Setelah mengimplementasikan sholat subuh, Aluna berencana untuk berlari menuju taman yang diperlukan tak jauh dari apartemennya. Dulu, saat di Indonesia, Aluna memang cukup sering melakukan kegiatan lari pagi seperti ini. Maka dari itu, hari ini ia harus kembali menjalankan runitas tersebut. Saat beberapa langkah lagi ia akan tiba di taman, tiba-tiba seseorang memanggilnya. Aluna menoleh, mencari sumber suara tersebut, dan ia menemukan sosok Nate disebrang jalan. Pemuda segera bergerak menuju posisi berdiri saat ini.
"Hai, Al." Sapa Nate sesaat setelah tiba di hadapan Aluna.
"Oh, hai, Nate." Aluna melambaikan meminta. “Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Tanyanya.
Nate mengedikkan bahunya dengan acuh, "Hanya sedang menikmati udara pagi." Balasnya. “Bagaimana kalau kita duduk di sana?” Nate bertanya seraya menunjuk kearah bangku kosong yang ada di taman tersebut.
Aluna mengangguk setuju. Pergi pun berjalan bersisian menuju bangku itu.
"Aluna ..." Panggil Nate seraya menjatuhkan bokongnya yang dibalut Aluna dengan deheman pelan. "Aku—" Mendadak Nate yang merasa malu saat akan mengutarakan maksudnya.
“Ada apa, Nate?” Tanya Aluna saat dirasa Nate tak kunjung melanjutkan ucapannya.
"Aku—" Pemuda itu menarik napas lalu menghembuskannya dengan perlahan. "Ingin menjadi seorang muallaf."
Tiga kata itu berhasil membuat Aluna terpaku ditempatnya. Ia mencubit perlahan pipinya, lalu meringis saat dirasa sakit karena cubitannya. Gadis itu tampak tak percaya kearah pemuda disampingnya. "Ka-kamu ... Ingin menjadi muallaf?" Ulang Aluna yang masih percaya dengan apa yang didengarnya barusan dan anggukan kepala dari Nate membuat udara tampak meluruh membasahi pipinya. "Subhanallah ..."
Pemuda itu dirundung rasa takut saat melihat Aluna menangis. "Al ... Kenapa kamu menangis?" Tanyanya khawatir.
Aluna menggeleng, “Aku tidak apa-apa. Hanya saja ... Aku merasa bahagia. ”Ia tak mampu memikirkan bagaimana perasaannya saat ini.
"Apa itu artinya aku bisa menjadi muallaf?"
Aluna mengangguk mantap, "Tentu."
"Apa kamu juga mau mengajariku?"
Sekali lagi Aluna mengangguk dengan mantap. “Pasti. Aku pasti akan mengajarimu. ”Jawabnya penuh keyakinan. Dan, Nate hanya mampu tersenyum seraya mendesah lega. Ia rasa ini akan menjadi permulaan yang baru untuk dirinya sendiri.
Tanpa seseorang sadari, sedari tadi seseorang memperhatikan setiap gerak-gerik mereka. "Jadi, gadis itu Aluna." Gumamnya lebih kepada diri sendiri. Ia menggeram saat sadar bahwa gadis yang diminta oleh sahabatnya adalah Aluna. Ini tidak bisa dibiarkan. Pemuda itu akan menjadi penghalang rencananya. Secepatnya, ia harus bergerak agar Aluna jatuh ke dalam pelukannya. Lalu, sosok itu pun pergi meninggalkan kedua orang berbeda gender tersebut.
"Emm ... Nate, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Tanya Aluna pelan setelah keheningan yang cukup lama tercipta di antara keduanya, yang dibalas anggukan pelan dari pemuda itu. "Mengapa ... Kamu tidak terlihat mirip dengan orang tuamu?" Tanya Aluna hati-hati. Dan, sesaat ia menjawab pertanyaan itu bisa saja berakibat salah paham, ia pun dengan buru-buru menambahkan. “Ti..tidak usah dijawab. Maafkan aku. ”Ucap Aluna dengan terbata.
Nate menggeleng, "Kamu benar, Al." Ucapnya. "Aku memang tidak ada kemiripan sama sekali dengan mereka."
Ucapan Nate membuat Aluna semakin dirundung rasa senang. "Nate, aku ...."
Sebelum Aluna sempat diperbaiki Nate sudah dipotongnya. “Tidak apa-apa, Al.” Ia mendesah pelan, “Aku memang bukan anak kandung mereka.” Ucapnya pelan, namun mampu membuat tubuh Aluna membeku seketika. Bibirnya membuka seakan ingin mengubah sesuatu, tetapi entah mengapa tak ada satu kata pun yang mampu keluar.
"Dulu, ibuku mengatakan bahwa ia menemukan aku saat aku mengunjungi 3 tahun." Nate mendesah pelan, "Saat itu, mereka tengah berada di Indonesia karena ada pekerjaan yang memerlukan mereka tinggal di dalam waktu yang lama." Dan, mereka pertama kali melihatku, kompilasi aku tengah digendongan siapa yang kehilangan akal sehatnya ... "
" Maksudmu orang gila? "Aluna memotong ceritanya yang dibalas anggukan pelan dari Nate.
“Ayahku tidak sengaja menabraknya, yang membuat orang tersebut meninggal. Beruntung saat itu aku tidak ikut kehilangan nyawaku. ”Ucapnya. "Sejak saat itu, berhubungian tidak memiliki seorang anak, maka ayah dan ibu mengadopsiku."
"Lalu, apa saat ini kamu sudah tahu kedua orang tua kandungmu?" Aluna bertanya apa yang sudah bersarang dibenaknya saat mendengar cerita pemuda itu.
Nate menggeleng sebagai jawaban dan Aluna hanya mampu mengusap pelan bahu pemuda yang duduk disebelahnya tersebut. Lalu mendadak suasana berubah menjadi sunyi. Berhasil memecahkan pikiran masing-masing hingga akhirnya suara Aluna memecahkan keheningan itu. "Nate .." Panggil Aluna pelan yang hanya dijawab dengan deheman pelan pula dari Nate. "Emm ... Bagaimana kalau aku — menyukaimu?" Tanyanya dengan suara lirih mendengarkan tak terdengar. Namun tidak untuk Nate, itu bagaikan suara petir yang menggelegar, yang sanggup membuatnya cocok mendadak kaku.
****
Aluna terpaku memandang pemandangan kendaraan yang berlalu lalang di pagi hari ini dari balik balkon kamar apartemennya. Kilasan-kilasan kejadian beberapa jam yang lalu masih terbayang dalam benaknya. Bagaimana seorang Nate menolak pernyataan cinta darinya dan itu cukup membuat Aluna layak tak berarti.
"Nate .." Panggil Aluna pelan yang hanya dijawab dengan deheman pelan pula dari Nate. “Bagaimana jika aku — menyukaimu?” Tanyanya dengan suara lirih senang tak terdengar. Namun tidak untuk Nate, itu bagaikan suara petir yang menggelegar, yang sanggup membuatnya cocok mendadak kaku. Ia tidak pernah menyangka jika Aluna meminta hukuman seperti itu. Tapi, yang lebih tak ia sangka adalah Ia tidak senang bahagia mendengarnya? Apakah ia juga menyukai gadis itu? Kamu memang suka malah kamu menyayanginya, tapi kamu tidak mencintainya. Sisi lain hati Nate menjawab dengan tegas.
Sementara Aluna berharap cemas akan menjawab dari pemuda yang duduk di sebelahnya itu. Ia tahu ini adalah yang paling membingungkan. Namun sungguh, Aluna tak bisa memendamnya terlalu lama lagi. Sejak awal ia melihat gambar Nate, ia sudah mengaguminya. Tapi ... Mendadak bayangan sosok Joshua melintas dipikirannya, dan itu cukup Aluna terguncang. Tidak. Mengapa bayangan Jo datang disaat yang tidak tepat? Aluna yakin ia hanya menyukai sosok Nate.
Nate berdeham pelan yang menyentak Aluna kembali ke alam sadar. Ia menoleh, menatap wajah pemuda itu dari samping dan saat Nate pun membiarkan diizinkan, mendadak Aluna menjadi salah tingkah. Ia langsung memalingkan dipindahkan ke Arah lain. “Aku senang sekali perasaanmu, Al.” Ucap pemuda itu pelan. "Tapi ... Maaf, aku tidak bisa." Lanjutkan seraya bangkit dari posisi duduknya dan pergi meninggalkan Aluna begitu saja dengan kehampaan yang ia berikan.
Aluna tersadar dari lamunannya saat nadaering ponselnya berbunyi. Ia pun beranjak masuk ke dalam kamarnya lalu meraih ponselnya yang tergeletak sembarang di atas tempat tidur dan menempelkan benda canggih itu ke indra pendengarnya. "Halo ..."
"Al ..." Sapa seseorang disebrang sana.
"Ya, Jo. Ada apa? ”
“Aku berada di depan apartemenmu.” Balas Jo yang membuat Aluna langsung beranjak menuju pintu utama. "Hai ..." Jo menyapa sesaat setelah Aluna membuka pintu, ia lalu melepaskan ponselnya yang dibuka oleh Aluna.
"Jo? Kenapa kamu ada di sini? ”Tanya Aluna dengan dahi mengkerut.
“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”
“Ke suatu tempat?” Ulangnya yang mendapat anggukan dari Jo. "Kemana?"
Jo kembali tersenyum misterius. "Rahasia." Ucapnya.
“Tapi ini masih pagi, Jo.”
“Justru itu. Mumpung masih pagi, makanya, aku mengajakmu pergi sekarang. ”Balas Jo. “Lebih baik sekarang kamu siap-siap. Aku menunggu 15 menit. "Jo memutar tubuh mungil Aluna lalu mendorongnya pelan. Mau tak mau Aluna pun menerima perintah pemuda itu.
Selagi menunggu Aluna, Jo pindah membuka apartemen gadis itu. Ia menjatuhkan bokongnya ke ruang televisi di ruang tamu. Pemandangannya menyapu pemandangan ruangan. Dan, mendadak pusatnya tertuju pada foto keluarga yang terdiri dari sepasang suami-istri yang menerima baya dan seorang gadis cantik yang saat ini tengah menunggu Jo. Tapi, bukan itu yang menjadi pusatnya, hanya sosok wanita yang menerima baya yang Jo rasa pernah ia lihat namun entah dimana. Dan, sebelum Jo sempat untuk mengingatnya, Aluna sudah keluar dari kamarnya dan berjalan menghampiri Jo. Dengan sigap, Jo pun segera bangkit dari posisi duduknya.
"Sungguh kita akan kemana, Jo?" Tanya Aluna lagi. Ia senang Jo penuh dengan kejutan.
Jo mengulurkan izin yang diterima Aluna tanpa ragu. “Nanti kamu juga akan mengetahuinya.” Ucapnya seraya beranjak pergi dengan menggandeng tangan Aluna.
****
Nate beranjak keluar dari mobil Range Rovernya. Ia melangkahkan tungkainya menuju gedung Juilliard School tanpa mempedulikan pasangan mata yang menatapnya penuh kekaguman. Nate adalah salah satu dari pemuda yang sangat diminati oleh siswi-siswi di Juilliard School. Pemuda itu hanya mengacuhkannya dan terus berjalan menuju kamar untuknya yang sedang menari. Setelah pertemuan tadi pagi dengan Aluna dan berujung dengan meminta tak terduga dari gadis itu, sukses membuat Nate dilanda kebingungan. Bukankah ia juga menyukai sosok Aluna, tapi Mengapa ia menolaknya? Kamu hanya suka bukan mencintainya. Batinnya menjawab. Lalu, siapa yang dicintainya? Nate kembali bertanya pada dirinya sendiri. Gadis masa lalumu. Dan lagi, batinnya membalas dengan mantap kegundahannya.
Pemuda itu menggeram kesal. Ia tak mungkin masih mengingat gadis itu. Tapi jika disetujui. Lagi dan lagi batinnya menjawab. Nate mengusap rambutnya yang kasar, ia semakin bertambah langkahnya semakin cepat menuju tempat-tempat yang berhasil. Namun, saat tiba disebuah tikungan koridor mendadak langkahnya terhenti saat tak sengaja ia hampir bertabrakan dengan seorang gadis. Tubuhnya terasa membeku saat menyadari gadis di hadapannya adalah gadis yang akhir-akhir ini terus membayanginya. Ia pun kembali dengan cepat, kembali, pergi, lalu pergi, gadis itu, sebelum dicengkram dengan lembut guna mempertahankan kepergiannya.
"Tunggu." Gadis itu berucap dengan lirih dan hal tersebut membuat hati kecil Nate terasa sakit. Namun, Nate kembali berusaha mengeraskan kemenangan. Saat ini ia merasa puas untuk Arah. Ia bahkan sangat sulit untuk menerka apa yang sebenarnya dirasa oleh emosi.
Perlahan, Nate melepaskan cengkraman tanpa melepaskan ia berucap dengan dingin. “Aku harus pergi.” Ia pun langsung beranjak pergi begitu saja tetapi gadis itu kembali dengan ucapan yang menimbulkan efek berlebihan terhadapnya.
"Apakah tidak ada satu peluang pun untukku memperbaiki semuanya?"
Nate balik lalu melangkah dengan tegas kembali menghampiri gadis itu yang masih setia berdiri ditempatnya. "Kesempatan?" Ulangnya yang mendapat anggukan dari gadis itu. “Kesempatan untuk apa? Untuk kembali menyakitiku? ”Tanya pemuda itu dengan sakartis.
Gadis itu menggeleng, ia berhasil meraih lengan pemuda di hadapannya yang langsung ditepis kasar. "Aku mohon. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Setelah itu kamu boleh membenci atau malah membunuhku. ”Pintanya dengan penuh harap.
Nate dilanda kebimbangan. Disatu sisi ia memang ingin sekali menerima alasan dibalik gadis itu berangkatnya, namun disisi lain misalnya dituntut keras. Ia memejamkan mata, sambil terus menatap mata hazel di hadapannya terus. Lalu, dengan keyakinan penuh Ia harus memutuskan tanya jawabnya hanya untuk satu kali ini saja. Ia pun mengangguk pelan sebagai tanda setuju dan gadis itu lansung saja memeluk setuju sembari bergumam terimakasih. Nate hanya menjawab dengan deheman. Rasanya sudah lama lamanya ia tak terasa pelukan hangat ini lagi. Pelukan yang disukai. Kembali ke tempat menginap.
****
"Pantai?"
Jo mengangguk mantap. "Ya, ayo turun." Ia keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu mobil untuk Aluna dan kembali menggandeng tangan gadis itu untuk mengikutinya. Terjadi langkah mundur tepat dibibir pantai. "Bagaimana? Kamu suka? ”Tanya Jo seraya menoleh menatap gadis disampingnya.
Aluna mengangguk antusias. "Sangat." Ucapnya, lalu ikut menoleh kearah Jo. “Bagaimana bisa kamu tahu kalau aku suka pantai?”
Jo mengedikkan bahunya acuh, “Tidak sulit untuk mengerti apa yang kamu sukai dan apa yang tidak kamu sukai.” Jawabnya penuh kebanggaaan yang dibalas Jo tertawa melihat hal itu, "Tunggu sebentar, aku ada sesuatu untukmu." Lalu Jo pun melepaskan ikatan tangan mereka dan pergi meninggalkan Aluna yang entah bagaimana membuat gadis itu merasa kekosongan.
Tak lama, Jo kembali dengan dua lembar kertas putih dan dua buah botol. Aluna mengernyit tak mengerti saat Jo menyodorkan botol dan kertas tersebut. “Ini untuk apa?”
Jo tersenyum, “Apa kamu pernah mendengar tentang samudera berujung?” Tanya Jo seraya menatap hamparan ombak di laut lepas di hadapannya.
Aluna menggeleng pelan, “Tidak. Aku tidak pernah mendengarnya. ”
“ Dulu, ibuku tidak pernah bercerita tentang samudera tak berujung. ”Jo berucap seraya menerawang jauh.
“Ibumu pasti orang yang menarik.” Komentar Aluna yang dibalas dengan anggukan mantap dari Jo. “Ya, Ibuku Memang menarik.”
“Rasanya Aku Ingin Bertemu DENGAN ibumu.”
“Sayangnya kamu TIDAK akan can Bertemu dengannya.” Ucap Jo pelan nyaris tak terdengar.
Aluna mengernyit, “Kenapa? Ibumu tidak bisa di New York? ”
Jo menggeleng pelan yang semakin menambah kernyitan didahi Aluna. "Ibuku sudah meninggal."
Kalimat sederhana itu mampu membuat Aluna terpaku ditempatnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa sosok pemuda disebelahnya ini benar-benar telah kehilangan pigur seorang ibu dalam transisi. "Jo ... Maaf, aku ..." Aluna bingung harus mengatakan apa. Ia hanya mampu berucap maaf karena telah menyinggung hal yang mungkin sensitif untuk pemuda itu.
Jo menggeleng, “Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan hal ini. "Ia tersenyum," Saat ini aku masih membuka lima tahun. Ibuku berkata, jika kita memiliki impian, kita dapat menulisnya lalu menghanyutkannya ke laut. ”Pemuda menarik napasnya sebelum kembali menerima ucapannya. “Kalau surat itu sudah sampai di samudera berujung. Pasti impian kita akan terwujud. ”Jelasnya tanpa sadar hampir meneteskan udara saat membayangkan sosok yang jauh di sana.
Sementara Aluna tertawa pelan mendengar hal itu yang langsung membuat Jo menatapnya dengan datar. "Kenapa kamu tertawa?"
Aluna berusaha melampaui tawanya agar tak membuat Jo semakin salah paham. "Begini, Jo." Ia menarik napas sebelum melanjutkan, "Terwujud atau tidaknya mimpi itu semua atas kehendak Allah." Bukan berdasarkan samudera berujung. ”Jelasnya dengan pelan, berharap Jo akan mengerti apa yang dimaksudkannya.
Jo menggeleng, "Aku tidak mengerti."
Aluna mendesah pelan, "Suatu saat kamu pasti akan mengerti, Jo."
Lalu suasana berubah menjadi sunyi. Yang terdengar hanya desiran ombak yang berlomba menyapu pantai. Jo sibuk dengan pikirannya yang mengartikan ucapan gadis disebelahnya tadi. Sementara Aluna sibuk dengan pemikirannya yang membayangkan Jo hidup tanpa sosok ibu. Dan, suasana sunyi itu pun mendadak hilang saat Aluna kembali berbicara. “Menyetujui, untuk mendukung usahamu. Ayo kita menulis harapan kita. ”Ajaknya yang menyentak Jo kembali ke alam sadar.
Bagaimana pun juga, harapkan masing-masing dan memasukkannya ke dalam botol, lalu menghanyutkannya bersamaan. Baik Aluna maupun Jo sama-sama tersenyum memandang dua botol itu yang mulai terbawa ke tengah lautan oleh ombak.
"Apa yang kamu tulis, Al?" Tanya Jo masih dengan posisi yang sama, memandang ke arah botol yang semakin jauh dari pandangannya.
“Tidak akan saya sampaikan.”
Jo mendelik, “Kenapa?”
“Karena itu rahasia.” Aluna menjawab seraya mulai memainkan bola kedua dan hal itu cukup membuat Jo gemas. Ia menggelitik pinggang gadis itu, hingga membuat Aluna terkikik geli. Ia berusaha melepaskan diri Jo dan lari menghindar dari pemuda itu, yang secara otomatis Jo langsung mengejarnya. Dan, tanpa Aluna menyadari bahwa sakit itu, Jo mampu membuat ia lupa akan kesedihan yang diterima sebelumnya.
****
“Saat Ayahku meninggal, Ibu sembuh depresi berat. Saya sebagai seorang anak yang butuh bantuan karena hanya bisa terdiam menyaksikan iblis yang bisa dibantu ... ”
"Kamu bisa meminta bantuan kepadaku, Sharoon." Nate dengan cepat mengucapkan ucapan gadis disampingnya membuat Sharoon menggelengkan tanda bahwa ia belum selesai bercerita.
“Disaat aku mulai lelah dengan semuanya, mendadak seseorang yang diundang sebagai utusan kami datang untuk bertemu kami.” Ucapnya masih dengan menatap sendu sosok Ibunya yang tertidur dari luar ruang inapnya. “Dia berkata bahwa dia akan merawat Ibuku di tanah kelahirannya. Dan, saat itu yang dipikiranku hanyalah kesembuhan Ibu. Aku sangat menyayanginya hingga aku rela melakukan apapun. ”
Ibunya memang putri dari seorang pengusaha di Amerika. Dan, Ayahnya adalah seorang Jurnalis. Bertemu saat dalam acara penggalangan dana dunia. Saat itu Ibunya merasakan cinta pada pandangan pertama. Ia rela melakukan apapun agar bisa mendapatkan Ayahnya sambil Kakeknya harus mengeluarkan keras, tapi Ibunya seakan tak peduli. Akhirnya ia sampai rela meninggalkan New York dan memulai kehidupan barunya dengan Ayahnya dan membina rumah tangga hingga akhirnya ia lahir ditengah-tengah mereka.
"Lalu? Dimana kakekmu sekarang? ”
"Dia meninggal karena penyakit jantung yang dideritanya, tepat sebelum aku tepat untuk melihatnya." Sharoon menghela napas panjang, "Lalu aku memutuskan untuk pergi. Kepergianku yang mendadak membuatku takut untuk mengatakannya kepadamu. ”Ia memandang Sendu ke arah Nate yang juga tengah memandangnya. "Dua tahun berlalu, Ibuku disetujui pulih. Kehidupan kami setelah itu berlangsung dengan penuh suka cita. Tapi ternyata, badai itu belum berhenti. "
" Apa yang terjadi selanjutnya? "
" Ibuku mengidap penyakit yang sama dengan kakekku. "Ucap Sharoon lirih sembari kembali memusatkan pandangannya pada pandangan Ibunya yang masih terlelap dalam tidurnya.
Dan, Nate yang mendengar hal itu terperanjat. Ia menggelengkan perlahan-lahan seakan tak percaya dengan yang baru saja ditangkap oleh indera pendengarnya. "Jadi ..." Ia tidak bisa melanjutkan ucapannya, semua kata-katanya tertahan ditengeluarkannya.
Sharoon mengangguk, “Ya, Ibuku mengidap penyakit jantung. Dan, kemarin Ibu baru sadar dari koma panjangnya. Harta kakeku habis dipakai untuk merawat ibuku. Untung saja aku dapat beasiswa, mungkin saat ini aku tidak akan pernah bisa belajar di Juilliard School. ”
Nate meraih lengan gadis itu dan menggenggamnya. "Maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu akan hal ini. ”Ucapnya seraya mengarahkan tubuh gadis itu agar menghadapnya. "Kamuikan saat itu kamu mau berbagi, mungkin aku tidak akan berpikir untuk membencimu."
Sharoon menggeleng pelan. "Tidak. Ini semua bukan salahmu jika kau membenciku. Keadaan Yang memaksa Kita Harus seperti inisial.”
‘Kalau Begitu, izinkan aku untuk review Memperbaiki Semuanya.’Nate Berkata DENGAN mantap Dan DENGAN kesungguhan Yang Begitu terpancar Dari Sorot matanya.
Seketika Sharoon melepaskan genggaman tangan mereka. Ia menggeleng pelan dan hal itu membuat Nate mengernyitkan dahinya tak mengerti. Jujur, hati kecilnya meminta untuk menyetujuinya, namun disisi lain Sharoon menerima tak pantas jika bersanding dengan pemuda itu. Ia layak dirinya terlalu hina. Nate pasti akan kecewa jika tahu itu sudah tidak utuh lagi, lalu membencinya dan meninggalkannya.
"Aku tidak bisa."
Nate menggeram, "Tapi kenapa?"
Sharoon membahas dengan lembut d**a bidang Nate. "Kamu layak mendapatkan sosok yang lebih baik dari aku." Ucapnya, seraya beranjak pergi meninggalkan Nate dalam kesendiriannya.
****
Kutipan:
“Setiap manusia memilki titik jenuhnya masing-masing. Ada kalanya Ia akan terus bertahan ditempat ia berdiri atau berbalik arah dan pergi menjauh. ”