Gadis itu melangkahkan kaki mulusnya, meninggalkan perkarangan Sekolah Juilliard saat lulus telah berakhir. Beberapa detik kemudian langkahnya terhenti saat suara meneriaki namanya, suara yang sepertinya ia kenal. Segera Aluna mulai memutar guna melihat siapa yang sudah diaktifkan dipanggil. Bibir Aluna tertarik membuat lekungan manis diwajahnya saat melihat orang tersebut.
"Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Aluna dengan dahi mengernyit.
“Seharusnya aku bertanya seperti itu. Karena aku bersekolah di sini. ”Jelas pemuda itu sukses membuat Aluna membuka mulutnya tak percaya.
"Ja-jadi, kamu seorang pemusik?"
Pemuda itu menggeleng, “Bukan. Aku seorang penari. ”Dan, sekali lagi menjawab pemuda itu membuat Aluna kembali membuka mulutnya. "Lalu, kamu sendiri sedang apa di sini?" Aluna segera mengatupkan kembali mulutnya yang dibuka. “Aku juga bersekolah di sini.”
“Wow. Penyanyi Benar-Benar Kejutan.”
Aluna mengangguk,‘Yah, Sangat-Sangat mengejutkan.’
Keduanya pun Kembali melanjutkan Langkah mereka Yang Sempat terhenti. Mendadak suasana menjadi sunyi. Tak ada yang berbalik yang berniat dibuka kembali, sampai yang baru itu pun kembali bersuara.
“Apa kamu tinggal bersama orang tuamu di sini?”
Aluna menggeleng, "Tidak." Jawabnya pelan. “Aku sendiri di sini. Ayah dan Ibuku berada di Indonesia. ”Lanjut Aluna yang membuat pemuda yang melihat. Bagaimana mungkin gadis seperti Aluna bisa tinggal di sini sendiri tanpa kedua orang tuanya?
"Sendiri?" Ulangnya yang mendapat anggukan pelan dari Aluna. “Apa kamu tidak takut?”
Salah satu alis Aluna terangkat, “Kenapa aku harus takut?”
“Karena ini New York. Kota yang penuh dengan perjuangan. ”Pemuda itu mengangkat bahunya dengan acuh.
“Aku tidak takut. Karena aku percaya Allah akan selalu melindungiku. ”Jawab Aluna dengan mantap.
"Allah?" Ulang pemuda dengan lirih. Sementara Aluna bingung, bagaimana harus menjelaskan ucapannya beberapa detik yang lalu? Aluna berpikir jika masa muda itu penting bagi seorang muslim.
"Ma-maksudku. Allah itu Tuhanku. "
" Tuhan? "Pemuda itu kembali mengulangi mengucapkan Aluna yang dibalas gadis itu dengan anggukan pelan. "Dari dulu aku tidak pernah percaya dengan keberadaan Tuhan." Berbagai ingatan buruk seketika berkelibat di dalam pikirannya.
Aluna mengernyit, "Kenapa?"
"Karena Tuhan memang ada, menganggap aku—" Tak pernah kehilangan mereka. Pemuda itu tidak disetujui oleh gamblang. Ia hanya mampu melanjutkannya di dalam hati yang jelas tak akan pernah terdengar oleh Aluna.
"Aku?" Ulang Aluna saat Nate hanya terdiam dan menerima ucapan terima kasih. "Nate, ada apa?"
Nate yang tersadar dari khayalan akan masa lalunya. Ia berusaha menampilkan senyuman yang terlihat sangat dipaksakan. "Tidak. Tidak ada apa-apa, Al. ”
Aluna menghela nafasnya,“ membantah, aku akan menjelaskan sesuatu kepadamu. ”Lalu ia pun meminta Nate untuk duduk dibangku yang tersedia di sekitar taman kampus. Alihkan sebuah buku dan pulpen dari dalam tasnya. Gadis itu sedang memutar duduknya untuk menghadap kearah Nate.
"Kamu lihat buku ini?" Tanya Aluna yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Nate. “Kamu pasti tahu bukan, yang membuat buku ini adalah manusia? Begitupun dengan pulpen ini. "
Nate mendengus mendengar penjelasan gadis disebelahnya itu. “Ya, aku tahu itu, dan kamu tidak perlu menjelaskannya karena aku bukan orang bodoh.”
Aluna terkekeh mendengar gerutuan pemuda itu. "Oke Oke." Aluna beranjak dari tempat duduknya lalu ia mengambil sehelai daun yang berceceran di atas tanah. Selanjutnya Aluna kembali duduk di sebelah kanan yang tengah menatapnya. "Dan kamu lihat daun Ini?" “Ini adalah salah satu ciptaan Tuhan. Coba kamu pikir. Apa manusia mampu membuat daun ini? Tidak bukan? ”Tanyanya yang dibalas dengan anggukan kepala dari Nate.
“Lalu, siapa yang menciptakannya?
"Tuhan." Jawab Aluna dengan mantap seraya memandangi kota langit New York.
"Tuhan?" Nate kembali mengulangi mengucapkan Aluna.
Aluna mengangguk, “Ya, Tuhan. Tuhan yang menciptakan daun, pohon, kita, bahkan seluruh jagad raya ini. ”Jelasnya, seraya kembali menatap pemuda disebelahnya. Sementara Nate mendadak terdiam. Pikirannya sibuk mencerna semua ucapan yang dilontarkan oleh Aluna.
"Nate .." Panggil Aluna pelan yang membuat Nate menoleh kearahnya. “Aku harap kamu akan percaya. Mungkin kamu memang tidak dapat dilihat. Tapi, percayalah bahwa Tuhan selalu dekat denganmu. ”Lanjut Aluna seraya membereskan barang-barangnya.
"Jika kamu memerlukan bantuan untuk menemukan Tuhan-mu, aku mau membantumu." Lalu, ia beranjak dari duduknya. "Kamu dapat menghubungiku kapanpun kamu mau."
****
Kutipan:
“Aku akan berdiri di sini. Bertahan menantimu. Sampai takdir berhasil lelah, lalu membawamu berjalan kearahku. ”