. Meskipun mereka pernah bersama untuk waktu yang lama, Nara merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk romantisme cinta masa lalu mereka. Nara teringat akan Andika suaminya, Maleo dan Fibula. Digigitnya bibir bagian bawah semsentara tangan yang masih dalam genggaman Nofa berusaha ditariknya. Pegangan Nofa ternyata lebih kencang. “Maafkan aku, bila menyakiti pergelangan tanganmu.” Nofa meremas jemari Nara. Tatap matanya merasa bersalah. “Tidak apa-apa.” Nara membuang muka, tak berani menatap mata Nofa. Hatinya lagi-lagi berdesir hangat. Kerinduan yang dulu pernah menghiasai lubuk hatinya kini mulai hadir kembali setelah pertemuan tak disengaja hari ini. Tanpa melepaskan tangan Nara, Nosa menyandarkan punggungnya pada dinding lift. Bibirnya tersenyum lebar dengan tatap matanya menatap lurus ke arah Nara yang tersipu malu di hadapannya. “Entah mengapa aku tidak bisa melupakanmu. Sepertinya aku sudah gila.” Nara pura-pura tidak mendengar ucapan Nofa. Kali ini dia tidak ingin tergoda. Meskipun dalam hatinya berkata bahwa mereka memilii perasaan yang sama, tetapi perbuatan mereka saat ini salah. Salah besar. “Jangan pura-pura tidak mendengar perkataanku, Nara. Karena aku tahu kamu mendengarkan semua ucapanku.” Nofa baru saja akan menyudutkan Nara pada dinding lift, ketika pintu lift tiba-tiba terbuka, membuat niatnya itu tertunda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD