Delapan Belas

662 Words
Delapan belas Hari minggu, pagi-pagi sekali Aluna sudah ditelepon oleh Mrs.Emily untuk kembali berlatih. Ia menghembuskan napasnya dengan kasar, karena hari ini minggunya harus diganggu oleh acara latihan. Sungguh, saat ini yang ingin Aluna lakukan hanya berbaring di tempat tidurnya dan meratapi nasib percintaannya. Gadis itu tidak mengerti sekarang, Jo menjauhinya. Bagaimana pemuda itu tidak menjemputnya. Padahal biasanya Jo akan mengetuk pintu apartemennya dan mengajaknya berangkat bersama. Pemuda itu benar-benar berubah. Entah hal yang menyebabkan perubahan itu. Sampai sekarang benaknya selalu menjawab pertanyaan yang sama. Sebenarnya kesalahan apa yang telah Aluna perbuat hingga Jo menjadi seperti ini? Aluna mengusap kesulitan dengan kasar. Ia lalu turun dari taksi yang ditumpanginya setelah sampai di Juilliard School. Gadis itu melangkahkan tungkainya menuju ruang latihan dimana Mrs.Emily telah menunggu. "Maaf membuatmu lama menunggu, Bu." Ucap Aluna sesaat setelah tiba di ruang latihan. Mrs.Emily menoleh, “Oh, Aluna. Tidak apa apa. Lagi pula saya juga belum lama disini. ” Gadis itu mengangguk. Ia membuka tasnya di kursi yang ada di ruang latihan. Lalu mengedarkan pandangannya, mencari pemuda yang memenuhi pikirannya. Tapi sosok Jo tetap tidak terlihat. Baru saja Aluna ingin menjawab Jo, sebuah suara menginterupsinya. “Maaf terlambat.” Ucap suara yang begitu Aluna kenal dikirim indera pendengarannya. Ia menoleh, dan mendapati Jo berjalan kearahnya dan Mrs. Emily. Namun, seketika rasanya kembali menyerang dadanya saat Jo sama sekali tidak mau menatapnya. Sebenarnya ada apa ini? Kamu kenapa, Jo? Batin Aluna dengan pilu. “Memindahkan. Karena kalian sudah datang, mari kita mulai latihannya. ”Ucap Mrs.Emily. “Tapi sebelumnya, aku ingin membahas tentang lusa adalah pemilihan siapa yang akan mewakili Juilliard School di perlombaan nanti.” Lanjutkan yang dibahas oleh Aluna maupun Jo. Lalu, latihan pun dimulai. Jo yang pertama kali mendapat giliran. Pemuda membawakan sebuah lagu yang mampu menghipnotis Mrs.Emily hingga meneteskan air mata. Setelah permainannya selesai. Mrs.Emily memberikan tepuk tangan untuk Jo. “Luar biasa. Permainan kamu sungguh indah. ”Puji Mrs.Emily membuat Jo hanya tersenyum mendengarnya. "Selanjutnya beralih kamu Aluna." Jo pun bangkit dari duduknya dan langsung digantikan oleh Aluna setelah tersadar dari lamunannya. Ia mulai mendesak piano tuts-tuts. Tapi, baru beberapa nada tiba-tiba Mrs.Emily berhentinya. "Ada apa dengan kamu, Aluna?" Tanyanya. "Tidak seperti permainan, kamu jelek seperti ini." Lanjut Mrs. Emily yang bingung melihat tingkah Aluna. Gadis itu menunduk. "Maafkan saya, Bu." Gumamnya. "Coba kamu ulangi lagi." Aluna pun menerima perintah Mrs. Emily. Tapi, tetap saja permainannya terganggu. Ia malah lebih sering terlihat melamun. “Ms.Shakila! Ada apa dengan kamu sebenarnya? ”Tegur Mrs.Emily. “Fokus Aluna. Fokus. Perlombaan sebentar lagi dan permainan kamu sangat kacau. Jika kamu terus seperti ini, bisa-bisa kamu tidak akan bisa mewakili Juilliard School di perlombaan nanti. ”Geramnya. Aluna semakin menundukan meningkat. “S-aku ...” “Ah, sudahlah. Latihan kali ini cukup sampai sini. Lusa latihan terakhir sekaligus pemilihan. Saya harap kondisi dan pikiran kamu nanti lebih baik dari Aluna. ”Ucap Mrs. Emily seraya meninggalkan ruang latihan. Jo yang akan melangkahkan tungkainya pun terhenti saat Aluna mengundangnya. "Jo." Pemuda itu menoleh, memandang Aluna tanpa ekspresi. “Boleh kita bicara menunggu?” Tanya Aluna penuh harap. “Ada apa?” Gadis itu menghela napas sejenak sebelum akhirnya bertanya, “Kenapa kamu menjauhi aku, Jo? Apa sebenarnya salah aku? ”Aluna tak kuat lagi memendam semuanya. Ia butuh kejelasaan saat ini juga. "Kamu tidak salah." Ucap Jo. “Dari awal kita ini hanya berteman. Seharusnya kamu tahu itu. Jangan pernah mau meminta lebih. Karena dihidupku tidak hanya menyelesaikan tentang cinta. ”Setelah selesai mengucapkannya. Jo pun berlalu dari pertemuan Aluna. Meninggalkan gadis itu menunggu. Meninggalkan Aluna dalam kehampaan. Dan meninggalkan sejuta luka yang begitu menyakitkan. Aluna meremas dadanya saat ia terasa tenang lagi. "Kenapa? Kenapa kamu harus sesakit ini, Jo? ”Gumamnya pelan dengan suara bergetar. Jo benar. Harusnya ia sadar, asal saja mereka hanya berteman. Tapi, Aluna terlalu bodoh. Dan sekarang apa yang ia dapat? Hanya kesakitan, karena ditolak, diabaikan dan tidak diinginkan.    *** Quotes: “Hidup ini pilihan. Dan, aku diharuskan memilih — bertahan atau pergi? ”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD