Enam Belas

1014 Words
Enam belas Aluna menatap sekelilingnya dengan kening mengkerut. Ia tak mengenali tempat dimana ia berada saat ini. Semuanya terasa gelap. Tak ada cahaya sedikit pun. Aluna merasa keringat dingin sudah membanjiri wajahnya. Air mata mulai berkumpul siap untuk terjun bebas membasahi pipinya. Jika ini sebuah mimpi, tolong cepat bangunkan ia, karena demi apapun Aluna begitu takut dengan kegelapan. “Ayah. Ibu.” Aluna kembali berteriak namun yang ia dapat tetap sama, hanya keheningan. Setetes air mata pun berhasil meluncur dari kelopak matanya. Gadis itu memejamkan matanya berharap ia segera terbangun dari mimpi yang menurutnya mengerikan itu. Namun, saat ia membuka kelopak mata indahnya itu, yang pertama ia lihat bukan kamar apartemennya melainkan sesosok pemuda yang begitu ia kenali. Lalu pandangannya pun mulai mengitari sekelilingnya dan ini benar-benar aneh. Tempat ia berdiri saat ini sudah terang benderang, bahkan ia dapat melihat hamparan hijau rerumputan yang mengelilingi danau di depannya. “Jo..?” Ucapnya lirih nyaris tak terdengar. Sedangkan pemuda di depannya itu hanya memberikan senyuman menawannya, lalu ia membalikan tubuh kokohnya dan mulai melangkah pergi menjauh dari Aluna. Aluna yang melihat hal itu seakan tak terima. Ia sungguh tak ingin ditinggalkan dalam kondisi seperti ini. Gadis itu terus berusaha memanggil nama Jo, namun sayang pemuda itu seakan enggan untuk kembali, yang ada tubuh Jo semakin hilang dari pandangan Aluna. Gadis itu ingin sekali mengejar Jo, namun entah kenapa kakinya terasa kaku, sama sekali tak bisa ia gerakkan, ditambah dengan pandangannya yang tiba-tiba menjadi buram dan kepala yang terasa dipukul dengan beban berat. Apakah? Apakah ia akan mati di tempat yang ia sendiri tidak tahu dimana? “Ya Tuhan, tolong aku.” Rintih Aluna sebelum tubuhnya ambruk tak sadarkan diri. **** Jo terus memencet bel di depannya. Ia mengetuk-ngetukan sepatu mahalnya ke lantai apartemen tempatnya berpijak saat ini. Di tangan kirinya kini sudah terdapat sebuket bunga mawar putih. Saat ia mendengar suara pintu terbuka, Jo segera menutupi wajahnya dengan bunga tersebut, membuat seseorang di hadapannya tak dapat melihatnya. “Siapa?” Jo pun menurunkan bunga tersebut perlahan-lahan, dan setelah wajahnya nampak jelas, terdengar pekikan tak percaya dari gadis di depannya. “Jo..?” Jo tersenyum, “Hai, cantik.” Sapanya. “Ini bunga mawar putih untuk seorang gadis cantik yang begitu spesial untukku.” Lanjut Jo seraya menyerahkan buket bunga tersebut. Gadis itu tersipu malu saat menerima bunga yang diberikan oleh Jo, membuat Jo yang melihatnya serasa ingin mencium pipi yang merah merona itu. “Jo? Dari mana kamu tahu bunga kesuakaan aku?” Tanya gadis di depannya seraya menghirup aroma dari bunga kesukaannya itu. “Aku selalu berusaha mencari tahu apa yang menjadi kesukaan kamu, Al.” Jawab Jo yang semakin membuat Aluna merona. “Kamu sudah siap?” Tanyanya. Aluna mengangguk sebagai jawaban. “Sebentar, aku taruh bunga ini dulu.” Lalu ia kembali masuk ke dalam apartemennya. Setelahnya Aluna mengunci pintunya dan mulai melangkah menuju lift beriringan dengan Jo. **** Aluna menatap gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Benaknya terus memikirkan tentang arti mimpinya semalam. Di dalam mimpinya itu Aluna seakan sakit saat melihat Jo pergi menjauh darinya. Ia merasa tak rela ditinggalkan oleh Jo. Seperti ada separuh jiwanya yang direnggut paksa. Apa ini perasaan cinta? Kenapa secepat ini? Tetapi, Aluna yakin ia belum pernah merasakan rasa ini sebelumnya meskipun itu dengan Nate. Ia selalu salah tingkah saat Jo menatapnya dengan tatapan memuja. Ia selalu merasakan jantungnya berdebar kencang saat Jo melemparkan senyum kearahnya. Ia selalu merasa terlindungi saat ia berada didekat Jo. Dan, sepertinya tanpa Aluna sadari, ia memang telah jatuh cinta kepada sosok Jo. “Al..?” Jo menginterupsi lamunan Aluna. Gadis itu menoleh kearah Jo dengan tatapan bertanya. Jo melirik Aluna sejenak sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan di depannya. “Apa yang kamu pikirkan di dalam kepala cantikmu itu hingga membuat dahimu ini mengerut?” Tanya Jo seraya mengelus kerutan di dahi Aluna. “Emm… Jo? Menurut pandangan kamu definisi cinta itu seperti apa?” Tanya Aluna seraya menunduk menatap kuku-kukunya. Jo tertawa mendengar pertanyaan Aluna, hingga membuat Aluna yang mendengarnya merasa kesal karena ditertawakan. “Jo! Aku serius.” Jo berusah menghentikan tawanya, takut-takut gadis disampingnya itu semakin marah. “Oke-oke maaf.” Ucapnya. “Cinta ya? Menurut aku cinta itu—” Jo sengaja menghentikan ucapannya membuat Aluna dirundung rasa penasaran. Pemuda itu menghentikan laju mobilnya saat telah sampai di parkiran Juilliard School. Ia lalu mematikan mesin mobilnya dan mengubah posisi duduknya hingga menghadap Aluna. “Menurut aku, cinta itu kamu.” Ucap Jo seraya mengelus lembut pipi mulus Aluna. Gadis itu terpaku ditempatnya. Ia seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. “Jo. Kamu—” “Ayo turun.” Jo memotong ucapan Aluna seraya membuka pintu mobilnya. Ia seakan tak ingin mendengar apa yang akan Aluna ucapkan. Sekuat mungkin Jo menampik rasa aneh yang mulai menelusup ke dalam relung hatinya. Tidak. Ia tidak akan jatuh cinta kepada Aluna. Semua yang ia lakukan selama ini semata-mata untuk melancarkan rencananya bukan tulus dari dalam hatinya. Iya, seperti itu. **** Aluna baru saja keluar dari kelasnya dan berniat untuk pergi ke kantin karena cacing-cacing di dalam perutnya sudah berdemo meminta diisi, sesaat sebelum ia melihat pemandangan yang ganjal di depannya. Di sana, di tempat parkir yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri saat ini, ia melihat sesosok pemuda baru saja turun dari mobil range rovernya. Pemuda itu memutari badan mobil lalu membuka pintu penumpang. Dan kali ini Aluna dibuat terkejut saat melihat siapa yang baru saja turun dari kursi penumpang itu. “Sharoon?” Gumamnya yang seperti sebuah bisikan. Tubuhnya membeku seketika. Bukan. Bukan karena Aluna diliputi rasa cemburu, namun lebih dari itu. Saat ini ia diliputi rasa penasaran yang tak berujung. Mengapa Sharoon bisa bersama Nate? Apa Nate mengenal Sharoon? Ada hubungan apa mereka berdua? Apa wanita yang dimaksud Nate saat itu adalah Sharron? Dan apakah mereka berpacaran? Berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya, yang sayangnya tak ada satupun yang bisa terjawab. Aluna harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ya, harus. **** Quotes: “Aku hanya tengah berusaha menjadi seperti daun yang tak pernah membenci angin, meski ia telah diterbangkan olehnya dan dihempas begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD