Saat ini dua kembali di satu ruang musik yang sama. Sedari tadi Jo terus melihat Aluna yang larut dalam permainan musiknya. Tanganya terus bergerak lincah dipindahkan tuts-tuts piano yang menciptakan nada-nada indah, membuat Jo ikut larut dalam musik yang dimainkan Aluna. Namun, tetap saja Jo tidak akan membiarkan Aluna menang dan mewakili Juilliard Sekolah sebagai peserta lomba piano karena hakikatnya Jo tidak ingin tersaingi oleh persaingan.
“Permainanmu sungguh indah.” Jo memuji Aluna dengan senyuman manis yang menghiasi wajah tampannya. Aluna hanya membalasnya dengan senyuman manis pula. Ia kembali memejamkan kembali dan menikmati permainannya. Sementara Jo semakin membuat gemas melihat gadis mungil ini, membuat ia ingin melepaskan, mengigit pipi bulatnya dan menghisap bibir indahnya seraya memeluknya dengan erat. Tidak. Jo segera menggelengkankan berkali-kali guna mengenyahkan pikiran-pikiran kotor yang berkelibat di otaknya.
"Jo? Kamu tidak apa-apa? ”
Tanpa Jo sadari perbuatannya itu terlihat oleh Aluna. Gadis itu mengernyitkan dahinya seraya menatap Jo dengan pandangan bertanya. Dan, Jo segera tersadar dari pikiran-pikiran kotornya itu. "Tidak." Jawabnya serak. Jo berdeham sekali lalu kembali berkata, "Aku tidak apa-apa."
Aluna hanya mengangguk pelan. Ia kembali melanjutkan permainannya. Tak ingin mengambil pusing dengan apa yang pemuda itu diambil. Dan, Jo kembali memfokuskan pikirannya terhadap permainan Aluna. Tiba-tiba pintu ruang musik terbuka lebar, Mrs.Emily melangkah masuk dengan begitu anggunnya. "Oh, maafkan aku karena terlambat."
Aluna yang sudah menghentikan permainannya pun segera beranjak dari duduknya dan pergi Jo. "Tidak apa-apa, Nyonya. Aku bisa memaklumi keterlambatanmu."
Nyonya Emily mengangguk pelan, "Yah, ada banyak hal yang harus aku urus." Ucapnya seraya memijat perlahan pelipisnya. Memang akhir-akhir ini banyak sekali yang harus ia urus selain tentang perlombaan piano yang akan diadakan bulan depan. "Meminta, bagaimana jika kita memulai latihannya?"
Aluna dan Jo pun serentak mengangguk menjawab pertanyaan Mrs. Emily. Mereka pun segera memulai latihan yang diawali dengan Jo. Pemuda itu begitu lincah menggerakkan jari-jari menggantikan di tuts-tuts piano menghasilkan nada indah yang menghanyutkan bagi pendengarnya.
Aluna yang mendengar alunan nada itu hanya mampu terpaku ditempatnya. Akhir-akhir ini ia memang cukup sering dimainkan permainan piano untuk Joshua Albert, namun tetap saja ia selalu hanyut dalam setiap nada-nada yang dimainkannya. Aluna yakin ia tak akan mampu mengalahkan Jo. Jauh di dasar hati, ia memang memimpikan untuk mewakili Juilliard dalam perlombaan nanti. Namun Aluna sadar, ia tidak sebanding dengan Jo. Maka dari itu, saat pertama kali ia mendengarkan alunan nada dari permainan pemuda itu, ia sudah memantapkan diri untuk mengubur mimpi itu dalam-dalam.
Tak lama, Jo selesai dengan permainannya. Mrs.Emily pun segera mempersilahkan Aluna untuk bermain sampai tanpa terasa sudah beranjak sakit.
"Baik, untuk latihan hari ini cukup sampai di sini." Ucap Mrs.Emily menyudahi latihan mereka. “Omong-omong, berhubung waktu kita sudah tidak banyak lagi, saya akan segera menyelamatkan penyeleksian. Mungkin dua atau tiga kali latihan lagi aku sudah bisa memutuskan siapa yang akan menjadi Juilliard. ”Lanjutkan seraya memandangi anak didiknya dengan pandangan meminta persetujuan.
“Dua atau tiga kali latihan lagi? Aku harus bergerak cepat. ”Jo membatin seraya menganggukan pelan sambil menerima Aluna.
Mrs.Emily tersenyum puas melihat respons kedua anak didiknya itu. "Meminta, jika begitu permisi saya." Ia pun segera beranjak meninggalkan Aluna dan Jo yang masih terdiam menerima ucapannya.
Setelah kepergian Mrs.Emily, pasangan pun masih tetap terdiam ditempatnya masing-masing. Hingga suara adzan yang berkumandang di ponsel Aluna menyentak kembali ke alam sadar. Aluna segera meraih ponselnya. Dan, ia sadar ini sudah mulai mengatur waktu sholat. Ia pun menatap Jo dengan canggung. “Em — Jo, haruskah aku pergi.”
Jo mengernyit, “Pergi? Biar aku antar. "
Aluna menggeleng pelan," Tidak berhasil. Aku tidak ingin merepotkanmu. ”Ucapnya, seraya membereskan barang-barangnya yang tak luput dari pandangan Jo.
"Oh, ayolah, Al. Hanya mengantarmu dan itu tidak merepotkanku. ”Aluna yang sudah selesai membereskan barang-barangnya pun terlihat akan membantah, namun Jo segera menyelesaikannya. "Maaf kita teman?" Tanya Jo yang menjawab dengan anggukan pelan dari Aluna. "Nah, jadi tidak ada alasan untuk kau menolak tawaran seorang teman." Lanjutkan yang membuat Aluna mau tak mau mengiyakan ajakannya.
****
"Kenapa kita kesini, Al?"
Aluna menoleh kearah Jo yang menatapnya tak mengerti. Jelas saja Jo tak mengerti karena Aluna berhasil menuju sebuah musholla. Ayah Jo memang sengaja membuat mushola kecil di sini sampai saat ini. Jo tak pernah tahu apa yang harus dibangun.
“Aku ingin beribadah dan kamu cukup menunggu aku di sini.” Ucap Aluna seraya pergi meninggalkan Jo di depan musholla.
"Dia — seorang muslim?" Gumam Jo lirih. "Tapi—" Kenapa? Kamu mulai senang?
"Tidak." Jo menggelengkan setuju dengan cepat, mengusir pikiran-pikiran yang menyatakan bahwa ia menyukai Aluna. Tidak. Ia tidak dinikmati. Lalu, Jo menatap Aluna yang tengah berwudhu dan saat Aluna berbalik sambil menyelesaikan yang berwudhunya membuat tubuh Jo seketika membeku ditempatnya. Jo melihat wajah Aluna sangat meningkat, dan gadis itu terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya. Dan, entah kenapa debaran jantung Jo begitu terasa membuat Jo Takut bisa mendengarnya karena itu membuatnya jauh jauh.
****
"Sha, hal terbesar apa yang kamu inginkan di dunia ini?" Tanya seorang lelaki remaja seraya menatap ke arah Gadis yang tengah berbaring disampingnya.
"Hal terbesar yang aku inginkan adalah, menjadi seorang penari yang hebat di dunia." Sharoon menjawab seraya menatap langit malam yang taburan bintang dengan pandangan menerawang. Menari adalah impiannya sedari masih duduk dibangku sekolah dasar. Saat itu, Sharoon kecil begitu terpesona melihat sang ibu yang tengah menari dengan begitu lincahnya, hingga membuat ia memutuskan saat itu juga untuk menjadi seorang penari, seperti memungkinkan. "Kamu tahu bukan, Nate, aku ingin sekali menjadi penari seperti ibuku?"
Nate mengangguk paham dengan apa yang diinginkan oleh Sharoon. Ia kembali membalikkan pandangannya memandang langit.
"Kamu sendiri? Hal Terbesar APA Yang kamu inginkan di Dunia Suami?”
‘Yang aku inginkan Hanya ada satu.’
Sharoon menoleh,‘Apa ITU?’
Lelaki remaja ITU pun Ikut menolehkan kepalanya,‘Hidup bersamamu.’Lanjutnya DENGAN senyuman mengembang diwajah tampannya.
“Kenapa?”
“Karena aku mencintaimu.”
Gadis itu mendesah pelan saat menjawab jawaban dari lelaki disebelahnya itu. “Jika suatu saat aku pergi. Apa kau akan tetap mencintaiku? ”Tanyanya dengan suara lirih namun masih mampu didengar oleh Nate.
Seketika lelaki itu langsung terbangun dari posisi berbaringnya. "Apa maksudmu? Kamu akan pergi aku? ”Geramnya yang tak mampu disembunyikan. Ia tak akan membiarkan Sharoon meninggalkannya. Tidak akan.
Sekali lagi gadis itu mendesah seraya ikut bangkit dari posisinya.
"Aku hanya bertanya." Seraya Ucapnya mengedikkan bahu dengan acuh.
"Aku akan tetap mencintaimu." Nate menjawab dengan mantap.
“Kamu yakin?”
Nate mengangguk, “Ya. Karena dari awal kamu sudah menanamkan namamu dihatiku. Dan, aku tak mampu membuka lagi nanti kamu pergi meninggalkanku. ”
Dan, Sharoon hanya mampu tersenyum mendengarkan jawaban dari lelaki itu.
****
Nate mengusap kekerasan yang dilakukan. Bayang-bayang masa lalunya kembali hadir. Kenapa gadis itu harus kembali di kehidupannya setelah 5 tahun berlalu? Gadis itu pergi meninggalkannya tanpa memberi alasan apa pun. Saat itu, Nate berharap Sharoon hanya membutuhkan waktu karena kemauan dan akan kembali kala perasaannya sudah menbaik. Namun, sepertinya berhasil tak seindah harapannya. Gadis itu akan pergi tanpa mau repot-repot kembali lagi. Ia marah, kesal, kecewa, tetapi ia tak mampu untuk mendukung apa-apa. Ia hanya seorang lelaki remaja yang duduk dibangku sekolah menengah pertama yang baru sadar bagaimana ia jatuh cinta.
Pemuda itu kembali meneguk minumannya. Ia memandang kendaraan-kendaraan yang melewati lalang di bawah sana dari balik jendela apartemennya. Setelah pertemuaan tidak diduganya dengan Sharoon, Nate memutuskan untuk segera kembali ke apatemennya. Karena percuma saja ia masuk jika pikirannya datang dengan bayang-bayang gadis itu. Apa alasan gadis itu meninggalkannya? Apa selama ini Sharoon tinggal di New York? Apa gadis itu bersekolah di Juilliard seperti dirinya? Apa ia masih mencintai gadis itu?
Pertanyaan terakhir yang berkelibat dalam pikirannya menyentak Nate. Apa dia masih mencintai Sharoon?
"Apa aku masih mencintainya?"
Dan, seketika Nate sadar akan apa yang ia ucapkan. Ia menggelengkan perlahan-lahan. Tidak. Itu tidak mungkin masih mengingat gadis itu. Ia membencinya. Karena gadis itu, Nate harus merasakan sakitnya ditinggalkan dan perihnya mundur. Namun, jauh didasar kemenangan, Nate lebih membenci dirinya sendiri yang tak mampu melakukan apapun saat Sharoon meninggalkannya. Ia benci saat ia kehilangan Arah, karena pusat kehidupannya ada pada gadis itu. Ia benci saat ia harus menghabiskan hari-menerima seseorang yang dianggapnya sebagai belahan jiwa. Dan, ia senang saat tersadar bahwa rasa itu memang masih tersisa dihatinya.
****
"Kita mau kemana, Jo?" Aluna bertanya saat meminta jalan yang ia lalui bukan jalan menuju ke apartemennya. Ia menoleh, menatap Jo yang terlihat fokus di jalanan. "Apakah kamu mau mengantarkan aku pulang?" Tanyanya lagi saat dirasa Jo tidak menjawab pertanyaan sebelumnya.
Jo mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Tapi ini bukan jalan menuju apartemenku."
"Aku memang akan mengantarmu pulang." Jo menoleh sekilas sebelum kembali fokus pada jalanan. "Tapi, setelah aku menunjukkan sesuatu kepadamu." Lanjutkan membuat Aluna mengernyit tak mengerti.
“Sesuatu?” Ulang gadis itu yang langsung mendapat anggukan dari Jo. "Apa itu?" Dan kali ini Jo tak menjawabnya. Pemuda itu hanya tersenyum misterius yang membuat Aluna semakin penasaran. Setelahnya, jangan ada percakapan lagi sampai akhirnya Jo memarkirkan mobilnya di parkiran yang merupakan gedung perkantoran. Pemuda itu pun mengundang Aluna sampai yang lalu menggandeng tangan gadis itu menuju gedung itu, lalu yang sudah selesai menuju yang mengangkat disebelah pojok.
"Untuk apa kita kemari, Jo?" Akhirnya Aluna pun menyuarakan pertanyaan yang memang sudah ingin ditanyakannya saat pertama kali mereka tiba.
Jo menoleh setelah memencet tombol angka pertemuan. “Sebentar lagi kamu juga akan mengetahuinya.” Jawabnya misterius bertangkat dengan angkat yang menandakan bahwa semuanya telah dilepas yang mereka tuju. Jo pun segera menarik Aluna keluar yang tanpa mereka sadari bahwa kedua tangan mereka tidak terlepas sejak menginjakan kaki di gedung itu. Pemuda itu membimbing Aluna ditempatkan di dalam ruangan yang disediakan di sana. Lalu, Jo pun menaiki tangga itu yang diambil Aluna di belakangnya. Dan, saat Aluna menginjakan kaki ditangga terakhir, kuping seketika membeku ditempat dengan mulut menganga.
"Jo ..."
Jo menoleh seraya tersenyum melihat reaksi gadis itu. "Ya ..."
Aluna segera berlari menuju pembatas atap gedung. Dari sini ia dapat melihat pemandangan kota New York. "Ini indah sekali." Gumamnya seraya merentangkan kedua tangan dan menutup sudut.
Jo berjalan membuka Aluna dan berdiri disebelah gadis itu. “Kamu senang?”
Aluna membuka kedua matanya lalu menoleh kearah Jo, “Tentu. Ini benar-benar indah. ”Lalu, ia kembali menutup, merasakan semilir angin menerpaar. Ini sungguh indah sekali. Aluna tak pernah menyangka Jo akan meminta tempat seperti ini.
"Sebenarnya, yang ingin aku tunjukkan bukan pemandangan kota New York."
Mendengar ucapan Jo, Aluna kembali membuka kedua pandangan dan memandang pemuda disebelahnya. "Lalu?"
Jo mengangkat bahunya dengan acuh, "Ada hal lain yang ingin aku tunjukan."
"Apa itu?"
Jo melirik selai yang melingkar. “Sebentar lagi kamu akan mengetahuinya.” Jo kembali menjawab dengan kalimat sama seperti sebelumnya. Dan, benar-benar apa yang Jo ucapkan, tak lama semburat jingga dari ufuk barat terlihat begitu mempesona dan hal itu kembali membuat tubuh Aluna membeku.
"Inilah yang ingin aku tunjukan."
Aluna menggeleng tak percaya, "Jo ... Ini ..." Gadis itu pun tak bisa mengeluarkan kata-katanya. Ini semua benar-benar luar biasa indahnya. “Terimakasih, Jo.” Ucapnya seraya menoleh menatap Jo.
Jo mengernyit, "Untuk?"
"Karena telah membawaku ke tempat seindah ini." Aluna menjawab dengan senyuman yang tak pernah surut dari mencoba.
"Tidak masalah. Aku senang bisa melihatmu tersenyum. ”
Dan, Aluna semakin melebarkan senyumannya mendengar jawaban pemuda disebelahnya. Perlahan, Jo pun meraih tangan Aluna dan mengenggamnya dengan erat.
****
Kutipan:
“Kau tahu? Saat kedua tangan kita saling menyatu, saat aku merasa hidupku seakan lengkap. ”