Untuk kesekian kalinya Aluna memutar bola mata saat tak sengaja tatapannya beradu dengan tatapan tajam milik pemuda yang entah bagaimana terus menatapnya. Jika bukan karena Mrs. Emily yang memintanya untuk berlatih hari ini. Ia akan mengambil satu ruangan dengan pemuda itu.
“Latihan hari ini, kita mulai dengan mengetes kemampuan mana yang kamu mainkan piano. Bagaimana? ”Ucap Mrs.Emily. Aluna menganggukkan persetujuannya agar ia menyetujui lagu pertama yang dipilihkan Mrs. Emily.
"Bagaimana dengan kamu, Joshua?"
Joshua yang sedari tadi terus memfokuskan pandangannya kepada Aluna pun tersentak kaget saat mendapat pertanyaan tiba-tiba dari Mrs. Emily. Ia mengalihkan pandangannya ke Mrs.Emily yang ternyarta juga tengah menatapnya. "Ya..ya baiklah."
Wajah Mrs.Emily semakin berbinar cerah. Ia beranjak dari duduknya dan langsung keluar dari piano berwarna putih. “Meminta, menunggu apa lagi? Mari kita mulai. ”
Aluna beranjak terlebih dahulu. Ia ingin segera menyelesaikan latihan kali ini. Karena entah mengapa ada satu ruangan dengan anak dari pemilik universitas ini merasa perlu terintimidasi.
Aluna duduk di depan grand piano itu. Kesepuluh jari-jarinya mulai bergerak lincah di atas tuts-tuts piano. Sesekali ia memejamkan mata, untuk menghayati lagu yang ia mainkan. Dan, semua hal yang Aluna lakukan tak sesuai dengan pandangan Jo, biarkan merasa takut. Permainan Aluna begitu indah. Jika Aluna terus seperti ini, ia pasti akan kalah. Dan, itu tidak mungkin terjadi. Tidak. Ia harus berpartisipasi dalam lomba nanti. Bukan Aluna. Dan, bukan sebaliknya.
Tak lama kemudian, suara tepuk tangan memenuhi ruangan tersebut. Mrs.Emily tak henti-hentinya menginstal senyum diwajahnya. “Luar biasa! Aluna kau sangat berbakat. "
Aluna hanya mampu tersenyum tipis mendapat pujian seperti itu. Ia melirik kearah pemuda yang duduk tak jauh dari tempat saat ini. Oh, sial - pemuda itu masih menatapnya dengan tatapan yang seakan-akan ingin menelanjanginya. Aluna pun segera mengalihkan pandangannya. Ia tak berani jika terlalu lama bertatap muka dengan pemuda itu. Ia takut. Sungguh.
Pemuda itu tersenyum tipis melihat reaksi yang Aluna berikan. Ia beranjak dari duduknya saat Mrs.Emily memanggilnya untuk mendekat. Sekarang layak untuk menunjukkan bakatnya. Ia akan membuktikan pada dunia yang hanya menyajikan yang terbaik dari yang terbaik.
****
Aluna menatap resah tetesan-tetesan air hujan yang membasahi kota New York sepanjang siang tadi hingga sore hari ini. Jika bukan karena panggilan Mrs. Emily yang memintanya untuk datang siang tadi, mungkin saat ini Aluna tengah bergelung manja di bawah selimut hangatnya. Menerima bahwa hari ini ia tidak termasuk jadwal kuliah.
Kembali Aluna melirik jam terbang yang menunjukkan pukul 17.10. Ia mendesah saat melihat tak ada tanda-tanda bahwa hujan akan berhenti. Terlalu sibuk dengan pikirannya, Aluna sampai tak berhasil dihadapkan pada seseorang yang kini telah hadir tepat disampingnya.
"Bagaimana kalau kamu ikut denganku?"
Pertanyaan itu sontak bikin Aluna tersentak kaget. Ia menoleh kearah sumber suara, dan menemukan sosok yang tak ingin dilihatnya memamerkan senyuman manis kearahnya, membuat tubuh Aluna membeku seketika. Sial. Ia terpesona dengan senyuman itu. Bagaimana mungkin lelaki iblis memiliki senyum semanis malaikat?
Aluna menggelengkan pikiran, berusaha mengusir pikiran-pikiran kotor di otaknya. Lalu, ia kembali menginstal wajah datarnya. “Kenapa kamu masih ada di sini?”
Salah satu dari pemuda itu terangkat saat mendengar pertanyaan bernada ketus dari bibir gadis di hadapannya. "Memangnya kenapa?" Tanyanya. “Bukannya kita memang baru menyelesaikan latihan 20 menit yang lalu?” Lanjutkan yang membuat Aluna mengembalikan kedua bola pandang jengah.
“Sudah. Lupakan. ”Sahut Aluna seraya mengibaskan dikumpulkan ke udara.
Pemuda itu memiringkan sedikit, "Jadi?"
Aluna mengernyit, "Apa?"
"Bagaimana kalau kamu ikut bersamaku?" Tawar pemuda itu lagi yang langsung dijawab dengan gelengan langsung dari Aluna. "Tidak."
"Tidak?" Aluna mengangguk. “Tapi kenapa?”
“Karena aku tidak ingin.” Jawaban Aluna sukses membuat pemuda itu menggeram kesal. “Lebih baik kamu segera pergi dari sini.” Perintanya yang tak bisa dipindahkan sama sekali. Alih-alih, justru sebaliknya, lebih memilih Alison, membuat gadis itu nyaman. “Bi-bisakah kamu menjauhkan tubuhmu ITU dariku?”
Pemuda ITU pun DENGAN Terpaksa memberikan Ruang Diantara mereka.
"Kenapa kamu masih belum pergi?"
"Karena aku ingin di sini." Jawabnya santai, membuat Aluna yang kali ini menggeram kesal. “Jika kamu tidak ingin pulang bersamaku. Jadi, izinkan aku untuk menemanimu sampai hujan dibatalkan berhenti. ”
“ Jika aku melepaskanmu pun, kamu akan tetap di sini bukan? ”
Pemuda mengangguk mantap atas pertanyaan Aluna. Setelah itu, suasana mendadak sunyi, yang terdengar hanya derasnya air hujan yang seakan berlomba membasahi kota New York. Saat ini, benar-benar tengah berada di lantai dua tempat di mana ruang musik berada.Merasa jenuh dengan lingkungan yang ada, pemuda itu bersenandung guna guna menghilangkan kesunyian di antara mereka. Hal itu membuat Aluna menjadi sulit. Ia menoleh kearah pemuda itu, “pergi kamu memang harus pergi dari sini.”
Pemuda itu mengernyit, “Benarkah?”
“Ya, cepat kamu pergi.”
“Kamu yakin ingin aku kembali ditempat ini?” Tanya pemuda itu. Aluna pun segera mengedarkan pandangannya. Mendadak tenggorokannya terasa kering. Ia menghabiskan salivanya dengan susah payah. Tempat itu sepi. Ah, bukan. Sangat sepi. Temukan orang-orang yang sebelumnya berada di lantai dasar sekarang sudah berbondong-bondong pergi. Tapi, dengan keras dipindahkan, Aluna mengangkat dagunya dengan angkuh, “Ya, aku yakin.”
Terdengar helaan napas kecewa dari pemuda tersebut, “berhasil jika itu maumu. Aku pergi. ”Pemuda itu pun melangkahkan rapat dengan selesai, meninggalkan Aluna yang berdiri terpaku ditempatnya.
Gadis itu kembali memandang sekelilingnya. Lagi-lagi ia harus kembali salivanya dengan susah payah. Bagaimana ini? Sekarang hanya tinggal dirinyalah yang ada di lantai dua. Tak ada kata pun yang menemaninya. Mendadak Aluna merutuki tindakan bodohnya yang mengusir pemuda itu pergi. Dan kini lihat? Ia kesulitan sendiri.
Aluna memandang kembali pemuda itu yang kian mundur dengan berganti arah. Ia menimbang-nimbang apakah ia harus kembali ke pemuda dan memintanya kembali? Ataukah — harus menunggu dan berdiam diri di sini. Oh, tidak. Ia tidak mau jika harus menunggu seorang diri. Ia butuh teman. Tapi — apakah meminta pemuda itu kembali adalah pilihan yang tepat? Sebelum pikiran Aluna memberikan pilihan, bibirnya sudah terlebih dahulu dikirim pemuda itu.
“Jo…”
Jo yang tengah berjalan membelakangi Aluna pun tersenyum puas saat mendengar Aluna menyambutnya. Dengan mencoba menampilkan wajah polosnya. Jo membalikkan dan memandang Aluna yang tengah menggigit bibir bawahnya, yang sialnya malah terlihat seksi dimata Jo.
Pemuda itu berdeham sementara guna menetralisir rasa tidak nyamannya, "Ya, Al?"
Aluna menunduk seraya meremas-remas pertama yang didukung dengan gugup, "A-minta tawaranmu untuk bepergian bersama masih terkait?" Tanya Aluna yang susah payahnya. Ia harap-harap cemas menantikan jawaban apa yang akan Jo berikan.
Jo mengangkat sebelah alisnya, “Tentu. Apapun untukmu pasti akan selalu berlaku. ”
Jawaban Jo sukses membuat Aluna tercengang sekaligus merona. Ia tak percaya Jo akan mengatakan hal yang tidak diduganya. Kadang-kadang pemuda itu digodanya. "Be-benarkah?" Tanyanya memastikan yang dibalas dengan anggukan pelan.
Aluna pun segera berjalan yang masih setia berdiri ditempatnya. Setelah berada tepat di hadapan pemuda itu, tiba-tiba suara menggelegar dari langit terdengar, membuat Aluna tersentak kaget dan menghambur ke dekapan pemuda di hadapannya.
Jo terpaku saat Aluna menerjang masuk ke dalam dekapannya. Ia menyelamatkan dunia. Jo tak pernah tahu apa yang dimaksud dengan mendadak diselimuti gairah saat kulitnya bersentuhan dengan kulit halus milik gadis di dekapannya ini. Tak ingin hal buruk terjadi, Jo segera mendorong tubuh mungil itu, menciptakan kehilangan yang terkait. Entah kenapa, Aluna pun tak pernah tahu kenapa ia merasa nyaman saat berada di dekapan Jo. Ia tersimpan-- seakan terlindungi.
“Ma-maaf. Aku— "
" Sudah. Tidak apa. ”Jo berusaha menenangkan Aluna,“ Lebih baik kita pulang sekarang. ”Ajaknya lalu mempersilahkan Aluna untuk berjalan terlebih dahulu dan ia pun mengambil di belakangnya.
****
Kutipan:
"Saat aku memelukmu, saat aku sadar - aku telah menemukan rumahku.