Tujuh belas
Gadis itu berjalan memasuki lift, ia menekan angka 12 tempat dimana kamar apartemennya berada. Setelah bunyi Ting terdengar, ia segera melangkah keluar dari lift itu. Namun, seketika langkahnya terhenti saat melihat pemandangan yang menyesakkan dadanya. Di depan sana, Jo terlihat mencium mesra wanita di hadapannya.
Aluna merasa udara disekelilingnya menghilang, membuat ia kesulitan bernapas. Dadanya semakin sesak tatkala Jo merapatkan tubuh wanita itu. Padahal baru tadi pagi Jo berikap manis padanya, tapi mengapa sekarang Jo seperti ini? Seakan tersadar, Aluna segera melangkah cepat menuju kamar apartemennya. Ia takut jika ia berlama-lama melihat pemandangan itu malah akan membuatnya ambruk dan itu adalah hal terakhir yang ia inginkan. Karena Aluna tidak ingin Jo melihat betapa sakit hatinya gadis itu. Ia pun segera memasuki apartemennya dan tidak memperdulikan tatapan tajam Jo yang mengarah padanya yang tanpa ia sadari.
Gadis itu membanting tasnya dengan sembarang dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Ia menutup Janah Bu dengan kedua telapak tangannya. Seketika, air mata pun meluncur bebas membasahi pipinya.
Kenapa? Kenapa disaat ia sadar bahwa ia telah jatuh cinta kepada sosok Jo, tapi pemuda itu malah memperlihatkan hal yang membuat ia sakit hati? Kenapa Jo tidak mau mengerti perasaannya? Kenapa Jo begitu tega terhadapnya? Belum selesai benaknya bertanya-tanya mengenai hubungan Nate dan Sharoon, kini benaknya kembali dipenuhi dengan pertanyaan tentang Jo. Kenapa semuanya terlihat begitu rumit? Apa sebenarnya yang sedang Tuhan rencanakan untuk hidupnya?
Tak mau terlalut dalam rasa sakit hatinya. Aluna pun segera bangkit dari posisinya saat ini, ia pun melangkah menuju kamar mandi berniat untuk berendam guna menenangkan kekalutan yang melanda hatinya saat ini.
****
Jo melepaskan dengan paksa ciuman wanita di depannya, membuat wanita itu menatap Jo dengan terheran-heran. “Jo? Kenapa?” Tanyanya dengan kening mengerut.
Jo mundur beberapa langkah, lalu ia mengeluarkan lembaran-lembaran uang di dalam dompetnya. Ia menarik tangan wanita itu dan menaruh lembaran-lembaran uang tersebut di atas telapak tangannya.
“Sekarang kamu bisa pergi.” Ucap Jo seraya mengarahkan tangannya kearah lift bermaksud menunjukan jalan kemana wanita itu harus pergi.
Wanita itu menggeleng pelan. “Tapi, Jo. Bukankah kita akan melakukannya?”
Jo terkekeh pelan mendengar ucapan wanita tersebut. “In your dreams!” Desisnya seraya memasuki kamar apartemennya, meninggalkan wanita itu yang terus menggerutu tidak jelas. Lalu ia pun memutuskan untuk segera pergi dari tempat tersebut.
****
Seorang wanita paruh baya menatap sendu sebuah photo usang di genggamannya. 21 tahun berlalu, namun putranya itu masih belum dapat ditemukan. Entah dia masih bernapas atau tidak. Tapi yang pasti wanita itu berharap bahwa Allah akan selalu melindungi dimanapun putranya berada.
“Ibu rindu kamu, sayang.” Gumamnya seraya mencium lembut gambar putranya. Andaikan dulu ia tidak ceroboh dan mau mengikuti ucapan suaminya, pasti saat ini putra yang sangat disayanginya itu akan berada disisinya.
Kilasan cerita akan 21 tahun yang lalu masih membekas dalam ingatannya. Saat itu ia yang tengah ditinggal pergi keluar kota oleh sang suami merasa jenuh terus berada di dalam rumah. Lalu ia pun memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar taman komplek bersama sang buah hati. Arga, nama buah hatinya itu meminta untuk dibelikan es krim yang kebetulan berjualan di sekitar taman tersebut. Wanita itu menuruti kemauannya. Selagi putranya melanjutkan bermain dengan anak seusianya, ia beranjak membeli es krim tersebut. Namun naas, saat ia kembali, ia tidak menemukan putranya dimana pun. Wanita itu bertanya kepada orang-orang disekitar, dan mereka mengatakan bahwa putranya telah dibawa oleh seorang wanita asing. Mereka berpikir bahwa wanita itu adalah kerabat dari dirinya.
Seketika rasa panik langsung menyerbunya. Ia berkeliling komplek berusaha mencari putranya, tapi tetap saja jejak yang membawa buah hatinya itu menghilang bagai ditelan bumi. Lalu ia teringat akan suaminya. Wanita itu menelepon sang suami hingga membuat pria yang menjadi teman hidupnya itu memutuskan pulang dari luar kota.
“Bu—” Sebuah suara memasuki indera pendengarannya, membuatnya kembali tersadar dari kilasan memori 21 tahun lalu. Ia menoleh, mendapati sang suami tengah menatapnya dengan sendu. “Sudahlah, jangan seperti ini terus. Percayalah, bahwa Allah akan selalu menjaga putra kita dimanapun dia berada.” Ucapnya seraya mengelus lembut puncak kepala sang istri.
Wanita itu mengangguk dan menghapus air mata yang mengalir dipipinya, ia memaksakan sebuah senyuman agar suaminya tidak merasa khawatir lagi. Dalam hati ia mengamini ucapan suaminya itu.
****
Pemuda itu terus menatap wanita di depannya, membuat sang wanita bergerak gelisah ditempatnya. “Nate! Kenapa kamu terus melihat aku seperti itu? Apa—ada yang salah diwajahku?” Tanya wanita itu seraya mengecek kembali tampilan dan wajahnya. Namun, setelah ia beberapa kali mengeceknya, tidak ada yang salah dari dirinya, tapi kenapa pemuda ini terus menatapnya seakan ingin melahapnya?
Nate menggeleng pelan. “Tidak ada yang salah dari kamu. Hanya saja—” Nate sengaja menggantungkan kalimatnya membuat wanita di depannya dirundung rasa penasaran. “Ada apa sebenarnya, Nate? Ayo cepat.”
Pemuda itu berdehem pelan, lalu menatap wanitanya dengan pandangan serius. “Hanya saja—kamu terlihat semakin cantik.”
Dan, seketika rona merah memenuhi wajah wanita di depannya. Ia seakan merasa ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya dan itu sungguh menyenangkan. Ah, sudah berapa lama ia tidak mendengar kalimat-kalimat penuh pujian seperti itu? Hal-hal seperti inilah yang selalu ia rindukan dari sosok seorang Nathaniel Grissham. Ia menjadi teringat saat pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun terpisah. Bagaimana seorang Nate berusaha untuk meyakinkan dirinya agar kembali bersama, merajut kasih.
“Kenapa kamu begitu ingin sekali kita kembali bersama?” Tanya wanita itu karena merasa jengah Nate terus mengikutinya.
“Karena aku sayang kamu, Sha.” Jawab Nate dengan mantap.
Sedangkan Sharoon menggeleng pelan, “Kita tidak bisa bersama, Nate. Aku mohon kamu harus mengerti itu.”
Nate mengeraskan rahangnya saat mendengar kalimat terkutuk itu keluar dari bibir ranum wanita di depannya. “Tidak. Dari dulu kita sudah ditakdirkan bersama, kamu jangan mengingkari itu.” Desisnya tajam membuat Sharoon yang mendengarnya bergidik ngeri. “Kasih aku satu alasan, kenapa aku harus berhenti mengharapkan kamu?”
Sharoon menggigit bibir bawahnya guna menahan tangis. “Aku—”
“Apa, Sha? Ayo?” Desak Nate yang membuat Sharoon semakin tidak tahan. “Aku sudah tidak utuh lagi, Nathaniel! Puas kamu?” Pekiknya dengan d**a bergemuruh karena amarah.
Nate merasa sekujur tubuhnya membeku seketika, lalu ia menggelengkan pelan kepalanya. “Aku tidak peduli. Sekali pun kamu sudah memiliki seorang anak, aku tidak peduli. Karena yang aku pedulikan, kamu kembali bersamaku.”
Sharoon menggeleng, “Aku mohon kamu harus mengerti aku, ini semua demi kebai-”
“Stop!” Nate segera memotong ucapan yang akan terlontar dari bibir ranum wanita itu, yang sudah dipastikan akan kembali menggores luka dihatinya. “Kamu yang seharusnya mengerti aku.” Ucapnya seraya menatap tajam wanita di depannya yang saat ini tengah mengalihkan pandangannya. “Bertahun-tahun, Sha. Bertahun-tahun aku menunggu kamu kembali. Bertahun-tahun aku hidup dalam rasa penasaran. Bertahun-tahun aku selalu diliputi dengan perasaan benci karena kamu yang pergi begitu saja tanpa memberi penjelasan kepadaku. Bertahun-tahun aku mencoba untuk menghilangkan semua rasa cinta yang aku punya buat kamu, meski semuanya hanya sia-sia. Nama kamu selalu ada disini.” Lanjut Nate seraya meraih satu tangan mungil Sharoon dan mengarahkannya pada d**a kirinya. “Aku mohon kamu mengerti. Aku sayang kamu, Sha. Sangat.”
Setetes air mata meluncur bebas dari kelopak matanya saat mendengar semua pengakuan Nate. Seakan tak tahan dengan semuanya, Sharoon pun menghambur ke dalam pelukan hangat Nate. Ia memeluk pemuda itu dengan erat. Cukup sudah. Ia tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya. Ia tidak mau kembali mengecewakan Nate. Mungkin memang sudah seharusnya ia berdamai dengan perasaannya. Mengakui bahwa ia masih sangat-sangat mencintai sosok Nathaniel Grissham.
“Sharoon?” Panggil Nate pelan seraya menyentuh lembut tangan wanita itu, membuat Sharoon kembali ke dunia nyata. Ia lalu menatap Nate dengan pandangan bertanya. “Aku cinta kamu, lebih dari yang kamu tahu.” Ucapnya. “Maafkan aku karena dulu aku tidak berada disisimu saat kamu berada dalam masa tersulit.” Lanjut Nate seraya menundukan kepalanya.
Sharoon tersenyum mendengarnya, rasanya ia tak akan pernah bosan mendengar ribuan kata cinta dari pemuda di depannya itu. Ia mengusap lembut tangan kokoh yang menggenggam tangan mungilnya. “Kamu tidak perlu meminta maaf terus menerus, Nate. Karena itu memang bukan kesalahan kamu.” Nate mendongak saat mendengar kalimat tersebut. “Aku juga cinta kamu, lebih dari yang kamu tahu.” Ucap Sharoon lengkap dengan senyuman yang tersungging diwajahnya.
Pemuda itu menatap Sharoon dengan tatapan penuh cinta. Ia sungguh begitu beruntung karena dicintai oleh wanita yang dari dulu selalu ada dalam hatinya. Nate berjanji, ia tidak akan mengulangi lagi kesalahannya, dan ia pun berjanji tidak akan pernah melepaskan Sharoon sedetikpun, karena dari dulu Sharoon sudah ditakdirkan untuk menjadi miliknya.
****
Quotes:
“Mencintaimu mungkin memang sebuah kesalahan. Kesalahan terindah yang pernah aku lakukan seumur hidupku.