Empat Belas

1257 Words
Empat belas Aluna memandang sekelilingnya dengan tatapan tak percaya. Karena baru kali ini ia dapat menginjakan kaki di sebuah pesta yang luar biasa meriahnya ini. Tadi siang, Jo meneleponnya dan meminta ia untuk menemani pemuda itu pergi ke acara pesta ulang tahun sahabatnya. Dan, Aluna sungguh tak percaya bahwa pesta tersebut akan dirayakan sedemikian meriahnya. Namun, disatu sisi Aluna merasa tak percaya diri saat menatap para tamu undangan yang berpenampilan glamour dan sangat berbeda dengan dirinya. “Tidak usah malu. Kamu jauh berkali-kali lipat lebih cantik dibanding gadis-gadis lain yang berada disini.” Bisik Jo yang seakan dapat membaca pikiran Aluna. Gadis itu hanya mengangguk pelan, dan Jo membawa Aluna semakin memasuki ballroom dimana tempat pesta diadakan. Para tamu yang berada di pesta itu berdecak kagum saat melihat kedatangan Jo dan Aluna, tapi tak sedikit pula diantara mereka yang berkomentar pedas kepada Aluna karena dianggap tak pantas berdampingan dengan seorang Joshua Albert. Namun, tanpa peduli sekitar, Jo masih tetap menggandeng lengan Aluna dan berjalan menghampiri si pemilik acara. “Jo. Aku pikir kamu tidak akan datang.” Sang pemilik acara menyapa keduanya sesaat setelah Jo dan Aluna sampai di hadapannya. Jo mengedikkan bahu dengan acuh, “Awalnya aku memang tidak berniat untuk datang.” Pemuda itu terkekeh mendengar jawaban dari Jo. “Kamu tidak akan melakukan itu, dude.” Ia meninju pelan bahu sahabatnya itu. Lalu pandangannya beralih ke sosok gadis yang berdiri disamping sahabatnya. “Siapa dia?” Tanyanya dengan gerakan mata mengarah ke gadis itu. Jo menoleh sekilas kearah Aluna sebelum kembali memandang sahabatnya. “Kenalkan, dia Aluna.” “Austin.” Ucapnya seraya mengulurkan tangannya. “Aluna.” Ia menyambut hangat uluran tangan pemuda itu. “Nama yang cantik. Secantik pemiliknya.” Puji Austin. Aluna memang gadis yang cantik, maka tak salah jika banyak kaum laki-laki terpesona dengan kecantikannya. Gadis itu merasa darahnya mendidih saat dipuji seperti itu. Ia yakin bahwa saat ini wajahnya sudah semerah kepiting rebus. “Jangan menggodanya, dude.” Jo menyahut dengan nada datar yang terdengar jelas. Entah kenapa, ia tak suka saat ada seseorang memuji Aluna selain dirinya. Austin terkekeh, “Ah, kamu cemburu rupanya.” Godanya yang malah membuat wajah Aluna semakin memerah, berbanding terbalik dengan Jo yang hanya memutar kedua bola matanya dengan jengah. “Oke. Oke. Aku tidak akan menggodanya lagi.” Austin mengangkat kedua tangannya didepan d**a tanda menyerah. “Sebaiknya kamu bawa nona cantik ini untuk mencicipi hidangan pesta, dude. Aku akan pergi untuk menyapa tamu yang lain.” Lanjutnya seraya meninggalkan keduanya untuk kembali menyapa tamu-tamu yang lain. Jo berdeham sejenak sebelum menoleh kearah Aluna. “Kamu ingin aku mengambilkan segelas jus?” Tawar Jo dan Aluna mengangguk pelan sebagai jawaban. Pemuda itu pun pergi menuju stand minuman. Selagi menunggu Jo mengambilkan minuman untuknya. Aluna kembali memandang sekeliling ballroom. Pestanya terlihat begitu meriah, jelas saja karena si pemilik pesta adalah salah satu anak dari pengusaha terkenal di New York. Saat Aluna masih sibuk dengan kegiatan mengamatinya, tiba-tiba seseorang menepuk pelan pundaknya membuat tubuh Aluna menegang seketika. Pasalnya disini ia tak mengenal siapapun terkecuali Jo. Dan, jelas yang menepuk bahunya itu bukan Jo karena pemuda itu tengah berada di stand minuman yang letaknya sekitar 10 langkah di depan Aluna. Demi mengusir rasa penasarannya, Aluna perlahan memutar tubuhnya menghadap si pelaku. Seketika kedua matanya membelalak lebar saat melihat seorang pemuda yang sudah tak asing lagi baginya berdiri tepat di hadapannya. “Nate…” Nate tersenyum melihat ekspresi kaget gadis di hadapannya. “Hai, Al.” Aluna sebisa mungkin mengatur ekpresi wajahnya seperti semula. “Apa yang kamu lakukan disini?” Tanyanya dengan polos yang seketika dirutuki oleh Aluna karena pertanyaan tidak berbobotnya itu malah menunjukkan sikap kecanggungannya. “Menghadiri pesta?” Itu terdengar seperti pertanyaan bukan pernyataan, dan Aluna hanya mengernyit tak mengerti. “Oke, lupakan.” Ucap Nate. “Kamu bersama siapa, Al?” “Aku—” “Dia bersamaku, dude.” Sebelum Aluna sempat melanjutkan ucapannya, tiba-tiba suara lain menginterusipnya. Ia menoleh, mendapati Jo tengah berjalan kearahnya. “Jo…” Aluna semakin mengernyit saat mendengar Nate memanggil Jo. “Kalian, saling mengenal?” Tanyanya seraya memandangi Jo dan Nate bergantian. Jo mengangguk pelan. “Nate adalah sahabatku.” Aluna semakin dibuat tak mengerti. “Sahabat?” Kali ini Nate yang mengangguk. “Kamu sendiri? Bagaimana bisa kalian saling mengenal?” “Tentu. Karena kita tinggal di gedung yang sama.” Jo menjawab seraya mengedikkan bahunya dengan acuh. “Lalu, kamu sendiri?” Jo menanyakan hal yang sebenarnya ia tahu apa jawabannya. “Dia gadis yang aku ceritakan saat itu, Jo.” Jo mengangguk, “Wow, kebetulan sekali bukan?” Komentarnya yang seakan-akan terkejut. “Lalu, apa kamu masih ingin memilikinya?” Tanya Jo yang membuat Aluna dipenuhi dengan kebingungan. Sebenarnya apa maksud ucapan Jo itu? “Aku rasa, saat itu aku hanya merasa kagum saja.” Ucap Nate. “Boleh aku meminjam Aluna sebentar?” Nate bertanya seraya meraih tangan Aluna dan saat Jo menganggukkan kepalanya, ia langsung menarik pelan gadis itu untuk mengikutinya. “Aku ingin meminta maaf.” Nate langsung saja mengeluarkan kalimat yang sedari kemarin terus dipendamnya sesaat setelah keduanya sampai ditempat yang lebih sepi. Aluna mengernyit, “Untuk apa?” “Untuk semuanya. Aku benar-benar minta maaf.” Nate mendesah pelan. “Awalnya aku berpikir bahwa aku juga menyukaimu, tetapi ternyata aku salah. Rasa ini masih tetap menjadi miliknya.” Ucapnya lirih. “Tapi asal kamu tahu, Al, aku menyayangi kamu. Seperti rasa sayang seorang kakak untuk adiknya.” Lanjut pemuda itu seraya mengalihkan pandangannya. Awalnya, Aluna memang merasa marah atas penolakan yang Nate berikan. Tapi, ia tak merasa sakit hati sama sekali. Dan kemarin saat Jo menunjukkan sesuatu hal yang berbeda lagi, saat itu ia sadar bahwa sebenarnya rasa suka yang sesungguhnya bukan kepada sosok Nate, melainkan kepada pemuda di ujung sana yang tengah menunggunya. Disini, bukan hanya Nate yang salah mengartikan perasaannya tetapi ia pun mengalami hal itu, dan Aluna tidak mungkin tidak akan memaafkan Nate. Karena pada dasarnya pemuda itu tidak bersalah sama sekali. “Nate, sebenarnya kamu tidak perlu meminta maaf, karena jujur aku tidak merasa sakit hati atau apapun terhadapmu.” Aluna menjawab yang membuat Nate kembali memandangnya. “Tetapi—apa kamu masih bersedia untuk mengajarkanku tentang agama?” Aluna mengangguk dengan mantap. “Tentu.” Ia tersenyum yang dibalas dengan senyuman pula oleh pemuda itu. “Omong-omong, kalau aku boleh tahu, siapa gadis yang kamu sukai itu?” Tanyanya saat sadar akan ucapan Nate sebelumnya. Nate menggerak-gerakkan tubuhnya dengan salah tingkah. “Dia—” “Kurasa waktu kalian untuk berbicara sudah cukup.” Sekali lagi, Jo menginterupsi obrolan keduanya. Pemuda itu kini telah berdiri di sebelah Aluna dengan tangan melingkar disekitar pinggang gadis itu. “Sekarang saatnya aku untuk mengajak Aluna berdansa.” Ucapnya yang langsung menggiring Aluna ke lantai dansa tanpa membiarkan keduanya menjawab. “Jo, aku tidak bisa berdansa.” Ucapnya setelah sampai di lantai dansa. “Tidak apa-apa, biar aku ajarkan.” Jo menaruh kedua tangan Aluna dibahunya. Lalu, tangannya pun melingkar di sekitar pinggang gadis itu. Menarik tubuh Aluna agar lebih dekat dengan tubuhnya. Perlahan, Jo mulai menggerakkan tubuh keduanya dengan seirama. Semakin lama, Aluna mulai terbiasa. Ia mulai menikmati setiap gerakan yang dilakukan oleh mereka. Gadis itu memejamkan matanya, ia tak dapat mengekspresikan betapa bahagianya dirinya saat dapat berdansa dengan sosok Joshua Albert. **** Quotes: “Aku tak ingin kamu menjadi yang pertama untukku. Kenapa? Karena yang pertama akan terlupakan jika ada yang kedua, ketiga atau bahkan kesepuluh. Maka dari itu, aku ingin menjadikanmu sebagai yang terakhir, sebab yang terakhir akan terkenang dan selalu abadi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD