"Hai, Al."
Aluna nyaris melompat kunci tengah dipegangnya saat mendengar sapaan hangat dari seseorang. Ia berbalik, dan mendapati pemuda yang dua hari lalu mengantarkannya pulang.
"Jo ..."
"Ya." Balas Jo seraya memamerkan deretan giginya yang tertata rapi.
“Ka-kamu ... Kenapa kamu berada di sini?”
“Karena apartemenku tepat disebelah apartemenmu.”
Aluna mendengus mendengar jawaban pemuda itu, “mau, apa kamu berada di depan apartemenku?” Tanyanya sambil lalu.
"Karena aku ingin mengajakmu pergi bersamaku."
"Hah?"
Jo mengangguk, "Ya, apakah kamu mau pergi ke Juilliard?"
"Y-ya. Tapi— "Belum pernah Aluna melanjutkan ucapannya, Jo sudah memotongnya terlebih dahulu," Sudah, tak perlu banyak berpikir. Ayo. ”Jo pun menarik lembut pergelengan tangan Aluna dan membuat gadis itu tidak mau mengambil setiap langkahnya.
****
"Aluna ..." Panggil Jo pelan saat mereka tengah dalam perjalanan menuju Juilliard.
Aluna menoleh, memandang Jo yang tengah fokus menyetir disebelahnya, “Ya ..?”
Jo menimang membuka, ia mendadak ragu membuka maksud mengucapkannya. Sampai akhirnya, Aluna kembali menegur Jo yang tak kunjung berbicara.
"Jo ..?"
Jo menoleh sekilas sebelum akhirnya kembali fokus ke jalan di hadapannya, "Ada apa?"
Pemuda itu tampak mengeluarkan ludahnya dengan susah payah, "Aku—" Jo menahan napasnya sebelum akhirnya mulai mengucapkan ucapannya, "Al, apa kamu — mau menjadi temanku?" Fiuh ... Pemuda itu pun menghembus napasnya dengan lega. Akhirnya, ia dapat mengungkapkan maksudnya.
Kedua mata Aluna sukses melebar saat mendengar permintaan pertemanan yang terlontar dari bibir pemuda. Jo, ingin memintanya sebagai teman? Apa ia tidak salah dengar? Yang benar saja. Bagi yang angkuh suka Jo ingin menjadi teman?
"Al ..." Panggil Jo seraya melirik Aluna dari sudut pandang saat mendapati perempuan itu hanya menatapnya dengan bola mata melebar, yang tampak tampak menggemaskan. Dan, Jo ingin ingin mengecup pipi bulat itu. Eh, tunggu. Apa tadi ia bilang? Ingin mengecup pipi gadis disebelahnya ini? Keputusan otak Jo memang sudah tidak waras.
Aluna mengerjapkan bagian beberapa kali sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Jo. "Kenapa tidak."
"Maksudmu?"
"Mulai hari ini kita berteman."
Kali ini Jo yang sukses melebarkan kedua perspektif, mendengar jawabab gadis disebelahnya. “Ka-kamu serius?”
Gadis itu mengangguk mantap, “Tentu saja.” Ya, tampak pertemanan di antara mereka yang tidak ada salahnya.
Diam-diam Jo tersenyum puas di dalam damai. Ini merupakan langkah awal untuk menjalankan rencananya.
Tanpa terasa sekarang telah sampai diarea Jullian yang begitu luas. Aluna membuka seatbeltnya dan membuka pintu mobil disebelahnya yang langsung dibuka oleh Jo.
"Tunggu."
Aluna mengernyit tak mengerti. “Kenapa?” Dan, pemuda itu menjawab menjawab ketidakmengertian Aluna, tetapi malah beranjak keluar lalu memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk Aluna. Gadis itu mengerjapkan gambar beberapa kali dengan tak percaya.
"Jo ...?"
Pemuda itu hanya tersenyum seraya mengulurkan kembali ke hadapan Aluna, dan dengan ragu Aluna menerina uluran tangan itu. "Seharusnya, kau tidak perlu melampaui ini, Jo." Ucap Aluna yang sekarang sudah berdiri tegak di hadapannya.
“Aku hanya ingin menanggapimu layaknya seorang teman.” Balas Jo seraya masih menggenggam tangan Aluna.
Gadis itu mengedikan bahunya dengan acuh, "Ya, terserah kamu saja, Jo."
****
Kutipan:
"Kamu adalah alasan aku untuk tetap tinggal, tetap terus memaksaku untuk pergi."