Tujuh

453 Words
Jo menatap nyalang langit-langit kamarnya. Pikirannya terus memutar kejadian siang tadi. Saat dimana ia berlatih bersama seorang gadis yang entah mengapa hanya melihat matanya saja sudah mampu membuatnya b*******h. Jo melirik kebagian bawah tubuhnya saat merasakan sesuatu yang menyesakkan. Dan, seketika ia berdecak sebal. Baru saja ia membayangkan wajah gadis itu, dan hey—lihat reaksi adik kecilnya ini? Jika terus seperti ini, ia akan sulit untuk memenangkan perlombaan itu. Tidak. Tidak. Untuk saat ini jangan dulu memikirkan bagaimana bentuk tubuh gadis itu jika tidak memakai sehelai benang pun. Yang harus ia pikirkan sekarang adalah bagaimana mengalahkan gadis itu. Karena sedari dulu, Jo lah yang selalu mewakilkan universitasnya dalam ajang lomba piano apapun itu. Dan, baru kali ini, ada seseorang yang mampu menyayainginya. Jo tak akan pernah mau mengalah. Ia yang harus menjadi perwakilan lomba nanti. Apapun caranya akan ia lakukan agar dapat mengalahkan gadis itu. Otak cerdas Jo terus berpikir bagaimana caranya. Ia bangkit dari posisi tidurnya dan melangkahkan tungkainya menuju dapur, tempat dimana ia menaruh minuman favoritnya -vodka. Jo meraih botol vodka dari dalam lemari minumannya. Ia meneguk langsung minuman itu tanpa memakai gelas. Setelah beberapa kali tegukan, tiba-tiba salah satu ujung sudur bibirnya tertarik, membentuk senyuman miring kala sebuah ide terlintas di pikirannya. “Aku akan membuatmu jatuh kedalam pesonaku. Tunggu aku, sayang.” Dan, sekali lagi Jo meneguk minuman itu sampai ia benar-benar kehilangan kesadarannya. **** “Jo…” Jo berdeham tanpa membuka kelopak matanya. “Menurutmu cinta itu seperti apa?” Pertanyaan itu membuat Jo segera membuka matanya. Ia menatap heran pada gadis disampingnya. “Apa maksudmu?” “Sudahlah, lebih baik kamu jawab saja pertanyaanku.” Jo berdecak, “Aku tidak tahu.” Sharoon menatap Jo dengan dahi mengernyit. “Kamu tidak tahu?” Ulangnya tak mengerti. “Karena aku tidak pernah merasakan cinta.” Bahkan dari Ayahku pun aku tidak pernah merasakannya. Lanjut Jo dalam hati. Gadis itu menggeleng, “Aku tidak percaya.” Jelas Sharoon tak akan percaya. Karena Jo adalah salah satu pemuda yang begitu diidamkan di kota ini. Mana mungkin pemuda itu belum pernah merasakan cinta sekali pun. Jo kembali berdecak, “Sudahlah. Jangan membahas itu lagi.” “Tapi, Jo—” Pemuda itu menggeram kesal dan bangkit dari posisinya. Ia membelakangi Sharoon yang tengah menatap punggung dengan bingung. “Aku bilang sudah, ya sudah. Aku muak mendengar kata cinta.” Jo menghela napasnya, “Karena semenjak kematian ibuku, tidak ada cinta yang benar-benar tulus selain cinta dari ibuku.” Lanjutnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar. “Sebaiknya kamu cepat pergi dari tempatku.” Setelah berkata seperti itu Jo pergi ke kamar mandinya, meninggalkan Sharoon yang terus menatapnya. **** Quotes: “Aku tidak akan pergi. Jika bukan kamu yang memintaku untuk pergi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD