Pria paruh baya itu menatap sendu gundukan tanah di depannya. Ia mengelus lembut nisan yang bertuliskan nama istrinya itu. “Sandra…” Gumamnya lirih.
Sekarang ia percaya bahwa seseorang yang telah tiada itu akan terasa lebih berharga. Ia sungguh menyesal karena telah menyia-nyiakan orang yang dengan tulus mencintainya, meski ia selalu menyakiti hati wanita itu. “Aku minta maaf, Sandra. Karena aku selalu melukaimu, mengabaikanmu tanpa pernah mau mengerti perasaanmu.” Ucapnya. “Aku memang laki-laki bodoh. Sangat-sangat bodoh.” Setetes air mata jatuh dari kelopak matanya.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Yang saat ini dapat ia lakukan hanya mendoakan Sandra. Raganya memang sudah tak lagi menemaninya, tetapi ia yakin bahwa cinta yang Sandra miliki untuknya akan selalu ada. Dan ia berjanji, bahwa ia juga akan selalu mencintai Sandra dalam kondisi apapun.
Kevin mendongakkan kepalanya, menatap langit. “Aku harap kamu selalu bahagia di atas sana, my love.”
Lalu, Kevin kembali menatap nisan istrinya dan mengecupnya dengan lembut. Setelahnya pria paruh baya itu beranjak pergi meninggalkan tempat peristirahatan terakhir wanita yang sampai kapanpun selalu dicintainya.
****
“Al...” panggil Jo pelan. Kini keduanya tengah berjalan bersisian menuju tempat dimana mobil Jo terpakir, setelah keduanya menyelesaikan latihan kesekian mereka.
“Ya?” Aluna mengangkat sebelah alisnya dan melirik pemuda yang berada disampingnya.
Jo menelan ludahnya dengan gugup. “Em.. A-apa k-kamu mau…” Jo merasa sangat berat menyampaikan maksud dan tujuannya. Lidahnya terasa sangat sulit ia kendalikan.
“Mau?” Ulang Aluna dengan tak mengerti. “Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan, Jo?”
“Apa kamu mau menemaniku pergi ke suatu tempat?” Tanya Jo sedikit kikuk. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.
“Pergi? Kemana?” Aluna mengernyitkan keningnya.
“Ke pemakaman Ibuku.. “ Jo menjawab dengan lirih dan membuat Aluna tertawa pelan.
“Kenapa kamu tertawa? Apa yang lucu? Aku bersungguh-sungguh, Al.” Jo berkata dengan nada kesal yang sangat kentara.
Aluna berusaha menghentikan tawanya. Ia menatap Jo dengan serius. “Oke. Oke. Maafkan aku.Aku tahu kau bersungguh-sungguh. Maka dari itu aku mau menemanimu.”
“Kamu yakin, Al?” Tanya Jo yang dibalas dengan anggukan mantap dari Aluna. Dan seketika Jo mendesah lega, ia menghela napas panjang yang tanpas disadarinya bahwa ia telah menahan napas seiring mendengar jawaban dari Aluna.
Sesampainya di tempat parkir, keduanya pun segera memasuki mobil. Jo mulai melajukan mobilnya membelah jalanan yang ramai. Tak berapa lama, mereka sampai di sebuah pemakaman, dimana Ibunda Jo dimakamkan. Pemuda itu memarkirkan mobilnya didekat pemakaman, bertepatan dengan melajunya sebuah mobil di depannya. Jo yang melihat mobil itu mengernyitkan keningnya. “Seperti mobil milik, Dad.” Gumamnya pelan.
“Kenapa, Jo?” Tanya Aluna yang samar-samar mendengar gumaman Jo.
Jo menggeleng, “Tidak, Al.” Jawabnya. “Ayo keluar.” Ajak pemuda itu. Lalu, keduanya pun keluar dari mobil dan melangkah mendekati sebuah gundukan tanah.
“Kamu lihat, Al? Disinilah Ibuku berada.” Jo berkata pelan seraya mengusap lembut batu nisan yang beruliskan nama Ibundanya. “Ibu.. Perkenalkan, dia Aluna, teman Jo.” Ucap Jo memperkenalkan Aluna.
Aluna tersenyum dan ikut mengusap lembut batu nisan itu. “Halo, tante.” Sapanya. “Tante sungguh beruntung karena memiliki anak yang begitu tangguh seperti, Jo.” Lanjut Aluna seraya memandang Jo. Lalu suasana berubah hening, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing sampai akhirnya Aluna menanyakan sesuatu hal yang sedari tadi ingin ditanyakannya. “Jika boleh aku tahu—apa penyebab yang membuat Ibumu meninggal?” Tanyanya hati-hati.
Jo mendesah keras, “Aku.” Ucapnya pelan dan Aluna masih terdiam menunggu kelanjutan cerita yang akan dari bibir pemuda di hadapannya. “Saat itu, Ibuku tengah menggelar konser besarnya. Ya, Ibuku adalah seorang pianist. Maka dari itu, aku ingin sekali meneruskan bakat Ibuku.” Ucap Jo dengan senyum mengembang saat membayangkan sosok Ibunya. “Tapi, ternyata konser itu merupakan konser terakhir Ibuku.”
Jokecil memandang penuh kagum kearah sang Ibunda yang tengah berada di atas panggung. Ia memejamkan matanya, menikmati setiap alunan nada yang mengalun lembut dari permainan Ibunya. Jo kecil benar-benar sangat mengagumi sosok Ibunya. Bahkan ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa suatu saat nanti ia akan seperti Ibunya. Menjadi seorang pianist yang hebat dan terkenal.
Disaat ia masih membayangkan akan seperti sosok Ibunya, tiba-tiba terdengar jeritan dari para penonton. Jo kecil pun segera membuka matanya, dan pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah hal yang tak pernah ia inginkan. Disana, di atas panggung, Ibunya terbaring tak berdaya dengan darah yang bersimbah dari kepalanya, disisi tubuh Ibunya terdapat sebuah lampu lighting, yang membuat semua orang yang tak melihatnya pun pasti akan berkesimpulan bahwa Ibunya tertimpa lampu tersebut.
Dengan badan gemetar menahan tangis, Jo kecil berlari menghampiri tubuh kaku Ibunya. Setelah ia berada tepat disisi Ibunya, seketika air mata itu mengalir membahasi pipinya. Ia meraung dengan keras seraya memeluk sosok Ibu yang sangat dikasihinya itu.“Mom…” Jeritnya dengan terisak yang membuat semua orang yang berada disana ikut merasakan kepedihan yang tengah dirasakannya.
“Mom jangan tinggalkan aku. Mom…” Jo kecil mengguncang-guncang tubuh kaku Ibunya. Ia tak mampu jika harus kehilangan orang yang sangat dikasihinya, sampai kapanpun tak akan pernah mampu.
Aluna menghapus air mata yang menetes dari pelupuk matanya. Mendengar cerita akan kematian Ibu Jo, membuat Aluna mendadak teringat akan sosok Ibunya. Ia merindukan wanita yang melahirkannya itu. Dan, Aluna berjanji setelah pulangnya ia dari sini, ia akan menelepon Ibunya. Lalu, gadis itu kembali memusatkan perhatiannya kepada Jo. “Lalu, dimana Ayahmu berada saat kejadian itu, Jo?” Tanyanya hati-hati. Memang, sepanjang menderngarkan cerita Jo, ia tak mendengar pemuda itu menyebutkan sosok Ayahnya dan itu membuat Aluna merasa penasaran.
Jo tersenyum sinis. “Dia terlalu sibuk dengan bisnisnya, hingga mengorbankan anak dan istrinya. Bahkan sampai Ibuku menutup mata pun dia tidak ada disisi kami.” Ucap Jo dengan penuh kebencian. Ayahnya itu memang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, mengabaikan kehadiran ia dan Ibunya. Bahkan Ayahnya semakin jauh darinya saat Ibunya pergi. Jo pikir, ia akan mendapatkan sedikit kasih sayang Ayahnya ketika Ibunya pergi, namun nyatanya sama saja. Tidak ada yang berubah sampai saat ini.
Aluna mengusap lembut tangan pemuda itu. “Kamu tidak sendiri, Jo. Meski Ibumu telah berada jauh disana, dia akan tetap ada dihatimu.”
Jo mengangguk, “Ya, kamu benar. Mom memang akan selalu ada dihatiku.” Ucapnya lirih.
“Dan harus selalu kamu tahu, Jo. Bahwa sebesar apapun kesalahan yang telah dilakukan oleh orang tua kita, kita harus selalu percaya bahwa mereka masih menyayangi kita. Meski mungkin cara mereka menyalurkan rasa sayangnya sedikit berbeda.” Ucapnya. “Lagi pula, kamu tidak usah khawatir. Kamu masih memiliki aku, Jo.” Dan kalimat terakhirnya. Aluna ucapkan dengan sangat pelan nyaris tak terdengar. Namun, tidak dengan Jo. Ia masih mampu untuk mendengarnya. Pemuda itu tersenyum, “Terimakasih, Al.”
Dan, Aluna hanya mengangguk menjawabnya.
****
Aluna menghentikan langkahnya saat ia hendak memasuki kamar apartemennnya. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Jo yang masih berdiri di tempatnya, beberapa langkah dari posisi Aluna saat ini.
“Kenapa kamu masih disini?”
“Masuklah. Aku ingin melihatmu benar-benar masuk ke dalam apartemenmu.” Jawab Jo dengan santai seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Aluna memutar kedua bola matanya. “Oh, Terimakasih. Tapi kamu tidak perlu berlaku seperti itu.” Ucapnya dengan kesal. “Sekarang, lebih baik kamu dulu saja yang masuk ke dalam apatemenmu. Biar aku yang mengawasimu.”
Jo menggeleng, “Tidak.” Tolaknya tegas. “Ayolah, kamu duluan saja yang masuk.” Pinta Jo dengan senyumannya yang membuat Aluna menghela nafas melihat senyum itu. Dengan terpaksa, ia mengikuti permintaan Jo. Ia kembali memutar tubuhnya dan mulai melangkahkan kakinya memasuki apartemennya.
Setelah memastikan Aluna masuk ke dalam apartemennya. Detik selanjutnya, Jo melangkah menuju apartemennya yang berada di sebelah apartemen Aluna. Namun, mendadak langkahnya terhenti saat ia merasakan ponsel di dalam saku celananya bergetar. Pemuda itu merogoh sakunya dan nama Nate terlihat dilayar ponselnya. Jo menggeser tombol hijau dilayar ponselnya dan mendekatkan benda canggih itu ke indera pendengarannya.
“Jo!”
Baru saja Jo mengangkat teleponnya, suara Nate sudah menggema. “Ya, ada apa?” Jawabnya dengan malas-malasan.
“Bisakah kita bertemu? Aku ingin mengenalkan seseorang kepadamu.”
Jo berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Baiklah. Kita bertemu di tempat biasa.” Ucapnya seraya memutuskan panggilan tanpa berniat mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Lalu, Jo pun memutar tubuhnya, ia kembali memasuki lift dan beranjak pergi dari gedung apartemennya.
****
Jo melangkah memasuki club dimana tempat ia berjanji untuk bertemu dengan sahabatnya, setelah ia tadi mengantar Aluna dan memastikan gadis itu masuk ke dalam apartemennya. Ia lalu memilih untuk duduk di kursi bar dan memesan minuman vodka kesukaannya. Seraya menunggu kedatangan sahabatnya, Jo mengedarkan pandangannya ke sekeliling club. Terlihat ditengah-tengah ruangan tersebut banyak berpasang-pasang manusia tengah meliuk-liukan tubuh mereka. Bahkan tak jarang dari beberapa wanita disana menggoda Jo untuk ikut serta dalam tarian mereka membuat Jo mengernyit jijik melihatnya. Entah kenapa, semenjak kehadiran Aluna di hidupnya, ia menjadi tak berselera melihat wanita-wanita seksi disekitarnya. Padahal biasanya, Jo bisa menghabiskan berpuluh-puluh ribu dolar hanya untuk membayar wanita penghibur demi kepuasannya. Namun sekarang, setiap kali ia ingin melakukannya, bayangan wajah Aluna selalu hinggap dalam benaknya. Ia sungguh tidak mengerti apa yang tengah ia rasakan saat ini, tapi yang pasti apapun itu tak akan bisa menghalangi rencananya dalam mewujudkan mimpi-mimpinya.
Tepukan dibahunya membuat Jo tersadar dari alam bawah sadarnya. Ia menoleh, dan mendapati Nate berdiri disampingnya beserta seorang wanita yang wajahnya sudah tak asing lagi membuat Jo terkejut dibuatnya. Wanita itu pun tak kalah terkejutnya dengan Jo, ia merasa dunia begitu sempit hingga ia dipertemukan dengan Jo dalam situasi yang seperti ini. Jo lalu menatap bergantian kearah Nate dan wanita itu untuk meminta penjelasan.
Nate yang mengerti arti tatapan itu pun menoleh kearah wanita disampingnya seraya memberikan senyuman terbaiknya dan hal itu pun tak luput dari pandangan Jo. “Kenalin, ini Sharoon. Gadis masa laluku, yang mampu membuat aku enggan merasakan cinta selain dirinya.” Ucapnya seraya kembali memandang Jo yang masih terpaku ditempatnya.
Sharoon yang pertama kali mengulurkan tangannya, ia menunduk malu saat tak sengaja matanya bersirobok dengan mata tajam milik Jo. “Sharoon Jessica.” Ucapnya pelan.
Jo hanya memandang acuh tangan Sharoon yang terulur kearahnya enggan untuk membalasnya. Namun, Nate yang melihat itu memelototi Jo, hingga mau tak mau Jo pun menyambut uluran tangan itu. “Joshua.”
“Baiklah, sepertinya aku harus ke toilet sebentar. Kalian berbincang-bincanglah dengan nyaman selagi aku pergi.” Ucap Nate seraya pergi meninggalkan Jo dengan Sharoon.
Suasana diantara keduanya cukup hening setelah kepergian Nate, yang terdengar hanya hentakan musik yang menggema diseluruh ruangan. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga akhirnya Jo membuka suaranya pertama kali diantara mereka. “Jadi, kamu gadis masa lalunya, Nate. Gadis yang meninggalkan Nate tanpa alasan.” Itu pernyataan bukan pertanyaan.
Sharoon mengangguk kaku. “Y-ya, itu memang kesalahanku pada masa lalu.”
Jo mengangguk. “Memang. Tapi ku harap, kamu tidak mengulanginya lagi.”
“Ya, aku berjanji.” Jawabnya dengan yakin.
“Dan—kurasa, aku tidak membutuhkanmu lagi sebagai partnerku. Aku tidak ingin mengkhianati sahabatku sendiri.” Ucap Jo seraya menuang kembali minuman vodka ke dalam gelasnya.
Sharoon kembali mengangguk. “Aku setuju. Lagi pula, aku ingin berhenti dari pekerjaanku itu.”
“Baguslah kalau begitu.” Jo mengangguk setuju. “Karena jika sampai aku melihat kamu bersama laki-laki lain, aku tidak akan membiarkan Nate berhubungan denganmu lagi.” Ancamnya yang Sharoon tahu itu bukan hanya sekedar ancaman biasa. Selama menjadi partner seorang Joshua, membuat ia sedikit demi sedikit mengetahui sifat asli dari pemuda disampingnya itu, yang tidak akan membiarkan seorang pun menyakiti orang yang ia anggap berharga dalam hidupnya.
Tak lama Nate pun kembali setelah beberapa menit meninggalkan keduanya. “Setelah aku tinggal beberapa menit, kalian langsung terlihat begitu akrab rupanya.” Seloroh Nate seraya mengambil tempat disamping kiri Sharoon.
Dan, malam itu mereka habiskan dengan mengobrol banyak, tertawa bersama dan bercanda riang seraya ditemani berbotol-botol minuman alkohol.
****
Quotes:
“Saat dua hati dipersatukan, tak ada hal yang lebih indah dari cinta.”