Tiga

984 Words
Lelaki itu menggenggam erat kedua tangan Aluna. Ia tersenyum, menatap wajah cantik saat berbicara. Namun, sayang Aluna tak mampu menatap balik wajah, karena wajah itu sangat setuju. "Aku menyayangimu, Al." Lelaki itu mengecup buku-buku jari lentik Aluna dengan lembut. Aluna mengangguk. “Aku pun begitu. Sangat menyayangimu. " Kamu mau berjanji untukku? " " Apa itu? " " Tetaplah bersamaku, apa pun yang akan terjadi nanti, aku mohon tetaplah disisiku. " " Ya, aku berharap. " Lelaki semakin mengembangkan senyumannya, ia merengkuh tubuh mungil Aluna. Memeluknya dengan erat, seakan tak mau semakin. Namun, tiba-tiba cahaya datang,Aluna memekik histeris saat cahaya dibawa lelaki di bawa, ia tak mau dipindahkan. Ini tidak dapat terjadi. Tidak .. "Tidak ..." **** "Tidak ..." Aluna terbangun dari tidurnya dengan napas tersengal-sengal. Ia menatap ke segala penjuru kamarnya. Mimpi itu terasa aneh. Siapa sebenarnya laki-laki itu? Apa hubungan lelaki itu? Dan - Mengapa mereka harus berpisah? Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya, dan satu pun tak ada jawaban yang ia dapatkan. Aluna mendesah pelan. Ia melirik nakas di sebelah tempat tidurnya. Tenggorokannya terasa kering.Ia butuh udara, dan sialnya air di gelas yang selalu ia siapkan di nakasnya sudah habis. Kembali, Aluna mendesah pelan. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan melangkahkan tungkainya menuju dapur. Aluna membuka pintu lemari esnya, meraih botol minuman lalu menuangkannya ke dalam gelas. Gadis itu mendesah lega, saat cairan itu membasahi kerongkongannya. Setelah lebih baik, Aluna kembali melangkahkan tungkainya menuju kamar Saat ia lebih tiba di depan pintu kamarnya, tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia mengernyit bingung saat samar-samar mendengar suara, yang dikeluarkan dari apartemen sebelah. Entah dorongan dari mana, Alihkan mendekati suara tersebut. Ia menempelkan indera pendengarnya ke dinding di sampingnya, hingga ia bisa mendengar suara itu lebih jelas. Dan, seketika Aluna bergidik jijik, setelah tahu suara apa yang didengarnya. Itu .. Suara desahan! **** Segera Aluna menjauhkan indra pendengarnya dari dinding itu. Dengan cepat ia melangkahkan tungkainya memasuki kamar berharap ia tak lagi mendengar suara menjijikan itu. Namun, beberapa saat suara itu semakin mengeras membuat Aluna menggeram kesal. Gadis itu langsung menutup seluruh tubuh mungilnya dengan bad cover tebal. Tak hanya itu, ia juga menutup indra pendengarnya menjepit bantal di antara bantal. Namun, sayang usaha yang ia lakukan sia-sia, ia masih bisa mendengarnya walau samar-samar. "Argh!" Geram Aluna. Ia mendudukkan dampak membanting bantal begitu saja, Aluna mengusap wajahnya kasar. Kesal dengan gangguan suara yang telah merusak rencana tidur indahnya. Jika saat ini ia berada di Indonesia, ia pasti sudah melaporkan kejadian yang tak senonoh ini. "Ya Tuhan." Desah Aluna. Ia kembali melangkahkan guna bantal yang ia lempar tadi. Selanjutnya Aluna kembali keranjang untuk beristirahat tenang. Aluna mencoba mendengarkan suara yang lebih baik dari pada suara yang tak penting itu. Ia menggapai hanphone dan memasang headset yang lalu membuka daftar lagu yang telah tersedia di handphonenya, ia menghabiskan volume di handphonenya dan berhptidak mendengarkann suara itu.Saat dirasa cukup nyaman barulah Aluna kembali memulai tidurnya yang diawali dengan membaca doa dihatinya. **** Setelah puas terpenuhi, Jo memberikan beberapa lembar uang kepada wanita dihadapannya. Dengan penuh menyetujui wanita itu menerima uang yang diberikan Jo. "Sebaiknya kamu cepat pergi dari apartemenku." "Tapi, Jo—" Wanita itu memasang wajah memelasnya agar diizinkan tinggal lebih lama di apartemen lelaki tersebut. Tubuhnya serasa lemas sehabis percintaan mereka. Bukan. Mereka tidak bercinta tetapi melakukan seks lebih banyak. "Saat ini aku hanya ingin sendiri, kamu bisa kembali nanti saat aku membutuhkanmu." Lalu Joundang wanita itu untuk keluar dari apartemennya, dan kembali menutup rapat apartemennya setelah wanita itu jauh meninggalkan kediamannya tanpa dipindahkan perhatian wanita itu. Dengan posisi yang masih sama, Jo menyandarkan punggungnya dibalik pintu dan perlahan Jo terduduk lemah di atas lantai dinginnya apartemennya. Jadi sampai saat ini setelah mendapatkan apapun keinginanya Jo tetap saja tak puas, ia tak nyaman dan ia tak puas kebahagiaan. Baginya percuma bisa mendapatkan itu kebahagiaan yang ia bisa kebahagiaan yang bisa dinikmati nafsu sesaat. Jo menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu menghembuskannya ke total, ia naik lalu melangkahkan tungkainya menuju sebuah meja yang telah tersedia beberapa botol anggur. Tangannya mulai meraih sebotol minuman lalu mengambil gelas untuk meminum minuman keras yang ada digenggaman pulih. Ia mulai menuangkan minuman tersebut ke dalam gelas dan mulai meminumnya. Namun, baru saja ia mulai meneguk air itu Jo membantingnya begitu saja botol anggur itu jadi habis tanpa tersisa. Jo semakin larut dalam keputusasaan dan kesendiriannya. **** Suasana sepi yang menyelimuti kediaman orang tua Aluna di Jakarta. Terlihat rumah itu seperti tak berpenghuni karena memang semenjak kepergian Aluna ke New York membuat rumah itu berubah drastis.Hanya rumah yang terlihat tempat berlalu lalang Aluna yang bisanya menyiram bunga setiap pagi dan sore, bahkan Aluna juga sering duduk diteras rumah untuk melakukan salah satu hobinya, yaitu memotret yang dibutuhkan. Karena bagi Aluna, foto itu abadi. Foto yang bisa diambil dari suatu hal yang tak bisa terulang kembali. "Ibu itu rindu sama Aluna Ayah, anak kita." “Iya, Ayah tahu, Bu. Tapi tidak mungkin untuk kita saat ini menelpon Aluna. ”Ridwan menghela napas lelah saat melihat itu akan memotong kalimatnya. “Disana pasti larut malam. Bagaimana kalau Aluna sedang tertidur? Lalu ia terganggu? Apa Ibu tidak terima kasihan? " " Ayah tahu, kan? Bagaimana perasaan aku sebagai Ibu?Aku hanya takut terjadi sesuatu yang dibatalkan. ”Tutur Sarah khawatir karna mendapat firasat tak baik akan beruntung. “Aluna sudah besar, Bu. Dia tahu mana yang baik dan mana yang tidak. ”Ridwan kembali mencari kegelisahan. Karena memang sejak awal, Sarah enggan memberikan izin kepada Aluna untuk pergi ke negeri Paman Sam itu. “Ayah yakin Aluna akan baik-baik saja. Lebih baik ibu, lakukan saja yang terbaik untuk dia. " " Tapi, Yah .. " " Percaya sama Ayah, Bu. Insya Allah dia akan baik-baik saja. " Pada akhirnya, Sarah hanya mampu mendesah pasrah. Demi Aluna, ia akan mampu mempercayai ucapan terima kasih. Ya, semoga pagi selalu dalam keadaan baik-baik saja di sana. **** Kutipan: “Kita bagaikan Bulan dan Matahari. Aku datang, ikut pergi. Engkau datang, aku pergi. ”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD