Sembilan

1508 Words
Gadis itu terus menggenggam erat lengan wanita tengah baya yang tengah terbaring di atas tempat tidurnya. Jika ia tak salah hitung, ini sudah bulan ke sembilan dari semenjaku jatuh pingsan saat tengah berada di kedai milik mereka dulu. Ya, dulu Karena sekarang kedai bukan milik mereka lagi. Gadis ini menjual menjualnya demi membiayai perawatan ibundanya, yang ternyata mengidap penyakit jantung sedari dulu tanpa ia sadari. Hal itu, perlu dipertahankan tak berguna. Anak-anak macam apa yang ia sampaikan hingga tiba di sana. Gadis itu menghela napas lelah, ia membawa lembut punggung tangan wanita yang sangat ia cintai itu, "Bu .." Gumamnya lirih mendengarkan tak terdengar. Pemandangannya mulai melarikan diri, terhalang oleh kaca-kaca tipis yang dengan sekali kedip siap meluncur membasahi pipinya. "Maafkan aku, Bu." Dan air mata itu benar-benar membasahi pipinya. Ia menangis bukan karena ia lelah menunggui ibundanya untuk sadar. Namun, ia menangis karena merasa takdir selalu mempermainkannya. Dulu, tampak terasa sempurna dengan adanya orang tua yang menemaninya. Berbagi kasih sayang setiap partisipasi. Dan semua itu berubah saat ia harus kehilangan sosok ayah dalam transisi. Ayahnya meninggal akibat tertembak saat tengah menjalankan tugasnya sebagai jurnalis. Dan, sekarang? Apa ia harus kembali mengulangi pahitnya kehilangan seseorang yang dicintai di dalam kehilangan? Sudah cukup ia kehilangan ayah, kalah masa pensiun, dan kehilangan harta berharga dalam perantaraan Semua ia lakukan karena sudah ia membutuhkan bantuan yang besar untuk operasi ibundanya. Ia membantu menjual demi kesehatan sang ibu. Karena apapun akan ia lakukan agar dapat dikembalikan dan kembali hari-hari bahagia bersamanya. "Aku menyayangimu, Bu." **** Aluna masih diam saat terus berjalan berdampingan dengan pemuda tampan yang sekarang sedang disampingnya, tidak ada yang memecahkan keheningan antara semua suara gesekan sepatu dengan lantai tempat mereka berpijak. Saat ini mereka tengah berjalan menuju area parkir di mana mobil Nate berada. Rencananya Nate akan mengantarkan Aluna pulang ke apartemennya, setelah mereka selesai dengan kelas masing-masing. Satu menit berlalu, suaraering ponsel menyadarkan bertemu. Nate berhenti langkahnya yang diambil Aluna. Pemuda itu segera merogoh saku celananya. Ia menghela napas saat melihat nama Mom tertera di layar ponselnya. Memang, selama ini Nate sudah jarang pulang ke rumah orang tuanya. Ia terlalu sibuk dengan dunia tarinya. Sekarang, pulang pasti sudah selesai kesabaran dan memintanya untuk segera pulang. Kembali, Nate menghela napas sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu. “Nate! Kemana saja kamu, hah? ” Nah, benarkan? Belum pernah Nate meminta pembuka, izin itu sudah menyambarnya, minta disetujuinya dan akan memaksanya untuk pulang ke rumah. "Halo, Bu." Sindir Nate. “Oh, ya — hallo.” Ucap Adelia di sebrang sana. “Kemana saja kamu, nak? Kenapa tidak pernah pulang? Kamu sudah tidak menyayangi Mom lagi? Kamu tidak merindukan Mom? ”Cecar Adelia membuat Nate mengurut pangkal hidungnya karena mendorong mendengar ocehanantau itu. Di sampingnya Aluna hanya memperhatikan saja tanpa berniat meninggalkan. Pemuda itu mendesah, “Ya, ya, ya. Aku akan pulang, Bu. Hari ini. Bu puas? ”Ucapnya pasrah. Disebrang sana Adelia tersenyum penuh kemenangan. “Tentu saja Mom puas. Biarkan Mom menunggu kedatanganmu, nak. ”Lalu panggilan pun diputuskan oleh sepihak oleh Adelia membuat Nate menggeram kesal akan sikap bisa mengaksesnya. “Ada apa?” Tanya Aluna setelah melihat Nate memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana. “Ibuku menyuruhku Pulang.” Keduanya Kembali melanjutkan Langkah mereka Yang Sempat terhenti. “Kalau begitu pulanglah. Aku bisa pulang sendiri. ”Ucap Aluna sesampainya mereka di dekat mobil Nate. Nate menggeleng. "Tidak. Kamu ikut denganku ke rumah orang tuaku. ”Putus Nate tanpa mau mendengarkan dari Aluna. Pemuda itu membukakan pintu penumpang untuk Aluna. Setelah memastikan gadis itu duduk dengan nyaman. Ia memutari mobil dan duduk di belakang kemudi. Lalu, mobil itu mulai melaju membelah jalanan kota yang padat merayap. **** Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, menatappenuh kagum isi rumah Nate. Rumah bergaya Eropa sangat terlihat megah. Meski dari luar tampak biasa, tetapi saat ini terlihat lebih dalam, isi rumah itu sangat-sangat menakjubkan. Rumah Nate benar-benar dirancang senyaman dan semenarik mungkin, membuat semua orang yang memasukinya pasti akan betah berlama-lama di dalam rumah itu. Sejak dulu, Aluna selalu memimpikan bisa tinggal di rumah seperti itu bersama orang yang akan menjadi teman pergi. Ditambah lagi dengan membebaskan anak-anak yang akan menghiasi rumah dengan tawa dan tangisannya. Tersadar akan khayalannya yang membuat Aluna terkikik sendiri. Sampai-sampai Nate yang berada di sampingnya menoleh, tampak membuka lengkap dengan kerutan di dahinya. "Al, kamu kenapa?" Tanya Nate. Aluna berhenti kikikannya dan menggeleng pelan. "Tidak. Tidak apa-apa. ”Jawab Aluna masih tetap dengan senyuman dari sisa-sisa kikikannya. "Yasudah, kamu duduk dulu di sini, aku pergi ke kamar tidur, aku ingin membersihkan tubuhku yang lengket ini." Ucap Nate yang dibalas anggukan kepala dari Aluna. Setelah Nate pergi ke kamarnya. Aluna kembali memandang satu-satu barang yang ada di ruang tamu ditempatkan saat ini. Lalu pandangnya terhenti, saat melihat sebuah pigura yang terpajang di dinding ruang tamu. Pigura itu berisikan sebuah foto keluarga. Ia beranjak dari duduk dan mencoba pigura itu, ingin membahas lebih dekat. Saat berada di depan pigura itu, Aluna mengernyitkan keningnya. Wajah bocah laki-laki yang dipangkuan seorang wanita itu serasa tak seorang pun untuknya. Ia seakan tidak pernah melihat wajah itu, tetapi Dimana? Saat tengah sibuk dengan tantangannya, tiba-tiba Aluna dikagetkan dengan sebuah suara. “Itu adalah foto kompilasi yang diputar 5 tahun.” Seorang wanita yang sekarang sudah berada di samping Aluna. Gadis itu menoleh dan mendapati seorang wanita yang menerima baya yang tak lain adalah ibu dari Nate. “Dia sangat menggemaskan saat itu.” 'Aluna tersenyum mendengar ucapan wanita itu entah mengapa ia sangat ingin tahu cerita saat Nate masih kecil dulu. “Saat Nate maih kecil, dia sangat cengeng. Bahkan, dia dulu sangat takut mendengar mesin mobil, hingga membuatnya menangis. ”Adelia terkekeh saat mengingat masa kecil putranya itu, membuat Aluna yang mendengarnya mau tak mau ikut terkekeh. “Nate juga termasuk anak yang tidak mudah menyerah. Dulu, dia bercita-cita ingin menjadi pembalap dan meminta terlarang. Tapi, Nate tidak pernah mau menyerah. Dia sangat keras kepala. Sampai akhirnya suamiku pun mengizinkannya. ”Ucap Adelia seraya menatap wajah putra dan berbicara dengan penuh sayang. Aluna mengernyit saat mendengar ucapan Adelia. “Tapi, kenapa sekarang Nate memilih menjadi penari?” Tanya Aluna penasaran. "Itu karena—" "Mom." Belum selesai menyelesaikan percakapannya, suara Nate sudah lebih dulu menginterupsi di antara semuanya. Aluna dan Adelia melepaskan tubuh mereka hingga berhadapan dengan Nate yang berada di bawah tangga. "Putra. Akhirnya kamu pulang, nak. ”Ucap Adelia. Ia berjalan menghampiri putranya dan langsung memeluknya dengan erat. Sementara Aluna memilih untuk kembali duduk di sofa ruang tamu seraya ibu dan anak itu tengah melepaskan rindu. Nate balas memeluk izin. "Ya, itu karena Ibu selalu memaksaku untuk pulang." Gerutunya. Wanita itu segera melepaskan pelukannya dan menjewer telinga putranya itu. “Anak durhaka. Memangnya kamu tidak merindukan Bu, hah? ”Geram Adelia. Nate meringis kesakitan saat menerima jeweran maha dahsyat dari diserahkan. "Ampun Bu, ampun." Rintihnya. Dan Aluna yang melihat hal itu hanya bisa tertawa. Keluarga sejati keluarga yang sangat harmonis. **** Jo menggeram kesal saat seseorang menepuk bahunya dengan tidak tahu dirinya, membuat minuman yang akan ia minum bahagia. "Sial." Umpatnya pelan. Ia menoleh, dan mendapati sosok yang ia kenal semenjak duduk dibangku SMP itu tengah menampilkan deretan giginya yang rapi. "Kamu—" Geram Jo seraya membersihkan dengan selembar tisu yang memang tersedia di meja bar di pulih. "Maafkan aku, bung." Kekeh pemuda itu. Ia lalu mendaratkan bokongnya tepat disebelah Jo yang masih menggerutu sebal. "Ada apa?" Tanya Jo tanpa basa-basi. Karena ia tahu, jika pemuda itu menemuinya, maka ia ingin mencari sesuatu yang mendukung. Dan, melihat senyuman yang langsung terpatri diwajahnya menunjukkan memang benar ada hal yang ingin disampaikannya. “Membiarkan — aku menyukai gadis itu.” Jawab pemuda itu seraya menerawang jauh. Tiba-tiba benak dan pikirannya dikeluarkan oleh wajah seorang gadis yang akhir-akhir ini selalu ditemuinya. Mendengar jawaban dari sahabatnya itu berhasil membuat Jo tersedak minumannya sendiri. Apa tadi yang diucapkannya? Menyukai seorang gadis? Apa ia tidak salah dengar? Tapi, Jo tetap itu pendengarannya masih bekerja dengan baik. Dan, itu berarti yang tadi didengarnya adalah sungguhan. Jo menoleh, ia menatap sosok sahabatnya yang malah malah malah bergidik karena pemuda itu makin melebarkan senyumannya. "Apa? Kamu menyukai seorang gadis? ”Tanya Jo memastikan yang langsung dijawab dengan anggukan mantap dari sahabatnya. "Kamu yakin?" Pemuda itu kembali mengangguk, "Sangat yakin." "Wow." Komentar Jo acuh, "Aku jadi penasaran tentang gadis yang tidak beruntung karena dicintai oleh sahabatku yang satu ini." Lanjutkan dengan santai tanpa memperdulikan protesan tak terima dari pemuda disebelahnya. "Aku yakin jika kamu melihatnya, kamu pun pasti akan memyukai." Sahut pemuda itu yang kembali membayangkan wajah gadis cantik yang tengah tersenyum. Jo mengedikan bahunya dengan acuh, "Dan saat itu terjadi, aku akan membuat dia jatuh cinta kepadaku." Pemuda itu seketika menoleh melihat Jo, "Tidak." Jawabnya cepat. “Kamu tidak boleh jatuh cinta kepadamu. Karena gadis itu hanya untukku. Milikku. ”Tandas pemuda itu dengan penyelesaian pada kata terakhirnya. Dan, Jo lagi-lagi hanya mengedikan bahunya tak peduli. Yang dia ingat saat ini adalah bagaimana cara membuat Aluna jatuh cinta dihargai. “Semoga kamu berhasil, Nate.” **** Kutipan: “Mencintaimu adalah risiko terbesar dalam hidupku. Tapi bersamamu aku siap menghadapi risiko sebesar itu. ”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD