Enam

1260 Words
Aluna terus mengaduk es jeruk yang telah ia pesan sebelumnya. Sudah hampir 15 menit ia menunggu Nate di kantin Juilliard School. Setelah kejadian di taman beberapa hari yang lalu, tiba-tiba saja hari ini Nate mengajaknya bertemu. Dan, Aluna dengan senang hati meminta pemuda itu. Entah mengapa Aluna tetap lebih nyaman dan merasakan kesulitan berbeda saat ia tengah bersama dengan pemuda itu. Namun, Aluna tak berani menelaah lebih jauh yang tengah bersemayam dihatinya ini. Ia hanya menjawab tentang yang datangnya ke kota ini semata-mata untuk mengejar mimpinya bukan untuk mencari sosok pendamping. Sesudah Aluna melontarkan pandangannya keseluru penjuru kantin guna memastikan kedatangan Nate. Sedetik kemudian bibirnya tertarik membentuk lekungan manis diwajahnya saat melihat sosok yang telah ia nanti. Aluna melambaikan harapan memberi tanda pada Nate yang kini juga tengah tersenyum menatapnya. "Maaf, membuatmu menunggu lama." Ucap Nate dengan nada penyesalan seraya jatuhkan bokongnya dikursi tepat di depan Aluna. Gadis itu menggeleng, “Tidak. Tidak apa-apa. ”Lalu dengan perlahan ia meraih gelas milkshakenya dan meminumannya. "Ada apa?" Tanya Aluna saat Nate tak kunjung melepaskan suaranya. Nate menggeleng, “Tidak. Hanya saja— ”Ia megantungkan saat mengucapkannya, memperhatikan wajah gadis di hadapannya, sebelum akhirnya berhasil. “Aku senang ingin melihat wajahmu. Penghasilan kena pajak beberapa hari Penyanyi Aku Tidak melihatmu.” Aluna merasa darahnya Mengalir Begitu Cepat, MEMBUAT wajahnya terasa Anda mendidih. Ia yakin saat ini kedua pipinya sudah memerah, menunggu pemuda itu terus menatapnya dengan lekat. "Aku ingin tahu." Kamu demam? Wajahmu memerah. ”Ucap Nate seraya menempelkan kembali disimpan tepat di dahi Aluna, berniat memeriksa suhu tubuh gadis itu. Namun, tanpa Nate sadari sikapnya justru membuat wajah Aluna semakin memerah. Dan, debaran jantung Aluna semakin terdengar keras, sampai-sampai Aluna takut Nate dapat mendengarnya. Aluna menurunkan lengan pemuda dengan perlahan, “Aku tidak apa-apa.” “Mengatasi.” Sejenak perbedaan antara merekapun berubah menjadi canggung. Aluna bergerak-gerak gelisah. Ia tak begitu nyaman dengan suasana seperti ini. Dan, Nate yang menentang sikap Aluna pun berdeham, berusaha mencairkan suasana. “Al ..?” Aluna mengangkat alisnya seraya memandang Nate, “Ya?” “Boleh aku meminta sesuatu hal kepadamu?” “Suatu hal? Apa itu? ” “ Aku ingin melihatmu memainkan lagu untukku. ” **** Alunan nada mengalun merdu dari ruang latihan musik khusus piano. Seorang gadis terus-menerus memuji tuts-tuts piano dengan lincahnya. Untuk menutup lagu yang tengah ia mainkan. Tak lama Aluna memutar lagu itu diiringi dengan tepuk tangan yang meriah dari tokoh pemuda yang sedari tadi berdiri disisi grand piano. Aluna tersenyum, seakan mengisyaratkan terimakasih atas keantusiasan pemuda itu saat dimintanya bermain piano, buat pemuda itu mau tak mau ikut mengembangkan senyuman menawannya. “Permainanmu hebat sekali.” “Jangan memujiku seperti itu.” Pemuda itu mengernyit tak mengerti. "Kenapa? Sangat itu memang benar adanya, permainanmu sangat hebat. ” Aluna menggeleng. “Seorang ahli, hanya bisa memenangkan sang penciptanya. Kalau kamu memujiku, nanti aku akan meminta sombong atas pujian itu. ”Jelasnya, membuat pemuda itu menganggukan meminta tanda mengerti. "Mengalihkan." Seketika suasana menjadi hening. Hanya tarikan dan nikmatilah nafas yang sesuai dengan keinginan ruangan tersebut. Namun, hal itu tidak berlangsung lama saat tiba-tiba Aluna kembali dibuka suaranya. "Emm .. Nate?" Nate menoleh, ia memandang Aluna tepat dikedua manik mata gadis itu. Setelah kejadian di taman itu, entah mengapa Nate ingin selalu berada didekat Aluna karena itu memungkinkan merasa nyaman. "Ya?" Aluna tak langsung menjawab. Memilih, yang ia lakukan memilin-milin ujung baju yang tengah ia kenakan, membuat Nate yang terlihat mengernyit bingung. “Kamu kenapa, Al?” Aluna kembali membuka mulutnya, namun seketika ia menutupnya kembali. Otaknya terus-menerus berpikir, bagaimana cara mengungkapkan hal yang ingin ia utarakan. "Ayolah, Al. Bicara saja. Kamu kenapa? ”Nate terus menunggu Aluna. Ia menerima penasaran dengan apa yang ingin Aluna menjawab, sampai membuat gadis itu terlihat gugup sekali. “Aku — kamu kan sudah bisa melihatku bermain.” Aluna langsung membuka ucapannya, membuat Nate yang sudah kepalang penelaah menghela napas panjang. “Emm — sekarang bisakah aku melihamu menari?” Tanya Aluna yang membuat Nate melongo ditempatnya. “Jadi, sedari tadi kamu bisa menerima gugup itu hanya untuk membicarakan hal ini?” Tanyanya tak percaya. Aluna mengangguk-ngaggukan dengan lucu membuat Nate gemas melihatnya. "Ya ..." "Astaga Aluna—" Nate mendesah. “Kenapa kamu tidak membicarakannya sedari tadi?” “Aku kan malu, Nat.” “Kenapa harus malu, Al? Kita ini teman, bukan? ” Aluna yang mendengar hal itu segera mendongak, ia menatap Nate dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Rasanya, jauh di lubuk damai, ada ketidakrelaan saat Nate membantah kata 'teman' membantah. Namun, Aluna tidak mengerti apa arti dari rasa tersebut. Tapi, tak urung ia pun menganggukan persetujuan pertanda setuju dengan pertemanan. “Nah, kalau kita memang ikut. Kamu tidak perlu malu untuk mengatakan apapun yang kamu mau kepadaku. Selagi aku bisa, pasti akan aku penuhi. ”Ucap Nate setuju dengan anggukan kepercayaan, membuat Aluna mau tak mau tertular senyuman itu. "Terimakasih, Nate." Nate tak menjawab, ia hanya menganggukan menjawab. Lalu kemudian, ia meminta Aluna untuk kembali memainkan satu buah lagu untuknya. Dan, tanpa mereka sadari. Sedari awal permainan piano yang Aluna lakukan, seseorang yang berdiri tepat di depan pintu ruangan. Ia mendengarkan dengan jelas permainan indah dari Aluna, membiarkan seketika tersenyum bahagia. **** Aluna menundukan disetujui. Demi apa pun, ia tak berani mendongakan dikembalikan, menatap mata yang sedari tadi terus menatapanya dengan tatapan membunuh. Setelah tadi ia selesai bermain piano bersama Nate, ia diundang oleh kepala sekolah untuk mengeyam pendidikan. Saat sampai diruangan kepala sekolah itu, ternyata ada seorang pemuda juga yang menghadap ke tengah wanita membalikkan baya tersebut. "Emm — ada maksudnya sampai Mrs. Emily mengundang saya kemari?" Tanya Aluna dengan gugup. Ia memilin-milin ujung bajunya, kebiasannya saat tengah memperbaiki kegugupan. Pemuda yang duduk didepan sofa duduk sambil terus menatap tajam kearahnya. Aluna tak mengerti, apa yang membuat pemuda itu terlihat seperti membenci dirinya. Padahal, Aluna menerima ia hanya baru bertemu dengan pemuda itu dua kali. Di caffe dan di tengah jalan. "Jadi begini, aku sengaja mengajakmu Mrs.Shakila dan Mr.Albert untuk membahas tentang perlombaan musik tingkat internasional yang akan diadakan tiga bulan lagi." Ucap Mrs.Emily, membuat Aluna yang berbicaranya menyernyit tak mengerti. "Maksudmu Nyonya?" “Saya melihat di diri kalian, Ada bakat. Tapi, sulit bagi saya untuk menentukan salah satu dari kalian. Oleh karena itu, saya meminta kalian untuk berlatih piano setiap hari. Siapa pun yang paling bagus dalam permainannya, ia akan dipilih untuk mewakili lomba tersebut. Karena setiap sekolah, hanya boleh mewakilkan satu perserta saja. Bagimana? ” Aluna terdiam mendengarkan penjelasan dari wanita menjawab baya itu. Rasanya sulit untuk sulit. Ia baru saja mentransfer sekolah internasional ini, namun dengan tiba-tiba ia meminta bantuan untuk mempersiapkan diri sebagai perwakilan dalam perlombaan musik. Saat Aluna membuka mulutnya untuk membuka tawaran tersebut, tetapi seketika ia kembali menutupnya saat sebuah sahutan dibaca dari wanita mengakhiri bayah itu. “Saya harap kalian setuju dengan tawaran saya. Karena, aku tidak akan menawarkan ini untuk kalian semua. ”Ancamnya yang membuat Aluna bergidik ngeri. Merasa tak ada pilihan lain, Aluna pun disetujui. Mrs. Emily yang senang langsung tersenyum senang. Tatapannya membalikkan pemuda yang sedari tadi hanya berdiam diri saja. “Lalu, bagaimana dengan kamu, Jo? Selama ini memang kamu yang selalu mewakili sekolah kita, tetapi untuk kali ini kamu memiliki kontribusi yang akan mewakilkan sekolah ini. ” Jo yang memang dari awal bersekolah ditempat yang dimiliki itu. Biasanya disetiap perlombaan tentang alat musik piano, selalu Jo yang akan menjadi pesertanya. Namun, ia tak pernah memiliki saingan. Dan, ini untuk pertama kamuya, Joupakan tersaingi. Tapi, demi berhasil impian sang mama, Jo dengan mantap menganggukan disetujui. “Ya, saya setuju.” **** Kutipan: “Saat cinta mulai bersemi. Haruskah ia mati karena perbedaan? ”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD