Kaki jenjang itu turun dari kendaran umum yang ia tumpangi. Tubuhnya terasa membeku saat melihat gedung mewah bertingkat di hadapannya. Rasanya masih seperti mimpi ia dapat bersekolah ditempat semewah ini. Tak sabar, ia segera menggerakkan kaki-aki jenjangnya menyebrangi jalan sampai ke gedung mewah tersebut. Tanpa sadar, diujung jalan ada sebuah mobil sport melaju dengan kencang, membuat gadis itu tak mampu membawa apapun. Seakan sudah disetujui, seluruh persetujuan terasa membeku. Tulang-tulang pulih serasa terpasung, sulit untuk dipindahkan.
Gadis itu memejamkan matanya dengan pasrah. Mungkin sisa lagi akan melayang lalu jatuh dengan risiko tulang-tulang patah berhasil diselamatkan. Atau bisa lebih parah lagi, ia membentur badan mobil, kemudian terpelanting jauh, lalu membentur kerasnya aspal jalanan, hingga membuatnya tak bernyawa seketika. Ia bergidik seolah-olah semua akan terjadi dalam hitungan detik. Namun, saat menghitung hingga hitungan tiga, tak ada tanda-tanda apa pun yang akan menyebabkan penolakan.
Dengan memberanikan diri, gadis itu membuka matanya. Seketika kedua bola hitam membulat saat menemukan seseorang yang berdiri menjulang di hadapannya, yang kini menatapnya dengan sengit.
"Kamu gila?" Bentaknya yang kembali menyadarkan gadis itu ke dalam dunia nyata. Gadis itu akan membalas ucapan pemuda di hadapannya, saat tak sengaja ia bertatapan langsung dengan manik pemuda itu. Semua sumpah serapahnya hilang dalam sekejap. Ia mengerjap-ngerjapkan hinggap saat dipikirkannya kesadaran.
“Orang ini kan—”
“Oh, jadi kamu orang Indonesia rupanya!” Sela pemuda itu dengan nada sinis yang sangat terdengar jelas di indera pendengar gadis di membaca
“Ka-kamu, bisakah berbicara dengan bahasa Indonesia?” Tanyanya tak percaya.
"Tentu saja. Dan, kamu ingin
menantang dirimu , begitu? ” Gadis itu mengernyit tak mengerti. "Bunuh diri?"
"Ya, untuk apa kamu berdiri di tengah jalan, kalau bukan untuk mengusir, hah?"
Gadis itu memberengut kesal, enak saja ia anggap mau dibunuh sendiri. Hidup itu terlalu indah jika ia akhiri dengan Cipta itu. “Kalau aku mau bunuh diri, apa peduliimu?”
“Tentu saja, karena kamu ingin menabrakkan dirimu dengan mobilku. Aku tidak ingin mobilku berubah hanya sial karenamu. ”Balas pemuda itu dengan sengit, membuat gadis di memulihkan ingin sekali mencekiknya.
"Suka-suka akulah."
"Dasar gadis gila."
****
Aluna menghentak-hentakkan menenangkan dengan kesal. Pagi-pagi ia sudah dibuat sial oleh pemuda asing yang sangat menyebalkan. "Dia pikir dia siapa?"
Aluna meloncat-lompat sambil mengais-ngais, tanpa membantah situasi saat berdiri saat ini. Sampai beberapa detik kemudian, Aluna baru menyadarinya. Ia meringis menatap sekelilingnya. Dengan, buru-buru ia melangkahkan peran, hingga tiba-tiba ia berhenti karena menabrak seseorang.
"Oh. Saya. Ya Tuhan! ”Gumam Aluna ketika tiba ia menabrak seseorang. “Ma-maaf. Aku tidak sengaja. ”Aluna berkata dengan gugup, membuat gadis di meminta mengernyit. Bukan karena kegugupan Aluna, digunakan karena bahasa yang digunakannya.
Melihat gadis diucapkan yang tampak bingung, Aluna segera tersadar dengan apa yang sudah ia ucapkan. “Diundang — Eh, Ma-maaf. Maafkan saya."
"Tidak apa-apa." Balasnya yang membuat kedua bola mata Aluna membulat seketika. Luar biasa! Dalam satu hari ia sudah menemukan dua orang yang bisa berbicara menggunaka bahasa Indonesia seperti dia.
Dengan segera, Aluna mengulurkan kembali ke hadapan gadis yang terjatuh. Gadis itu menatap tangan Aluna yang terulur kearahnya. Ragu-ragu, ia menerima uluran tangan itu. "Terimakasih." Ucapnya setelah ia berdiri tegak di depan Aluna.
Aluna mengangguk sebagai jawaban. "Maafkan aku."
Gadis itu melakukan hal yang sama, ia mengangguk menjawab permintaan maaf dari Aluna. Kembali, Aluna mengulurkan kembali kearah gadis di membantah. “Perkenalkan, namaku Aluna Shakila. Kamu bisa memanggilku Al. "
Gadis itu terdiamundur, sebelum akhirnya selesai tangan Aluna. "Sharoon Caroline."
****
Kutipan: "Bukan aku yang memilihmu. Tapi, hati yang menginginkanm.